Gara-gara Sebuah Mimpi

Gara-gara Sebuah Mimpi
Part 4. Kehidupan Bersama Sang Pemulung


__ADS_3

Belakangan Christine sadar setelah pingsan cukup lama. Tetapi bocah pemulung itu terus saja memperhatikannya.


Dalam kondisi yang masih lemas, dia bertanya pada anak laki-laki yang duduk di depannya.


"Dimana aku? Dan kau siapa?"


Tapi pemulung itu menjawabnya dengan bahasa isyarat karena dia bisu. Kemudian pemulung itu pergi membeli makanan juga minuman dan memberikannya padanya. Dia memberikan isyarat agar Christine makan.


Maka tanpa rasa sungkan, Christine langsung mengambil makanan itu dari tangannya dan makan dengan lahap. Bocah pemulung itu juga masih berusia belasan tahun sama sepertinya.


Setelah itu dia pergi mengambil sisir dan merapikan rambut Christine yang panjang. Dia juga mengikat rambutnya dengan sangat baik. Dan dia sama sekali tidak menolak semua kebaikan itu. Dia justru terharu ada yang memperlakukannya dengan baik. Dia menangis dan menyentuh lembut wajah bocah itu. Sedangkan anak itu, dia menghapus air matanya yang terus keluar.


Setelah itu dia masuk ke kamarnya dan membongkar celengannya. Lalu dia berlari ke pasar untuk membeli baju untuk Christine. Karena pakaiannya sudah usang, kotor, dan bau.


Dia sangat bahagia karena memiliki teman baru. Dan dia tidak keberatan sama sekali telah menghabiskan seluruh uangnya membeli pakaian untuknya.


Dia pun memilih pakaian yang dia rasa indah dan cocok untuk Christine.


Tapi sementara anak laki-laki itu masih di pasar, Christine beranjak dari tempat tidurnya dan melihat-lihat seluruh isi rumah itu. Rumah itu sempit dan penuh dengan barang bekas. Sebagian dinding rumah itu ditutupi dengan triplek bekas juga seng bekas.


Christine juga masuk ke kamar anak laki-laki itu dan melihat-lihat isinya. Dia melihat ada selembar foto kecil yang hampir terbakar habis direkatkan di dinding lemari kecil. Foto itu adalah foto seorang anak kecil yang berdiri bersama seorang anak lain. Namun bagian wajahnya hilang karena terbakar. Hanya wajah anak kecil itu yang terlihat jelas.


Tapi karena dia takut akan ketahuan, dia pun segera keluar.


Lalu tak lama kemudian, anak laki-laki itu datang lalu menarik tangan Christine. Dia memberikan pakaian itu dan memberi isyarat agar Christine mengganti pakaiannya dengan baju yang baru saja dia beli.

__ADS_1


Christine pun segera masuk ke kamar dan mengganti pakaiannya. Dia juga berkaca pada sebuah cermin kecil lalu kembali kepada anak laki-laki itu dan berkata,


"Lihatlah! Aku semakin cantik kan dengan baju ini?


Andai saja baju ini dari orang yang aku suka, pasti aku sudah terbang ke awan karena saking bahagianya."


Anak laki-laki itu terus saja memperhatikannya sambil tersenyum bahagia.


**********


Suatu hari anak laki-laki itu pergi memulung dan meninggalkan Christine sendirian di rumah. Dia berpesan agar Christine tidak membuka pintu bagi siapa pun yang datang. Dia khawatir kalau orang-orang di sana akan berbuat jahat padanya. Maka Christine pun melakukan semua tepat seperti yang dikatakan anak laki-laki itu. Namun untuk mengusir rasa bosan, dia mulai merapikan tempat itu dan membersihkan seluruhnya.


Tak lama setelah itu, anak laki-laki itu pulang dan membawa barang-barang bekas hasil memulung.


Dia sangat terkejut melihat rumahnya kini telah rapi dan bersih. Maka dengan bahasa isyarat, dia mengucapkan terima kasih dan memberikan hadiah untuknya. Hadiah itu adalah sebuah gulungan kertas usang yang dia keluarkan dari karung plastiknya lalu dia berikan padanya.


Dan benar saja, begitu dia melihat isi gulungan kertas itu, dia sangat bahagia hingga melompat kegirangan. Itu adalah poster idolanya.


Begitu senangnya dia, sampai-sampai dia tidak sadar berteriak kencang.


Anak laki-laki itu membiarkannya hingga dia kelelahan karena bahagia. Usai itu, Christine bertanya bagaimana anak laki-laki itu bisa tahu kalau dia mengidolakannya.


Maka bocah itu pun menceritakan bahwa ketika dia tidur, dia memanggil-manggil nama orang itu. Nama itu terdengar aneh di telinganya karena penyebutan nama itu lain tak seperti penyebutan nama di daerahnya. Tapi dia menyimpan nama itu di hati dan pikirannya dan coba cari tahu.


Ketika dia memulung, dia mencoba menanyakannya kepada setiap orang yang ditemuinya di lokasi tempatnya memulung. Tapi tak ada yang tahu.

__ADS_1


Sampai akhirnya dia tahu nama itu ketika dia pergi membeli baju di pasar. Saat itu ada beberapa anak remaja berkerumun di tempat penjualan kaset DVD. Itu tak jauh dari tempatnya membeli baju. Lalu tanpa sengaja dia mendengar salah satu dari mereka menyebutkan nama itu dan menunjukkan fotonya ke teman-temannya.


Namun dia sedih karena tidak bisa membeli kaset itu untuk Christine. Dia hanya bisa memberikan poster usang yang tergeletak di jalan di dekat penjual kaset itu.


Meski begitu, Christine sangat terharu dan senang bahwa di tengah-tengah hidupnya yang menyedihkan, masih ada orang yang mau memperhatikannya dengan tulus.


Dia pun menempelkan poster usang itu di balik pintu masuk rumah. Agar setiap kali dia membuka dan menutup pintu, dia selalu bisa memperhatikan idola tercintanya.


**********


Lalu suatu hari saat makan malam, Christine bertanya satu hal pada anak laki-laki itu. Kenapa dia begitu baik padanya. Padahal dia bukan siapa-siapa. Bahkan tampak dia hanya seperti beban.


Maka anak laki-laki itu pun mengenang masa lalunya. Dia menangis dan menceritakan segalanya pada Christine. Bahwa dulu dia memiliki orangtua yang lengkap dan satu adik perempuan. Dan dulu kehidupannya juga cukup baik.


Tapi sayangnya waktu yang baik itu cepat sekali berlalu. Suatu hari mereka mengalami bencana yang mengerikan. Rumah mereka dan segala hal yang mereka punya hangus terbakar. Bahkan dalam bencana itu, kedua orangtua dan adik perempuannya mati. Juga karena kebakaran itu sangat parah, dia pun sampai-sampai kehilangan suaranya.


Hanya satu hal yang tersisa. Yaitu foto gadis kecil yang sudah usang dan hampir habis terbakar.


Kemudian dia menunjukkannya pada Christine.


Itulah sebabnya anak laki-laki itu sangat menyayanginya karena telah menganggapnya seperti adiknya sendiri.


Setelah bertahun-tahun tinggal sendiri, kini dia memiliki teman baru yang memberinya semangat.


Sekarang Christine mengerti kenapa anak laki-laki itu begitu menyayanginya dan sangat melindunginya. Dia bahkan tak diizinkan membantu anak laki-laki itu memulung.

__ADS_1


Meski beban hidupnya bertambah, tapi itu tidak menjadi masalah besar baginya. Dia tetap gigih bekerja keras dan yakin kelak hidupnya akan lebih baik. Dia memandang Christine sebagai hadiah terbesar baginya dari Tuhan.


__ADS_2