
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam namun ketiga gadis itu masih berada di pinggiran jalan hanya untuk sekedar mencari makanan yang bisa mengganjal perutnya, mereka asik mengobrol sambil sesekali tertawa kecil namun hal itu terhenti saat ketiganya mendengar suara gerombolan motor mendekat.
BRUMM.
Suara segerombolan motor itu berhenti tepat di samping ketiganya sontak mereka menoleh untuk melihat pelakunya, ketiganya kaget saat pelaku tersebut adalah orang yang mereka kenali, salah satu dari mereka turun dari motornya lalu mendekati ketiganya.
"Ra kita omongin baik - baik dulu ya? jangan langsung beri keputusan sepihak kayak gitu." Lelaki dengan jaket hitam itu menatap Zora dengan memohon, ia adalah mantan kekasih Zora, Diky namanya.
"Apanya yang harus di omongin lagi sih? keputusan aku udah bulat dan mulai sekarang kita ga ada hubungan apapun lagi," tegas Zora menatap balik wajah Diky yang masih memohon dihadapannya.
Diky menggeleng tak terima, "tapi aku masih cinta sama kamu Ra, aku janji bakalan lebih baik dari sebelumnya."
"Sekali aku bilang engga ya engga!!" sentak Zora ia menghempaskan tangan Diky dari pergelangan tangannya.
"Ra aku beneran sayang sama kamu, aku bakalan kasih semua yang kamu mau asal kita balikan ya?" pinta Diky, bahkan lelaki itu sampai memohon-mohon dihadapan Zora yang muak melihatnya.
Zora menatap Diky dengan tajam lalu menjawab, "jangan egois!! aku udah cape sama hubungan ini, pokoknya keputusan aku dah bulat."
"Ra—"
Waffa yang mulai jengah mendengarnya langsung memotong ucapan Diky sebelum lelaki itu semakin menjadi-jadi. " Woy, lo punya telinga kaga?! kan Zora udah bilang ga mau lagi sama lo, ini maksa banget lagi pengen balikan!!"
Dan sontak itu pun membuat teman- teman Diky menoleh kearah Waffa, namun Waffa sama sekali tak takut dengan mereka.
"Jangan ikut campur deh lo, urusan gua cuma sama Zora bukan sama lo!" bentak Diky menatap tajam Waffa.
"Lo punya urusan sama Zora berarti lo juga punya urusan sama gua!" balas Waffa tak mau kalah.
"Lo bisa diem ga an**ng?! gua lagi ngomong sama Zora!" Diky menatap tajam Waffa bahkan mungkin saja sebentar lagi lelaki itu bisa memukul Waffa.
Nata yang tak suka dengan keributan ikut menyahut dengan tatapan sinis, "bisa ga sih lo ga ngomong kasar sama cewe?!"
"Diem lah lo pada!!" teriak salah satu teman Diky yang sedari tadi memperhatikan Diky.
"Apa lo juga mau ikut- ikutan gitu?!" kata Waffa sambil menatap songong gerombolan lelaki yang menatapnya balik.
"Heh! lo jadi cewe so banget an**ng!!" seru lelaki dengan tampang bak preman pasar, lelaki itu menunjuk Waffa.
"Lo pikir gua takut sama lo ******?!" Waffa maju selangkah lalu menunjuk lelaki itu tanpa rasa takut sama sekali.
Lelaki itu terkekeh sinis, "nih cewe punya nyali juga ya?"
Waffa berdecih sambil berkacak pinggang menatap lelaki itu, "cih ya jelaslah punya! ngapain takut sama lo pada?!"
"Sini kalau lo berani!" tantang lelaki yang diketahui bernama Gerry itu.
"Ayo siapa takut!!" Waffa berjalan menuju Gerry tanpa takut, ia bahkan seperti siap tempur.
Nata yang melihat kelakuan dari Waffa mendengus lalu berkata, "Fa!! jangan gegabah lo cuma sendiri sedangkan mereka banyakan!!"
"Fa udah deh lo nanti babak belur lagi!" Zora jadi ikut berteriak meminta agar Waffa kembali ketempat.
"Udah deh ga usah pada lebay," celetuk Waffa mengabaikan teriakan teman-temannya.
"Waffa!!" teriak Nata dan Zora bersamaan, keduanya tak bisa menahan Waffa jika anak itu sudah emosi.
Waffa tak peduli dengan teriakan keduanya, ia lebih fokus menghindari pukulan dari Gerry dan sibuk memikirkan cara agar bisa mengalahkannya.
BUGH
Tanpa di duga Gerry terjatuh saat rahangnya dipukul keras oleh Waffa, lelaki itu tersenyum miring dengan sudut bibir yang berdarah lalu ia bangkit dan mengode pasukannya untuk menyerang Waffa.
"An**ng berhenti gak lo pada?! beraninya keroyokan gak lakik banget!!" teriak Nata dengan panik karena menghawatirkan Waffa yang terkena pukulan.
Waffa panik saat tiga orang lainnya ikut maju untuk menyerangnya, namun ia berusaha untuk tenang agar gerakannya tak terbaca oleh lawan.
"Ky ini apaan?! suruh sekarang temen kamu untuk berhenti!!" tegas Zora dengan marah kepada Diky yang dari tadi berdiri didekatnya.
"Dia yang mau kan? udah sih biasa aja," balas Diky tak peduli, lagipula itu kan keinginan Waffa?
"AN**NG BERHENTI LO SEMUA!!! " teriak Nata dengan emosi, gadis itu hendak berlari membantu Waffa yang diserang beberapa orang namun teriakan dari Zora menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"LEPASIN SAKIT!!!"
Nata menoleh kearah Zora yang ditarik paksa oleh Diky lalu ia melirik Waffa yang mulai kewalahan menghadapi mereka, Nata bingung harus membantu yang mana.
Sedangkan Waffa kini terjatuh saat perutnya di tendang dengan keras, Gery yang melihat itu tertawa puas lalu hendak kembali memukul Waffa yang sudah pasrah kali ini.
BUGH!!
Waffa membuka matanya saat suara pukulan itu terdengar, ia bahkan tak merasakan sakit sama sekali dan ia tersadar jika kini di depannya terlihat seorang lelaki yang tadi memukul Gerry sampai terjatuh.
"Wih lihat siapa yang datang kali ini? Keenan si suhu jalanan." Gerry bangkit, lalu bertepuk tangan melihat kedatangan Keenan.
"BANGSAT LO BERANINYA SAMA CEWE!!" bentak Keenan, ia langsung menerjang tubuh Gerry dan memukulnya.
Di sisi lain Nata yang melihat Zora yang terus berteriak langsung membantunya, ia ikut melepaskan tangan Zora yang ditarik oleh Diky namun lelaki itu sama sekali tak mau melepaskannya.
"Lo gak usah ikut campur ya an**ng!!" kata Diky kesal menatap Nata yang ikut campur.
"Lepasin gak!! atau lo mau gua pukul?!" ancam Nata ia bahkan menendang-nendang kaki Diky hingga anak itu kesakitan.
Namun Diky tak mau mengalah dan tetap menarik Zora, ia melirik temannya yang tersisa untuk membantunya.
Kedua teman Diky mengangguk paham saat Diky menatap keduanya, mereka menarik lengan Nata lalu dibawa menjauh dari Zora.
Nata meronta-ronta minta dilepaskan, kedua pergelangan tangannya di cengkram erat oleh dua lelaki itu. "AN**NG LEPASIN TANGAN GUA!!"
"Berisik lo jadi cewe!!" bentak salah satunya, bahkan lelaki itu tak segan menutup mulut Nata dengan tangannya.
Nata hanya bisa pasrah kali ini, ia menatap Waffa yang sudah jauh dari kata baik lalu di depannya ada Keenan yang masih menghajar gerombolan itu, dan di sisi kirinya ada Zora yang terus di paksa oleh Diky.
Di saat mereka sibuk saling pukul terdengar suara sirine polisi yang mendekat dan hal itu menghentikan semuanya, gerombolan geng motor itu langsung pergi meninggalkan mereka.
"WOY KALIAN GAPAPA?!" kompak keempatnya menoleh pada sumber suara, disana terlihat sosok Nizan yang memegang ponselnya.
"Tolol masih nanya gapapa padahal udah tau abis di keroyok!" jawab Keenan sewot sendiri.
Nizan hanya menyengir saja lalu menghampiri mereka, ia mematikan suara sirine di ponselnya, untung saja otaknya bisa berjalan disaat-saat genting seperti ini.
"Bacot an**ng banyak tanya lo!!" sewot Nata sambil meringis karena pergelangan tangannya lecet.
Nizan jadi diam, ia takut di amuk lagi oleh Nata.
"Lagian lo sok jago banget an**ng!! Kalo lo mati di keroyok mereka gimana?!" bentak Keenan menatap Waffa yang berdiri di samping Nata.
"Kenapa emang?! Gua mati pun karena lindungi sahabat gua sendiri!!" balas Waffa tak kalah membentak, wajahnya sudah dipenuhi oleh luka lebam.
"Go*lok banget, iya sahabat lo nanti selamat lah kalo nanti lo balik tinggal nama gimana hah?! jangan sok jago deh lo itu perempuan!!" Keenan mengamuk tanpa sadar, entahlah rasanya sangat kesal saat melihat Waffa dengan sok beraninya melawan geng motor itu.
Waffa yang mendengar itu maju selangkah menatap Keenan tajam lalu berkata, "kenapa emang kalo gua cewe?! Lo pikir gua cewe lemah kayak di sinetron?! Engga an**ng!!"
"UDAH SIH KENAPA JADI RIBUT?!" Nata menarik Waffa agar menjauh dari Keenan, Nizan juga membantu memisahkan keduanya.
Sementara Zora sejak tadi masih menangis ketakutan, ia tak menyangka bahwa mereka bisa mengalami hal ini.
••••
Kini mereka berkumpul di kosan Shaka karena kosan ini tak jauh dari tempat kejadian tadi, Nizan yang mengajak keempatnya untuk pergi ke sini.
"Coba deh ceritain dari awal mula sampe bisa kayak gini," kata Shaka anak itu menatap teman-temannya yang sibuk melamun.
"Si Diky ngajak balikan," jawab Zora dengan suara parau nya bahkan mata anak itu sembab.
Shaka mengernyit bingung, "lo putus dari dia?" dan hal itu di iyakan oleh Zora.
"Gerry nyerang Waffa karena mereka debat gak jelas, maaf gara-gara gue kalian jadi kena." Zora menunduk merasa bersalah, mungkin jika Nata tak merangkulnya anak itu bisa menangis lagi.
"Santai aja kali, orang kayak gitu emang pantes di hajar." Keenan yang sibuk mengobati lukanya sendiri ikut menyahut.
Sedangkan Waffa sejak tadi hanya diam melamun, luka di wajahnya sudah Nata obati sejak tadi.
"Fa lo kenapa deh? jangan bilang kesambet setan jalanan?" Nizan mengguncangkan tubuh Waffa yang melamun sejak tadi.
__ADS_1
"Iya elo setan nya!!" sewot Waffa lalu menghempaskan tangan Nizan.
Nizan hanya menyengir saja, ia sengaja seperti itu agar Waffa tak melamun lagi.
Mereka asik mengobrol bersama, bahkan kini Waffa dan Nizan saling tertawa dan memukul satu sama lain, Zora juga kini sudah ikut tertawa melihat kelakuan Nizan dan Waffa.
"Tangan lo luka, ga mau di obatin?"
Nata tersentak kaget saat Shaka duduk di sampingnya, dan hal itu membuat Shaka terkekeh gemas melihatnya.
"Lo bisa ga sih kalo datang bilang dulu? jangan ngagetin!" kesal Nata, ia menatap sinis Shaka yang masih terkekeh.
"Kalo bilang dulu nanti lo ngejauh," jawab Shaka sambil tersenyum manis, namun Nata yang melihat itu malah muak sendiri.
Karena tak ada respon dari Nata, Shaka jadi menghela napasnya lelah lalu ia kembali melirik Nata yang duduk di sampingnya. "Gue obati ya, Nat?"
"Gue bisa sendiri," ketus Nata dan hal itu malah membuat Shaka semakin gemas pada gadis disampingnya.
Namun bukan Shaka namanya jika anak itu tidak nekat, dia menarik pelan tangan Nata untuk ia obati tapi respon dari Nata membuatnya kaget.
"APA SIH KAN GUE BILANG GUE BISA SENDIRI!!"
Bahkan yang lain pun jadi ikut menoleh kearah keduanya, mereka juga ikut kaget saat Nata tiba-tiba membentak.
"Kalem Nat kalem, si Shaka kan cuma mau bantu doang anjir!" kata Nizan mencoba untuk menenangkan, namun langsung terdiam saat Nata memelototi nya.
"Udah sih gapapa kali si Shaka bantu," cetus Waffa sambil tersenyum misterius, dan Nata tahu arti dari senyuman itu.
"Gak usah sok kuat deh lo."
Nata mendelik saat Keenan berkata seperti itu, ia melempar bantal yang berada di sampingnya tepat pada wajah Keenan.
"B*ngsat." umpat Keenan kesal, ingin membalas lemparan bantal namun tak jadi sebab Shaka melotot kearahnya.
Pada akhirnya mau tak mau Nata nurut untuk di obati oleh Shaka meskipun harus terus mengomel karena kesakitan saat diobati dan Shaka hanya bisa tertawa kecil.
"Ayo pulang, besok kan masih sekolah!" ajak Waffa bangkit dari duduknya bersiap-siap untuk pulang.
"Wajah lo babak belur gitu masih mau sekolah? sinting kah?" cibir Keenan menatap sinis Waffa yang berdiri membelakanginya.
"Bacot lo Ken." Itu bukan Waffa yang menjawab, melainkan Nata yang sejak tadi masih kesal dengan sikap Keenan.
Ya meskipun hampir tengah malam mereka harus pulang, jika tidak habislah mereka di marahi.
"Gua sama Nizan ah ogah banget kalo sama si Keenan," kata Waffa anak itu langsung menaiki motor Nizan.
Keenan mendelik tak suka lalu terkekeh sinis, "lagian siapa yang mau bonceng cewe kayak lo?!"
Waffa tak menyahuti ia malah sibuk bercanda dengan Nizan, sedangkan di belakang mereka masih ada Nata yang terus-terusan menolak tak mau bersama dengan Shaka.
"Duh trus lo mau sama siapa anjir? Si Keenan beda arah kan sama lo?" tanya Zora jadi kesal sendiri, memangnya ada masalah apa sih sebenarnya antara Nata dan Shaka ini?
Nata cemberut kesal lalu berlari kearah Waffa, "GUE IKUT DONG!!"
Nizan menggeleng tak terima, "ogah anjir gila kali Lo?! Kayak jamet nanti bonceng tiga!!"
"Ish gapapa tau, Zan! ayo Nat buruan naik!!" berbeda dengan Nizan, Waffa malah mengiyakan permintaan Nata untuk ikut bersama keduanya.
Keenan menepuk jidatnya sendiri, ia capek melihat tingkah teman-temannya ini. "Udah deh lo jangan rewel, mau ikut bareng Shaka atau kita tinggal?"
"Apaan sih lo? orang gue mau— AN**NG LO NIZAN BERANI-BERANINYA!!" teriak Nata saat melihat Nizan sudah mengebut meninggalkan keempatnya di tempat.
"Nah sekarang pilihannya cuma dua, ikut sama Shaka atau kita tinggal?"
Nata mendengus kesal akhirnya ia terpaksa harus duduk di jok motor Shaka, padahal dari dulu ia menghindari untuk dekat-dekat dengan Shaka, sialan nya malah disatukan menjadi teman sekelas.
"Maaf, Nat." Shaka berkata begitu pelan namun masih Nata dengar dengan jelas, tapi gadis itu hanya diam tak mau menanggapi.
Janlup vote sama komen ya!!
sorry kalau ada yang typo baru soalnya masih tremor nulis nya hehe.
__ADS_1
Sampai jumpa di bab selanjutnya