
Suasana kantin siang ini cukup ramai, para murid meributkan kursi yang tersedia sedangkan mereka yang tak mendapatkan kursi hanya bisa pasrah dan makan dikelas.
Dimeja pojok terdapat tiga sekawan sedang melakukan ritual sehari harinya yaitu makan sambil mengghibah, kalau mereka disatukan pasti ujung-ujungnya menjulid dan selalu saja ada tumbalnya.
"Ra, lo udah ga di gangguin lagi sama si Diky?" tanya Nata memecah keheningan.
Zora mengangguk, "dia masih sering ngechat ke gua." tangannya sibuk mengaduk-aduk makanan di depannya, hari ini mood nya buruk karena Diky.
"Kagak ada kapok nya anjir," kata Waffa sambil mengunyah mie ayam kesukaannya.
Saat sedang asyik mengobrol tiba-tiba sang ketua osis datang menemui meja mereka, Shaka mendudukan tubuhnya disamping Nata lalu menatap sosok waffa yang duduk di depannya. "Fa, tadi gua di suruh buat panggil lo ke ruangan pak Zaky, katanya ada yang mau di omongin sama lo."
Waffa terdiam sejenak berfikir sebentar sebelum menjawab, "mau ngapain? perasaan gua gak buat masalah sama tu guru?"
"Temuin aja dulu sana, tadi gua liat ada anak ipa juga disana," kata Shaka tangannya menarik lengan Waffa agar segera pergi dari sini, mau tak mau akhirnya Waffa bangkit dan segera pergi dari kantin.
Kini di dalam ruangan guru Waffa duduk di kursi sambil menunggu sosok pak Zaky yang keluar sebentar, namun suara pintu yang terbuka jadi menarik antensi Waffa.
"Eh Waffa kan? ayo ikut gua, kata pak Zaky kita ngomong di lapangan indoor aja," ajak sosok lelaki dengan jaket hitam juga topi putihnya itu.
Waffa sedikit terpesona dengan sosok itu, setau dia lelaki yang kini berjalan di sampingnya itu cukup terkenal di sekolah karena wajahnya yang tampan juga senyumannya manis, kata orang pun senyumannya itu candu namun karena sifatnya dingin ia jadi sulit didekati.
"Btw mau ngapain sih?" tanya Waffa menatap lelaki tinggi di sampingnya, namun tak ada jawaban sama sekali dan hal itu membuat Waffa cemberut kesal.
Mereka pun tiba didalam lapangan, lalu mereka menghampiri pak Zaky yang sedang duduk dikursi dipojok lapangan.
"Akhirnya datang juga, sini kalian duduk." Guru muda itu menepuk-nepuk kursi kosong di sampingnya, dan tentu hal itu dituruti oleh kedua muridnya.
"Jadi bapak panggil kalian kesini karena ingin menjadikan kalian berdua perwakilan sekolah untuk lomba taekwondo tahun ini, harusnya kelas 11 yang mengikutinya namun tak ada yang bisa sehebat kalian, jadi bapak memilih kalian saja."
Pak Zaky tersenyum menatap kedua orang di sampingnya lalu kembali berkata, "jadi mungkin mulai minggu depan kalian sibuk latihan bersama ya? gapapa kan? nanti kalian sendiri saja yang atur jam nya, bapak akan memantau kalian nantinya."
Hening, keduanya sama-sama terdiam mendengar penuturan dari pak Zaky. Menjadi perwakilan sekolah ya? apakah Waffa bisa? tentu bisa, namun masalahnya apakah dia bisa berlatih dengan orang asing di sampingnya ini?
"Kalau begitu bapak pergi dulu, kalian boleh obrolin tentang jadwalnya ya!" Pak Zaky tersenyum lalu keluar dari lapangan meninggalkan kedua orang yang kini sama-sama terdiam.
Keduanya sibuk dengan pikirannya sendiri, Waffa pusing memikirkan bagaimana caranya agar bisa mengajak cowo di sampingnya ini berbicara.
"Gua Javiar."
__ADS_1
Waffa menoleh kaget sedangkan lelaki itu malah terkekeh melihat reaksi kaget dari Waffa.
"Gua Waffa," kata Waffa memperkenalkan dirinya.
"btw latihannya mau mulai kapan?" tanya Javiar menatap wajah Waffa yang sejak tadi menunduk tak mau menatapnya.
"Terserah sih, lagian gua tiap hari ga ada kerjaan jadi bisa aja." Jawaban dari Waffa membuat Javiar mengangguk paham.
Lelaki dengan topi putihnya itu berdiri lalu menatap Waffa yang masih menunduk, ia tersenyum samar lalu berkata. "Lain kali kalo ngobrol sama gua liatnya jangan ke bawah ya, mata gua ga bakalan bikin lo kena radiasi."
Setelah itu Javiar pergi meninggalkan Waffa yang melongo tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh lelaki itu.
"Goblok ya tu cowok, dikira gua kagak salting apa kalo natap matanya, GANTENG GITU CUY?!!" ujar Waffa jadi greget sendiri, lalu ia pun berbalik pergi menuju kelasnya.
••••
Kelas yang awalnya tenang itu langsung heboh seketika saat guru yang harusnya masuk berhalangan hadir, dan waktu jamkos ini tak bisa di sia-siakan begitu saja oleh mereka.
"Lo jadi perwakilan taekwondo?!" seru Nizan heboh sendiri, dan seketika itu pula bahunya di pukul keras oleh Waffa.
"Jangan teriak-teriak anjir!!" omel Nata menatap sinis sosok Nizan yang cengengesan, masalahnya Nizan tuh kalo teriak pasti di samping Nata.
Keenan mengangguk menyetujui Nata lalu menoyor kepala Nizan, "alay banget lu anjing."
"Lo sendirian yang jadi perwakilan?" tanya Zora sibuk merapihkan rambutnya.
"Engga, gua berdua bareng Javiar anak-"
"APA?! JAVIAR?! OMG OMG INI SIH GILAAAA WOYYY!!!" potong Nizan berseru keras seperti orang gila, dan hal itu membuat seisi kelas menatapnya heran.
"Lo yang gila tolol," sewot Keenan mendelik tajam, tangannya menarik baju Nizan menyuruhnya untuk duduk lagi.
Nata menatap mereka malas lalu melirik Waffa, "Javiar mana sih? kok sampe bikin si kadal darat itu teriak-teriak?" tanyanya.
"Sialan lo manggil gua kadal darat!!" protes Nizan namun ia urungkan kembali karena Nata memelototinya tajam.
"Sumpah Nat, lo gak tau?!" tanya Zora menatap Nata tak percaya.
Aneh kadang, Nata tuh bisa-bisanya gak tahu cowok-cowok terkenal di sekolah ini padahal dia sudah bersekolah disini lama.
__ADS_1
Nata menggeleng, "engga, emang dia siapa deh? orang penting kah?"
"Dia itu cowok terkenal di sekolah, lo tau Luke? sama Marvin? nahh Javiar ini sahabatnya mereka!!" jawab Zora begitu semangat.
"Ohh gitu." Nata mengangguk paham namun responnya itu membuat teman-temannya menatap kesal.
"Udah anjir gitu doang respon lo?" tanya Nizan merasa tak terima dengan respon Nata yang terlihat tak peduli.
"Ya terus gua harus apa? Jungkir balik? Kayang? Salto? Apa sikap lilin?" cerocos Nata menatap datar Nizan yang duduk di sampingnya.
Nizan mendengus kesal, malas berdebat dengan Nata karena pasti dia akan di amuk nantinya.
"Emang lombanya kapan?" tanya Shaka yang sejak tadi hanya menyimak.
"Gua juga kurang tau, yang pasti bakalan sibuk latihan sih akhir-akhir ini," jawab Waffa.
"Halah latihan berdua mah bukan latihan tapi pdkt," celetuk Keenan dan hal itu membuat kelimanya langsung menoleh.
"Apaan sih anjir!! orang gue mau latihan taekwondo bukan pdkt!!" sewot Waffa menatap tajam Keenan yang tak menatapnya.
Nata tersenyum miring lalu berkata, "lo kalo cemburu bilang aja, Ken."
"KEENAN CEMBURU?! OMAYGOT OMAYGOT!?!" Nizan berdiri dari kursinya lalu menunjuk-nunjuk sosok Keenan dengan heboh, bahkan anak itu loncat-loncat tak jelas.
"Bacot anjing." Lelaki dengan tatapan tajamnya itu keluar dari kelas menyisakan tanda tanya besar di kepala Waffa.
Apa benar Keenan cemburu?
"Ah engga asik pundungan gitu," kata Nizan menatap punggung Keenan yang semakin menjauh dari kelas.
"Lagian lo ngomongnya seenak jidat, Nat." Waffa jadi kesal, bukan kesal dengan Nata namun dia kesal karena pasti pulang nanti dia pasti overthingking.
Nata tak menyahuti, gadis berambut pendek itu sibuk memainkan ponselnya malas untuk berbicara lagi.
"Tapi jarang Keenan kayak gitu sama cewek," kata Shaka dan hal itu semakin membuat Waffa kepikiran.
"Halah kayak kagak tau aja lo, Sha. Keenan kan kayak gitu kalo lagi kesambet setan jalanan." Nizan kembali duduk di kursinya lalu merampas botol minum Waffa tanpa izin.
Ternyata capek juga teriak-teriak tak jelas, besok pagi Nizan akan siapkan botol minum agar tak kehausan.
__ADS_1
Janlup vote dan komen
see you next time