
Ke esokan harinya, anak laki-laki itu bangun pagi-pagi sekali dan meninggalkan Christine yang masih tidur. Kali ini dia pergi tanpa berpamitan.
Dia berjalan tergesa-gesa ke rumah majikannya dan berharap majikannya ada di sana dan melihat hasil pekerjaannya selama ini agar dia bisa meminta upahnya.
Sesampainya di sana, dia langsung membuka gerbangnya dan berjalan pelan-pelan. Dia melihat ke sekelilingnya dengan sangat hati-hati.
Ketika dia sudah berdiri di depan pintu, tiba-tiba saja angin berhembus kencang dan menyibakkan horden jendela rumah itu. Seketika suasananya menjadi sedikit menegangkan. Tapi karena begitu penasaran, dia membuka pintu yang tidak terkunci itu dan terus berjalan mencari majikannya. Tapi majikannya tidak ada.
Para tetangga pun tidak ada yang tahu. Wanita itu dikenal baik di lingkungannya dan sangat ramah kepada setiap tetangganya. Kalau dia pergi, pastilah ada yang mengetahuinya. Namun sudah berhari-hari sejak majikannya tak terlihat, tak ada seorangpun yang tahu.
Lalu ketika dia melangkah ke sebuah ruangan yang lain, tiba-tiba pandangannya teralihkan oleh sebuah lemari yang bergeser sedikit dari posisinya. Lalu dia melihat ke arah lemari itu dan menemukan ada selendang putih tergantung di sana. Suasananya cukup remang-remang. Maka dia mencari saklar lampu dan menghidupkan lampunya.
Ketika lampu menyala, dia melihat sebuah boneka yang satu bola matanya hilang dan terdapat banyak bercak darah di wajahnya. Wajah boneka itu juga sedikit hancur karena penuh dengan sayatan pisau.
Entah apa yang sudah terjadi di rumah itu. Lalu dia juga menemukan selembar foto terselip di bawah boneka itu. Dan di balik foto itu ada tulisan yang berbunyi, 'Putri ku tercinta.'
Dia pun menjadi semakin bungung dan takut dengan semua yang dia lihat. Dia mengingat sebelumnya majikannya pernah berkata bahwa dia hanya tinggal seorang diri. Dia tidak punya keluarga atau bahkan kerabat.
Maka karena rasa penasarannya semakin bertambah, dia mencoba mencari tahu dengan melihat ke seluruh bagian lemari. Dan tiba-tiba saja matanya melihat ada sebuah celah sempit dari balik lemari itu. Dia pun menggeser lemari itu sehingga celahnya menjadi sedikit lebih lebar. Ternyata itu adalah sebuah ruangan bawah tanah. Ruangan itu cukup dalam. Anak tangganya banyak.
Kemudian dia turun ke dalam dan melihat ada sebuah patung kecil. Patung itu adalah patung anak perempuan yang berambut panjang. Dan patung itu juga dipakaikan sebuah gaun berwarna merah tua. Patung itu memiliki wajah yang cantik. Dia terus mengamati patung itu dan melihat ada keanehan. Rambut patung itu seperti rambut sungguhan. Dan tubuh patung itu juga tidak terlalu keras seperti patung manekin pada umumnya.
__ADS_1
Di sekitar patung itu juga terdapat beberapa botol balsam yang dia sendiri tidak tahu kegunaannya. Maka dia menjadi semakin takut. Lalu dia memutuskan untuk segera pergi dari sana.
Tapi saat dia berbalik dan melangkah beberapa anak tangga, seseorang memukul kepalanya dengan cepat hingga dia pingsan. Entah dari mana dia datang. Lalu orang itu menyeretnya dan mengikatnya pada sebuah tiang. Lalu berkata,
"Kamu mengantarkan dirimu sendiri padaku. Akhirnya, setelah menunggu cukup lama, aku bisa menemukan pengganti anakku. Putriku pasti sudah lelah menjadi patung di sini. Maka kaulah yang harus menggantikannya."
Kemudian dia mulai melakukan beberapa ritual.
Dan sementara anak itu masih tak sadar, orang itu mulai mempersiapkan api persembahan dan mengucapkan serangkaian doa di hadapan anak laki-laki yang terikatnya itu. Lalu beberapa dupa pun dibakar hingga aromanya memenuhi seluruh ruangan itu.
Setelah beberapa waktu, anak laki-laki itu mulai sadar dan membuka matanya perlahan-lahan. Matanya masih kabur namun dia berusaha mengenali siapa orang yang berdiri di hadapannya dan membelakanginya. Orang itu terus saja mengucapkan ritual doanya.
Sangat sulit baginya untuk bisa mengenali siapa orang itu karena ruangan itu cukup remang-remang. Setelah itu, orang itu beranjak dan menggeser patung anak perempuan itu ke sisi anak laki-laki itu. Sementara anak laki-laki itu menutup matanya dan berpura-pura pingsan. Lalu orang itu berkata lagi,
Kemudian orang itu pergi mengambil sebilah pisau yang sangat tajam dan langsung menggoreskannya pada lengan anak laki-laki itu hingga darah terciprat dan memancar. Namun dia segera mengambil sebuah cawan untuk menampung darahnya. Saat itu anak itu ingin membuka matanya. Tapi dia takut dan mencoba menahan rasa sakit dan terus menutup matanya.
Setelah orang itu menampung darah anak itu, dia lalu memercikkannya pada patung anak perempuan itu.
Anak laki-laki itu semakin lama semakin lemas dan tak mampu lagi menahan rasa sakitnya. Dia pun pingsan untuk kedua kalinya. Lalu orang yang ditutup wajahnya itu membalut lukanya setelah diabiarkan menganga cukup lama. Setelah itu dia membawa anak itu ke taman dan membaringkannya di antara bunga kamboja lalu pergi.
Berjam-jam kemudian, anak laki-laki itu sadar dan membuka matanya. Dia merasakan nyeri yang hebat di lengannya. Dia menangis karena rasa sakit itu luar biasa.
__ADS_1
Lalu tak lama kemudian, seseorang dari kejauhan datang mendekatinya. Dia bertanya,
"Hei, ada apa nak? Kenapa kau berbaring di sini? Dan kenapa kau menangis?"
Orang itu tak lain adalah majikannya sendiri. Lalu berkata lagi,
"Nak, kenapa tanganmu bisa luka seperti ini? Apakah kau bekerja kurang hati-hati? Ayo bangunlah! Ibu akan mengobati lukamu."
Maka majikannya membantunya berdiri dan membawanya ke teras rumah. Lalu dia mengambil kotak P3K dan mengganti perban yang sudah berlumuran darah itu. Setelah itu dia berkata lagi,
"Oh yah, apa kau sudah makan? Tunggu sebentar. Ibu akan ambilkan makanan."
Lalu dia pergi ke dapur dan mengambil sepiring makanan dan segelas susu lalu memberikannya pada bocah itu.
"Nak, makanlah dulu supaya kau lebih baik.
Kau pasti mencariku kemana-mana kan? Aku pergi keluar kota karena urusan mendadak. Tapi sudahlah. Setelah kau selesai makan, sebaiknya kau pulang dan beristirahat."
Lalu setelah anak itu selesai makan, majikannya kemudian pergi dan mengambil uang lalu memberikan upah anak itu. Dia berkata,
"Untuk sementara kau tidak perlu bekerja dulu sampai kau benar-benar pulih. Ambillah uang ini dan obati tanganmu sampai sembuh."
__ADS_1
Anak itu hanya menganggukan kepalanya tanda setuju. Lalu dia segera pergi. Meski dia masih lemah dan merasa sakit, tapi dia masih bisa bahagia karena tidak pernah mendapatkan uang yang banyak.
Lalu dia pergi ke warung makan dan membeli makanan yang enak untuknya juga adiknya. Dia juga mampir ke toko pakaian untuk membeli baju baru untuknya dan juga Christine. Tak lupa dia juga membeli obat dan salap untuk mengobati lukanya.