GIRL BOSS

GIRL BOSS
13. Si paling ga mau dilupain


__ADS_3

Cuaca pagi ini cukup dingin, langit yang biasanya cerah pun terlihat mendung dan gerimis perlahan turun membasahi bumi.


Parkiran sekolah yang kini cukup ramai sebab orang-orang datang lebih awal karena hujan, namun diantara banyaknya orang disini ada dua insan yang saling tatap satu sama lain.


"Fa..." sapa Keenan lirih, namun sapaannya tak terjawab sama sekali sebab Waffa langsung pergi dan meninggalkan tanda tanya besar di kepalanya.


Keenan jelas bingung dengan sikap Waffa pagi ini, sebab biasanya gadis itu akan menatapnya songong lalu berbicara menyebalkan padanya namun pagi ini dia hanya menatap Keenan datar.


"Kerasukan setan apaan pagi-pagi? aneh banget dasar cewek!"


Sementara itu kini di dalam kelas sangat berisik sebab mereka terus mengeluh karena hujan pagi ini, sama seperti murid lainnya Nizan pun sejak tadi terus menggerutu.


"Anying pagi-pagi dah hujan aja!!" kesalnya karna kondisi dia yang sekarang basah kuyup, jika bukan karena ada ulangan harian lebih baik dia tidak masuk hari ini.


Fayyaz yang disamping nya itu pun tertawa karna melihat kondisi teman nya yang satu ini, "anjirr lo kaya curut habis mandi di got hahaha."


"Sialan ya lo kalo ngomong!! Manusia cakep kayak gua di samain kayak curut!!"" balas Nizan tak terima, memukul kepala Fayyaz dengan tas nya.


"Iya cakep kalo di liat dari atas Monas." Shaka menyahut dengan mata fokus menatap ponselnya, bermain game.


"Anjirr ni manusia bisu kapan belajar ngomong nya?!" celetuk Fayyaz pura-pura kaget.


Nizan tertawa ngakak mendengar perkataan Fayyaz yang ceplas-ceplos itu, "ngakak banget anjir bisu, tapi faktanya gitu sih." Dan setelahnya lelaki itu kembali tertawa.


"Emang iya? Sejak kapan?!" tanya Shaka dengan wajah datarnya, ia pergi menuju tempat duduknya tak lagi menghiraukan kedua temannya.


"Ah gak asik pundungan," kata Fayyaz dan hal itu kembali membuat Nizan tertawa.


Namun tawanya hilang saat Fayyaz meringis kecil karena ditabrak oleh Waffa yang baru saja datang dengan wajah tak ceria seperti biasanya.


"Apaan sih anjir sakit tau!!"


Protes dari Fayyaz tak dipedulikan oleh Waffa, gadis itu malah menenggelamkan wajahnya di antara tumpukan tangannya.


"Sabar Yaz, ini tuh cobaan pagi hari." Nizan mengusap-usap punggung Fayyaz sambil tertawa kecil.


Mereka yang masih di ambang pintu itu melihat sosok Keenan datang dan melewatinya begitu saja, lelaki bermata tajam itu langsung duduk di kursi kosong samping Shaka.


Tak lama terlihat sosok Zora dan Nata yang terlihat menggerutu kesal, karena seragamnya kotor seperti terkena minuman bewarna.


"Baju lo kenapa Nat?" tanya Nizan saat gadis itu hendak memasuki kelas, Zora hanya tersenyum saja lalu mendahului ketiganya untuk masuk kelas.


Gadis yang terkenal jutek itu menghembuskan napasnya kesal, raut wajahnya pun terlihat seperti orang yang akan siap mengamuk. "Tadi pas gua jalan lewat koridor kelas 10 tiba-tiba ada yang tabrak gua trus minumannya kena baju gua, mana minumannya manis lagi, bikin badan gua jadi lengket!!"


Noda di bajunya itu terlihat kecoklatan, dan bisa dipastikan jika itu adalah susu atau mungkin coklat panas.


"Anak kelas mana emang? Minta maaf gak orangnya?" Kini Fayyaz yang bertanya, lelaki itu tampak kasihan, bukan pada Nata melainkan pada orang yang menabrak Nata sebab pasti setelah ini orang itu akan dijadikan sasaran empuk julidan Nata.


"ITU YANG BIKIN GUA EMOSI!! Orangnya gak minta maaf, langsung pergi aja nyebelin banget anjir, awas aja kalo ketemu lagi gua jambak rambut panjangnya sampe botak!!" sewot Nata marah, membuat Fayyaz dan Nizan bergidik ngeri sendiri membayangkan hal itu terjadi.


"Sabar Nat, ini tuh uj-"


"Bacotan lo gak bakal bisa bikin baju gua bersih, mending diem!" potong Nata cepat, lalu gadis itu memasuki kelas dengan raut kesal.


Nizan yang ucapannya di potong begitu saja hanya bisa mengusap dadanya mencoba bersabar, sebab melawan Nata hanya akan membuatnya dimarahi.


"Emang dia anaknya galak gitu ya, Zan?" tanya Fayyaz berbisik pelan takut Nata mendengarnya, Nizan mengangguk mengiyakan.


"Pokoknya jangan macem-macem sama dia kalo lo gak mau kena semprot, mulutnya julid sama pedes banget anying."


"Gua denger ya, Nizan!!" seru Nata dari bangkunya, dia menatap Nizan dengan tajam.


Fayyaz tertawa melihat wajah Nizan yang langsung gelagapan, ternyata memang benar gadis itu sangat galak.


Sedangkan Nizan kini jadi sibuk memikirkan bagaimana caranya agar Nata tak mengamuk, jadi ia ikut berjulid dengan Nata dan Zora karena itu satu-satunya cara agar tak diamuk Nata.


•••


Kantin selalu ramai, dan itu adalah hal yang paling Nata benci sebab ia malas menunggu pesanannya datang.


Kini ketiga gadis itu duduk menunggu batagor pesanannya datang, sembari menunggu mereka asyik mengobrol.

__ADS_1


Waffa yang sejak pagi terlihat moodnya jelek pun kini sudah kembali ceria seperti biasanya, ia bahkan terus tertawa sebab Nata masih mengeluh karena bajunya kotor dan ia jadi bahan cibiran siswa-siswi lain di kantin.


"Gua benci banget jadi bahan tontonan kayak gini, yakali gua harus buka bajunya sih?!" kata Nata kesal, masalahnya noda itu cukup banyak mengenai baju bagian depannya, niatnya ia cuci atau lap dengan air namun hal itu malah akan membuat bajunya basah.


"Gua lupa bawa hoodie, kalo ada juga udah gua kasih ke lo, Nat." Waffa masih tertawa, tapi serius deh wajah Nata saat mengomel tuh lucu banget.


Zora sejak tadi hanya menyimak saja kini ikut menyahuti, "kata gua juga mending ganti pakek baju olahraga yang ada di loker."


"Dih ogah!! Nanti gua malah makin di komen sama yang lain karena hari Senin pakek baju olahraga!!" sergah Nata tak setuju.


Tak lama makanan mereka pun datang, dengan semangat mereka memilih untuk makan sebelum nanti akhirnya kembali mengobrol.


"Permisi."


Ketiganya langsung menoleh, menatap pemuda tinggi itu penuh tanda tanya.


Merasa terintimidasi oleh ketiganya, pemuda itu tersenyum canggung lalu memberikan paper bag pada Nata.


"Ini ada titipan dari Devyan buat lo," kata pemuda itu ramah, namun namanya juga Nata anak itu malah menatapnya sinis.


"Ambil lagi, gua gak butuh." Nata kembali melanjutkan makannya tanpa memperdulikan pemuda tadi.


Waffa menendang pelan kaki Nata lalu berbisik, "gak boleh gitu ih, gak baik!!"


"Please terima, Nat. Devyan gak mau kalo barangnya balik lagi ke tangan dia." Pemuda itu masih kekeh berdiri disana sambil menyodorkan paper bag itu.


Nata menghela napasnya lalu menatap pemuda itu dengan mata tajamnya, "yaudah lo simpan aja barangnya, bilang sama dia kalo gua udah terima, simpel kan?"


"Nat, ayolah lo tau sendiri Devyan anaknya gak bisa di bohongi."


"Dan lo tau, gua gak suka di paksa, Bani."


Akhirnya pemuda itu menyerah namun ia tetap menyimpan paper bag itu di meja, "yaudah gua balik deh kalo gitu, terserah lo mau pakek atau engga, gua udah berusaha buat Devyan."


Dan setelah pemuda bernama Bani itu pergi meninggalkan meja mereka, membuat ketiganya jadi hening.


"Jahat lo Nat, keras kepala banget!!" omel Waffa sambil menyentil jidat Nata, membuat Nata meliriknya sinis.


"Ogah banget anjir," tolak Nata tak peduli, namun ia tetap melirik saat kedua sahabatnya membuka paper bag itu.


"Widih sweater, tuhkan Devyan tuh peka banget ngasih lo ginian buat nutupin noda baju lo!!" seru Waffa heboh sendiri, bahkan kini dia hampir memakai sweater berwarna abu itu tapi Zora tahan.


"Gak boleh!! Ini tuh khusus buat Nata ngapain lo pakek?!" Zora merebut sweater itu dari tangan Waffa membuat gadis itu cemberut tak suka.


Zora melemparkan sweater itu pada Nata namun Nata menolaknya mentah-mentah, "gak! Gua gak mau pakek!!"


"Ayolah Nat, turunin gengsi lo demi gak jadi bahan tontonan!!" kata Waffa anak itu bahkan memelototi Nata, di susul Zora yang kini memaksanya memakaikan sweater itu pada tubuh Nata.


Karena terpaksa akhirnya Nata menurut dan memakai sweater itu, parfum khas Devyan itu tercium membuatnya merasa Dejavu.


"Nah gitu dong kali-kali nurut!!" kata Waffa merasa puas, Zora di sampingnya terkekeh kecil.


"Kalo bukan karena lo berdua gua ogah anjir pakek ini!!" kata Nata kesal, bahkan kini ia sudah tak selera makan.


Karena sudah malas berada di kantin yang semakin ramai ketiganya memutuskan kembali ke kelas setelah selesai membayar pesanannya.


BRUK


Nata meringis kecil, lalu di bantu oleh Waffa untuk berdiri sebab terjatuh saat seseorang menabraknya.


Sedangkan Zora membantu orang yang tadi menabrak Nata, gadis itu juga sama seperti Nata meringis kecil.


Mata keduanya bertemu, ingatan lama itu kembali terputar seperti kaset rusak di dalam pikiran Nata.


"Oh halo Nata!!" sapa gadis itu riang bahkan tersenyum ramah, namun tidak dengan Nata yang malah menatapnya tajam seolah matanya itu dapat mengeluarkan laser mematikan.


Gadis berambut panjang itu terdiam sejenak lalu terkekeh kecil dan kembali menatap Nata, "lo masih kenal gua kan? atau kita perlu kenalan lagi?" tanyanya sambil menyodorkan tangannya lalu berkata, "kenalin nama gua Bella, sahabat baiknya Devyan."


Nata masih terdiam bahkan tak menjabat tangan Bella, membuat gadis itu menurunkan kembali tangannya.


Sedangkan kini Zora dan Waffa hanya menyimak saja sebab tak tahu tentang Bella ataupun hubungan mereka berdua.

__ADS_1


"Lo gak amnesia kan, Nat?" tanya Bella, anak itu masih tersenyum manis menatap Nata.


Setelah lama terdiam akhirnya Nata terkekeh sinis menatap Bella dengan tatapan remeh, "gak tuh, gua masih ingat sama semua kelakuan rendahan lo dulu."


Mendengar jawaban itu Bella mengepalkan tangannya, kesal tentu saja namun ia masih tersenyum manis. "Oh ya? Emang gua ngelakuin apa? Harusnya yang di cap rendahan disini tuh lo bukan gua."


"Duh kesalahan lo terlalu banyak sampai gua malas buat sebutin nya," kata Nata dengan wajah datarnya.


Bella kini menatap Nata nyalang, "lo iri karena gua lebih deket sama Devyan kan? Bilang aja kali Nat."


"Ngapain gua iri sama cewek sasimo yang hobinya rebut cowo orang?" sarkas Nata dengan senyuman miringnya, lalu ia melewati Bella begitu saja namun sebelumnya ia sempat berbisik tepat di telinga Bella. "Kalo murahan murahan aja mbak, percuma lo pinter tapi gak bisa jaga harga diri."


Waffa dan Zora jadi canggung menatap Bella yang terlihat kesal, namun yang mereka lakukan hanya meminta maaf dengan kata-kata yang Nata ucapkan pada gadis itu.


"Maaf ya, nanti gua omelin si Nata." Waffa langsung menarik Zora untuk pergi dari sana, meninggalkan Bella yang kini menggerutu kesal.


"Awas aja lo Nata, gua bakal bikin lo hancur buat kedua kalinya kalo lo macam-macam sama gua!!!"


Sementara itu kini Zora dan Waffa berusaha menyeimbangkan langkahnya dengan kaki Nata, mereka berbelok memasuki kelas.


"Kenapa sih Nat? Lo kenapa? Ada masalah apa antara lo sama dia?" tanya Waffa bertubi-tubi, ia penasaran dengan apa yang terjadi.


"Ada apa sih heboh gini??" Nizan ikut bergabung dengan ketiga gadis itu, bahkan Fayyaz pun ikut bergabung karena Nizan tarik tangannya.


"Lo kenal sama si Bella sejak kapan Nat?" Pertanyaan itu membuat Nata melirik Zora.


"Jangan bahas tentang dia, gua males." Nata duduk di bangkunya, lalu menutupi wajahnya dengan buku Novel yang ia bawa.


Waffa hanya bisa menghela napasnya kasar, Nata itu sangat menyebalkan tak mau berbagi cerita padahal dia sudah penasaran.


"Bella yang terkenal pinter itu kan? Yang cantik?" tanya Nizan dengan mata berbinar.


"Bagian yang cantik-cantik aja lo kenal," cibir Zora sambil menoyor jidat Nizan.


Nizan cengengesan, "jelas lah kenal, udah mah cakep trus pinter lagi!!"


Mendengar penuturan dari Nizan, akhirnya Nata kembali ikut bergabung dengan mereka.


"Pinter sama cantik gak bakal menjamin kalo dia orang baik, Nizan." Nata menyahuti dengan nada sinis, bahkan wajahnya terlihat kesal.


Nizan jadi ciut lalu berkata, "iya Nat bener!! Emang yang paling pinter, cantik, sama baik tuh bakalan kalah sama lo, pokoknya lo paling the best!!" Ia memuji Nata sambil mengacungkan jempol nya.


"Bella bukannya temen lo ya Nat?" Shaka ikut menyahuti, lelaki yang tadinya asyik bermain game dengan Keenan itu jadi tertarik dengan obrolan Nata.


"Lo gak usah ikut campur," ujar Nata dingin dan setelahnya Shaka tak lagi menyahuti, ia memilih diam.


"Buset galak banget, kasian pacarnya." Nizan berbisik pada Fayyaz sambil bergidik ngeri.


Fayyaz yang memang jahil pun terkekeh kecil, "Nat kata sih Nizan lo galak, kasian sama pacar lo nanti."


Nizan yang mendengar langsung melotot kaget lalu mencubit pinggang Fayyaz hingga anak itu berteriak kesakitan.


"NIZAN!!!"


"AMPUN NAT!! GAK LAGI-LAGI GUA OMONGIN LO!!!"


....


Darah itu mengalir dari sudut bibirnya, lelaki berkulit putih itu menyeka sudut bibirnya lalu berdiri dengan susah payah.


"Kalian mau apa?" tanyanya lirih, menatap ketiga orang asing di depannya, namun jaket yang mereka gunakan nampak tak asing di matanya.


King Cobra, nama itu terpampang jelas di jaket mereka bertiga.


"Turuti perintah boss kami kalo lo gak mau mati."


Setelahnya ketiga pria itu pergi meninggalkan lelaki dengan kulit putihnya itu disini, dengan luka lebam di wajahnya.


"Sial sial sial!!!" Ia menendang tong sampah di depannya dengan emosi yang di pendam. "Mau lo apaan lagi sih Gery?!"


Janlup komen and vote

__ADS_1


see you next time


__ADS_2