
Anak laki-laki itu tidak menceritakan kejadian yang dialaminya pada adiknya. Dia malah mengatakan kalau dia terluka karena tidak hati-hati.
Besoknya, anak laki-laki itu bangun pagi-pagi sekali dan nekat bekerja meski adiknya sudah melarangnya. Dia sengaja bangun lebih cepat agar dia bisa pergi tanpa halangan. Dia tidak peduli dengan tangannya yang masih sakit. Karena uang yang dia terima kemarin membuatnya lupa.
Pagi itu dia berjalan cukup cepat agar tidak terlambat sedikit pun. Lalu begitu dia sampai di rumah majikannya, dia langsung pergi ke gudang dan mengambil peralatannya lalu bekerja.
Saat dia sedang mencabut rumput, tiba-tiba saja dia melihat sebuah cawan yang bernoda darah tapi sudah kering dan berkerak. Itu membuatnya teringat pada kejadian mengerikan semalam dan menjadi takut. Tapi dia menarik nafas panjang dan berusaha tetap tenang lalu melanjutkan pekerjaannya.
Lalu ketika dia hendak membuang sampah sekaligus cawan itu, tiba-tiba aroma kemenyan tercium dan itu memenuhi area taman. Maka didorong oleh rasa penasaran, dia pergi untuk mencari tahu dari mana sumber bau itu berasal. Dia masuk ke dalam rumah mengikuti sumber bau itu tapi melewati pintu belakang. Tiba-tiba dia juga mendengar suara seseorang seperti sedang berbisik-bisik. Maka dia semakin penasaran tapi juga takut, namun tetap berjalan terus mencari tahu.
Anak laki-laki itu bahkan berniat kembali ke ruang rahasia itu karena sangat penasaran. Ketika sampai di sana, dia melihat pintunya terbuka. Maka dia masuk perlahan-lahan dan melihat dari kejauhan seseorang yang tampak seperti majikannya. Dia tengah memeluk patung anak perempuan itu dengan penuh kasih sayang.
Maka dia berpindah sedikit lebih dekat agar bisa melihatnya dengan jelas. Dan betapa kagetnya dia bahwa orang yang dilihatnya itu adalah majikannya.
"Mungkinkah majikanku seperti itu? Tapi dia orang baik. Tapi kenapa dia memeluk patung itu seperti memeluk anaknya sendiri?" Tanyanya dalam hati.
Tapi karena tak ingin keberadaanya diketahui, dia pun segera pergi dari sana dan kembali bekerja membersihkan taman.
Lalu saat hari sudah sore, dia pergi menemui majikannya untuk meminta upah hariannya. Tapi ketika majikannya melihatnya, majikannya sangat terkejut. Karena majikannya tidak tahu kalau dia datang bekerja. Dia berkata,
"Kenapa kau datang bekerja? Aku kan sudah menyuruhmu beristirahat dan tidak perlu bekerja sampai kau benar-benar pulih."
"Tidak apa-apa bu. Saya masih bisa menahan sakitnya dan masih kuat bekerja. Saya sangat membutuhkan uang untuk adik saya. Lihatlah taman bunga yang saya bersihkan itu bu. Semuanya sudah rapi dan bersih." Ujarnya dengan bahasa isyaratnya sambil menunjuk ke arah taman.
"Ya sudah. Tunggu disini! Aku akan ambilkan upahmu."
Lalu sang majikan pun pergi mengambil upahnya lalu memberikannya. Dia juga berkata,
"Ini! Cepatlah pulang dan istirahatlah!"
__ADS_1
Tapi sebelum anak itu pulang, dia bertanya kepada sang majikan sambil memperlihatkan cawan yang tidak jadi dia buang itu.
Sang majikan pun mulai berkeringat ketika melihatnya. "Bagaimana itu ada di tangannya? Aku sudah membuangnya cukup jauh?" Ujarnya dalam hati. Namun dia berupaya untuk tetap tenang lalu pergi tanpa menjawab pertanyaan anak itu.
Seperti biasa anak laki-laki itu selalu pulang dengan membawa makanan enak untuk adiknya. Mereka pun makan dengan lahap dan uang tabungan mereka juga semakin banyak.
Lalu ketika Christine ingin pergi tidur, anak laki-laki itu tiba-tiba menarik tangannya dan menyuruhnya duduk sebentar. Dia ingin mengatakan sesuatu yang serius dan meminta pendapat adiknya. Dia berkata,
"Aku sangat khawatir dan bingung. Aku juga sangat takut." Ucapnya dengan bahasa isyaratnya.
"Memangnya kenapa kak? Apa yang terjadi dengan kakak?
Apa sesuatu yang buruk terjadi lagi pada kakak saat kakak sedang bekerja?"
"Iya. Kau lihatkan luka di tanganku ini? Luka yang aku dapatkan ini sebenarnya bukan luka karena kecelakaan kerja."
"Apa maksudmu kak? Ayo bicaralah terus terang.
"Jadi waktu itu aku menemukan ada sebuah ruangan rahasia di rumah majikanku. Ruangan itu seram dan remang-remang. Aku pun bingung kenapa aku sangat penasaran waktu itu. Dan mengikuti kata hati untuk mencari tahu. Tapi saat aku ingin keluar dari sana, seseorang memukul kepalaku sampai aku pingsan. Lalu saat aku sadar, aku melihat seseorang mengambil pisau dan melukai tanganku. Menampung darahku, dan mencipratkannya pada sebuah patung. Aku tidak tahu siapa dia. Karena wajahnya tertutup kain. Hanya matanya yang kelihatan. Tapi aku pura-pura pingsan dan menahan rasa sakit itu. Tapi lama-lama aku tidak tahan dan pingsan lagi. Tapi saat aku sadar, aku sudah ada di taman. Tanganku sangat sakit dan perbannya berlumur darah. Tak lama majikanku muncul dan mengobati lukaku. Memberikanku uang lebih dan menyuruhku berobat dan istirahat."
"Kalau begitu jangan kerja di situ lagi kak. Aku takut kakak dalam bahaya."
"Tapi kita butuh uang."
"Kita sudah punya uang kak. Jangan kerja disitu lagi."
"Tapi kau menginginkan ponsel. Uangnya kan belum cukup."
"Lupakan itu kak. Seberapa penting itu dibandingkan nyawa kakak? Untuk apa aku memilikinya tapi nyawa kakak dalam bahaya? Apa aku akan senang-senang dan tidak peduli? Jangan kak! Seperti ini saja aku sudah senang. Aku senang karena bisa punya kakak yang baik sepertimu."
__ADS_1
"Tapi. Kau sangat menginginkannya.
Christine, sebenarnya kakak tidak berani menyimpulkan kalau itu majikan kakak. Majikan kakak dikenal baik dan ramah. Kau lihat sendiri kan? Kita bisa makan enak setiap hari karena upah yang dia berikan. Dia tidak pelit. Bahkan kakak bisa beli baju baru untukmu dan untukku juga.
Tapi aku bingung. Mungkin ada orang lain di rumah itu yang melakukannya. Tapi majikan kakak kan tinggal sendiri di rumah itu. Kakak jadi semakin bingung."
"Benar juga. Tapi jika majikan kakak adalah pelakunya, untuk apa dia melakukan semua itu?"
"Kakak juga tidak tahu. Karena itulah kakak mengajakmu bicara dan menceritakan semua itu padamu. Kakak berharap kau bisa memberikan solusi."
"Mmm, begini saja. Bagaimana kalau besok aku ikut dengan kakak bekerja?"
"Jangan! Untuk apa? Aku tidak mau kau dalam bahaya. Biar kakak saja yang mencari tahu sendiri."
"Kakak tidak bisa karena harus bekerja. Lagi pula aku bukan orang yang penakut."
"Bukan masalah itu."
"Tapi apa? Pokoknya besok aku ikut. Aku ingin lihat majikan kakak seperti apa."
"Lalu kalau dia tanya kamu siapa, kakak akan jawab apa?"
"Jawab saja adikmu. Mudah kan?"
"Jangan! Karena bisa saja dia akan menyakitimu. Aku melihat dia sangat merindukan anak perempuannya. Dia sangat misterius."
"Tenang saja, Aku tidak bodoh. Aku sudah pernah selamat dari maut. Dan kali ini, aku juga akan baik-baik saja."
"Terserah kau sajalah. Tapi aku akan selalu menjagamu karena kakak tidak ingin kehilangan siapa pun lagi. Aku sudah bosan hidup sendiri. Dan aku ingin selalu bersama-sama seperti ini, seperti sebuah keluarga."
__ADS_1
"Baiklah, lebih baik kita sekarang tidur agar besok kita bisa bangun lebih cepat. Aku yakin majikan kakak itu orang yang tidak baik. Dia pasti menyembunyikan sesuatu."