
Sett... Bugh... Buk...
Suara itu terus saja menggema di sebuah ruang, disana terdapat dua remaja yang terlihat sedang berlatih sungguh-sungguh.
"Bagus terus pertahankan," suara dari seorang pelatih yang dari tadi membimbing kedua orang remaja itu.
Srett... Bugh..
Tendangan memutar yang dilakukan oleh seorang gadis dan tangkisan yang dilakukan seorang remaja laki-laki itu membuat pelatih bertepuk tangan merasa bangga.
Pelatih itu pun mendekat kearah kedua remaja itu, mereka pun langsung menghentikan latihannya.
"Saya rasa kalian sudah siap untuk maju hari ini, sekarang siap-siap karena sebentar lagi kita akan berangkat." Sang pelatih menepuk pelan kedua pundah remaja itu lalu pergi meninggal kan mereka di lapangan.
Keduanya sama-sama terdiam mengatur napas masing-masing, hari ini adalah hari yang mereka tunggu sebab pertandingannya akan berlangsung.
"Lo siap, Fa?" tanya Jeviar menatap Waffa dari samping, sedangkan gadis itu menghela nafasnya kelelahan.
"Siap gak siap, gua harus siap kan?" Jeviar lantas tertawa karena jawaban dari Waffa, benar juga mereka harus siap meskipun mungkin fisik atau mental mereka kurang dari kata siap itu sendiri.
"Kalo lo menang gua traktir deh makanan kesukaan lo selama sebulan," ucap Jeviar sambil menepuk pelan kepala Waffa yang kini menatapnya begitu semangat.
Mata gadis itu seketika berbinar akibat ucapan Jeviar, "ih lo seriusan Jev?!" tanya Waffa tak percaya, sebulan loh sebulan!!
Jevier mengangguk sambil tersenyum manis dan hal itu membuat Waffa bersorak girang, "trus kalo lo menang, lo mau apa dari gua?" tanya Waffa, kini menatap Jevier yang masih tersenyum padanya.
Lelaki itu tak menjawab malah mengajak Waffa untuk segera bersiap-siap berangkat, tapi Waffa tak ambil pusing mungkin Jeviar memang tak ingin apapun dari Waffa.
Setibanya di tempat pertandingan keduanya berpisah sebab Jeviar bertanding lebih dahulu dan Waffa menjadi penonton bersama sang pelatih.
Sorak ramai itu menggema memenuhi tempat pertandingan ini, Waffa duduk dengan tegang di samping pelatih, pikirannya campur aduk dia tak bisa fokus.
Pertandingan di mulai, Jeviar terlihat begitu santai menghadapi sang musuh yang terlihat begitu ambisius, Waffa yang melihat itu seketika kagum.
Dan ketika di detik-detik terakhir Jeviar langsung menendang keras sang lawan hingga tersungkur dan tak bisa kembali berdiri, kekuatannya habis sebab ia pakai saat Jeviar begitu santai menghadapinya.
"Jika dalam hitungan ke tiga anda tidak berdiri maka dengan begitu anda dinyatakan kalah dalam pertandingan."
Para penonton heboh saat itu namun Waffa malah melihat sosok Jeviar menatapnya dengan senyuman manis milik lelaki itu, dan hal itu membuat Waffa jadi tak fokus.
"Satu..."
Jeviar masih menatapnya seakan berkata, "gua menang." dan Waffa melongo karena melihat senyuman manisnya hingga ia tak sadar jika Jeviar dinyatakan menang dalam pertandingan.
"Waffa ayo siap-siap, sebentar lagi kamu bertanding." Sang pelatih menepuk pelan pundak Waffa membuat gadis itu sedikit tersentak kaget dan langsung tersadar dari lamunannya.
Waffa mengiyakan lalu segera bersiap-siap, gadis itu sebenarnya sedang banyak pikiran namun ia sangat berharap jika dalam pertandingan ini ia bisa fokus.
Saat kakinya mulai memasuki arena pertandingan entah mengapa hatinya cemas, ia takut gagal dan malah membuat sang pelatih kecewa.
"WAFFA SEMANGAT!!!" hingga suara teriak itu terdengar oleh telinganya, Waffa jadi tersenyum senang lalu menoleh pada sosok Jeviar yang berteriak tadi.
Ia harus menang, harus.
Pertandingan di mulai Waffa begitu gesit menghindari serangan dari sang lawan, namun lawannya tak bisa di remehkan sebab sejak tadi Waffa terus saja terjatuh.
Bruk..
Waffa meringis pelan saat tertendang oleh sang lawan, sial ia malah deja vu saat di keroyok oleh King Cobra dulu lalu berharap Keenan datang menolongnya.
Gadis itu berdiri dengan napas yang memburu, kini pikirannya malah tak fokus sebab kejadian itu kembali hadir dalam ingatannya.
Hatinya masih sakit jika mengingat perkataan Keenan saat itu, Waffa tak terima apalagi Keenan tak merasa bersalah sama sekali.
Di saat pikirannya malah fokus pada hal lain, sang lawan tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menyerang Waffa.
__ADS_1
Waffa yang kaget di serang tiba-tiba itu tak bisa menahan serangan sang lawan hingga ia terjatuh dengan kaki kanannya yang terkilir.
Bruk...
"Anjir!!" Waffa meringis kesakitan, kakinya sakit sampai-sampai ia lemas untuk sekedar bangun untuk kembali melawan.
"Jika dalam hitungan ke tiga anda tidak berdiri maka dengan begitu anda dinyatakan kalah dalam pertandingan."
Suara itu membuat nafasnya memburu, ia berusaha bangkit namun kakinya sakit bahkan tak bisa di gerakan sama sekali.
"Satu...."
Waffa panik, namun sialnya ia tak bisa bergerak sama sekali.
"Dua..."
Hatinya malah berharap si mata tajam itu datang menolongnya, membantunya saat ia terluka seperti ini.
"Tiga.."
Namun sayang hal itu tak mungkin terjadi.
"Selamat kepada Dinda dari SMA bhakti sebagai pemenang pertandingan."
Dan setelah pengumuman itu terdengar, Waffa tersadar jika ia kalah kali ini.
Hatinya sakit, kecewa? Jelas dia sangat kecewa apalagi saat sang pelatih khawatir dengan keadaanya yang kini sedang di obati oleh medis.
"Maaf...maaf Waffa ga bisa menang."
"Gapapa Waffa, setidaknya kamu berani buat maju saja bapak senang." Sang pelatih tersenyum bangga lalu berpamitan untuk meninggalkan ruangan ini.
Pintu ruang kesehatan itu terbuka, nampak sosok Jeviar menatapnya dengan raut khawatir lalu anak itu masuk dengan pelan.
Jeviar tersenyum lalu mengelus pelan kepala Waffa, "hey lihat gua coba." Gadis itu menurut untuk menatap Jeviae yang tersenyum, "denger ya, lo itu hebat bisa lawan dia tadi, lo keren karena bisa maju buat jadi perwakilan sekolah, jadi ga masalah kalo lo ga menang karena apa? karena kalo bukan lo yang maju, ga ada lagi yang bakal bisa wakilin sekolah."
Waffa terdiam, matanya memanas lalu seketika saja ia menangis di hadapan Jeviar.
"Kalah itu hal biasa dalam pertandingan, Waffa." Jeviar menepuk-nepuk punggung Waffa mencoba menenangkan gadis itu, lalu kembali berkata, "jadi jangan putus asa kalo lo kalah, karena mungkin nanti di pertandingan selanjutnya lo bakal menang."
"Nangis aja sepuasnya sampe rasa kecewa lo hilang, kalo rasa kecewa nya belum hilang bilang sama gua, biar gua yang bantu hilanginnya." Jeviar tersenyum meskipun Waffa tak menatapnya balik, ia tahu rasanya saat dirinya kalah dalam bertanding.
"Tenang aja, traktiran sebulannya masih berlaku kok."
Dan seketika Waffa mendongak menatapnya dengan mata sembab, "tapi kan gua kalah?"
"Karena keinginan gua kalo gua menang tuh cuma satu, yaitu liat lo senyum bahagia, Waffa."
Oke sekarang di kabarkan jantung Waffa tak karuan karena perkataan dari lelaki manis di depannya ini.
****
Bel istirahat berbunyi membuat seisi kelas berhamburan keluar untuk mengisi perut mereka yang kelaparan.
"NAT NAT TUNGGUIN DONG!!"
Teriakan itu membuat Nata mendengus kesal, lalu ia berbalik menatap sosok Nizan yang berlari kearahnya bersama Keenan.
"Lo mau ke kantin kan? Kuy bareng!!" Nizan menarik lengannya begitu saja sampai ketiganya duduk di kursi yang berada di kantin yang ramai saat ini.
Nizan pergi untuk memesan makanan mereka, sedangkan kini Nata dan Keenan hanya saling diam tak berbicara sama sekali.
Mungkin terakhir kali mereka berinteraksi adalah saat berdebat masalah solidaritas dulu, setelahnya mereka tak ada lagi interaksi.
"Tumben gak bareng sama temen lo?"
__ADS_1
Nata melirik malas Keenan yang mengajaknya berbicara, ia menghela nafasnya namun tak menjawab pertanyaan dari Keenan membuat si ketua genk itu kesal.
"Kalo ada yang nanya tuh jawab kali, pantesan aja lo terkenal judes satu sekolah." Keenan menatapnya tajam dengan wajah datarnya yang terlihat menahan kesal.
"Males, pertanyaan lo itu terlalu basa-basi jadi males gua jawab."
"Wah emang sial-"
"Makanan datang!!!" Nizan datang dengan nampan berisi tiga piring siomay juga tiga gelas es jeruk, syukurlah Nizan datang sebab jika tidak pasti ada adu mulut antara Keenan dan Nata.
"Daritadi kalian diem-dieman aja gitu?" tanya Nizan saat mejanya sepi, Nata fokus dengan makanannya sedangkan Keenan sibuk menatap ponsel.
Tak ada yang menjawab, Nizan berasa nyamuk disini serius deh kesel banget.
"Gabung dong bro!" Fayyaz tiba-tiba saja duduk di samping Keenan dengan semangkuk bakso, di susul oleh sosok Shaka di belakang nya.
Nata pura-pura saja tak melihat kehadiran Shaka disini, jadi ia fokus menghabiskan siomay miliknya.
"Alhamdulillah akhirnya gua kagak jadi nyamuk lagi." Nizan tersenyum senang, lalu menarik Shaka agar duduk di sampingnya dan berhadapan langsung dengan Nata.
Shaka melirik gadis berambut pendek itu, sepertinya Nata masih marah apalagi sejak kejadian waktu itu, hubungan keduanya semakin merenggang.
"Nat, tumben gak bareng Zora?" tanya Fayyaz heran, biasanya dia akan melihat sosok Zora menempel pada Nata jika Waffa tak ada.
"Pertanyaan lo basi Yaz, gak bakalan di jawab sa-"
"Gak tau, mungkin bosen temenan sama gua," potong Nata cepat, dan itu membuat Keenan menatapnya tajam sebab ucapannya terpotong.
Nizan mengernyit bingung, "kalian ada masalah kah?" tanyanya, lagian ia baru sadar jika akhir-akhir ini tiga perempuan itu terlihat masing-masing.
Waffa yang sibuk latihan taekwondo dan sekarang sedang bertanding, Zora yang sibuk bermain dengan teman beda kelas nya membuat ia jarang berada di kelas, dan Nata yang hanya diam di kelas dengan wajah datarnya.
Memang tak ada yang beres diantara mereka, pikir Nizan.
"Duh cewek kalo ada masalah ribet ya," kata Fayyaz sambil geleng-geleng.
Nizan menganguk setuju, "bener anjir bahkan nih ya sekalipun lo ga terlibat sama masalahnya, lo pasti bakalan terlibat kalo usik salah satunya."
Nata tak peduli dengan omongan Nizan dan Fayyaz mengenai permasalahannya, ia berdiri dari duduknya lalu mengeluarkan uang berwarna biru itu dan ia simpan di meja.
"Titip bayar, kembaliannya buat lo aja Zan." Setelahnya gadis itu pergi meninggalkan kantin, membuat keempat lelaki itu kebingungan.
"Alhamdulillah rezeki anak sholeh!!" Nizan tersenyum senang membawa uang itu lalu memasukannya ke saku celana.
Namun Shaka tak tinggal diam, ia berdiri lalu berlari mengejar sosok Nata yang entah pergi kemana.
"Buset gercep gitu si Shaka?" tanya Fayyaz heran, bingung dia tuh si Shaka ada hubungan apa sih dengan Nata?
"Biasalah mau clbk gitu," celetuk Nizan watados.
"Hah? Merekan mantan?" tanya Keenan kaget, ini masalahnya ia baru tahu jika memang benar Shaka mantan Nata.
Nizan menggeleng, "bukan gitu bego, maksud gua duh males jelasin ah pangeran!!" kata Nizan kesal sendiri, hal itu menbuat kepalanya di pukul sendok oleh Fayyaz.
"Yeuh kodok Jerman!! Buruan cerita anjir!!" kata Fayyaz kesal, ia bahkan tak peduli dengan wajah Nizan yang kesakitan.
"Wani piro?"
"Gua kasih seratus ribu!" bukan Fayyaz yang berkata, tapi Keenan.
Aneh bukan? Keenan yang terkenal cuek itu malah kepo dengan masalah orang lain.
Nizan tersenyum sinis lalu berdiri dari duduknya, "emang aku cowo apaan di bayar seratus ribu doang, mas?" dan setelahnya ia kabur meninggalkan Keenan yang hendak mengangkat kursi untuk dilemparkan padanya.
Sedangkan Fayyaz hanya menggelengkan kepalanya, "bocah stress dasar."
__ADS_1