
Cuaca yang masih terik menemani Waffa dan Zora yang sedang berlarian mengintai sekolah mencari salah satu sahabatnya itu.
Waffa berhenti berlari sambil mengatur napasnya di koridor kelas 10, lalu ia menoleh saat Zora baru datang sebab tertinggal.
"Ra, dah ketemu?"
Zora yang sama kelelahannya membalas Waffa dengan gelengan kepala, "belum, dimana sih tuh anak!!"
Waffa pun menghela napas saat mendengar ucapan sahabat nya itu, "kira-kira di mana tempat yang paling tenang sih?" tanya Waffa.
"Tempat yang tenang belum kita kunjungi itu roof top ga sih?" tebak Zora pada Waffa.
Waffa menepuk jidatnya sendiri, baru sadar akan hal yang di ucapkan Zora. "Ouhh iya anjir kita belum ke sana kan? bukan nya dari tadi bilang, mungkin ga akan ke sana kemari nyarinya bikin cape aja!!"
"Kalo tahu dari awal juga gua udah ke sana kali!!" balas Zora kesal.
Waffa yang mendengar itu cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, "ouh iya nyah hehehe, tuh anak sih bikin susah aja ngilang kaya di culik kelong kaga keliatan!!" gerutu Waffa.
"Udah cepat kita ke sana nanti ke buru masuk," ajak Zora pada Waffa sambil menarik tangannya, Waffa yang pasrah akan aja kan Zora pun hanya pasrah ikut berlarian menuju roof top.
Sesampainya di roof top Zora dan Waffa pun terkejut akan kehadiran Shaka disana yang sepertinya sedang berdebat dengan Nata, keduanya bersembunyi dibalik sofa tak terpakai dan menyimak kedua orang yang masih beradu mulut itu sampai dimana saat Nata terlihat menangis Waffa yang tak bisa tinggal diam hendak maju namun Zora menahannya.
"Diem dulu, lo ga tau cerita sebenernya kayak gimana jangan gegabah Waffa," bisik Zora dan hal itu dengan terpaksa Waffa ikuti.
Keduanya terus menyimak apa yang terjadi diantara Nata dan Shaka di depan sana, Waffa sejak tadi sudah menyumpahi Shaka dengan serangkaian bahasa hewan.
Sampai pada akhirnya terdengar suara Nata yang cukup jelas di telinga keduanya, "Jangan munafik Shaka, gua tau lo juga pengen posisi gua."
Zora dan Waffa saling melirik bingung dengan apa yang di katakan oleh Nata, namun keduanya tak ingin ambil pusing dulu sebab sekarang yang mereka lihat hanya sosok Shaka yang menatap kosong pintu roof top.
"Nata udah pergi, gua susul dia dan lo interogasi Shaka." Setelah itu Zora meninggalkan Waffa di roof top.
Karena sejak tadi Waffa menahan emosinya akhirnya ia mendekati sosok Shaka yang terlihat termenung di sisi roof top.
"Kalo hadirnya lo di kehidupan Nata cuma bikin dia sakit, mending pergi."
Perkataan yang terucap dari bibir Waffa itu membuat Shaka menoleh kaget, sejak kapan Waffa ada disini?
"Gak usah ikut campur, ini bukan urusan lo."
__ADS_1
Waffa berdecih lalu menatap sinis Shaka, "kalo lo nyakitin sahabat gua, berarti lo berurusan sama gua Shaka."
Lelaki itu terdiam tak berniat untuk membalas perkataan Waffa, perkataan itu ia ucapkan saat Nata di ganggu oleh orang-orang yang menjahilinya dulu.
"Lo gak tahu dan gak bakal pernah ngerti apa yang terjadi antara gua sama Nata, jadi jangan nilai gua jelek sebelum lo tahu apa cerita sebenarnya." Shaka tersenyum tipis lalu pergi meninggalkan Waffa yang masih termenung di tempatnya.
"Sebenernya mereka ada masalah apaan deh? kenapa gua gak tahu?" gumam Waffa, otaknya kini berpikir keras tentang hubungan Nata dan Shaka.
••••
Sementara itu kini Zora mengejar Nata yang berjalan cukup cepat seperti dikejar-kejar setan, hingga Zora melihat sahabatnya itu berhenti tepat di depan seorang lelaki yang dari kejauhan saja sudah dipastikan bahwa itu sang ketua paskibra sekolah.
Nata kaget tentu saja, kenapa semesta hari ini malah mempertemukan lagi luka lamanya? karena kini di depannya sosok Devyan menatapnya dengan sorot mata yang sukar untuk dijelaskan.
"Halo Nat, apa kabar?"
Pertanyaan itu mampu meruntuhkan air mata yang sejak tadi ia tahan, Nata tersenyum kecut lalu berbalik hendak pergi meninggalkan Devyan namun lengannya Devyan cekal.
"Bentar doang Nat, aku pengen ngobrol sama kamu." Devyan menatap Nata dengan memohon, namun tatapannya dibalas dengan sorot tajam milik Nata.
"Please jangan sekarang," pinta Nata, sorot tajamnya itu tak mampu menutupi bahwa ada luka yang tersimpan disana.
"Aku mohon, please Nat aku kangen sama kamu." Lelaki dengan postur tubuh yang tegap itu terus memohon, dan hal itu membuat Nata kembali mengingat kejadian dulu.
"Dev, gua mohon jangan ganggu Nata dulu kali ini aja ya? please, lo sayang kan sama Nata? jadi gua mohon jangan ganggu dia dulu ya," pinta Zora bahkan kini tangannya dicengkeram oleh Nata dari belakang, Zora tahu kini sahabatnya terluka karena Shaka dan lelaki di depannya.
Devyan mengangguk mengiyakan lalu tersenyum, "kalo gitu aku pergi ya Nat? kalo kamu butuh sesuatu hubungi aku." Setelahnya lelaki itu pergi meninggalkan Zora dan Nata.
Karena tak ingin membuat koridor ramai, Zora menarik tangan Nata menuju kelas dan untungnya di perjalanan ia bertemu dengan Waffa.
"Sialan lo di apain Shaka hah?! Bilang sama gua Nat!! Jangan diem aja, gua bakalan tonjok si Shaka sampe babak belur!!" omel Waffa di sepanjang koridor menuju kelas mereka, sedangkan sejak tadi Zora hanya bisa tersenyum menahan malu.
Nata hanya diam menahan emosinya, ia tak mau menangis disini jadi daripada menjawab pertanyaan dari Waffa lebih baik dia diam.
Sesampainya di kelas pun Waffa masih terus menggerutu dan itu membuat teman sekelasnya menatap heran.
"Stress lo, gara-gara ke jambak Sania jadi miring otaknya." Nizan bergidik ngeri melihat Waffa, dan itu di anggukki oleh Fayyaz.
"Diem ya lo gua lagi emosi!!" sewot Waffa menunjuk Nizan agar diam, tapi yang namanya Nizan anak itu malah meledeknya.
__ADS_1
"Nyenyenye."
Waffa yang memang kesal langsung memukul Nizan dengan botol plastik dan itu berhasil membuat Nizan terdiam.
"Ketemunya dimana deh?" tanya Fayyaz, anak itu memperhatikan Nata yang terlihat termenung.
"Roof top sekolah sama si ketos," jawab Zora mendudukkan dirinya di samping Nizan, sejak tadi matanya terus mengkode agar Waffa tidak mengomel tapi itu tidak berhasil.
Keenan yang sejak tadi hanya diam langsung menyahuti, "ngapain dah? berbuat maksiat ya disana?"
BUGH
"Mulut lo tuh gunanya apa sih?! Bisa di jaga kagak?!" bentak Waffa setelah puas memukul kepala Keenan dengan botol plastik yang tadi ia gunakan untuk memukul Nizan.
Keenan meringis kecil lalu mengusap kepalanya, "mulut gua gunanya cuma dua, satu buat makan satunya buat ciuman, puas lo?!"
Sontak jawaban itu membuat keempatnya langsung menoleh kearah Keenan bahkan Nata pun langsung tersadar dari lamunannya.
"Kayaknya yang kerasukan disini bukan si Nata atau Waffa, tapi si Keenan." Fayyaz bergidik jijik lalu berpindah ke bangku kosong menjauhi sosok Keenan.
"Waduh ke bongkar tuh yang mulutnya udah ga suci lagi, udah ciuman sana sini ihh!!" Waffa menatap jijik sosok Keenan yang kini terlihat akan membentaknya.
"Sialan gua bukan cowo sembarangan ya yang cium sana sini, kalo lo gak percaya coba aja!!" sewot Keenan menatap datar Waffa.
Waffa mengernyitkan dahinya bingung dengan jawaban Keenan, "maksudnya coba apaan anjir?!!!"
"Cium nih cium kalo lo gak percaya!!" Keenan mendekatkan wajahnya pada sosok Waffa, bahkan anak itu menunjuk-nunjuk bibirnya.
Waffa yang kaget reflek mendorong tubuh Keenan agar menjauh darinya, lalu ia berlari keluar kelas karena jantungnya berdetak tak karuan.
"CEMEN LO WAFFA!!" teriak Keenan lalu terkekeh kecil melihat tingkah Waffa yang menurutnya lucu.
Sedangkan kini Keenan jadi bahan tontonan keempat temannya, Nizan yang bergidik jijik, Fayyaz yang menatapnya seakan berkata "buset stres juga temen gua." lalu Zora yang tertawa ngakak dan Nata yang menatapnya datar.
"APAAN NYET KOK LIATIN GUA?!" Keenan tentu kaget dengan respon teman-temannya.
"Sumpah gila sih, serem euy maenan nya cium-ciuman!" Nizan bertepuk tangan heboh lalu berlarian keluar kelas sebab Keenan hendak memukulnya dengan sepatu.
Padahal sikapnya tadi hanya spontanitas sebab Waffa meragukannya, tapi kenapa dia harus membuat Waffa percaya sih? Memangnya Waffa siapa??
__ADS_1
Janlup komen dan vote
see you next time