GIRL BOSS

GIRL BOSS
23. Baikan


__ADS_3

BUGH


BUGH


pukulan keras itu terdengar dari ruangan tengah, kedua pemuda yang kini saling tatap itu menampilkan ekspresi yang berbeda.


Pemuda yang terduduk dengan luka kecil di sudut bibirnya itu menatap tajam dan penuh dendam orang yang kini menatapnya dengan seringai bak seorang serigala.


"Mau lo apa sebenernya anjing!!" serunya lantang, ia berdiri kembali berhadapan dengan lelaki bertopi putih itu.


"Kan tujuan awal gua itu cuma pengen kedua geng motor itu berantem, dan kebetulan lo bisa gua manfaatkan jadi apa salahnya?"


"Brengsek lo! lepasin Nata!!" Vano menerjang lelaki itu sampai terjatuh, lalu ia menonjok nya berkali-kali.


Lelaki itu terkekeh sinis lalu dengan gerakan cepat ia mendorong tubuh Vano hingga terbentur dengan tembok membuat Vano meringis kesakitan. "Lo ga perlu khawatir tentang cewe itu, setelah apa yang gua mau terkabul lo bisa bawa dia pergi dari sini."


Suara dering telepon membuat atensi keduanya teralihkan, lelaki itu segera mengangkat telponnya. "Ada kabar apa?"


Terlihat sudut bibirnya terangkat, lalu ia menatap Vano dengan senyum sinis nya. "Kerja bagus sekarang kembali ke markas," titahnya pada anak buahnya disana.


Lelaki tersenyum tipis lalu berkata, "permainannya udah selesai sampai disini Vano, lo bisa bawa Nata pergi dari sini, bye!" lalu dia melangkahkan kakinya pergi dari rumah ini.


Vano langsung dengan cepat menuju gudang yang menjadi tempat Nata di kurung oleh manusia sialan itu, sialnya pintu itu terkunci dan Vano tak memiliki kuncinya.


Sementara itu lelaki dengan topi putihnya terkekeh kecil sambil mengetik beberapa pesan pada targetnya, "permainan kedua di mulai."


"BOS!!"


Lelaki itu menoleh disana ada dua anak buahnya berlari menuju dirinya, "apa yang harus kita lakukan disini?"


"Jangan biarin mereka keluar dengan mudah, dan jangan lupa lumpuhkan saksi." Perintah itu dianggukki oleh keduanya, setelah itu dia pergi.


Menuruti perintah sang bos, keduanya dengan cepat menjalankan tugas meskipun nyawa taruhannya.


Beberapa menit kemudian terdengar suara gerombolan motor menuju rumah itu, kedua orang suruhan itu tampak gugup dan segera berlari menuju tempat persembunyian.


"Cepat lemparkan koreknya!!"


Korek api itu di lempar dengan cepat ke arah rumah yang kini mulai dihiasi api, asap mulai muncul ditambah hawa panas membuat siapa saja engga untuk mendekat.


Tibalah anak Mata Elang di sana, Shaka langsung turun dari motornya lalu berlari menuju rumah itu namun segera Keenan susul.


"LO JANGAN GILA ANJRIT!!" Keenan menahan tubuh Shaka agar tak masuk ke dalam, namun tenaga Shaka sungguh kuat hingga akhirnya Nizan dan Fayyaz ikut membantu.


"LEPASIN GUA ANJING, GUA MAU NYELAMATIN NATA!!" Teriak Shaka seperti orang kesetanan, sementara itu anggota yang lain mulai mencari cara untuk menghentikan api itu.


Waffa menatap rumah itu, apakah mereka sanggup untuk menyelamatkan Nata? apakah dirinya masih bisa mendapatkan maaf dari Nata?


Di tengah lamunannya tiba-tiba saja Zora datang bersama Luke, Waffa awalnya kaget namun sepertinya ia mengerti Zora di jemput Luke menuju kesini.


"Nata..." Zora menggeleng tak percaya lalu menangis, ia hanya takut jika sahabatnya itu tak selamat.


Fayyaz dan Nizan jatuh karena dorongan dari Shaka, bahkan Keenan malah mendapatkan tinjuan keras dari Shaka membuat bibirnya berdarah.


Shaka dengan segala emosinya berlari melewati api yang mulai memakan semua rumah itu, ia mendobrak pintu masuk dengan tubuhnya.


"Shaka awas!!" Shaka menoleh lalu segera menghindar saat Keenan mendobrak pintu itu dengan kayu besar.


Setelah pintu itu berhasil terbuka mereka segera masuk mencari Nata, di sisi lain Vano sejak tadi terus mendobrak pintu kayu itu hingga badannya memar, api yang menyala itu tak ia gubris karena fokusnya adalah Nata.


"Lo..."


Suara itu membuat Vano menoleh lalu melotot kaget saat matanya bertemu dengan mata Shaka, keheningan itu menyelimuti ketiganya.


"BRENGSEK LO ALVANO!!" Shaka langsung menyerang Vano dengan membabi buta, Keenan yang awalnya berniat untuk membantu Shaka langsung mengurungkan niatnya dan malah mencoba mendobrak pintu gudang itu.


Vano mencoba melawan namun tenaganya sudah terkuras habis apalagi Shaka tak membuat dirinya bernapas barang sejenak pun.


"Maksud lo apa anjing?!!" Shaka mencengkram erat bahu Vano yang sudah tampak sekarat itu, namun lelaki itu malah terkekeh kecil.


"Merebut kembali apa yang seharusnya jadi milik gua dari awal, Shaka." Jawaban itu tentu membuat amarah Shaka semakin menggebu-gebu, ia mencekik leher Vano membuatnya terbatuk-batuk mencoba melepaskan diri.

__ADS_1


"Lo bikin Nata terluka anjing dan bisa-bisanya lo mau rebut dia dari gua?!" Shaka menekan kuat leher Vano membuat wajahnya semakin memerah.


Vano dengan susah payah menjawab, "karena lo...ga bisa bikin—" nafasnya terputus-putus, ia mencoba meraup oksigen, "lo ga bisa bikin Nata bahagia."


"ANJING!!"


BRAK


"SHAKA PINTUNYA KEBUKA!!" teriak dari Keenan itu berhasil menyelamatkan nyawa Vano, karena Shaka dengan cepat berlari memasuki gudang itu.


Di pojok ruangan terlihat Nata yang tak sadarkan diri, tubuhnya di ikat kuat dengan tali membuat hati Shaka terluka seketika.


Setelah berhasil membawa Nata keluar dari situ ia segera berlari menuju pintu keluar di susul oleh Keenan yang menggendong tubuh Vano, awalnya Shaka melarang namun Keenan tetap kekeuh.


"ITU NATA!!!" teriak Nizan, seketika anggota Mata Elang langsung membantu keduanya menjauh dari rumah itu membiarkan bangunan itu terlahap habis oleh api.


Zora menangis melihat kondisi Nata yang tak baik-baik saja, bahkan Waffa yang jarang menangis saja kini sudah menangis membantu Shaka menurunkan Nata dari gendongannya.


Banyak luka di wajah Nata, seperti luka pukulan juga tamparan keras karena terlihat ujung bibir gadis itu berdarah.


Shaka menangis memeluk tubuh Nata yang masih tak sadarkan diri, dan tentu tak ada yang berani mendekat pada sosok Shaka.


Sementara itu kini Vano diintrogasi oleh Keenan dan Nizan, jangan lupakan Fayyaz yang sejak tadi menyimak.


"Jadi apa maksud dari rencana penculikan ini?" tanya Keenan menatap tajam kearah Vano yang setengah sekarat itu.


"Awalnya gua cuma mau Nata balik lagi ke gua, dan hancurin hidupnya Shaka." Vano menjawab sejujurnya, meskipun mungkin nanti hidupnya akan membusuk di penjara.


"Terus hubungannya sama King Cobra apaan?" tanya Nizan, ia berjongkok di depan Vano sambil mengunyah permen karet.


Vano terkekeh kecil, "itu cuma jebakan cowo brengsek yang udah nipu gua," seketika wajahnya terlihat emosi.


Fayyaz mengernyitkan keningnya, "berarti lo punya bos?"


Vano mengangguk, "iya dia—"


DORR


DORR


Keenan langsung mengisyaratkan anggotanya untuk mencari pelaku penembakan, sementara Fayyaz mencoba untuk membantu Vano.


Nizan masih terdiam karena kaget, wajahnya terciprat darah dari tubuh Vano dan itu semakin membuatnya gemetar ketakutan.


"Kita bawa dia ke rumah sakit, sebelum mati karena dia saksi satu-satunya!!" ujar Keenan dan di anggukki oleh Fayyaz.


----


Setelah kejadian yang membuat semua orang trauma sekarang para remaja itu berada di sebuah rumah sakit, malam yang semakin gelap gulita tak membuat para remaja itu lelah melainkan gelisah.


Terlihat dari sesosok remaja yang sudah mundar-mandir didepan pintu rumah sakit dan tak berbeda juga dengan remaja lainnya yang menunggu kedatangan dokter.


Pintu rumah sakit yang semula tertutup sekarang terbuka menampilkan seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang itu.


Shaka yang melihat dokter keluar dari ruang itu sontak langsung menghampirinya, "dok temen saya gapapa kan?" tanyanya dengan raut muka yang memperlihatkan cemas.


Dokter itu tersenyum tipis. "Tenang pasien baik-baik saja cuma luka luar, mungkin atas kejadian yang menimpanya ia bisa saja trauma, tapi itu juga tergantung dengan mental orangnya karena setiap orang memiliki mental yang berbeda beda, nanti kita liat saja perkembangannya," tutur dokter tersebut dan diangguki oleh Shaka.


Para remaja yang berada di sana menghela napas lega dengan penjelasan dari dokter, bahwa Nata baik-baik saja ya walaupun belum memuaskan karena perkataan dokter yang mengatakan bisa saja Nata mengalami trauma.


"Dok apa kita bisa masuk kedalam?" tanya Waffa yang baru saja angkat bicara sejak tadi karena dirinya juga syok setelah melihat kejadian itu.


"Boleh, pasien juga sudah siuman," jelasnya.


Waffa dan Zora pun langsung masuk kedalam ruang tanpa menunggu lalu di ikuti oleh Shaka dari belakang.


Zora yang masih di ambang pintu langsung menangis dan merentangkan tangannya, "Nata.... " langsung berlari ke tempat Nata tidur.


Nata yang melihat itu langsung membuka lebar kedua tangannya dan menyambut pelukan Zora.


Sedangkan Waffa masih berada di ambang pintu hanya menatap kedua sahabatnya yang sedang berpelukan dia ingin sekali bergabung tapi gengsi dan canggung nya mengalahkan itu semua jadi dia tetap diam di belakang.

__ADS_1


Nata yang peka langsung melepas pelukannya dari Zora dan menatap ke arah Waffa, Zora pun langsung mengikuti arah pandang Nata dan langsung memberi kode mata terhadap Waffa.


Dengan gugup Waffa pun maju mendekat kearah bangsal, sebelum ia membuka mulut dia terlebih dahulu menarik napasnya dalam-dalam. "Nat gua minta maaf karena ke egoisan gua yang ga bisa ngertiin lo, maaf jujur sebenernya gua ga mau lo kenapa-kenapa," tutur dengan mata yang berkaca-kaca.


Nata membalas dengan senyuman dan membuka kedua tangannya, Waffa yang melihat itu tersenyum dan langsung berlari kepelukan Nata.


"Maaff..." Lirih Waffa dengan isak tangisnya didalam pelukan Nata.


"Gua juga minta maaf, gua juga salah," sambil mengelus punggung Waffa.


Diambang pintu terlihat para remaja sedang menyaksikan adegan persahabatan itu.


Hisk Hisk


Suara itu mengalihkan pandangan para remaja yang sedang berada di ambang pintu.


"Lo kenapa?" tanya Fayyaz.


"Ya sedih lah, ternyata karena ini mereka beberapa hari ga bareng," jawab Nizan sambil mengusap jejak air matanya.


"Cengeng banget lo!" celetuk Luke yang berada dibelakang Nizan.


"Lo ga tau sih rasanya," tutur Nizan.


Tiba-tiba orang disamping Nizan tersenyum miring, Nizan yang melihat itu langsung merinding "lo napa tiba-tiba senyum?"


Keenan menoleh ke arah Nizan, "tuh baru pertama kali gua liat cewe itu nangis." Senyum nya sambil menunjukkan kearah Waffa.


Nizan jengah memutar bola mata malas, "orang lagi nangis malah di ketawain."


Para remaja pun masuk kedalam ruangan dan meninggal Nizan yang masih berceloteh sendirian, Nizan yang menyadari diri nya di tinggal langsung lari menghampiri yang lain.


"Nat lo gapapa kan?" tanya Shaka.


Nata yang masih berpelukan langsung melepaskan pelukannya dan menjawab Shaka, "gapapa kok." Sambil melihat dan tersenyum kepada sosok Shaka.


"Syukurlah gua bisa tenang kalau gitu," tutur Shaka.


"Makasih juga untuk semuanya yang udah bantu gua," ucap Nata tersenyum begitu tulus pada teman-temannya.


"Tenang aja kayak sama siapa aja lo," balas Keenan.


"Ouhh iya!!" tiba-tiba suara Waffa memecah keheningan.


Semuanya yang disana sontak kaget mengelus dadanya. "Lo bisa ga sih jangan ngagetin?" kesal Keenan pada Waffa.


"Cihh iya sorry," balasnya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Terus lo mau ngomong apa?!" tanya Keenan kesal.


"Itu anak kingcob nasibnya kaya gimana ya? Lo sih main tuduh aja!!" tegas Waffa.


"Ouh iya bisa-bisa mereka dendam sama kita," celetuk Nizan.


"Iya bos gimana?" tanya Fayyaz ikut panik karena baru ingat tentang King Cobra.


"Iya juga ya gimana?" panik Keenan.


"Udah gua bilangin jangan gegabah tanggung sendiri tuh huh!!" ejek Waffa.


"Diem deh lo, lo ngomong jadi makin panas tau!!" kesal Keenan.


"Itu sih Deel!!" balas Waffa dengan senyum senang nya melihat seorang Keenan panik.


"Cihh," kesal Keenan saat melihat Waffa kesenangan.


"Udah nanti kita minta maaf bareng-bareng," tutur Shaka.


Dan tiba-tiba pintu ruangan pun kembali terbuka menampilkan sesosok wanita tua yang masih cantik di umurnya yang sudah tak muda lagi, dia langsung menghampiri Nata dan memeluk anak itu siapa lagi kalau bukan ibunya Nata.


Next time

__ADS_1


Janlup komen and like


__ADS_2