GIRL BOSS

GIRL BOSS
21. Petunjuk


__ADS_3

Suasana rumah sakit malam ini cukup dingin, Waffa dan Zora sejak tadi saling terdiam duduk di kursi tunggu, keduanya menunggu Luke selesai di tangani dan setelahnya mereka berencana untuk pergi ke rumah Nata.


"Huh...." Waffa menghela nafasnya sejak tadi, dia sangat bosan menunggu Luke.


Terdengar suara helaan napas dari sampingnya Zora pun seketika menoleh, "kok lama ya? Dia gapapa kan?" tanyanya pada Waffa.


Waffa melirik Zora yang sedang menatapnya dengan penuh tanya, "ya ga tau, mungkin sekarat kali," jawabnya santai.


Zora melototkan matanya, ia pun menghela napas akan teringat bahwa temannya yang satu ini emang rada-rada. "Astagfirullah, lo kalau ngomong jangan sembarangan dong, ucapan kan doa!" tegas nya sambil memukul tangan waffa.


Waffa menyipitkan matanya heran dengan kelakuan Zora, " emang tuh anak siapa, sampe lo mendadak jadi ustadzah?" tanya Waffa sambil memikirkan sesuatu dikepalanya. "Tunggu, jangan bilang dia pacar baru?" tanya Waffa dengan raut wajah penasaran.


"Apaan sih bukan," elak Zora dengan cepat.


"Terus siapa?"


"Cuma temen," balasnya dengan memalingkan wajahnya dari Waffa, melihat tingkah Zora membuat Waffa terkekeh kecil.


"Hah temen ya? kok gua baru tau?" tanya Waffa sambil mengangguk-angguk .


"Kan baru beberapa kali ketemu juga," jawab Zora.


"Langsung diajak ngedate?" tanya Waffa sambil mengangkat sebelah alisnya.


TAP


TAP


TAP


Zora dan Waffa mengalihkan perhatiannya saat mendengar suara orang berlarian mendorong sebuah blangkar dengan seseorang yang ada di atasnya.


saat melihat salah satu seseorang yang sedang mendorong blangkar mereka pun terkejut dan serempak langsung berdiri dari duduknya.


"Keenan?" panggil Zora sambil berlari mengejarnya dan disusul Waffa dengan wajah yang ditekuk.


"Ken!!" teriak Zora yang memanggil sosok Keenan yang berada di depannya.


Saat mendengar seseorang memanggilnya Keenan langsung menoleh ke arah belakang dan ia melihat Zora dan Waffa yang berjalan kearahnya.


"Siapa yang tadi lo dorong?" tanya Zora yang baru saja tiba-tiba didepan Keenan dan di susul Waffa di belakangnya.


Keenan melirik Waffa yang berada dibelakang Zora dengan wajah ditekuk langsung seketika mengalihkan pandangannya pada Zora. "Shaka," jawabnya singkat.


"Emang dia kenapa?" panik Zora sedangkan Waffa masih setia dibelakang Zora dengan wajahnya yang masih ditekuk.


"Jatuh dari motor," balas Keenan.


"Tapi gapapa?" tanya Zora.


Keenan yang menghela napas dan menjawab pertanyaan Zora, lalu berdecak kesal. "Ya mana gua tau baru juga ditangani dokter."


"Iya juga sih hehe," balas Zora sambil cengegesan.


"Tunggu, terus lo berdua kenapa pada disini?" tanya Keenan yang sejak tadi penasaran.


"Kita lagi nunggu temen gua," balas Zora dan di angguki oleh Keenan.


"Kok bisa si shaka jatuh dari motor, kan setau gua shaka orangnya ga ceroboh?" tanya balik Zora.


"Lo berdua belum tau gitu?" Keenan mengernyitkan dahinya bingung, perasaan kan mereka berdua temannya Nata.


"Tau apaan?" balas Zora.


"Si nata kan diculik, gua sama yang lain juga lagi nyariin, terus anak itu tuh bisa kaya gini karna khawatir sama si Nata," jawab Keenan.


"APA?" seru Waffa kaget setelah lama diam.


"Lo budeg apa gimana sih?" balas Keenan dengan raut wajah kesal.


"Gua ga lagi becanda anjing!!" emosi Waffa menatap Keenan tajam.


Terbitlah senyum smirk milik Keenan saat Waffa membalasnya dengan kesal, "terus menurut lo gua becanda gitu?"


Zora yang sejak tadi masih syok mendengar perkataan Keenan langsung panik, "terus sekarang gimana, udah ketemu?"


Keenan mengangkat kedua bahunya dan beserta gelengan kepalanya, "belum."


Sontak Waffa pun melangkahkan kakinya untuk pergi, namun tangannya dengan cepat di tahan oleh Keenan. "Lo mau kemana hah?"


Waffa menepis tangan Keenan, "ya cari Nata lah mau mana lagi?!" kesalnya.


"Terus lo mau nyari kemana hah? Emang lo tau Nata dimana?" tanya Keenan pada Waffa.


Waffa yang mendengarkan perkataan Keenan langsung diam karena dia tidak tau harus mencari kemana, akhirnya gadis itu langsung terduduk lesu di kursi tunggu.


"Zora!!"


Ketiganya menoleh ke arah sumber suara, terlihat lelaki dengan langkah gontai menuju mereka.


"Loh Luke? Sorry gua tinggal," kata Zora tak enak lalu ia membantu Luke untuk duduk.

__ADS_1


Luke tersenyum tipis lalu menggeleng tanda tak apa di tinggalkan begitu saja, lagian dia sudah terbiasa di tinggalkan kok.


"Lo ngapain disini?" Suara berat itu mengalihkan perhatian Luke, lelaki berkulit putih itu kaget saat melihat Keenan.


"Weh bos!! Biasalah ada problem." Luke merangkul Keenan, membuat Zora dan Waffa menatapnya bingung.


"Kalian saling kenal?" tanya Zora menunjuk keduanya.


Luke mengangguk mengiyakan, "gua temennya Keenan, anggota Mata Elang hehe."


Pintu ruangan yang sejak tadi di tunggu-tunggu itu terbuka, menampakkan sosok dokter yang menangani keadaan Shaka di dalam.


"Dengan keluarga Shaka?" Pertanyaan itu di iyakan oleh mereka, Luke sih ikut-ikutan saja padahal kenal Shaka saja tidak.


"Dia sudah sadarkan diri, untungnya benturan pada kepalanya tak begitu keras jadi keadaannya tak terlalu buruk."


Keenan bernafas lega mendengarnya, setelah dokter itu pamit undur diri dengan cepat Keenan memasuki ruangan Shaka di susul oleh ketiganya.


Terlihat Shaka yang terbaring lemah, tanpa aba-aba Keenan menoyor kepala Shaka hingga anak itu tersentak kaget.


"Bego banget sih lo?! kan gua udah bilang nanti aja carinya, coba sekarang lo liat? lo hampir mati goblok!!" omel Keenan pada sosok Shaka yang tak memperdulikannya, "untung gua ngikutin lo, coba kalo engga? lo bisa sekarat anjir di pinggir jalan!!"


Luke melongo mendengar omelan Keenan, kesannya seperti memarahi anak sendiri ya.


"Heh dengerin gua ga sih?!" Keenan kembali menoyor kepala Shaka yang terbalut kain kasa itu, membuat sang empu menatapnya sinis.


"Bawel lo," desis Shaka lalu membuka selimut yang menutupi kakinya, berniat turun dari ranjang.


Keenan langsung menghentikan aksinya itu, manusia bodoh ini mau melakukan apa lagi sih? Memangnya tak cukup ya membuat Keenan khawatir?!


"Jangan halangi gua!" seru Shaka mencoba melepaskan tangan Keenan yang menahan tubuhnya, tapi karena tubuhnya cukup kecil dari Keenan membuat dirinya tak bisa melawan.


"Keadaan lo belum pulih anjing!!" umpat Keenan kasar, kembali mendorong tubuh Shaka agar berbaring namun Shaka tetap menolaknya.


"Gua gak peduli, gua mau cari Nata!!" Shaka menepis tangan Keenan dari pundaknya, kesannya dia seperti mau di lecehkan Keenan deh.


Keenan menghembuskan nafasnya kasar, Shaka ini memang terlihat kalem dan tenang tapi aslinya jika keinginannya belum tercapai ia akan menjadi keras kepala.


"Lo boleh cari Nata besok oke? sekarang kita istirahat du-"


"Gak." Shaka memotong ucapan Keenan dengan cepat, lalu ia melepas paksa selang infus di tangannya membuat kedua gadis yang sejak tadi menyimak jadi menjerit ngeri saat tangan Shaka kini mengeluarkan darah.


"Goblok!!" Keenan kembali menoyor Shaka, untung kepala Shaka tak gampang copot coba kalo iya? sepertinya sejak tadi kepalanya sudah hilang karena terus-terusan di toyor oleh Keenan.


Zora dan Waffa hanya menyimak pertengkaran kecil diantara keduanya, mereka masih tidak menyangka dengan sikap keras kepala sosok Shaka yang biasanya terlihat kalem itu.


Sedangkan Luke sejak tadi malah terkekeh kecil melihat ketuanya kewalahan menghadapi Shaka, biasanya Keenan tak peduli dengan sekitarnya.


"Kenapa Yaz?" tanya Keenan pada sosok Fayyaz di sebrang sana.


Terdengar suara ricuh Nizan disana padahal mereka hanya berdua tapi bisa seheboh itu, aneh Keenan.


"Ken, gua sama Nizan nemu bukti siapa pelakunya!!" seru Fayyaz dari sana, dengan cepat Keenan mengencangkan volume telponnya.


Shaka yang mendengar itu langsung merebut ponsel Keenan, "siapa yang culik Nata?!"


"Gua lihat yang bawa Nata kabur waktu mobilnya nabrak itu anak King Cobra, soalnya cowo itu pakai jaket Kingcob tapi sialnya dia pakai topeng." Penjelasan dari Fayyaz itu membuat emosi Shaka menggebu-gebu, ia bangkit dari tempatnya lalu berlari keluar ruangan.


"WOY SHAKA!!" Keenan dengan cepat menyusulnya, tak ingin ketinggalan Waffa dan Zora pun ikut-ikutan dengan Luke yang gabut ingin ikut.


Keenan menarik kencang tangan Shaka hingga anak itu menubruk tubuhnya, "lo bisa tenang dulu ga sih?!"


"Tenang lo bilang?! disaat keadaan Nata gak baik-baik aja gua harus tenang?? gila lo!!" sewot Shaka menatap Keenan tajam.


"Maksud gua-"


"HEH ANJRIT SHAKA!!"


Shaka kembali berlari meninggalkan Keenan dan ketiganya, dengan cepat Keenan dan Luke mengejarnya sedangkan Waffa dan Zora hanya bisa terdiam.


"King cobra anjing emang!!" umpat Waffa kesal.


"King cobra mah ular, btw." Zora menyahuti dengan tampang watados, membuat Waffa seketika menjitak kepalanya.


"Gery sialan itu mau apaan lagi sih?! Ganggu mulu kehidupan manusia deh? setan aja kalah sama kelakuannya." Waffa terus menggerutu sebal sambil berjalan untuk mencari keberadaan ketiga lelaki itu.


Zora yang berjalan di sampingnya hanya terkekeh kecil, "maaf ya gara-gara gua kalian jadi terlibat sama si Gery." Anak itu merasa bersalah tentu saja, sebab jika saat itu ketiganya tak bertemu dengan Diki maka semuanya akan baik-baik saja.


"Ck, gua yang libatkan diri sendiri." Waffa merangkul Zora agar anak itu tak merasa sedih.


Terlihat dari kejauhan sosok Shaka yang nekat menaiki motornya namun di halang oleh Keenan dan Luke, dengan cepat keduanya berlari menuju mereka.


"Biar Luke yang nyetir, keadaan lo belum stabil anjing!!" Keenan menghentikan aksi Shaka dengan memeluk lelaki itu dari belakang, jangan di bayangkan Keenan saja geli melihat kelakuannya.


"Lepasin gua anjing, lo homo hah?!" Shaka memberontak dari pelukan Keenan, namun tenaganya tak cukup.


"Asal lo nurut!!"


Mau tak mau akhirnya Shaka mengiyakan, membuat Keenan melepaskan pelukannya.


Pada akhirnya kelimanya menuju basecamp Mata Elang untuk mencari info yang lebih jelas dari Fayyaz dan Nizan.

__ADS_1


---


Nizan masih menggeleng tak percaya dengan apa yang ia temukan, dia yang menemukan bukti siapa pelakunya sungguh di luar ekspektasi bukan?


Awalnya Nizan tak begitu fokus pada penculiknya, sebab Fayyaz bilang perhatiin aja Nata namun matanya yang teliti itu malah menemukan jaket berlogo ular itu pada sang penculik.


"Gak usah alay lo, kayak nemu harta Karun aja!" Fayyaz melempar kertas yang ia gulung itu pada Nizan.


"Woy ini mah lebih dari harta karun cok!! Fix abis ini gua bakal ganti cita-cita jadi detektif!!" seru Nizan heboh sendiri tak memperdulikannya wajah Fayyaz yang terlihat ingin sekali menghantamnya.


BRAKK


"Brengshake kaget woy!!" Nizan tersentak kaget, ia dan Fayyaz kompak menoleh pada sosok Shaka.


"BUSETT KEPALA LO KENAPA ANJIR?!" Nizan berseru heboh sambil menunjuk-nunjuk kepala Shaka.


Namun Shaka tak menggubris pertanyaan Nizan, dia langsung menuju komputer yang menampilkan video dari dasbor mobilnya.


Ia juga mendengar semua percakapan diantara mereka, Shaka mengepalkan tangannya menahan emosi seharusnya sore itu Shaka menawarkan tumpangan pada Nata bukan hanya melihatnya dari kejauhan.


Waffa dan Zora juga ikut melihat layar monitor itu, mereka tentu syok mendengar percakapan antara Nata dan sang pelaku.


"Hp Nata kayaknya mati deh, soalnya gua ga bisa lacak keberadaan dia." Fayyaz memberikan informasi lain, membuat Shaka menghela nafasnya.


"Heh lo mau kemana lagi hah?!" Keenan menarik jaket yang Shaka kenakan.


"Cari Nata!!"


"Besok kita cari Nata ke markas kingcob, jangan gegabah soalnya kita harus lebih teliti lagi takutnya salah langkah," ucap Fayyaz membuat Shaka jadi mengurungkan niatnya.


Sementara itu gadis yang sejak tadi menjadi perbincangan hangat teman-temannya, kini masih meringkuk di ruangan gelap tersebut.


Lalu terdengar suara pintu terbuka, namun Nata tak ingin membuka matanya, hingga suara sapaan itu terdengar.


"Halo Nata!"


Suara itu berbeda dari suara pria yang kemarin memukulnya, perlahan Nata membuka matanya melihat sosok pria bertopeng yang menculiknya.


"Lepasin gua, brengsek!!" seru Nata, namun badannya benar-benar lemas.


Pria itu menggendong tubuh Nata di punggungnya membawa Nata pergi dari ruangan ini, Nata hanya bisa pasrah saja.


Nata dibawa pada sebuah kamar, lalu ia di baringkan dengan hati-hati oleh pria itu, "tunggu disini ya, gua bakalan bales perlakuan dia ke lo."


Setelah itu pria bertopeng pergi dari hadapannya.


Pria itu mengepalkan tangannya, ia mendatangi bosnya sendiri tentu saja karena tak terima dengan perlakuan yang diberikannya pada Nata.


"Maksud lo apa hah?! Kan gua bilang, jangan kasarin Nata!!" teriak pria itu kesal.


Sedangkan sang bos menatapnya dengan angkuh, "cewe lo itu kalo gak di kasarin ga bakalan nurut," jawabnya santai.


"Sialan lo!!"


BUGH


Lelaki yang di sebut bos itu terkekeh kecil, lalu memegang sudut bibirnya yang berdarah. "Harusnya lo berterimakasih sama gua, karena berkat usaha gua akhirnya lo bisa miliki Nata kan?" tanyanya sambil menatap pria itu, "setelah semua rencana gua berhasil, lo tinggal bawa Nata pergi sejauh mungkin, sesuai dengan keinginan lo dari dulu bukan?"


"Brengsek!"


Setelahnya pria bertopeng itu pergi meninggalkan sang bos yang terkekeh kecil, ia kembali menemui sosok Nata yang terlihat tak berdaya itu.


Dengan cepat ia segera membawa kotak obat untuk mengobati luka di kepala Nata, bosnya itu memang sialan.


"Lo mau ngapain?!" Nata memundurkan tubuhnya saat pria itu duduk di tepi ranjang.


"Ngobatin lo, Nata."


Nata yang mendengar itu menatapnya tak suka, pria itu sangat so akrab sekali seperti mereka berteman cukup lama.


Dengan telaten pria itu mengobati luka, dan Nata hanya bisa pasrah saja karena ia juga sudah lelah terus-terusan memberontak.


"Sabar ya, setelah ini gua janji bawa lo keluar dari sini."


"Gak usah so manis sama gua, dasar penculik sialan!" sewot Nata, namun pria itu malah tersenyum di balik topengnya.


"Lo udah lupa ya sama gua? bahkan kayaknya suara gua aja ga lo kenalin."


Nata meliriknya sinis, "gak usah so kenal deh lo, lagian kalo gua kenal sama suara lo udah daritadi gua tendang lo."


"Hahaha lo dari dulu galak ya."


Nata lagi-lagi mendelik tak suka, siapa sih pria ini? sungguh Nata tak mengenalnya lagipula ia pelupa.


Pria itu mengelus rambut Nata dengan pelan sambil berkata, "perasaan gua dari dulu ga pernah berubah, meskipun gua tau saingannya Shaka."


Dan setelah itu pria bertopeng pergi meninggalkan Nata dengan beribu-ribu pertanyaan di otaknya.


Pria itu mengenal dirinya juga Shaka? Nata kembali memutar otaknya namun kepalanya masih sakit karena efek di pukul kemarin.


Jadi sebenarnya siapa pria itu??

__ADS_1


__ADS_2