
Masih menjelang sore di sekolah BLACKHOLD sekarang terdapat seorang gadis sedang berjalan di lorong yang terhubung dengan lapangan.
BRUK
Zora yang sedang berjalan kaget karena tiba-tiba bola basket hampir mengenai kepalanya,dari arah lapangan terlihat seorang laki-laki berlari.
"Lo gak apa-apa?" tanyanya panik.
Zora mengalihkan pandangannya ke arah orang yang baru saja mengajak ia berbicara, "Luke?"
"Zora, lo ngapain disini?"
"Ua sekolah lah, kalau lo ngapain?"
"Sekolah juga."
"Sejak kapan lo sekolah disini? Kok gak pernah liat ya?"
"Hehe, soalnya gua sering bolos atau engga suka tidur di kelas jadi jarang keluar kelas," tutur Luke yang cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ouh.. Pantesan." Zora mengangguk-ngangguk.
"Ouh iya, maaf tadi ga sengaja, tapi lo gapapa kan?" tanya Luke menatap Zora dengan khawatir, bodoh sekali Luke karena sedang banyak masalah ia jadi tidak fokus untuk bermain basket.
Zora menggeleng sambil tersenyum, "tenang aja gapapa kok."
"Kalau gitu buat perminta maaf, gimana kalau gua teraktir lo makan?" ajak Luke dengan alis yang ia naik turunkan.
"Gak usah repot-repot juga kali." Zora cengengesan melihat wajah Luke, tampan sekali pikirnya.
"Gapapa kali-kali, tunggu di sini bentar oke!" dan di angguki oleh Zora, sedangkan Luke pergi menuju tempat ganti.
Beberapa menit kemudian setelah Luke selesai mengganti pakaian nya ia langsung menghampiri Zora yang sedang menunggu.
"Ayo!" ajak Luke dan di angguki Zora.
Mereka pun tiba di sebuah restoran , Zora yang hendak turun dari motor kaget karena tiba-tiba mendapati uluran tangan Luke, dia pun menerima uluran itu dan turun dari motor.
"Makasih," ujar Zora dengan senyum malu-malu.
"Hmm," balas Luke dengan di angguki nya, "maaf." dengan tiba-tiba di dalam hatinya ia berkata.
Mereka pun berjalan masuk kedalam restoran itu, dan menuju meja kosong , Luke berjalan mendahului lalu memundurkan kursi dan mempersilahkan Zora duduk di kursi itu.
Zora yang diperlukan seperti itu mendapatkan getaran berbeda di dalam hatinya rasanya nyaman yang ia rasakan.
Lalu mereka pun memutuskan untuk memesan makanan.
Di kejauhan terlihat seorang yang sedang melihat kearah mereka, "Zora?" gumam laki-laki dengan jaket berlogo ular itu, "tunggu, itukan Luke?" setelah melihat kehadiran Luke yang bersama Zora ia pun bergegas menuju ke meja yang ditempati Zora.
BRAK
Keduanya tentu saja kaget dengan kehadirannya, bahkan Luke sampai berkata kasar sebab saking kagetnya.
"Maksud lo apaan hah?! seenak jidat ngajak cewe gua makan!!" Diki menatap tajam kearah Luke yang terlihat santai duduk di kursinya.
Luke tertawa sinis balik menatap tajam Diki di hadapannya, "cewe lo? gua ga salah denger nih? Kalo udah jadi mantan yaudah sih ga usah urusin hidupnya."
Tak ingin menimbulkan keributan di dalam restoran, Diki menarik kasar Luke untuk keluar karena tak mungkin ia menghajar habis-habisan Luke di dalam.
"DIKI STOP!!" teriak Zora berlari mengejar mereka berdua menuju sebuah lapangan kosong di dekat restoran.
BUGH
"Anjing lo beraninya bilang gitu sama gua, lo pikir lo siapa hah anjing?!!" Diki terus memukul Luke yang terlihat pasrah tak ada perlawanan sama sekali.
Zora yang melihat itu tentu saja tak tinggal diam, ia berusaha memisahkan mereka dan meredakan emosi Diki.
"Diki apaan sih?!! Berhenti ga lo?!" Zora menarik kencang jaket yang Diki gunakan namun nihil, sosok Diki tak berhenti menghabisi Luke.
Yang membuat Zora kesal adalah Luke yang tak melakukan apapun, ia hanya tertawa saat di pukuli oleh Diki tentu saja hal itu semakin membuat Diki terpancing emosi karena merasa diremehkan.
__ADS_1
BUGH
BUGH
BUGH
"BRENGSEK LO DIKI!!" teriakan juga gerakan tak terduga dari seseorang itu membuat Zora kaget bukan main, kini di hadapannya ada sosok Waffa yang membuat Diki terjatuh sebab pukulan dadakan yang diberikan Waffa.
Waffa menggulung lengan bajunya, lalu menarik kerah baju Diki memukulnya berulang kali tanpa ampun.
"Anjing lo udah mulai ganggu sahabat gua lagi!!" Waffa kembali melayangkan pukulannya pada wajah Diki.
"Waffa udah!!" teriak Zora dengan tangisnya, ia sudah membantu Luke yang tak sadarkan diri.
Mendengar itu Waffa akhirnya berhenti lalu menendang pelan kaki Diki yang terlihat tak mampus untuk berdiri, "bangun lo brengsek ga usah so kesakitan gitu, alay!"
Tak lagi memperdulikan Diki, Waffa berlari kearah Zora dan Luke yang tak sadarkan diri dengan wajah babak belurnya.
"Lo gapapa Ra? kenapa sih kok cowo anjing itu bisa ganggu lo lagi?" tanya Waffa khawatir, ia paling benci jika harus melihat para sahabatnya yang menangis sebab lelaki.
Bukannya menjawab, Zora malah memeluk tubuh Waffa begitu erat seakan tak ingin kehilangan lagi. "Waffa gua kangen sama lo," kata Zora begitu lirih namun Waffa mampu mendengarnya.
Waffa membalas pelukan Zora, ia menepuk-nepuk punggung Zora agar lebih tenang sebab anak ini jika menangis pasti membuat asma nya kambuh.
"Maafin gua, maaf malam itu gua egois ga mau dengerin kalian dulu, maaf gua yang salah." Waffa semakin erat memeluk Zora yang sudah menangis, karena tak kuasa menahan tangisnya Waffa pun ikut menangis dalam diamnya.
"Lo salah Waffa, harusnya lo minta maaf sama Nata bukan gua." Gadis bertubuh kecil itu akhirnya melepaskan pelukannya, menatap Waffa dengan senyum tipisnya.
Waffa menunduk, sebenarnya ia takut dan tak berani jika harus meminta maaf secara langsung pada Nata, karena dari ketiganya Nata adalah orang yang Waffa takuti jika marah sebab marahnya Nata membuat Waffa seribu kali merasa bersalah.
"Gua takut Nata ga mau maafin gua, Ra."
"Waffa dengerin gua." Zora mengusap pelan pundak Waffa mencoba meyakinkan sahabatnya itu, lalu ia kembali berkata, "semarah apapun Nata sama kita, dia pasti bakal maafin kita sebelum kita yang minta maaf."
"Tapi kalo di lihat-lihat Nata kayak ga mau berurusan lagi sama gua, bahkan keliatannya ga peduli lagi sama gua." Waffa menunduk lesu, rasanya sangat kosong saat tak ada sosok Nata di sampingnya.
Zora menggeleng tak setuju dengan perkataan Waffa, "lo kan tau kalo Nata anaknya gengsian, galak-galak begitu dia yang paling pengertian diantara kita, Fa."
"Sekarang kita temuin Nata ya?" Zora meyakinkan kembali Waffa, lalu senyumannya muncul saat Waffa mengiyakan.
Sebelum bertemu dengan Nata, mereka membawa Luke ke rumah sakit dulu untuk diobati.
-----
Pemuda berwajah kalem itu menghentikan motornya di depan rumah seorang yang membuat pikirannya kacau malam ini, entahlah kenapa gadis itu terus-menerus mengusik pikirannya.
Dengan langkah pelan ia mengetuk pintu rumah tersebut, berharap orang yang ia pikirkan langsung muncul di hadapannya.
Ceklek..
Pintu terbuka menampakkan sosok wanita paruh baya yang diyakini sebagai Ibunya, wanita itu tersenyum ramah. "Loh Shaka kan? apa kabar nak? udah lama ya ga mampir ke rumah."
Shaka, pemuda itu tersenyum hangat sambil menyalami wanita itu ia berkata, "kabar Shaka baik, Bu. Akhir-akhir ini Shaka sibuk makanya jarang mampir hehe."
"Bukan akhir-akhir ini tapi kayaknya hampir dua tahun kamu ga mampir kesini, Ibu kira kamu ngambek karena Nata pacaran sama Devyan." Ibu dari Nata itu terkekeh kecil melihat raut wajah Shaka yang terlihat sedikit panik.
"Engga gitu Bu, lagian kan itu hak Nata kalo mau pacaran juga lagian Shaka sama Nata kan cuma temenan," kata Shaka ikut terkekeh, sudah lama sekali rasanya tak merasakan kehangatan keluarga ini.
Dulu setiap hari pasti Shaka akan main di rumah Nata, merasakan kehangatan keluarganya sebab ia jauh dari keluarganya sejak SMP. Namun karena satu kesalahannya, ia kehilangan Nata dan kehangatan keluarga ini.
"Kamu tuh ya bilangnya begitu tapi mata kamu ga bisa bohong, Shaka. Ibu tau ada Nata di hati kamu, tapi kamu ga mau sadar akan hal itu iya kan?"
Shaka hanya mampu tersenyum tipis, karena apa yang Ibu Nata ucapkan benar adanya, sejak dulu ia menyukai Nata lebih dari teman.
"Kamu kesini mau ketemu Nata?" Pertanyaan itu membuatnya tersadar dari lamunannya, lalu Shaka mengangguk mengiyakan.
"Tapi Nata belum pulang daritadi sore, padahal udah di jemput sama supirnya tapi pak supir aja belum balik lagi, kayaknya dia keluar dulu deh bentar."
Shaka mengernyitkan dahinya bingung, masalahnya ia melihat Nata di jemput oleh supirnya dan ia kira Nata sudah pulang.
Meskipun sang Ibu terlihat tenang, namun Shaka bisa melihat gurat kekhawatiran yang Ibu pancarkan dari sorot matanya.
__ADS_1
"NYONYA!! NYONYA!!" teriaknya itu membuat keduanya jadi menoleh pada sosok lelaki yang terlihat tak baik-baik saja, sebab kepalanya di perban juga wajahnya yang dihiasi dengan luka lebam.
"Loh kenapa kamu keliatan panik? Nata kemana? Wajah kamu juga kenapa?" Pertanyaan bertubi-tubi itu membuat sang supir kembali merasa bersalah, ia berlutut di depan kaki Ibu Nata sambil terus mengucapkan beribu kata maaf.
"Berdiri, bilang sama saya apa yang terjadi!!"
Akhirnya sang supir itu berdiri lalu berkata, "Non Nata di culik, saat saya hendak menjemputnya tiba-tiba tiga orang dengan topeng menghadang mobil lalu memaksa saya untuk turun setelah itu mereka memukuli saya hingga tak sadarkan diri, saat saya sadar ternyata sudah malam dan banyak sekali warga yang mengelilingi saya dengan mobil yang rusak karena menabrak pohon besar, nyonya maafkan saya."
Mendengar penjelasan itu sang Ibu langsung terjatuh lemas untungnya ada Shaka yang siap menangkapnya, pasti hal itu membuatnya syok bukan main karena Shaka juga merasakan hal yang sama.
"Bu, Shaka pergi cari Nata ya? Shaka janji bakal bawa Nata pulang." Setelah pamit, Shaka langsung mengendarai motornya menuju satu rumah temannya.
Sesuai dugaannya disana teman-temannya lengkap berkumpul di satu ruangan dengan kartu remi serta minuman soda di meja.
"JANCOK GUA KALAH MULU AH!!" Nizan melempar kartu itu pada meja, sedangkan Keenan dan Fayyaz tertawa begitu puas melihatnya.
BRAK
ketiganya menoleh kaget karena ulah Shaka yang menggebrak pintu, dengan tampilan yang acak-acakan juga wajah panik.
"Lo kenapa anj-"
"Nata di culik!!" potong Shaka dengan cepat, ia terlihat frustasi.
"HAH DEMI APA?!" Nizan berteriak kaget sampai kepalanya di jitak oleh Keenan.
"Tenang dulu, Sha-"
Shaka melirik tajam Fayyaz lalu memotong ucapannya, "GA BISA ANJING GUA GA BISA TENANG!!"
"Sekarang kita cari Nata, gua bakal kabarin anak mata elang buat ikut bantu." Keenan dengan cepat meraih jaketnya lalu merangkul Shaka untuk segera mencari Nata.
Sementara itu gadis yang di cari-cari baru saja sadar dari pingsannya, kepalanya terasa sangat berat. Ia mengedarkan pandangannya pada ruangan yang cukup gelap ini, tubuhnya terikat di sebuah kursi.
Bau amis darah bisa Nata cium, sepertinya setelah kecelakaan itu ia langsung di sekap tanpa di obati lebih dulu, dasar manusia brengsek.
Dalam kegelapan itu Nata terus memikirkan cara untuk melarikan diri dari sini, dia juga masih bingung apa salah dia sampai di culik seperti ini.
"Alay banget nih yang nyuruh culik gua, otaknya kebanyakan nonton sinetron makanya kayak gini pake acara culik-culikan cih." Meskipun sedang berada dalam keadaan genting, dia tetap julid namanya juga Nata.
Terdengar suara pintu terbuka juga cahaya lampu yang ikut masuk ke dalam ruangan membuat Nata menutup matanya karena silau.
"Wah ternyata udah bangun ya," pria bertopeng itu terkekeh sinis lalu berjongkok di depan Nata.
Nata bukannya takut, dia malah menatapnya datar seakan tak peduli dengan nyawanya jika di bunuh oleh orang di hadapannya.
"Kalo gua mati, lo juga bakalan mati bukan di tangan bos lo?" sindiran itu membuat lelaki bertopeng tertawa terbahak-bahak mendengarnya.
Lelaki itu mengusap pelan rambut Nata sambil berkata, "wah ternyata lo pinter ya Nata."
"Jadi apa yang lo mau dari gua, bajingan?" tanya Nata sinis.
"Semuanya deh kayaknya HAHAHA!!"
Nata menatapnya aneh, "dasar cowo gila lo, curiga gua kalo lo keluaran RSJ." Gadis itu terus memperhatikan lelaki bertopeng yang masih tertawa.
"Gila gila, gua kagum deh sama lo bisa-bisanya ga takut di culik gini." Lelaki itu mengusap wajah Nata membuat gadis itu menendang keras kakinya.
"Brengsek jangan sentuh gua!! Lagian lo bukan malaikat pencabut nyawa, ngapain gua takut hah?!!" amuk Nata, namun kembali membuat lelaki itu tertawa.
Sial, Nata merasa seperti di rendahkan.
"Galak ya lo, kebetulan gua suka sama cewe kayak gini hahaha."
Setelah puas tertawa, lelaki itu mendekatkan wajahnya pada Nata membuat gadis itu memundurkan wajahnya.
"Nata alshafa, selamat datang di basecamp King Cobra." Lalu lelaki itu pergi begitu saja meninggalkan Nata yang mengepalkan tangannya menahan amarah.
"Ah sial, perasaan gua ga ngapa-ngapain sama ular itu deh salah target kayaknya, dasar tolol." Nata menggerutu sebal, bukannya panik sebab di sekap oleh king cobra dia malah santai dan berniat untuk tidur lagi, lagipula siapa yang akan menolongnya? benar bukan? karena Nata tak punya tameng untuk berlindung.
Menyedihkan sekali rasanya, padahal Nata tak tahu saja saat ini Shaka begitu frustasi mencari keberadaannya sebab tak ada petunjuk sama sekali.
__ADS_1