
Malam pun berlalu, rembulan pun telah berganti menjadi matahari pagi yang menghangatkan. Dan ta lupa dengan tiga gadis yang sedang bersiap untuk berangkat sekolah.
GIRL BOSS😎
Nata🐶
Woy mau bareng ga berangkatnya?
Waffa🦒
Gua bawa motor aja deh.
Zora 🐨
Gua nebeng dong, gua takut nanti ketemu lagi sama Diky.
Nata🐶
Mau sama siapa?
Waffa🦒
Udah sama lo aja Ta, kalau sama gua sama aja nanti keliatan, kan gua make motor.
Nata🐶
Ouh iya, yaudah sekarang gua kesana Ra.
Zora🐨
Ok, gua tunggu.
Waffa🦒
Gua kayanya siangan deh berangkatnya, duluan aja.
Nata🐶
Hati-hati nanti bonyok lagi.
Waffa🦒
Engga bakalan anjir.
Zora🐨
Oke
Nata pun berangkat menuju rumah Zora. Sedangkan Waffa sedang sibuk mengunyah makanan yang ada didalam mulutnya.
"Anjir ni bibir masih aja sakit," gerutu Waffa sambil mengunyah makanan nya.
Sedangkan ditempat Nata dan Zora mereka sudah memasuki gerbang sekolah. Nata pun memarkirkan mobilnya. Setelah memarkirkan mobilnya Zora dan Nata pun keluar dari mobil sport nya yang berwarna merah.
BRUM
Suara beberapa motor sport yang tiba diparkiran. Sontak Nata dan Zora menoleh karena mereka mengira bahwa mungkin salah satu dari motor yang memasuki parkiran adalah Waffa sahabatnya. Tapi ternyata bukan, melainkan tiga anak lelaki yang tak lain adalah Shaka, Keenan, dan Nizan.
Lelaki yang mengendarai motor sport hitam itu pun turun dari motornya dan membuka helm miliknya, setelahnya ketiga lelaki itu menghampiri Nata dan Zora.
"Dimana satunya? si cewe rese itu?" tanya Keenan dengan suara beratnya, tangannya di depan dada jangan lupakan wajah songong ala anak itu.
"Si Waffa gapapakan?" Nizan ikut bertanya, matanya melirik ke arah mobil merah milik Nata.
Shaka mengangguk mengiyakan, "biasanya kemana- mana bertiga?"
"Tuh anak mau berangkat siang katanya," jawab Nata tangannya merapihkan poni tipis miliknya.
"Ouh kirain meriang dia," kata Nizan sambil mengangguk paham.
Keenan mendelik bingung, lalu menyahut dengan sewot. "Kok meriang ******?! tuh anak kena tonjok bukan masuk angin!!"
"Ya bisa jadi dia meriang," ucap Nizan, anak itu berlari kearah Shaka takut Keenan memukulnya.
"Serah lu aja dah anjing!" balas Keenan sambil mendengus kesal.
Shaka yang melihat kedua sahabatnya berdebat hanya bisa tertawa kecil, "yaudah mending ke kelas."
Lelaki dengan jaket putihnya itu menarik lengan Nata agar berdiri di sampingnya, lalu ia menggandengnya dan berjalan mendahului ketiganya yang kini melongo tak percaya.
Nata yang di perlakukan seperti itu seketika terdiam karena masih mencerna apa yang terjadi, biasanya jika Shaka mendekatinya pasti Nata sebisa mungkin untuk menghindar namun kali ini ia malah diam.
Tanpa sadar perlakuan Shaka pada Nata menjadi pusat perhatian murid yang lain.
"Enak banget jadi mereka bisa deket sama ketos,"
"Apa lagi kalau jadi kak Nata enak tangannya digandeng sama kak Shaka,"
__ADS_1
"Iya enak banget, bisa ga sih ikutan gabung sama mereka?"
"Tapi kak Keenan juga kece tau, matanya tuh tajem bikin meleyot deh!!"
"Kak Nizan juga manis tau!!"
Tak memperdulikan bisikan-bisikan murid di sepanjang koridor kelimanya langsung berjalan menuju kelas mereka, IPS 1.
Sedangkan disisi lain Waffa sedang melajukan motor sportnya untuk menuju sekolah karna dia hampir terlambat, melihat lampu merah tentu anak itu menghentikan laju motornya namun matanya melihat dua gadis yang ia kenal sedang berlarian panik.
Di balik helm kesayangannya, senyuman jahil itu muncul lalu ia mengambil ponselnya dan dengan cepat anak itu memotret kedua gadis yang kini sedang berjongkok karena kelelahan.
Setelah lampu merah berganti menjadi hijau Waffa pun langsung mendekat ke arah dua gadis tersebut.
"Woy! lagi ngapain lagi ngejamet ya?" seru Waffa dengan senyum jahilnya, tak lupa ia membuka kaca helm.
"Waffa?" tanya Sania sambil menoleh ke arah sumber suara.
"Fa gua nebeng ya?" pinta Manda, tatapan gadis itu memohon.
Waffa mendelik jijik, "Hidih! lo sapa anjir?!"
"Gua kan temen baik lo," jawab Manda dengan senyum yang di buat buat.
Disisi lain terlihat bahwa Sania memandang Waffa dengan tatapan tidak suka.
"Hidih! Mimpi lo," sewot Waffa sambil menjalankan motor sportnya dengan kecepatan di atas rata-rata.
"Ihh Waffa!" teriak Manda dengan kesal.
Waffa pun tiba di parkir, dia pun langsung turun dari motor sportnya dan membuka helm yang di kenakan. Dia memakai hoodie karena untuk menutupi muka dia yang babak belur. Tak lama bel masuk pun berbunyi dia bergegas lari menuju kelas.
Sesampainya di kelas Waffa langsung mendudukkan dirinya di samping Nata, gadis itu langsung membuka hoodie nya lalu mengipasi wajahnya karena kepanasan.
"Gua kira lo bakalan di hukum suruh lari keliling lapangan," kata Nata menatap Waffa yang sibuk mengipasi wajahnya.
"Halah gua ga bakalan pernah keliling lapangan cuma gara-gara kesiangan, udah terlatih cuy!" ucap Waffa sombong, anak itu bahkan menggebrak meja membuat murid lain jadi menoleh kearahnya.
"Iya karena lo biasanya keliling tiap malam Jum'at aja." Keenan yang duduk di pojokan ikut menyahut, dan hal itu membuat Waffa melempar buku yang ada di depannya pada Keenan.
"Sialan lo, itu mah kelakuan si Nizan bukan gua!!" sewot Waffa sambil menunjuk Nizan yang duduk di belakangnya.
Nizan yang tiba-tiba di tunjuk jadi melirik kesal, lalu berkata dengan kesal. "Apaan anying gua diem aja di bawa-bawa!!"
"Sabar Zan, kadang kala kita harus jadi tumbal." Shaka menepuk bahu Nizan sambil tertawa kecil melihat wajah Nizan yang kini pantas dijadikan meme.
BRAKK
"Sialan kalo masuk kelas ucap salam jangan ngagetin!!" kesal Nata melirik sinis Sania dan Manda yang masih menormalkan napas mereka.
Sania yang mendengar itu menoleh kearah Nata lalu menatapnya tajam, "lo kalo ada di posisi gua juga bakalan lakuin itu anjing!!"
"Nata ga bakalan ada di posisi lo, soalnya Nata ga pernah berangkat siang apalagi ngejamet di lampu merah," sindir Waffa sambil tersenyum miring menatap keduanya.
"Apa?! Ngejamet?! Waw info yang bagus!!" seru Nizan anak itu langsung semangat mendengarkan perdebatan diantara Waffa dan Sania.
"Maksud lo apa hah?!" Sania tiba-tiba saja maju menghadap Waffa yang duduk dengan santai di kursinya.
Waffa terkekeh sinis lalu mengangkat ponselnya, "coba sekarang lo lihat grup kelas, disana ada buktinya."
Disaat itu juga murid yang lain langsung membuka ponsel mereka, dan seketika mereka semua tertawa terbahak kecuali Sania dan Manda yang kini menatap marah Waffa.
"ANJING LO WAFFA!! MAU NYARI MASALAH LO SAMA GUA?!" bentak Sania, anak itu menggebrak meja Waffa dengan keras hingga membuat tangannya sendiri sakit.
"Kalo iya kenapa? Lo pikir gua takut? Ngelawan jamet kayak lo mah kecil." Waffa tersenyum miring menatap remeh Sania yang sebentar lagi sepertinya mengamuk.
Sania yang kesal langsung saja menjambak rambut Waffa dengan emosi, Waffa tak terima pun ikut menjambak rambut Sania.
"Asik siapa nih yang bakalan menang pemirsa? Apakah dari kubu merah yaitu Sania? Atau kubu biru yaitu Waffa? mari kita saksikan bersama!!" seru Nizan tiba-tiba berubah profesi menjadi MC di acara tinju.
Bahkan Nizan berdiri dari duduknya lalu seakan benar-benar menjadi pembawa acara, bukannya ikut memisahkan keduanya.
Zora yang kesal langsung membantu memisahkan Waffa dan Sania, sedangkan Nata hanya menatap malas keributan yang terjadi di depannya.
Lalu kemana Manda? gadis itu malah mendekati sosok Shaka yang kini merasa tak nyaman sebab Manda terus-terusan bergelayut manja di lengannya.
"Duh anjing kalo mau ribut jangan di kelas!!" teriak Keenan yang sudah muak melihat keributan itu.
Nizan yang mendengar itu langsung menarik tangan Waffa dan Sania lalu membawa mereka keluar kelas. " Nah silahkan di lanjut aksi gelud nya!!" kata Nizan setelah ketiganya keluar dari kelas.
Bodohnya kedua gadis itu menurut, dan lanjutkan aksi jambak-jambakannya. Dan tentu saja hal itu membuat Nizan tertawa terbahak.
Zora menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan kelakuan dari Nizan, lalu ia menoleh ke belakang tepatnya pada sosok Shaka yang kini memasang wajah dinginnya sebab Manda yang terus mengganggu.
Zora mencolek tangan Nata yang fokus pada ponselnya, hal itu membuat Nata langsung menatapnya. "Liat ke belakang!"
Karena kode dari Zora akhirnya Nata menurut saja dan menoleh ke belakang, ia lalu terkekeh geli. "Waduh ada monyet dari mana nih gelayutan di tangan orang?" sindir Nata menatap Manda dengan datar.
__ADS_1
Sontak hal itu membuat satu kelas tertawa terbahak bahkan Keenan saja ikut tertawa, Shaka yang awalnya kesal jadi terkekeh saat Nata berbicara.
"Sialan gua bukan monyet!!" sewot Manda mendelik tajam.
Nata menutup mulutnya lalu merubah ekspresinya menjadi kaget, "waduh maaf ya kalo ke sindir, padahal gua gak bilang kalo lo monyetnya loh."
"LO!!" Manda berdiri dari duduknya lalu mendekati Nata, ia hendak menjambak rambut Nata namun tangannya di cekal oleh Shaka yang menatapnya tajam.
"Shaka sakit!!" teriak Manda berusaha melepaskan tangannya dari Shaka.
"Jangan macam-macam sama Nata kalo lo ga mau berurusan sama gua," kata Shaka dingin lalu ia melepaskan tangan Manda yang memerah.
Mendengar perkataan itu Manda langsung berlari keluar kelas, dan hal itu juga membuat satu kelas tiba-tiba hening.
"Jangan so melindungi gua karena gua gak butuh perlindungan dari lo," ucap Nata lalu gadis itu ikut keluar kelas dan di susul Zora.
Sedangkan Shaka kini terdiam di tempatnya, masih mencerna perkataan yang terucap dari mulut Nata.
•••
Angin malam yang dingin tak membuat Keenan membatalkan janjinya untuk balapan malam ini, pemuda itu kini sudah siap untuk melajukan motornya dan memenangkan hadiah.
"Ken semangat!!" seru Nizan menepuk bahu Keenan dengan keras, dan hal itu membuat Keenan membalasnya lebih keras.
Lalu setelah mendengar aba-aba, Keenan langsung siap di posisinya dan langsung melajukan motornya dengan cepat saat peluit di tiupkan.
"KEENAN PASTI BISA!! GO KEENAN GO!!" teriak Nizan begitu semangat bahkan anak itu sampai loncat-loncat tak jelas membuat Shaka tertawa.
"Eh btw, gimana kalo kita ajak tiga cewe itu?" tanya Nizan melirik Shaka yang fokus pada ponselnya.
"Boleh aja sih," jawab Shaka seadanya.
Nizan langsung menarik Shaka ke parkiran untuk menjemput ketiga gadis itu, untungnya mereka membawa mobil jadi tak perlu repot-repot untuk bonceng tiga.
Shaka bagian menyetir sedangkan Nizan sejak tadi berisik terus menggerutu karena tadi di sekolah ia harus di marahi guru BK sebab ulah Waffa dan Sania.
Ditengah-tengah perjalan keduanya, mereka melihat ketiga gadis yang di cari-cari jadi mereka tak perlu repot-repot untuk menjemput satu-satu.
"Woy!! ayo masuk!!" teriak Nizan begitu kaca mobil dibuka.
Nata tersentak kaget, sedangkan Waffa langsung berlari kearah mobil disusul oleh Zora.
"Alhamdulillah ada tebengan!!" kata Waffa senang lalu ia melirik Nata yang masih terdiam di tempatnya, "HEH NATA BURUAN ANJIR MASUK!!"
Nata mendengus lalu masuk mobil dengan terpaksa, ia masih kesal karena perkataan Shaka tadi di sekolah.
"Mau liat Keenan balapan gak?" tanya Nizan melirik ke kursi belakang.
"Hah? Keenan tukang balapan?!" tanya Zora kaget, ia tak menyangka bahwa Keenan sering ikut balapan liar.
Nizan mengangguk mengiyakan, "yoi sekarang dia lagi balapan, kalo menang dia bakalan main lagi trus kalo menang lagi dia dapet duit."
"Ayok!! Gua pengen liat seberapa jagonya dia!!" kata Waffa begitu semangat bahkan anak itu meminta Shaka untuk mengebut.
"Gua gak ikut, pengen pulang." Nata menyahut dengan sewot, hal itu membuat Waffa menoleh kearahnya.
"Lo wajib ikut anjir, harus solid dong!!" kata Waffa kesal.
Nata menggeleng, "gua gak mau!!" tolaknya.
"Sorry Nat, kalo perkataan gua bikin lo gak nyaman," ucap Shaka, ia tahu Nata pasti tak ingin ikut karena dirinya.
Nata yang mendengar itu jadi terdiam lalu memalingkan wajahnya ke jendela mobil tak mau menatap Shaka.
"Kalian ada masalah apaan sih sebenernya? Tiap hari gak akur?" tanya Nizan kepo, lama-lama ia kesal karena terus-terusan mendengar keributan dari keduanya.
"Anterin gua pulang, sekarang!" kata Nata benar-benar tak mau ikut dengan keempatnya, ia tak mau bertemu dengan Shaka dulu kali ini.
"Nat jangan gitu dong, please kali ini aja ya lo ikut!!" pinta Zora menatap Nata dengan memohon.
"Nanti gua jajanin seblak deh tapi pakek duit Nizan, ya gak Zan?" kata Waffa sambil menendang kursi Nizan.
Nizan yang dibawa-bawa pasrah saja, "iya iya nanti gua traktir dah!!"
Waffa tersenyum puas karena Nizan menurut, lalu ia kembali meminta Nata agar ikut bersama mereka.
"CK! iya iya gua ikut tapi bentar aja!!" ujar Nata kesal, ia harus mengalah demi teman-temannya padahal ia benar-benar tak ingin ikut apalagi ada Shaka disini.
"GITU DONG BARU SAHABAT KITA!!" teriak Waffa senang, ia memeluk Nata yang duduk di sampingnya dengan erat.
"Ikutan dong!!" kata Nizan sambil merentangkan tangannya.
"OGAH BANGETTT!!" sewot Waffa memukul kepala Nizan dengan keras, dan hal itu membuat Zora tertawa terbahak sambil memukul-mukul kursi mobil.
Shaka tersenyum senang, meskipun ia tahu Nata terpaksa tapi ia tetap senang karena anak itu tetap ikut.
Janlup vote sama komen ya!!
__ADS_1
sorry kalau ada yang typo baru soalnya masih tremor nulis nya hehe.
Sampai jumpa di bab selanjutnya