
Setelah berapa menit yang lalu Keenan memanggil semua anggota Mata Elang untuk berkumpul di basecamp.
"Yaz lo sama Nizan tetep disini," tunjuk Keenan menatap kedua sahabatnya itu.
"Siap!" balas Nizan dan lalu dibalas juga anggukan dari Fayyaz.
"Ready semua nya?" tanya Keenan pada semua anggotanya lalu dijawab serempak oleh para anggotanya, "ready!!" lalu seluruh anggota keluar dari basecamp menuju motor masing-masing.
Sebelum Keenan pergi keluar ia menghampiri Fayyaz yang masih setia berdiri di tempatnya. "Gua percaya sama kemampuan lo," tutur Keenan sambil menepuk bahu Fayyaz, Keenan mendapat anggukan dan senyum manis Fayyaz, "gua akan kerahkan semua kemampuan yang gua miliki."
Seluruh anak Mata Elang pun berpencar dengan arahan yang sudah ditentukan, sementara Shaka yang sedang fokus menelusuri setiap jalan dengan teliti walaupun hatinya sangat frustasi.
Nata tidak akan pernah tahu perjuangan apa yang dilakukan oleh Shaka untuk selalu berada di sisinya, bahkan sekarang juga ia merasa bahwa ini adalah salahnya karna tidak bisa menjaganya.
"Nat maaf untuk semuanya, untuk yang selalu buat lo marah, untuk yang selalu buat lo risih karna keberadaan gua, maaf gua gak bisa jadi teman baik yang lo ingin kan, maaf." Air mata itu lolos begitu saja, Shaka menarik rambutnya frustasi.
Sementara ditempat lain Fayyaz sedang sibuk mengotak-atik alat canggih didepannya, dan dengan Nizan disisinya membantu akan keperluan yang Fayyaz butuhkan.
KLIK
Suara yang terdengar pada alat canggih itu lalu menampilkan sebuah foto yang berisi mobil , mereka pun fokus meneliti satu demi satu yang ada di dalam mobil itu.
Fayyaz pun memperbesar tampilan foto itu agar lebih jelas, "tunggu-tunggu." Nizan tiba-tiba bebicara tapi matanya masih fokus menatap komputer.
"Kenapa?" tanya Fayyaz.
"Hehe, itu foto." balas Nizan cengengesan membuat Fayyaz seketika kesal.
"Heh bangsul, orang lagi khawatir malah becanda," geram Fayyaz sambil memukul tengkuk kepala Nizan.
"Maaf biar ga tegang juga kali,"
"Tegang mata lo anjing!!"
"Ga asik." Nizan mencebikan mulut nya, padahal kan dia niatnya hanya ingin menghibur tapi malah di omelin.
"Heh tunggu!" seru Fayyaz yang sedang berpikir keras.
"Kenapa?" balas Nizan penasaran, ia mendekatkan tubuhnya pada Fayyaz untuk melihat monitor di depannya.
"Napa gak cek kamera dasbor?" tutur Fayyaz.
Nizan melotot kaget karna baru kepikiran sekarang, "anjir napa ga dari tadi?" kesalnya.
Fayyaz pun mengambil hpnya, "bentar gua kasih tau yang lain dulu." lalu mengotak-atik hpnya mencoba mengabari yang lainnya.
Lelaki dengan kulit putih nya itu seketika berdiri, lalu mengambil jaketnya membuat Nizan bingung sendiri dengan aksinya itu.
"Lo mau kem-"
"Nyet, lo tunggu disini ya? gua mau ke rumah Nata buat ambil kameranya ntar balik lagi, gua titip basecamp rusak dikit nyawa lo melayang." Setelahnya Fayyaz keluar dari basecamp, meninggalkan sosok Nizan yang masih melongo mendengar ancaman Fayyaz.
Nizan menghela nafasnya lalu duduk di kursi sambil memijat pelipisnya yang pusing, "aduh si julid itu dibawa kemana sih? azab kebanyakan julid nih jadi di culik."
Lagian setahu Nizan kan si Nata tuh anaknya tak terlalu populer, bahkan hanya dia yang tidak mengikuti eskul diantara Zora dan Waffa, lalu kenapa Nata bisa di culik?
"Apa penculiknya tau kali ya kalo Nata anak orang kaya? terus ngancem minta tebusan miliyaran ke ortunya, atau kalo ga gitu ginjalnya di jual? HIHH SEREM BETT YA ORANG-ORANG!!" Nizan bergidik ngeri sendiri dengan pikiran sinetronnya itu, lalu ia kembali menatap monitor di depannya.
__ADS_1
"Lagian Fayyaz tolol sih, kalo cuma liat dari cctv sekolah mah ya gabakalan ketauan," kata Nizan sok pintar, lalu ia menyeruput secangkir kopinya berasa berada di rumah sendiri.
Sementara itu anak Mata Elang terus mencari keberadaan Nata di setiap penjuru, Shaka yang mencari dengan Keenan terus mengumpat kasar.
Bahkan Keenan pun tak mau menghentikannya, sebab percuma saja Keenan menenangkan Shaka yang ada dia kena amuk lagi.
"Sial, dasar Shaka bodoh kenapa lo ceroboh banget sih?!!" teriak Shaka frustasi, Keenan di sampingnya hanya bisa diam menyimak.
Melihat Shaka seperti ini rasanya baru pertamakali bagi Keenan, biasanya Shaka akan selalu tenang dengan semua masalahnya tapi kali ini dia terlihat begitu frustasi hanya karena Nata.
"Kenapa lo sefrustrasi ini sih, Sha?" tanya Keenan pelan, namun suaranya mampu membuat Shaka menoleh.
"Karena Nata penting buat gua, Ken." Jawaban dari Shaka itu cukup membuat Keenan kembali terdiam, ia tak ingin ikut campur lebih dalam tentang hubungan keduanya.
"Fayyaz bilang dia mau ke rumah Nata buat ambil kamera dasbor, cuma itu satu-satunya yang bisa jadi bukti kemana penculik itu bawa Nata pergi." Keenan kembali memasukkan ponselnya pada celana jeans-nya, menatap Shaka yang masih terdiam menatap jalanan.
Cuaca malam ini cukup dingin, lagipula hampir tengah malam dan mereka belum juga menemukan sosok Nata.
"Sha, ayo pulang kita cari Nat-"
"Lo pulang duluan," potong Shaka cepat, lalu ia kembali meraih helm nya.
"Udah malem Shaka, lo mau cari dia kemana lagi hah?" tanya Keenan kesal, sejak tadi dia menahan egonya untuk tidak berkata kasar pada Shaka.
Shaka menatap Keenan dengan sorot amarahnya, bahkan wajah tenang yang selalu hadir itu hilang seketika. "Kemanapun asal gua bisa temuin dia, Ken."
"Jangan goblok Shaka, lo juga harus khawatir sama kesehatan lo!!" seru Keenan mengepalkan tangannya menahan emosi.
"Gua ga peduli, kalo emang lo mau pergi tinggal pergi ga usah nahan gua." Shaka menyalakan mesin motornya lalu melaju begitu saja meninggalkan Keenan yang sudah mengumpat kasar.
Langit bergemuruh menandakan hujan segera turun malam ini, namun Shaka tetap melajukan motornya membelah jalanan kota Bandung untuk mencari Nata.
"Lo kemana Nata? jangan gini gua mohon jangan gini, jangan pergi jauh dari gua."
Akhirnya hujan turun menemani Shaka dengan segala kegelisahan dalam dirinya, pikirannya melambung jauh mengingat kejadian indah saat ia dan Nata bersama dulu.
Dulu Nata selalu memarahinya, menasihatinya, membantunya, memberikan dukungan untuknya namun sekarang ia tak mendapatkan itu lagi.
"Gua janji bakal temuin lo meskipun nyawa gua harus jadi taruhannya," kata Shaka tersenyum tipis mengingat sosok Nata.
Namun kegelisahan Shaka itu malah membuatnya tak fokus untuk menyetir malam ini sebab setelahnya motornya di hantam begitu keras oleh mobil hitam yang melaju kencang dan pergi begitu saja.
BRAKK
Tubuhnya terpental cukup jauh, helm yang melindungi kepalanya lepas entah kemana dan kini Shaka terbaring lemah dengan darah yang mengalir dari kepalanya.
Pandangannya mulai mengabur, di saat itu Shaka menyempatkan diri untuk tersenyum. "Nat, gua janji untuk selamatkan lo." Lalu matanya terpejam begitu saja.
"SHAKA!!!" teriakan itu sudah tak terdengar oleh Shaka, Keenan berlarian panik mendekati Shaka lalu ia segera menggendong tubuh sahabatnya itu menuju rumah sakit terdekat.
"Dasar goblok."
----
Hujan, Nata suka hujan sejak kecil sebab banyak sekali kenangan indah yang hadir saat hujan turun.
Dalam gelapnya ruangan ini Nata bisa mampu merasakan derasnya hujan yang turun, ia menunduk lemas sebab sejak tadi tubuhnya terus diikat dengan kencang bahkan pria bertopeng itu tak kunjung kembali.
__ADS_1
Nata menghela nafasnya, sebenarnya ia ingin kabur dari sini namun sialnya melihat dimana ia sekarang saja ia tak mampu apalagi melarikan diri.
Kriett...
Pintu itu kembali terbuka membuat Nata lagi-lagi menutup matanya sebab tak sanggup menangkap cahaya yang masuk ke matanya.
"Halo Nata."
Suara itu..
Kenapa Nata seperti tak asing dengan suara itu?
Nata mendongak menatap pria dengan topeng berbeda itu tajam, ada berapa orang yang menyekapnya sih?
"Lo mau bebas dari sini?" tanyanya sambil mendekat pada Nata.
"Menurut lo?" Nata menatap bengis sosok di depannya ini, entahlah dia sudah lelah di permainkan padahal ia tak tahu salah apa dia.
Pria itu tampak lebih tenang dibandingkan pria bertopeng sebelumnya, ia melangkahkan kakinya ke belakang Nata lalu melepaskan ikatan pada tubuhnya.
Tentu saja hal itu membuat Nata bingung, apa yang diinginkan pria ini sebenarnya??
"Sekarang lo udah bebas," katanya begitu tenang namun Nata masih belum bergerak dari tempatnya.
Ia tak ingin ceroboh dan malah membuatnya keadaannya semakin tak aman, jadi dia lebih memilih diam.
"Kenapa diam? Kenapa lo ga kabur?"
"Lo mau apa brengsek?!" seru Nata membuat pria itu sedikit tersentak.
"Lo tanya mau gua apa? tentu, liat semuanya hancur di depan mata gua dan itu karena ulah lo Nata." Jawaban dari pria itu membuat Nata berdiri dengan tegak lalu hendak melayangkan tamparan keras, sial tangannya ditahan dengan cepat.
"Oh wow keren juga ya lo, gua kira sahabatnya si Waffa itu lemah taunya lo bisa melakukan perlawanan ya." Pria itu mencengkeram erat tangan Nata hingga ia meringis kesakitan, "Nata tetap disini ya, sampe semua rencana gua berjalan lancar." Setelah itu pria bertopeng pergi meninggalkan Nata yang meringis kesakitan.
Namun Nata tak tinggal diam begitu saja, ia berlari hendak melayangkan pukulannya pada pria itu.
BUGH
Pria itu menoleh lalu tersenyum sinis di balik topengnya, dengan cepat ia mendorong tubuh Nata hingga di sudut ruangan. "Ternyata lo ga bisa takut ya sama ancaman gua."
"Lo pikir gua cewe yang bakalan nangis cuma karena cowo brengsek kayak lo? sorry air mata gua ga pantes buat tangisin ancaman sampah lo anjing!!" Nata berusaha melepaskan tangannya dari pria itu.
Kesal dengan ucapan Nata, pria itu dengan cepat mengambil balok kayu yang berada di dekatnya.
BUGH
"ARGH SIALAN!!" Nata terjatuh memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri, bau amis darah langsung tercium olehnya.
"Kayaknya lo emang harus di kasarin biar bisa nurut dan diem ya," kata pria itu lalu segera pergi meninggalkan Nata, tak lupa mengunci ruangan itu.
Nata masih meringis dengan kepala yang terus berdenyut nyeri, "bajingan itu bukan manusia, dasar setan."
Setelahnya Nata hanya bisa pasrah duduk di ruangan gelap dan dingin ini dengan kepala yang terus mengalir darah.
Andai, andai saja ada yang menolongnya, namun apakah mungkin pahlawan itu datang untuk Nata?
Disela-sela kesakitannya hanya ada satu nama yang terlintas di benak Nata, "Shaka.." lalu Nata ambruk tak sadarkan diri.
__ADS_1