Gara-gara Sebuah Mimpi

Gara-gara Sebuah Mimpi
Part 17. Kebohongan dan Hari Yang Mendebarkan.


__ADS_3

Malam itu ketika mereka sedang makan malam, ibunya berpura-pura mengatakan kalau dia melihat anak laki-laki itu. Dengan maksud untuk memastikan apakah kecurigaannya benar.


"Nak, tadi Ibu melihat kakakmu ada di sekitar komplek ini."


"Sungguh? Ngapain? Sedang apa? Rumahnya sangat berantakan saat aku pergi ke sana tadi siang." Balasnya tanpa sadar. Tapi setelah itu dia berkata lagi dalam hati, 'Aduh, gawat! Aku kelepasan bicara. Sekarang apa yang harus kukatakan?'


Reaksi ibu tirinya pun segara berubah saat mendengar perkataannya yang spontan itu. Kecurigaannya ternyata benar.


"Apa benar yang baru saja ibu dengar itu?" Tanyanya mulai marah.


"Tidak bu. Itu tidak benar. Aku tidak ke sana. Percayalah padaku bu. Aku sudah berjanji padamu."


Beberapa hari setelah undangan makan itu, ibunya secara halus memintanya lagi agar dia tidak menemui kakaknya. Wanita itu mengatakan kalau dia belum bisa melupakan sakit hatinya. Meski permintaan itu sangat membebani hatinya, Christine tetap menurutinya dengan terpaksa dan bahkan berjanji. Karena dia tidak mau melihat ibunya marah.


Namun karena Christine tidak berkata jujur, ibunya menunjukkan sebuah benda padanya yang dia ambil secara diam-diam dari kamarnya saat dia sedang mandi.


"Kalau begitu, benda apa ini. Sejak kapan kau menyimpan uang di toples lusuh seperti ini? Ibu selalu memberimu uang dan kamu tidak pernah kekurangan apapun. Apa tidak ada tempat yang lebih bagus yang bisa kau pakai untuk menyimpan sisa uangmu?"


"Itu milik temanku bu. Dia menitipkannya padaku dan ingin aku menyimpannya karena ayahnya seorang pemabuk dan pejudi. Tidak ada tempat yang aman di rumahnya untuk menyimpan uang. Bahkan ibunya selalu dikuras dan dipaksa memberi uang untuknya bermabuk-mabukan. Jika tidak, ayahnya akan memukuli ibunya."


"Begitu yah?"


"Iya bu. Aku tidak bohong. Percayalah."

__ADS_1


"Baiklah. Kali ini ibu akan menganggapmu jujur. Sekarang lanjutkan makanmu lalu beristirahatlah. Tidak perlu membantu ibu. Ibu yang akan bereskan semuanya setelah makan."


*********


Lalu setelah mereka selesai makan, dan Christine sudah masuk ke kamarnya, ibunya berbicara sendiri dengan geram.


"Sulit sekali memisahkan anak ini dari bocah sialan itu. Aku yakin anak itu sudah menipuku. Dia pasti masih ada di kota ini. Tapi aku akan segera menemukanmu untuk memberimu pelajaran berharga. Harusnya waktu itu aku mengirimmu ke tempat yang sangat jauh, tempat ke mana semua orang akan pergi pada akhirnya meninggalkan dunia ini. Kau memanfaatkan belas kasihanku untuk menipuku. Bahkan bayanganmu saja susah untuk kulenyapkan."


**********


Maka ke esokan harinya, wanita itu pergi mencari anak laki-laki itu ke berbagai jalanan di kota. Tapi tak menemukannya.


Dan karena hari sudah larut malam, wanita itu pun pulang karena khawatir Christine akan curiga padanya.


"Nak, bangunlah!


Sekarang kita harus pergi. Ayo bangun. Cepatlah mandi dan persiapkan dirimu!"


"Kita akan pergi ke mana bu pagi-pagi begini?" Jawabnya sambil mengucek-ngucek matanya yang masih terasa berat. Lalu dia melihat jam dan itu masih menunjukkan jam 4 pagi.


"Bu, ini masih sangat pagi. Aku masih ngantuk." Ujarnya mencoba tidur lagi.


"Aduh... kau ini. Nanti saja lanjutkan tidurnya di mobil. Ayo bangun! Kita akan pergi keluar kota. Bukankah beberapa hari lagi penyanyi kesukaanmu akan menggelar konser?"

__ADS_1


"Iya bu. Tapi itu kan masih lama."


"Iya benar. Tapi selain itu, kita akan pergi jalan-jalan dulu. Anggap saja kita pergi liburan."


"Ibu ini sangat aneh. Semuanya serba mendadak. Aku jadi tidak mengerti. Baiklah, aku akan segera mandi dan bersiap. Ibu tunggu saja. 10 menit lagi aku akan siap."


Lalu sementara Christine bersiap-siap, ibunya berkata dalam hati, 'Akan kupastikan kau benar-benar jauh dari kehidupan kami. Aku yakin kau masih ada di sini dan bersembunyi di satu tempat.'


Kemudian setelah semuanya siap, mereka pun segera pergi. Sementara anak laki-laki itu hanya bisa melihatnya dari jauh dan sangat sedih. Karena biasanya setiap pagi, dia selalu datang ke rumah itu untuk melihat adiknya dari jauh sebelum pergi ke tempat kerjanya di bengkel.


**********


Selama mereka berlibur, Christine begitu menikmatinya. Wajahnya yang murung selama ini karena tidak bisa bertemu kakaknya, hilang. Dia lupa karena semua kesenangan yang didapatkannya. Apalagi saat hari yang dia nanti-nantikan tiba. Yaitu menonton konser penyanyi favoritnya. Dia duduk di bagian depan sehingga bisa melihat idolanya dengan jelas. Menikmati setiap lagu yang dibawakan oleh idolanya. Dia sangat terpukau melihat ketampanan sang idola dari dekat. Matanya berbinar-binar karena tak menyangka hal itu sungguh terjadi. Dia berkata dalam hati, 'Dulu aku hanya melihat idolaku di TV, poster, dan ponsel. Dan aku sering berharap bisa melihatnya secara langsung. Sekarang keinginan itu sudah terwujud. Idolaku ada di depan mataku. Rasanya aku sulit percaya. Apa ini benar atau hanya mimpi? Aku dikirimkan seorang ibu yang bisa memenuhi apa yang aku dambakan. Aku sangat beruntung.'


Dia terus menghayal sembari menikmati setiap lagu yang idolanya nyanyikan. Dan karena semua itu, dia pun semakin menyayangi ibu tirinya dan bertekad untuk membahagiakannya. Menuruti setiap kata-katanya. Bahkan jika dia harus melupakan kakaknya, dia rela lakukan.


Lalu setelah menyaksikan konser itu, mereka kembali ke hotel. Tiba-tiba ibunya memberinya tiket untuk jumpa fans bersama sang idola. Dia pun senang bukan main dan berteriak sambil memeluk ibunya dan mengucapkan terima kasih. Suaranya yang sempat tidak terkontrol itu sempat menggangu orang-orang di sana. Maka dia segera diam dan menetralkan emosinya lagi karena menjadi perhatian orang-orang.


**********


Akhirnya hari mendebarkan itu pun tiba. Hari yang paling menegangkan untuk setiap fans saat bertemu dengan penyanyi favoritnya yang sudah lama dinanti-nantikan. Dia pun menunggu gilirannya dan terus saja gugup. Tangannya dingin dan gemetar karena bingung akan berekpresi seperti apa di depan idolanya nanti. Kata-kata seperti apa yang akan dia utarakan nanti. Di tangannya juga sudah tersedia hadiah untuk sang idola. Hadiah yang biasa diberikan oleh anak-anak remaja seusianya untuk sang idola. Seperti boneka beruang yang lucu, accessories, bahkan mainan-mainan yang unik. Tak lupa dia juga memegang sebuah buku untuk meminta tanda tangan sang idola.


Maka setelah gilirannya tiba, dia langsung memberikan semua hadiah itu, meminta tanda tangannya, tapi hanya menyapanya singkat. Rasa gugupnya yang besar, menghilangkan semua kata-kata yang sudah dihafalnya sebelumnya. Bahkan karena begitu gugup, tangannya sampai gemetar saat memberikan bukunya untuk meminta tanda tangannya.

__ADS_1


Dia juga meminta agar bisa menyentuh wajah sang idola juga rambutnya dan memakaikan hiasan di kepala sang idola.


__ADS_2