
Dari pojok belakang terlihat aura negatif dengan mata tajam yang menyipit menatap sosok Waffa yang baru saja duduk dibangkunya seakan seperti sosok elang yang siap menangkap mangsanya.
"Ciee..."
"Liat yang udah punya pacar mah emang beda."
"Ya iya lah ke kelas juga dianterin ayank!!"
"Ayank anterin aku ke kelas nyah," celetuk Nizan dengan nada manja sambil memeluk lengan Fayyaz yang berada di samping nya.
"Iya ayank apa sih yang engga buat kamu, mau pulau Atlantis yang ilang juga bakal aku cari cuma buat kamu," balas Fayyaz sambil mengelus rambut Nizan yang masih setia memeluk lengan nya.
"Hahaha," tawa duo curut yang menertawakan celotehan yang mereka buat sendiri.
Waffa menggulirkan malas matanya, "apaan sih? "sinis Waffa.
"Di tunggu PJ nya jangan lupa," sahut Nizan sambil cengengesan tak jelas, dan hal itu membuat Waffa semakin kesal.
"Gapapa kok cuma di beliin laptop baru juga apa lagi merek apple saya ikhlas sakinah mawadah warohmah," celetuk Fayyaz ikut-ikutan gila seperti Nizan.
"Aamiin," balas Nizan dengan mengangkat kedua tangan dan mengusapkan ke wajahnya.
Fayyaz yang heran mengangkat sebelah alisnya, "Anying kok di amin sih?"
"Emang bagus bukan? biar terkabul gitu."
"Ouh iya juga sih." Fayyaz menggaruk pipinya yang tak gatal.
Waffa mendengkus kesal,"bacot anjirr, sana sana!!" usirnya mendorong-dorong tubuh dua orang yang masih cengengesan.
"Mana mungkin juga Javier suka sama cewe modelan kaya gitu," ujar Sania yang duduk disamping meja Waffa.
"Cewek nya aja yang sok kepedean, cantik juga kagak." Manda terkekeh sinis sambil memandang rendah Waffa.
Sania ikut terkekeh sinis lalu berkata, "terus manfaatin waktu lomba biar bisa deketin Javier." Gadis dengan pakaian ketatnya itu menatap Waffa yang terlihat emosi lalu melanjutkan ucapannya, "terus di pamerin ke semua orang, biar orang tau kalau dia deket sama salah satu pamos di sekolah."
Manda yang membolak-balikan tangannya sambil memainkan jari kukunya jadi tertawa kembali menyahuti Sania, "terus-"
"Terus apa? Hah, apa coba?" potong Waffa geram yang sudah sejak tadi menatap sinis kepada kedua anak itu, rasa ia ingin menerkam kedua makhluk itu hidup- hidup.
Tiba-tiba sosok yang sejak tadi memperhatikan Waffa membuka mulut, "bukan kepedean." suara berat itu mengalihkan orang-orang yang sedang berdebat seketika mereka langsung menoleh kearahnya termasuk Waffa, "tapi emang kegatelan," celetuk Keenan dengan muka datar.
"Hahaha." suara tawa yang melengking di ruangan itu yang tak lain suara Sania dan Manda.
"Wah kita se frekuensi Ken," sahut Manda yang sedang menghapus air mata disudut matanya.
"Hihihi Najis!!" Keenan yang sinis masih dengan wajah datarnya.
Sedangkan Waffa yang sejak tadi sudah tah tahan ingin sekali mengamuk, mood paginya ancur akibat orang orang yang ada disana "NAPA KALAU EMANG GUA KE GATELAN HAH? TERUS EMANG KENAPA KALAU GUA DEKET SAMA JAVIER? ITU JADI MASALAH LO HAH?! ENGGA KAN? GA USAH URUSIN HIDUP GUA!!"
Seketika kelas hening, bahkan Nizan yang tadinya asyik ghibah dengan Zora jadi tersentak kaget menoleh ke arah Waffa.
__ADS_1
Keenan berdiri dari duduknya, menatap Waffa dengan senyum sinis nya ia berkata, "yang ngurusin hidup lo siapa? Gua cuma ga suka sama cewe yang gatel sana sini." Setelahnya lelaki itu keluar dari kelas.
Waffa mengepalkan tangannya erat, lalu ia berlari menyusul sosok Keenan keluar kelas, dia tak terima ya di sebut cewe gatel!!
"HEH BRENGSEK!!" teriak Waffa, panggilan itu menghentikan langkah Keenan namun pemuda itu tak menoleh sama sekali.
"Sialan ya lo!! Gua bukan cewe yang gatel seperti apa yang lo bilang barusan!!" teriak Waffa lagi, namun Keenan tetap tak menyahut.
Karena semakin kesal, Waffa mendekatinya lalu dengan paksa ia membalikkan tubuhnya Keenan hingga kini mereka saling berhadapan.
Keenan terkekeh sinis, "terus? kenapa lo berusaha banget buat yakinin gua kalo lo bukan cewe gatel? gamau gua ilfil ya?" tanyanya sambil menatap tajam mata Waffa.
"Gua ga terima anjing! bukan mau yakinin Lo!!" bentak Waffa, matanya memerah menahan diri agar tidak menangis.
"Yaudah sih kalo ga terima ga usah ngejar-ngejar juga, kesannya lo murahan tau." Keenan tersenyum tipis lalu pergi meninggalkan Waffa yang terdiam.
Murahan katanya? Hahaha memang manusia brengsek itu tidak tau jika perkataannya menyakiti perasaan Waffa? lagipula jika dia tahu, dia tak akan pernah peduli, benar bukan?
Waffa berlari menuju kamar mandi, lalu menutup pintu nya dengan keras, dengan cepat ia menyalakan keran air agar saat ia menangis tak ada yang mendengarnya.
Keenan, lelaki brengsek yang sialnya selalu membuat Waffa kepikiran dengan segala sikap manisnya dulu.
Di sisi lain...
BUGH
BUGH
BUGH
Ancaman itu membuat pemuda berkulit putih terkekeh sinis, lalu menatap tajam kearah sosok yang kini di depannya.
"Gua ga mau brengsek, dia cewe!!" seru nya marah, dia tidak ingin menyakiti sosok wanita karena prinsipnya sejak kecil begitu.
Lelaki bertubuh besar itu menarik kerah baju pemuda itu dengan kasar, lalu ia menampar keras pipinya.
PLAK
"Lo yang brengsek, lo udah nyakitin Kania dan hampir bunuh dia trus sekarang sok baik ga mau ikutin perintah gua, tolol!!" Lelaki itu menendang keras tubuh pemuda berkulit putih itu hingga dia tergeletak tak berdaya.
"Sialan bukan gua!! Lo yang-ARGHHHH ANJING LEPASIN GUAA!!" teriaknya kesakitan saat lelaki kejam itu mencekik lehernya, saat melihat nafas pemuda itu hampir habis baru dia melepaskan tangannya.
"Turutin perintah gua kalo lo ga mau cewe kesayangan lo mati juga di tangan gua, Luke." Setelahnya lelaki itu pergi meninggalkan gudang bekas dan pemuda berkulit putih yang sudah tak sadarkan diri.
"Gimana bos? dia udah mau nurut?"
Lelaki itu menendang keras tong sampah di sampingnya, "emang anjing tu anak, terus pantau dia kalo dia ga nurut tinggal bunuh."
"Tapi kalo kita bunuh dia, apa ga bakalan bikin anak mata elang marah? secara kan dia anggotanya."
"Justru itu, itu yang gua mau." Lelaki yang di juluki sebagai wakil ketua king cobra itu terkekeh membayangkan betapa serunya pertempuran itu.
__ADS_1
"Terus kalo hal ini di ketahui sama Dewa gimana?"
Gery tertawa lalu kembali memasang wajah datarnya, "sebelum dia tahu hal ini, gua bakal habisin dia." Lelaki itu lalu menatap salah satu anak buahnya, memberi kode lewat mata. "Urus tugas lo sekarang." Dan hal itu di iyakan.
----
Langit mendung, sepertinya hujan akan segera turun sore ini namun gadis berambut pendek itu terlihat duduk santai menunggu jemputan.
Seperti dugaannya, hujan seketika turun dengan derasnya di sore hari ini namun gadis itu tetap diam sambil melamun menatap hujan.
Pikirannya melambung jauh ke masa lalu, masa yang tak pernah ingin ia ulangi lagi namun sialnya orang-orang dari masa lalu malah datang lagi.
Gadis itu tersenyum saat mobil yang menjemputnya datang, dengan cepat ia berlari keluar dari gerbang sekolah.
Namun senyumannya seketika luntur saat orang yang berada di mobilnya bukan sang supir melainkan orang asing, tahu posisinya tak aman ia segera keluar dari mobil namun sialnya pintunya terkunci.
"BUKA!! LO SIAPA ANJIR?!!" teriaknya panik, ia terus menggedor-gedor pintu mobil itu tak ingin berhadapan dengan sosok di sampingnya.
Ia kira hanya ada satu orang asing di dalam mobilnya namun sialnya ada tiga orang, dan yang lebih membuatnya panik adalah sang supir yang sudah tak sadarkan diri di bangku belakang.
"BRENGSEK LO APAIN SUPIR GUA HAH?!!" gadis itu membentak keras, mencoba untuk merebut stir mobil dari orang asing itu.
"Diem!! lo mau mati hah?!" bentak pria bertopeng itu mendorong tubuh gadis itu hingga membentur pintu mobil.
Gadis itu meringis lalu dia mengambil ponselnya namun sialnya lagi ponselnya mati karena kehabisan daya, sial sekali hari ini.
"Kalian mau bawa gua kemana hah?! ambil mobil ini tapi tolong turunin gua sama supir gua!!" kata gadis berambut pendek itu.
Namun pria bertopeng itu terkekeh sinis, "justru yang gua mau itu lo bukan mobil ini."
Gadis itu mengepalkan tangannya, jika ia terlihat panik pasti itu akan membuatnya terlihat lemah di depan mereka.
"Gua ga tau gua salah apaan sama lo, tapi please turunin gua disini!! kalo lo ga mau gua laporin ke kantor polisi!!" ancamnya geram, ia bahkan menodongkan cutter yang tak sengaja ia bawa dari rumah pada pria itu.
"Gua ga takut sama ancaman lo, dan kalo lo mau bunuh aja gua pake cutter itu HAHAHHA." Pria itu tertawa terbahak-bahak, dua temannya pun ikut tertawa di belakang.
Karena kesal gadis itu mencoba untuk merebut stir mobil agar ia yang mengendalikan, dan terjadilah aksi perebutan stir mobil itu.
"Lepas anjing! lo mau mati hah?!" bentak pria itu, namun gadis berambut pendek itu tak mendengarkannya.
Karena kesal dengan gadis keras kepala ini, pria itu membanting setir nya ke kiri dan hal itu membuat mobilnya menabrak sebuah pohon besar.
BRAKK
Pria bertopeng itu dengan cepat keluar dari mobilnya, ia segera membantu gadis itu agar keluar dengannya tapi ia tak memperdulikan tiga orang yang masih tak sadarkan diri di bangku belakang.
Dengan cekatan ia menggendong gadis itu, lalu berlari menjauh dari mobil itu sebab tak ingin keberadaannya di ketahui oleh polisi.
"Halo bos, target yang lo mau udah ada di tangan gua." Pria bertopeng itu terkekeh sinis sambil mengangkat telpon dari sang bos.
"Siap, gua bawa cewe ini kesana sekarang."
__ADS_1
Setelah sambungan itu terputus, pria bertopeng itu menghentikan sebuah taksi untuk pergi menuju tempat sang bos berada.
Ia membuka topengnya lalu menatap datar gadis di sampingnya yang masih tak sadarkan diri, "apa yang dia mau dari lo, Nata?"