Gara-gara Sebuah Mimpi

Gara-gara Sebuah Mimpi
Part 21. Memulai Lembaran Baru dan Mimpi Menakutkan


__ADS_3

Hari demi hari pun berlalu dan kesehatan wanita itu berangsur-angsur pulih sehingga mereka diizinkan pulang.


Wanita itu dan Christine pulang ke rumahnya ditemani oleh anak laki-laki itu.


Awalnya wanita itu menolak dengan keras. Tapi Christine terus memohon sambil menangis agar ibunya menerima kakaknya sekali saja.


"Tolong ibu jangan begitu. Kakak sudah banyak membantu kita selama ini. Siapa yang mencari uang dan membeli makan untukku? Kakak! Kalau bukan karena kakak, aku akan makan apa bu? Uang yang kita punya hanya cukup untuk membayar rumah sakit. Itu pun ditambah dengan upah kakak bekerja di bengkel. Kakak bukan orang jahat bu. Tolong mengertilah."


Tapi anak laki-laki itu diam saja dan berharap wanita itu akan menerimanya.


Akhirnya, setelah didesak terus menerus, wanita itu pun tak sanggup lagi menolak. Christine terus memohon dan bahkan mengancam akan lari meninggalkannya jika ibunya masih berkeras dengan perasaannya. Maka dengan terpaksa, wanita itu mengizinkan anak laki-laki itu tinggal bersamanya.


**********


Seraya hari berlalu, anak itu selalu memperlihatkan kebaikan dan kasih sayangnya kepadanya selama tinggal di rumahnya. Membuat hati wanita itu perlahan-lahan pulih. Belakangan dia mulai bisa menyingkirkan pemikirannya yang salah dan menyayangi anak itu.


Tapi untuk bisa terus makan, anak laki-laki itu terus bekerja keras siang dan malam agar mendapat uang tambahan. Dia juga rela mengurangi porsi makannya agar bisa dia bagi kepada adiknya dan wanita itu.


Sesekali anak laki-laki itu pulang membawa makanan yang diberikan oleh majikannya saat dia bekerja di bengkel.


Dan saat dia mendapatkan uang tips dari pelanggan yang puas dengan pekerjaannya, anak laki-laki itu tak sungkan-sungkan mengajak Christine dan wanita itu makan enak di luar.


Melihat semua perjuangan yang dilakukannya hari demi hari, hati wanita itu semakin dirundung rasa bersalah karena kejahatannya di masa lalu. Yaitu dendam yang tidak masuk akal yang dilampiaskan pada orang yang tidak bersalah.


**********


Suatu hari, ketika anak itu baru saja pulang dan duduk di teras rumah, diam-diam wanita itu mendekatinya meski masih ragu. Dia menghampiri anak itu karena ingin meminta maaf.


"Nak, maafkan ibu yah. Selama ini sikap ibu salah dan tidak masuk akal. Tapi kamu tidak pernah meninggalkan kami. Kau bahkan membantu kami mendapatkan makanan. Ibu berhutang banyak padamu. Betapa beruntungnya seorang ibu memiliki putra sebaik dirimu."


Anak itu tidak menjawabnya. Tapi hanya mendengarkan dan tersentuh hatinya karena akhirnya wanita itu menyesali perbuatannya. Kemudian wanita itu berkata lagi,

__ADS_1


"Nak, ibu tidak tega melihatmu bekerja terlalu keras setiap hari. Ibu juga ingin membantu meringankan bebanmu. Cobalah kau tanyakan pada majikanmu. Apakah dia mau membeli barang-barang yang ibu punya di rumah ini.


Beberapa akan ibu jual agar kita bisa terus makan sampai ibu mendapatkan pekerjaan. Aku tidak tega melihatmu setiap hari pulang larut malam dan bekerja keras untuk kami."


Anak laki-laki itu hanya menganggukan kepalanya menyetujui seluruh perkataannya. Lalu pamit.


**********


Lalu ke esokan harinya anak laki-laki itu pergi dan menyampaikan semua perkataan wanita itu kepada majikannya, tepat seperti yang dia katakan.


Dan beruntung, majikannya mau membeli beberapa sofa dan meja yang nanti akan dia letakkan di bengkel sebagai tempat istirahat bagi para pelanggan yang menunggu servis kendaraannya selesai.


Maka pemilik bengkel itu segera pergi ke sana dengan mengendari mobil pick up dan membawa tiga orang karyawannya untuk mengangkut barang-barang yang akan dia beli.


Melihat satu per-satu barang-barangnya diangkut ke dalam mobil, membuat wanita itu tak kuasa menahan airmatanya. Tapi dia harus melakukannya demi membantu anak laki-laki itu dan bertahan hidup.


Setelah menerima uang hasil penjualan barang-barangnya, wanita itu pergi ke kamarnya dan duduk merenung. Dia berpikir bagaimana dia akan menggunakan uang itu secara hati-hati dan tepat.


Sisa uang ini akan aku pakai untuk modal usaha. Yah! Aku akan coba usaha kecil-kecilan. Mungkin jualan makanan, seperti kue. Yah! Semoga usahaku bisa berjalan lancar."


Setelah itu, wanita itu turun menemui Christine di kamarnya dan mengajaknya berbelanja ke pasar.


Wanita itu membeli banyak persediaan sembako. Seperti beras, ikan, sayuran dan buah-buahan. Lalu dia berkata pada Christine,


"Hari ini ibu akan masak makanan enak untuk kita bertiga. Ibu ingin memulai kehidupan baru dari doa kita bertiga. Kita harus selalu kompak dan bekerja sama seperti keluarga."


"Sungguh? Aku sangat senang mendengarnya bu. Akhirnya apa yang aku dambakan selama ini bisa terwujud. Makasih yah bu." Ujarnya sambil memeluk erat ibunya.


**********


Maka sejak saat itu, mereka menjalani hari-hari dengan kompak dan kasih sayang layaknya keluarga kandung.

__ADS_1


Namun sayangnya itu tidak lama. Suatu malam wanita itu bermimpi buruk tentang mantan suaminya. Laki-laki itu datang dengan sebilah pisau di tangannya dan mengejarnya berupaya membunuhnya.


Wanita itu berlari sekuat tenaga menghindari kejaran laki-laki itu. Seraya dia berlari, mulutnya terus menyerukan kata 'Tolong....!' Namun tidak ada satupun yang mendengarnya.


Sampai akhirnya wanita itu tak mampu lagi berlari karena sudah kehabisan tenaga dan akhirnya terjatuh di kaki pria itu.


Melihatnya sudah terkulai lemah, pria itu bukannya kasihan. Tapi justru menghujamkan pisau itu dengan cepat ke leher wanita itu. Tidak ada rasa iba sedikit pun di mata laki-laki itu meski wanita itu sudah berulangkali memohon dan mengemis belaskasihannya.


Maka seketika itu, wanita itu terbangun dari tidurnya dan belakangan sadar kalau itu hanya mimpi yang mengerikan. Meski demikian, dia sangat takut dan dikuasai kecemasan yang berlebih. Dia duduk di ranjangnya dan menarik selimutnya hingga menutupi tubuhnya sampai ke leher dan gemetar ketakutan.


Sesekali dia berteriak tanpa kendali karena perasaan takut itu hingga suaranya membangunkan Christine dan anak laki-laki itu. Mereka segera berlari ke kamar ibunya karena khawatir kejadian buruk tiba-tiba menimpanya.


Tapi saat wanita itu melihat anak laki-laki itu berdiri di depan tempat tidurnya, dia segera bangkit dan menyerang anak itu hingga jatuh. Dia berteriak,


"Apa kau masih belum puas menyakitiku? Kau tidak bisa menyakitiku dengan mudah. Justru aku yang akan membuatmu tiada."


Dia dan Christine kebingungan sekaligus takut dengan kejadian yang tiba-tiba itu. Lalu dengan cepat wanita itu memecahkan sebuah Vas, mengambil pecahan kacanya dan menyerang anak laki-laki itu hingga berdarah.


Anak laki-laki itu berusaha melepaskan diri dari cengkraman wanita itu seraya dia ingin semakin melukainya. Tapi tak tinggal diam, Christine mendorong wanita itu dengan kuat agar kakaknya bisa selamat dari ibunya.


Ketika wanita itu terjatuh, Christine cepat-cepat mengunci ibunya di kamarnya dan lari menyusul kakaknya.


Wanita itu memberontak dan terus mendobrak-dobrak pintu kamarnya sambil berteriak akan menghabisi anak laki-laki itu.


Sementara Christine dan anak laki-laki itu terus menunggu di luar dan membiarkan wanita itu lelah berteriak dan berhenti dengan sendirinya. Lalu anak itu berkata,


"Aku sangat takut dan kaget sampai hampir mati rasanya. Hampir saja aku mati di tangannya. Sepertinya aku tidak bisa lagi membiarkanmu tinggal lebih lama dengan ibumu. Bagaimana jika aku adalah kau?


Tidak! Hanya kau yang aku punya di dunia ini. Aku sangat menyesal pernah membawamu ke sini. Sebaiknya kita pergi saja dari sini."


"Tidak kak! Aku tidak bisa meninggalkan ibu dalam kondisi seperti itu. Bagaimana jika dia hilang kendali dan bertindak nekat?

__ADS_1


Tidak kak! Aku tidak bisa. Biar bagaimana pun, ibu tiriku sudah banyak berkorban untukku."


__ADS_2