GIRL BOSS

GIRL BOSS
12. Berhenti Berharap


__ADS_3

Langit telah berubah menjadi gelapnya malam yang disinari oleh terang nya bulan yang tak


malu-malu menampakkan cahaya nya yang begitu terang, dihiasi oleh bintang-bintang yang berkelap kelip sekaan bintang itu akan hancur berkeping-keping menjadi bongkahan meteor tapi nyatanya itu hanya ilusi semata .


Di kediaman Waffa Abighail, sekarang gadis itu sedang bergulat dengan isi pikirannya sendiri. "Pergi ga ya?" Terus saja pertanyaan itu yang keluar dari mulutnya sejak tadi.


"Pergi aja kali ya? masa gua biarin tuh orang ngerjain gua, kalau dia ngelakuin lagi bisa- bisa gua harus dorong motor kayak tadi sore, fix sekarang gua berangkat mumpung belum jam 8 nih, awas lo ya gua beri pelajaran habis-habisan liat aja lo!" cerocos Waffa sambil bergegas mengambil hoodie nya.


Sesampainya di halaman rumah, ia berhenti lalu menatap motor kesayangannya itu. "Gua bawa motor ga ya?" Satu tangannya dia simpan di dagunya, menimbang-nimbang keputusannya.


"Ga usah ah, kalau di kepesin lagi gimana? cabut aja deket kok tamannya juga," dia pun bergegas pergi menuju taman yang akan ditujunya sambil meletakkan kedua tangannya di saku hoodie.


Tak butuh waktu lama akhirnya Waffa sampai di lapangan itu, tak ada penerangan di lapangan ini, lampu dari taman tak mampu untuk menyinari tempat ini dan itu yang membuat lapangan terlihat mencekam namun Waffa tetap menunggu disini.


"Akhirnya datang juga, gua kira lo gak bakal berani buat datang."


Suara itu membuat Waffa menoleh kearah samping, disana sosok Gery terlihat dengan tampang songong nya yang membuat Waffa ingin sekali memukul wajah itu.


"Ohh jadi lo pelakunya?! Sialan ya lo, mau apa lagi sih?!" tanya Waffa kesal, lagipula siapa yang tidak kesal jika motor kesayangannya jadi korban?


Gery tertawa, dan itu adalah tawa paling menyebalkan bagi Waffa. "Gua cuma mau kasih lo pelajaran aja sih, karena setelah Dewa minta maaf sama lo, gua hampir keluar dari King Cobra."


"Dih masa bodoh, itu sih derita lo!!" kata Waffa sewot, entahlah bawaannya sewot setiap melihat wajah Gery.


Lelaki dengan tubuh bak preman pasar itu mengepalkan tangannya karena kesal dengan ucapan Waffa, lalu ia tersenyum sinis dan berkata, "kalo gitu sekarang lo harus tanggung jawab dengan apa yang udah lo perbuat."


Waffa tersenyum remeh, menatap Gery datar lalu menghela napasnya. "Gua gak bikin lo hamil, ngapain tanggung jawab?"


"Bacot, sekarang mending lo siapin kata-kata terakhir karena setelah lo ketemu gua, gak bakal ada lagi hari esok dan seterusnya." Gery menunjukkan smirk nya yang terlihat menyeramkan itu, dan itu cukup membuat Waffa khawatir dengan ucapannya.


Namun Waffa tetap Waffa yang tak ingin terlihat lemah di mata orang lain apalagi ini musuhnya, "gua pastiin bakal masih ada hari esok, soalnya lo yang bakal habis di tangan gua!!"


"Oh ya? Lo yakin?" tanya Gery, lelaki itu tiba-tiba saja meniup peluit yang entah sejak kapan berada di tangannya.


Dan seketika itu juga nyali Waffa langsung ciut melihat gerombolan Genk King Cobra berjalan kearahnya, mungkin jika di hitung ada sekitar 10 orang di belakang Gery saat ini, dan Waffa hanya seorang diri.


"Sekarang gimana? Lo sanggup berharap kalo hari esok itu masih ada?" pertanyaan itu mampu membuat Waffa terdiam kaku, jujur ia takut sebab mau bagaimanapun ia perempuan dan kini di kelilingi segerombolan laki-laki.


Melihat Waffa yang ketakutan membuat Gery senang bukan main, bahkan ia dan anak buahnya menertawakan Waffa.


"Lo cowo kan? Beraninya kok keroyokan, kayak banci tau gak!!" teriak Waffa dengan lantang, namun teriakannya itu malah membuat mereka lagi-lagi tertawa.


Setelah puas menikmati pemandangan ketakutan yang di pancarkan oleh Waffa, Gery tersenyum miring lalu berkata, "serang."


Dan setelah itu Waffa langsung dikerubungi oleh anak buahnya, Gery hanya memantau dari tempatnya berdiri.


°°°°°


Lapar, adalah kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan Fayyaz saat ini.

__ADS_1


Lelaki berkulit putih itu melajukan motornya membelah jalanan kota Bandung malam ini, namun sejak tadi ia belum juga berhenti untuk membeli makanan sebab setelah keluar rumah rasanya makan angin saja sudah membuatnya kenyang.


Sampai pada akhirnya ia berhenti di dekat lapangan niatnya ingin menelpon Shaka untuk ikut makan di kost nya tapi suara tawa yang terdengar itu membuat niat awalnya terhenti, sebenarnya Fayyaz tak peduli namun saat matanya menangkap sosok gadis yang sangat ia kenali ia jadi fokus menatap mereka dari sini.


"Waffa ngapain deh?" tanyanya, dan yang membuatnya kaget adalah sosok Gery yang berada di sana.


Merasa ada yang ganjal, ia menelpon seseorang yang sepertinya akan langsung datang jika menyangkut soal Waffa.


"Ken-"


"Anjing gua lagi maen game jadi kalah gara-gara lo!!" teriakan dari Keenan itu membuat Fayyaz menjauhkan ponselnya dari telinga.


"Diem, ini lebih penting dari game lo!!"


"Apaan dah, di hidup gua kagak ada yang penting kecuali Kania."


"Kania adek lo goblok ya jelas penting, please sekarang lo ke lapangan deket taman kota."


"Mager ah, lagian gak ada jadwal buat kumpulan sama anak-anak kan?"


Fayyaz menghela napasnya kesal, "ck buruan anjing kesini, ini si Waffa kayaknya di cegat sama si Gery."


Tak ada jawaban dari sebrang sana, membuat Fayyaz menyangka bahwa sambungan telepon terputus.


"Si tolol itu ngapain sih? Hidupnya nyari masalah mulu heran gua, merepotkan."


"Udahlah jangan komen, mending lo buruan kesini!!"


Dan setelah itu Keenan memutuskan telpon secara sepihak.


"KEENAN ANJING!!" umpat Fayyaz kesal, ia bingung harus bagaimana karena jika ia maju untuk membantu Waffa pasti akan kalah karena ia tak jago berkelahi.


Meskipun anak Genk, tapi Fayyaz tak jago dalam berkelahi sebab ia lebih sering memantau dan jadi mata-mata tak pernah turun untuk bertarung seperti Keenan.


"Sial gua harus gimana?!" Fayyaz mengacak-acak rambutnya frustasi sendiri, lalu ia kembali menatap kedua orang itu.


Matanya melotot kaget saat melihat segerombolan orang datang menghampiri Waffa, ia tahu itu anak King Cobra sebab jaket yang mereka pakai sudah menggambarkan bahwa mereka adalah bagian dari KingCob.


Dengan cepat Fayyaz mengirim pesan pada Shaka agar membantunya, ya meskipun ia tahu jika Shaka mungkin tak ada sangkut pautnya namun Shaka dapat diandalkan.


Fayyaz melepas helm nya, turun dari motor dan berniat untuk berlari ke arah sana saat melihat Waffa dikeroyok.


Namun langkahnya terhenti karena melihat sosok tak asing dimatanya.


"BANGSATT LO GERY!!"


Keenan datang, dengan anak Mata Elang di belakangnya dan Fayyaz kini tersenyum bangga lalu ia ikut berlari kearah sana.


Lelaki dengan mata tajamnya itu tak segan-segan untuk menghabisi 3 sampai 4 orang seorang diri, demi melindungi Waffa.

__ADS_1


Anak buahnya pun ikut bertarung, dan kini lapangan terlihat seperti medan pertarungan.


Waffa terduduk lemas menatap Keenan yang kini bertarung dengan Gery disana, badannya masih bergetar hebat karena ini baru pertamakali baginya berada di posisi ini.


"ANJING!! ANJING LO GERY!!" Keenan memukul membabi buta pada sosok Gery yang kini sudah tergeletak tak berdaya.


Melihat Keenan yang sepertinya akan terus memukuli Gery, Waffa berteriak. "KEN UDAH KEN!! STOP!!"


Dan seketika Keenan berhenti, sebab Gery pun sudah tak sadarkan diri lalu ia berbalik berjalan kearah Waffa.


Anak King Cobra pun segera pergi dan membawa Gery bersamanya, sebab masih berada disini hanya membuat mereka menuju kematian.


"Lo bisa gak sih sehari gak bikin ulah?! Otak lo dipake!! Jadi tolol gini!!" bentak Keenan, bahkan anak itu menoyor jidat Waffa hingga Waffa mengaduh kesakitan.


"Ken jangan kasar sama cewe," kata Fayyaz mengingatkan, ia tak tega dengan tampang Waffa yang terlihat seperti orang depresi.


"Apaan dia mah bukan cewek, buktinya berani datang sendirian kesini tanpa mikir dua kali, tolol!!" ucap Keenan marah, entah apa yang membuatnya marah saat ini.


"Gua kan gak tahu kalo Gery yang dateng," sahut Waffa dengan suara kecil.


Keenan menoleh dengan wajah kesal, "YA KALO GAK TAHU ORANGNYA JANGAN DATENG DONG AH!! IHH EMOSI GUA!!" lelaki itu menendang angin untuk meluapkan emosinya.


Sementara anak buah yang lainnya hanya menatap sang Ketua yang mengamuk hanya karena satu gadis, dan gadis itu bukan Kania sang adik.


"KENAPA SIH KOK LO MARAH-MARAH?! KAN HAK GUA!!" bentak Waffa sebab perkataan dari Keenan cukup membuatnya tersinggung.


"YA LO MIKIR LAH RESIKONYA ANJING, KALO LO MATI DI KEROYOK GIMANA?! KALO LO DI APA-APAIN SAMA MEREKA GIMANA HAH?! GIMANA? COBA LO PIKIR SENDIRI!!"


Waffa terdiam sebab bentakan dari Keenan, "lo sebenernya kenapa sih?! Lo khawatir sama gua?!" tanya Waffa sewot, sebenarnya sejak tadi ia mati-matian menahan air matanya sebab terus di bentak.


Tak ada jawaban hingga suara teriakan panik dari belakang terdengar. "WAFFA!!!!"


Zora berlarian panik bersama Nata di sampingnya, di belakang mereka ada Shaka dan Nizan yang sama paniknya.


Gadis bertubuh kecil itu memeluk Waffa sambil menangis sebab khawatir, sedangkan Nata mengecek seluruh tubuh Waffa memastikan bahwa Waffa tak lecet sama sekali.


"Kok lo gak bilang kita sih kalo mau kesini?! Coba liat sekarang, lo ceroboh banget tau gak?!!" omel Zora masih menangis menatap Waffa yang kini memeluknya erat.


Ia tahu jika kedua sahabatnya pasti khawatir, dan ia merasa bersalah karena mementingkan egonya.


Keenan yang malas berada disini akhirnya menyuruh anak-anaknya untuk pergi kecuali Fayyaz sebab anak itu masih ingin disini.


"Keenan!! Jawab pertanyaan gua!!"


Teriakan Waffa menghentikan langkahnya, lalu ia berbalik menatap gadis itu dengan datar.


"Berhenti berharap kalo gua khawatir sama lo, gua gak bakal datang kalo bukan karena Fayyaz."


Dan setelah itu Keenan pergi, meninggalkan sedikit luka kecil di hati Waffa.

__ADS_1


janlup komen dan vote


see you next time


__ADS_2