GIRL BOSS

GIRL BOSS
15.Begitu Sulit


__ADS_3

Bau khas rumah sakit saat ini menyengat indra penciuman seorang laki-laki bertubuh tinggi yang sedang duduk disamping ranjang seorang perempuan yang terbaring lemah dengan selang-selang yang menjalar diseluruh tubuh.


"Kan, kapan kamu bangun?! apa kamu ga kangen sama kakak?!" tanya Keenan menatap sang adik yang hanya diam tak menjawab, "kakak janji akan menemukan orang yang udah buat kamu seperti ini, kakak akan membalasnya seribu kali lipat dari yang dia buat."


Keenan mengepalkan tangannya erat, emosinya kembali menggebu-gebu mengingat kejadian yang menimpa sang adik beberapa bulan lalu, kecelakaan yang membuat adiknya koma.


BRAKK


Pintu berwarna putih itu terbuka, membuat Keenan menoleh kaget pada si pelaku yang kini malah tersenyum tanpa dosa. "Lo bisa kalem gak sih bukanya? Ini tuh rumah sakit, takut pasien lain ke ganggu!"


Fayyaz si pelaku hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal lalu cengengesan, "sorry terlalu semangat gua hehe!!"


"Emang apa yang buat lo semangat? tumben banget," tanya Keenan mengerutkan keningnya heran.


Lelaki berkulit putih itu tersenyum manis dan menghampiri Keenan, "gua punya kabar baik nih!!"


Keenan menatap datar Fayyaz yang terlihat semangat, "langsung aja ke intinya," kata Keenan dengan malas.


"Gua udah berhasil deketin salah satu target yang kemungkinan jadi tersangka atas kasus kecelakan adik lo," tuturnya dengan semangat, Fayyaz tersenyum bangga seperti baru saja mendapatkan harta karun.


Keenan yang tadinya malas langsung tersenyum senang, "wihh hebat juga lo, gak sia-sia gua panggil lo kesini buat bantu."


"Jelass, jangan ragukan kemampuan gua boss!!" seru Fayyaz bangga, dia pindah ke kota ini punya alasan lain yaitu untuk membantu Keenan.


"Terus pantau, kalo ada hal yang mencurigakan lo tau kan harus apa??" tanya Keenan menatap sang sahabat dengan senyum miringnya.


"Tentu gua tau Ken, lo tenang aja cara main gua bakal mulus." Fayyaz kembali tersenyum lalu bertos ria dengan Keenan.


Sementara itu sang musuh bubuyutan sedang sibuk merencanakan sesuatu untuk membalas dendamnya.


King Cobra, siapa yang tak mengenal nama genk ini? Jelas, semua orang tahu karena terkenal dengan tingkah lakunya yang membuat keributan.


"Bos, lo mau diem aja setelah apa yang Keenan perbuat malam itu?"


Lelaki berwajah garang itu terkekeh sinis, "lo pikir gua bakal tinggal diem? Jelas engga, gua gak pernah terima dengan kelakuan si bangsat itu." Gery mengepalkan tanganya erat, kembali mengingat kejadian malam itu yang membuat dirinya harus di rawat tiga hari di rumah sakit.


"Terus apa yang bakal lo lakuin buat balas dendam?" tanya salah satu anggotanya.


Gery terdiam memikirkan rencana yang harus ia susun demi balas dendam pada Keenan, tidak mungkin ia terus menggunakan cewek tomboy itu untuk memancing Keenan karena hal itu sudah terlalu klasik, lantas ia harus apa?


"Widih rame banget, gak bilang gua kalo pada kumpul."


Suara itu membuat Gery menoleh menatap pria dengan kulit putih yang kini duduk tepat di sampingnya.


"Biasalah bos, anak-anak pada gabut di rumah jadi nongkrong di base camp." Diky mendekat lalu tersenyum manis pada sang ketuanya.

__ADS_1


"Gua kira kalian lagi ngerencanain sesuatu, btw gimana keadaan lo sekarang Ger?" tanya Dewa menatap sang wakilnya itu dengan prihatin.


Gery terkekeh lalu menjawab, "udah mayan baikan lah bos, lo liat sendiri aja gua udah bisa balapan lagi nanti malem."


"Syukur kalo gitu, jangan panggil gua bos kan udah di bilangin dari dulu." Dewa tersenyum, menepuk-nepuk pundak Gery.


"Kan lo ketuanya Wa, ga salah kan kalo kita semua panggil lo boss?" tanya Gery tersenyum sinis namun sayangnnya Dewa tak melihat itu.


Dewa tertawa kecil lalu menggeleng pelan, "ya emang kenapa kalo gua ketuanya? Kan gak harus di panggil bos juga kali, ngerasa gak pantes gua di panggil bos."


'emang gak pantes, yang seharusnya jadi ketua tuh gua bukan lo.' batin Gery menatap sinis Dewa yang duduk di sampingnya.


"Oh ya, hari ini gua mau ke panti ada yang mau ikut? Sekalian bantuin gua buat bawa barang sumbangan," tanya Dewa menatap anggotanya, namun tak ada jawaban dari mereka.


"Lo ngapain deh ke panti?" Diky mengernyit bingung, 'sok baik banget' pikirnya.


"Loh emang gak boleh ya? Gua kan tiap bulan sering kesana," jawab Dewa santai lalu kembali bertanya, "ini seriusan gak ada yang mau ikut??"


Gery tersenyum sinis lalu menjawab, "orang jahat kayak gua gak pantes dateng ke sana, lo aja." Dan jawaban itu membuat Dewa tertawa.


"Semua orang pantas kok, lagipula ini bisa jadi langkah awal buat lo menjadi orang baik," sahut Dewa dan seketika semuanya terdiam. "Yaudah kalo gitu gua berangkat dulu ya!"


Dewa bangkit dari duduknya kembali mengenakan jaket King Cobra nya itu, lalu keluar dari base camp meninggalkan anggota yang lainnya.


"DEWAA GUA IKUT!!" Diky berlari mengejar Dewa, ia lebih baik cari aman dengan Dewa daripada terlibat masalah dengan Gery dan rencana busuknya.


"Jadi gimana bos?"


Oh iya Gery sampai lupa dengan rencananya, "kayaknya seru kalo kita main-main sama temennya si tomboy itu."


"Lo yakin hal itu bisa bikin Keenan dateng?"


Gery tersenyum miring, "yakin karena ini melibatkan si tomboy juga, dan kalian tau kan apa yang akan terjadi selanjutnya?"


----


"BEGO AH SI KEENAN JADI KALAH!!" umpat Shaka kasar membanting ponselnya membuat Nizan tersentak kaget.


"Apasih lo tuh? Kaget tau gua!!" sewot Nizan kesal, padahal dia sedang asyik scroll tiktok.


Shaka tak menjawab malah melanjutkan kembali game online di ponselnya dengan wajah kesal, meskipun kini di tempat kost nya hanya dia dan Nizan tapi ia bermain game dengan Keenan dan Fayyaz karena Nizan tak terlalu menyukai game.


Karena bosan akhirnya Nizan menyalakan laptopnya berniat untuk menonton film, sebenarnya dia datang ke kost-an Shaka hanya untuk numpang wi-fi demi download film.


Tapi karena lama dan malas menunggu filmnya selesai di unduh, Nizan kembali merasa bosan dan kesepian apalagi Shaka masih sibuk bermain game dengan mulut yang terus berisik sejak tadi.

__ADS_1


"Stress anjir," kata Nizan saat melihat Shaka tertawa puas sebab tim nya menang.


"Udah selesai lo downloadnya?" tanya Shaka yang kini sudah berhenti bermain, ia sudah puas.


Nizan melirik sinis Shaka lalu menjawab, "belum lah anying wi-fi nya lemot banget kayak otak lo."


"Sialan ya lo, udah numpang gak tau diri lagi," sindir Shaka, lalu lelaki itu berdiri dan keluar dari kamarnya pergi menuju kamar mandi.


Nizan hanya terkekeh kecil tak peduli dengan sindirian itu, suara dering ponsel membuat antensinya jadi teralihkan.


Ponsel Shaka berdering menampilkan nama seseorang di sana, "Hanna? Siapa dah?" tanya Nizan saat mengintip ponsel Shaka.


Hingga Shaka datang dengan segelas air minum, ia menghela napasnya lalu mengambil ponselnya dan menolak panggilan itu.


"Kok kagak lo angkat??" tanya Nizan bingung, apakah karena ada dia jadi Shaka tak berani mengangkatnya?


"Gak penting, bikin pusing."


"Emang siapa? Kok gua kayak gak asing sama namanya?"


Shaka terdiam sejenak namun wajahnya terlihat sekali panik tapi dia berusaha tetap kalem, "sok kenal lo, jamal."


"Yeuhh!! Selingkuhan lo ya? Jahat lo jangan selingkuh dari si Nata!!" tuding Nizan sambil menjitak kepala Shaka.


"Apasih anjir bukan, mana ada gua selingkuh!!" sergah Shaka, menjitak balik Nizan.


Nizan memincingkan matanya sambil tersenyum jahil, "ciee mengakui kalo lo punya hubungan spesial sama Nata."


"Gak ada hubungan apapun gua sama dia, temen doang." Shaka berusaha sekalem mungkin agar tak terlihat salting di mata Nizan.


"Prett banget anjir!! Lo tuh ada hubungan apasih kepo gua, bahkan yang lain juga kagak tau hubungan lo sama Nata." Nizan mendekatkan tubuhnya pada Shaka yang tentu saja langsung menghindar.


Shaka mendorong tubuh Nizan hingga anak itu terjungkal, "bisa gak sih biasa aja? Kayak homo tau gak!!"


"Anying ya lo! Makanya jawab atuhlah."


"Gua kenal Nata udah lama, dua tahun yang lalu waktu mos." jawaban dari Shaka itu membuat Nizan menutup mulutnya tak percaya.


"OMAYGOY OMAYGOT DEMI APAZIHHH?!!" seru Nizan begitu heboh dan alay membuat Shaka menatapnya datar.


"Gila lo, jamet alay." Shaka menendang bokong Nizan hingga anak itu tersungkur, untungnya pada kasur coba kalo ke tembok bisa nyut-nyutan jidatnya.


"Ternyata kalian saling kenal, eh tapi kok kayak asing sih?" tanya Nizan kembali semangat untuk menggali info lebih.


"Ada masalah, jadi ya gitu Nata sering ngehindar dari gua," jawab Shaka jujur dan itu membuat Nizan kaget, ia baru sadar jika Nata sering menghindari Shaka.

__ADS_1


Nizan menepuk bahu Shaka berniat untuk menguatkan sang teman, "pasti begitu syulit lupakan Nata, apalagi Nata julid-"


"AWW SETAN SAKIT BANGET SHAKAAAAA!!" teriak Nizan saat Shaka memukulnya dengan bantal begitu brutal, jelas Shaka kesal karena dia serius malah di respon dengan candaan.


__ADS_2