
Tapi seraya dia membersihkan rumah, pikirannya selalu tidak tenang karena tak melihat ibunya. Lalu dia mampir lagi ke taman untuk melihat kedua kalinya. Tapi ibunya juga tidak ada. Teh yang dia buat pun masih utuh.
"Bu! Ibu ada di mana?
Bu! Ibu!" Teriaknya memanggil.
"Apa ibu pergi lewat pintu belakang agar aku tidak tahu?" Ujarnya dalam hati.
Maka dia berjalan menuju pintu belakang. Tapi ketika hendak membuka kuncinya, dia melihat ada noda darah yang cukup banyak di situ dan itu sudah kering.
"Hah? Darah? Darah siapa ini? Ini tidak mungkin darah ibu? Darah ini sudah kering. Bu! Ibu ada di mana?" Teriaknya lagi dan mulai takut.
Semakin lama, dia menjadi semakin takut karena pemikirannya yang semakin kacau. Hingga akhirnya dia berlari meninggalkan taman itu dan bersembunyi di kamarnya. Dia berpikir, darah itu mungkin darah seorang perampok yang pernah membuatnya takut ketika ibunya pergi ke luar kota dan meninggalkannya sendiri.
Dia tidak tahu kalau darah yang sudah berkerak itu adalah darah kakaknya yang lari lewat pintu belakang ketika ibu tirinya membebaskannya. Wanita itu tidak memperhatikannya karena terlalu fokus memastikan anak laki-laki itu benar-benar pergi menjauh dari kehidupannya. Wanita itu terus mengikutinya dari jauh seraya anak itu pergi. Untuk memastikan bahwa bocah itu tidak akan berbohong padanya. Dan setelah wanita itu benar-benar yakin anak itu sudah pergi jauh, wanita itu segera kembali ke rumah lewat pintu depan.
Christine tidak tahu kalau sebenarnya ibunya berada di ruang rahasia itu. Dia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang hal itu.
Di ruang rahasia itu, wanita itu melakukan serangkaian ritual untuk menenangkan dirinya dari semua musibah yang menimpanya. Tapi meski mulutnya terus berkomat-kamit, pikirannya tetap tidak bisa fokus. Dia selalu memikirkan nasib perusahaanya yang kini di ambang kehancuran.
Wanita itu pun menjadi kesal dan marah. Kemarahannya berkobar hingga dia melemparkan nampan doanya yang berisi beberapa jenis bunga.
Kemudian dia kembali lagi ke kantornya untuk melihat nasib perusahaannya. Lalu setibanya di sana, dia melihat seseorang datang membawa beberapa selebaran dan menempelkannya di dinding perusahaannya. Di situ ditulis bahwa izin perusahaannya sudah dicabut karena sudah merugikan negara.
Wanita itu pun berteriak histeris dan menangis kencang saat membaca tulisan itu. Tapi orang yang menempelkan selebaran itu tidak peduli.
Kemudian ada seorang security yang sedang berjaga, lewat dan menolongnya ketika wanita itu akhirnya jatuh pingsan. Security itu membawanya ke pos dan mencoba menyadarkannya. Tapi seraya dia telah mencoba seluruh yang dia bisa, wanita itu tak kunjung sadar. Maka security itu pun pergi mencari bantuan sambil berkata dalam hati,
"Aku tidak menyangka wanita hebat sepertinya bisa jatuh pingsan seperti ini.
Kasihan sekali. Aku tidak menyangka dia akan jatuh seperti ini."
**********
Belakangan wanita itu akhirnya sadar setelah mendapat bantuan dari beberapa orang di sana. Tapi dia menangis lagi sejadi-jadinya di pos itu dan tak peduli orang-orang melihatnya. Juga, tidak ada orang yang berani menghentikannya untuk tidak terus menangis. Mereka membiarkan wanita itu menangis sampai puas.
Lalu belakangan setelah emosinya mulai reda dan tenang, dia pulang karena khawatir memikirkan anaknya.
__ADS_1
Setibanya di rumah, wanita itu memanggil-manggil Christine tapi tak ada jawaban. Wanita itu terus memanggilnya berkali-kali sampai akhirnya dia mendengar suara teriakan berasal dari kamar Christine. Wanita itu panik dan segera berlari cepat menuju kamar anaknya lalu mengetuk pintu kuat-kuat berkali-kali dan berteriak memanggilnya,
"Nak, kau tidak apa-apa kan?
Kau kenapa nak?
Ayo buka pintunya!
Ini ibu nak. Christine! Buka pintunya!
Christine.....!"
Belakangan Christine sadar kalau itu ibunya. Maka dia cepat-cepat berdiri dari tempat tidurnya dan membuka pintu kamarnya lalu memeluk ibunya erat sambil menceritakan ketakutannya.
"Bu, aku sangat takut. Ibu dari mana saja? Ibu pergi kemana? Aku mencari ibu di taman tapi tidak ada. Aku melihat ada noda darah di pintu taman belakang bu. Aku sangat takut."
"Apa? Darah?" Balasnya panik. Lalu dia berkata lagi dalam hati,
"Anak itu selalu saja menyusahkanku. Bahkan kepergiannya pun membuatku tidak tenang."
**********
Namun semakin hari, beban itu terasa semakin berat untuk dipikul oleh wanita itu seorang diri. Itu seperti bongkahan es seberat 20kg yang menimpa kepalanya. Rasanya dia ingin mati saja karena tak sanggup lagi memikul bebannya. Hingga akhirnya dia jatuh sakit dan terpaksa dilarikan ke rumah sakit.
Wanita itu menjalani perawatan selama berhari-hari di rumah sakit. Kondisi kesehatan mentalnya semakin buruk.
Uang yang kini dia punya hanya bisa mereka pakai untuk membayar biaya rumah sakit selama beberapa hari. Karena sejak perusahaannya mendapat masalah, para investor dengan cepat menarik semua sahamnya hingga menyebabkan dia terlilit hutang yang parah.
Hanya rumah besar yang kini mereka tempatilah yang masih tersisa.
Lalu ketika wanita itu sedang tidur, Christine pulang ke rumah untuk mengambil beberapa pakaiannya dan pakaian ibunya. Karena ibunya masih harus menjalani beberapa hari pengobatan.
Malam itu saat dia dalam perjalanan pulang, tiba-tiba dia melihat kakaknya berjalan memasuki sebuah gang. Maka dia meminta supir taksi itu segera berhenti lalu cepat-cepat turun. Kemudian diam-diam dia pergi mengikuti kakaknya dari jarak jauh.
Tapi ketika anak itu akan masuk ke satu rumah, Christine segera berteriak memanggilnya. Anak itu pun langsung melihat ke belakang saat mendengar namanya dipanggil.
"Christine!" Ujarnya dalam hati lalu berlari menghampirinya.
__ADS_1
"Kak! Kakak dari mana saja? Aku takut kak!" Ujarnya sambil memeluk kakaknya erat. Sedangkan anak laki-laki itu hanya membalas pelukannya sambil menangis haru karena tak menyangka akan bertemu dengan adiknya.
Kemudian Christine berkata lagi,
"Selama ini kakak dari mana saja? Sudah dua kali aku mencarimu di gubukmu tapi kakak tidak ada. Semua barang bekas di sana juga sudah habis diambil orang. Kakak pergi kemana saja selama ini?"
Maka dengan pedih hati, anak itu pun terpaksa menjelaskan semuanya. Bahwa dia terpaksa pergi demi menepati janjinya pada wanita itu. Dia berkata,
"Aku terpaksa pergi karena ibu tirimu mengancam akan membuatmu bernasib sama seperti putrinya, menjadi patung jika aku tidak menuruti kata-katanya. Dia bahkan menyekap dan menyiksaku selama berhari-hari di satu ruangan. Sejak undangan makan siang itu, ibumu terus melukaiku dan mengambil darahku untuk ritualnya. Dia sangat mengerikan. Dia tidak seperti yang kau lihat. Dia mengawetkan anaknya karena tidak ingin melihat jasadnya hancur. Sedangkan suaminya dia bunuh dan dikuburkan di taman. Percayalah. Ibumu juga memberiku uang agar aku bisa pergi jauh dari kehidupan kalian. Tapi karena aku sangat menyayangimu, aku tidak melakukannya."
"Tidak mungkin. Ibu tidak akan sejahat itu. Kakak hanya mengada-ada. Ibu sangat baik. Dia sudah banyak berkorban untukku. Kakak hanya cemburu saja kan padaku? Jadi kakak mengarang cerita buruk tentang ibu?"
"Tidak Christine. Percayalah.
Lihat luka di tanganku ini. Apa kakak akan menyakiti diri sendiri hanya untuk membuktikan kebenarannya padamu kelak?"
Maka dia segera melihat luka di tangan kakaknya yang belum sepenuhnya pulih dan mulai percaya. Lalu anak itu berkata lagi,
"Waktu itu ibumu menyuruhku pergi dari pintu belakang agar kau tak melihatku. Aku tak sempat membalut lukaku karena wanita itu menyuruhku cepat-cepat pergi."
"Jadi noda darah di pintu taman belakang itu adalah noda darah kakak? Begitu?"
"Yah."
"Jadi selama ini kakak tidak pergi menemui teman kakak? Dan itu artinya selama ini ibu sudah berbohong?"
Belakangan dia menjadi lemas sehingga duduk berjongkok di jalan setelah mendengarkan semua kata-kata kakaknya.
"Lalu apa yang harus kulakukan sekarang? Aku sangat bingung dan takut kak? Saat ini ibu sedang sakit dan perusahaanya hancur. Aku harus apa? Aku tak mengerti apa yang harus kulakukan sekarang." Ujarnya mulai menangis.
"Tapi apa yang kamu lakukan di sini malam-malam begini?"
"Aku pulang karena mau mengambil beberapa pakaian. Saat ini ibu sedang dirawat di rumah sakit karena stress berat."
Tapi anak itu tidak membalasnya lagi dan mulai turut menangis melihat penderitaan adiknya. Dia merangkul adiknya dan mencoba menghiburnya.
Lalu mereka segera pergi dari sana dengan menaiki sebuah bus menuju rumah wanita itu.
__ADS_1