GIRL BOSS

GIRL BOSS
14. Hal yang tak terduga


__ADS_3

Fayyaz menggerakkan bola matanya malas saat merasakan suara langkah kaki yang mendekati nya. Orang itu berjalan lalu tersenyum manis kepada sosok Fayyaz, tentu Fayyaz heran dengan tingkah orang yang kini malah duduk di sampingnya.


"Yaz," panggil seorang gadis berambut panjang itu yang tak lain adalah Sania, sekarang mereka berada di kelasnya namun karna guru yang belum masuk kelas semua orang berkeliaran kesana kemari.


"Hmm," sahut Fayyaz terkesan cuek, matanya fokus pada ponsel.


"Gua denger nanti malam ada pasar malem buka loh," tutur Sania begitu semangat, bahkan kini matanya berbinar bak anak kecil yang diberi permen.


"Ya terus kalau buka napa? Lo mau jualan gitu disana?" balas Fayyaz asal, ia melirik sekilas sosok Sania yang kini cemberut.


"Ihh bukan, buat apa juga gua jualan!! " kata Sania kesal, anak itu lalu semakin mendekatkan kursinya pada kursi Fayyaz.


"Kirain lo mau mangkal disana,"


celetuk Fayyaz namun terdengar seperti hinaan di telinga Sania, terlebih lagi lelaki itu tertawa kecil.


Sania membulatkan matanya mendengar omongan Fayyaz, "hah?! sorry gua ga gitu ya!!"


"Halah prett." Fayyaz melirik sinis Sania yang semakin dekat dengannya, namun dia tetap diam tak protes.


"Ihh gua ngajak lo jalan nanti malem masa ga peka banget!" ucap Sania dengan nada manja sambil mengerucutkan bibir nya.


"Hah lo ngajak gua?!" Fayyaz tentu saja kaget, hampir saja dia menggebrak meja namun ia tahan.


Sania tersenyum manis lalu mengiyakan, gadis ini terlihat seperti anak kucing yang butuh kasih sayang di mata Fayyaz.


'boleh juga, kayaknya gak buruk' batin Fayyaz tersenyum tipis, bahkan hampir tak terlihat.


"Emang buka nya jam berapa?" tanya Fayyaz kini benar-benar menatap Sania, matanya tak lagi fokus pada ponsel.


"Ya pokoknya malem lah yang penting malem, kan namanya juga pasar malem!!" jawab Sania kesal, tapi wajahnya itu kembali ia ubah dengan senyuman manisnya.


"Hmm, nanti gua jemput," balas Fayyaz singkat, kini matanya fokus kembali pada ponsel.


Sania berjingkrak senang dengan mata melotot tak percaya, "BENERAN?!!"


Dan hal itu Fayyaz anggukki, membuat Sania lagi-lagi tersenyum senang. "Asikk, gua tunggu ya!!" Setelahnya gadis itu pergi dari kelas, entah kemana yang jelas Fayyaz tak peduli.


Seruan dari Sania tadi tentu saja membuat semua anak di kelas jadi memperhatikan keduanya namun mereka tak peduli, berbeda dengan Nizan si budak kepo.


Nizan dengan cepat langsung menduduki kursi yang tadi di dudukki oleh Sania, lalu bertanya, "tuh jamet napa? Kok keliatannya kegirangan? Lo apain?" tanya Nizan heran, lagian siapa sih yang tak heran jika melihat kedekatan keduanya??!


"Kepoo." Fayyaz membalas menyebalkan, membuat Nizan mendelik kesal kearahnya.


"Anjir pelit banget lo!!" sewot Nizan kesal, lalu pergi meninggalkan Fayyaz dan kembali bergabung dengan Keenan di sudut kelas, bermain kartu Remi.


Sedangkan di sisi lain ada Waffa, Nata dan Zora yang asyik bercerita dengan Nata yang bertugas menjadi pendengar, sedangkan Waffa malah fokus bermain game di ponselnya.


"Anying!!" umpat Waffa tanpa sadar, membuat sahabatnya yang sedang fokus bercerita kaget dengan hal itu.


Nata yang memang kagetan tentu saja jadi ikut mengumpat kecil, lalu bertanya dengan sewot, "kenapa lo?! Bikin kaget aja udah tau gua kagetan!!"


"Iya tuh kalau main game mulut lo diem!!" Zora menyetujui ucapan Nata, lalu ia menjitak pelan jidat Waffa.


Waffa menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, merasa bersalah dan merasa pantas mendapat jitakan dari Zora. "Iya maaf, ga sengaja juga kali, sewot amat!!"


"Heh ngomong-ngomong nanti mau ke pasar malem gak?" ajak Zora dengan sumringah, menatap keduanya.


"Emang ada?" tanya Nata datar, anak itu malah fokus merapihkan poninya yang hampir menutupi matanya, setelah ini ia akan memotongnya karena tak mau rambutnya menyolok mata.


"Ada, makannya jangan rebahan mulu kali-kali keluar!" sindir Zora, tapi orang yang disindir malah tak peduli.


"Napa ga seneng?!" sahut Waffa sewot, padahal yang disindir Nata tapi yang sewot malah dia.


Zora mendelik kesal lalu kembali menatap kedua sahabatnya, "dih mau kagak?!"


"Gasin aja," balas Waffa, lalu matanya kembali fokus pada game di ponselnya.

__ADS_1


Nata terlihat berpikir dengan ajakan Zora, dan hal itu tentu di sadari oleh Zora. " Nat, udah ikut dari pada gabut dirumah," kata Zora.


"Mager ah, gua males liat kerumunan orang." Nata menggeleng cepat, membayangkannya saja ia tak mau, pasti disana berisik.


"Dih gak asik lo mah, Nat!!" seru Waffa kesal, anak itu bahkan cemberut menatap Nata.


Nata menghela napasnya, lalu dengan terpaksa ia berkata, "yaudah deh ayok, gua ikut." Hal itu tentu membuat keduanya bersorak gembira.


....


Ramainya orang tak menghalangi rencana Sania dan Fayyaz untuk pergi ke pasar malam, keduanya kini berdiri diantara kerumunan orang yang berada disana, tangan Sania sejak tadi menggandeng lengan Fayyaz yang kekar.


"Yaz, nanti kita naik itu, itu, dan itu, yuk!!" ajak Sania dengan sorot mata bak anak anjing, Fayyaz yang melihat itu hanya menatapnya datar.


"Hmm, serah lo deh," balas Fayyaz malas, sebenarnya ia tak terlalu suka dengan permainan yang Sania inginkan namun apa boleh buat? ia harus menuruti gadis ini.


Sekarang Fayyaz dan Sania sedang membeli makanan sebab rasa lapar itu menyerang mereka berdua, kini keduanya duduk di salah satu kedai.


"Yaz coba deh, enak loh," Sania menyodorkan sendok itu pada Fayyaz berniat untuk menyuapi makanan itu, di luar dugaan Fayyaz tak menolak dan membuka mulutnya, Sania tersenyum senang.


Disisi lain terdapat tiga gadis yang kini menatap kaget dua orang yang masih asyik dengan makanannya.


"Anjir gua ga salah liatkan?!" tanya Waffa sambil mengucek- ngucek matanya takut jika itu hanya halusinasi saja.


Zora di sampingnya menutup mulutnya tak percaya, "beneran anjir!! Sania sama Fayyaz?!!" serunya kaget.


"Kok bisa anjir?!" tanya Waffa kaget, ia masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Wajah kaget kedua sahabatnya itu berbeda dengan Nata, sejak tadi gadis itu hanya menatap datar dan tak peduli.


"Samperin jangan?" Zora menaik-turunkan alisnya, wajahnya terlihat sekali jika anak itu punya rencana.


Waffa yang langsung konek dengan kode itu langsung tersenyum jahil, lalu menarik kedua sahabatnya itu menghampiri Fayyaz dan Sania.


'Bangsat kenapa malah ketemu sih?!!' umpat Fayyaz dalam hati, namun wajahnya tetap datar takut jika Sania mengetahuinya.


"Ciee yang diem-diem jadian," goda Zora dan hal itu membuatnya di pelototi oleh Fayyaz.


Sania merapihkan rambutnya lalu menatap keduanya, "kenapa? lo bertiga iri ya karena gak bisa jalan-jalan sama cowok?"


Hal itu seketika membuat Nata tertawa kecil, lalu menatap Sania sinis. "Ngapain iri sama cewek yang jalan bareng cowok orang? Kita gak bakal nurunin gengsi buat ngajak jalan cowok duluan, ya kecuali ke gatelan sih kayak lo."


"Cowok orang?! Jelas-jelas Fayyaz tuh gak punya cewek!!" seru Sania kesal, anak itu bahkan berdiri menatap Nata dengan tajam.


"Lo kan gak tahu, Sania. Bisa aja kan dia punya cewek tapi gak di publish? Emang lo mau ya di cap pelakor sama ceweknya?" tanya Nata santai, gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada.


"Lo tuh gak usah sotoy!!" Sania mendorong kasar bahu Nata, hal itu membuat Nata jadi tersentak kaget.


Waffa yang diam langsung bertindak dengan mendorong balik Sania, "heh sialan ya lo maen dorong-dorongan!!"


Sania menepis tangan Waffa lalu kembali menatap Nata dengan tajam, jika tidak ada Fayyaz disini ia sejak tadi sudah menjambak rambut pendek Nata.


"Gua bukan perusak hubungan orang kayak lo, Nata."


Ucapan itu membuat Nata menatap Sania, tangannya terkepal kuat menahan emosi yang entah mengapa muncul begitu saja.


"Maksud lo apaan hah?! Nata bukan cewek murahan kayak lo!!" Waffa mendorong kasar Sania, ia jelas tak terima dengan ucapan itu.


Sania tersenyum sinis, "lo gak tahu ya? padahal dulu sempet ke sebar loh gosipnya." Gadis itu melirik Nata dengan tatapan liciknya.


Zora yang sejak tadi diam jadi menatap Nata, ekspresi gadis itu tetap datar namun tangannya terlihat mengepal itu tandanya Nata menahan emosi.


"Lo jangan sok tahu tentang hidup Nata!!" sewot Waffa, hampir saja dia mencakar wajah Sania yang menyebalkan itu jika bukan Zora yang menahannya.


"Kok lo gak terima sih? Coba liat, Nata aja diem terus kenapa lo marah-marah?" tanya Sania menyebalkan, dan itu membuat Waffa tersulut emosi.


Dengan cepat tangan panjang gadis itu menjambak rambut Sania hingga anak itu menjerit kesakitan, tentu kejadian ini membuat kelimanya jadi bahan tontonan.

__ADS_1


Fayyaz yang berada diantara mereka jadi malu sendiri, masalahnya dia cowok sendirian dan kini semua orang menatapnya seperti berpikiran jika dia diperebutkan.


Fayyaz melerai keduanya dibantu oleh Zora, dan dengan cepat dia menarik tangan Sania menjauh dari ketiganya, lebih baik dia membawa Sania pergi dari sini.


Sementara itu Waffa terus mengomel tak jelas membuatnya jadi cibiran orang-orang yang melihatnya, tapi Waffa tak peduli.


"Lo sebenernya ada masalah apa sih, Nat? Kok kita gak tahu sedangkan Sania tahu?" tanya Zora hati-hati, sejak dulu dia kepo dengan masalah Nata.


Nata terdiam menatap kedua sahabat dekatnya itu dengan datar, tatapan itu membuat Waffa kembali kesal. "Ck, kenapa sih Nat?! Kita kan sahabat lo, kenapa lo gak pernah cerita apapun sama kita?!"


Bentakan dari Waffa itu membuat Zora was-was takut kedua sahabatnya bertengkar, masalahnya Waffa tuh gampang tersulut emosi sedangkan Nata pasti hanya akan diam dan diamnya gadis itu cukup menakutkan bagi Zora.


"Malah diem!! Cerita dong, lo anggap kita sahabat gak sih?!" sentak Waffa sekali lagi, ia bahkan tak peduli saat Zora mencoba untuk menyuruhnya untuk sabar.


Nata tersenyum tipis, matanya yang biasa terlihat tajam itu kini terlihat seperti menyimpan banyak luka di dalamnya. "Gak semua hal, harus lo tahu, Waffa."


"Kenapa?! Orang lain tahu kenapa cuma gua sama Zora yang gak tahu?!"


Zora menghadang Waffa saat gadis itu mendekat ke arah Nata dengan tatapan tajam, 'tolong dong siapapun datang kesini, gua gak kuatttt.' batin Zora.


"Fa, udah sih jangan maksa Nata!!" kata Zora berusaha menghentikan perdebatan ini, jujur ia takut.


Waffa menoleh lalu tersenyum sinis, "oh lo tahu ya? berarti cuma gua yang gak tahu disini?" Ia menatap kedua sahabatnya tak percaya, sakit rasanya mengetahui bahwa hanya dia yang tak tahu apa-apa.


"Apaan sih?! Gua gak tahu tentang masalah Nata!! Gua cuma gak mau kita ribut cuma gara-gara ini!" jelas Zora menatap Waffa meyakinkan.


Tapi Waffa yang sudah salah paham sejak awal itu tak percaya, "bohong lo, Ra." Dan setelahnya gadis itu pergi meninggalkan kedua sahabatnya.


Zora tentu saja tak membiarkan Waffa salah paham, dengan cepat dia mengejar Waffa melupakan bahwa masih ada Nata yang diam di tempatnya.


"Bella, lo mau berurusan sama gua ternyata." Nata tersenyum tipis, ia tahu jika Bella mulai menyebarkan kabar yang dulu sempat beredar itu kembali muncul.


Disisi lain kini Zora terus mengejar Waffa yang berjalan cepat di depannya, bahkan ia sempat beberapa kali menabrak orang hanya demi mengejar Waffa.


BRUKK


"Sorry, gua gak sengaja!!" lelaki dengan jaket hitamnya itu segera membantu Zora untuk bangun, lalu matanya melotot kaget saat melihat darah segar keluar dari lutut Zora.


Zora meringis kecil lalu menatap lututnya yang berdarah, ia akhirnya di bawa oleh laki-laki tadi untuk duduk dan mengobati lukanya.


"Maaf ya, jujur gua gak ngeliat lo lari tadi," ucap lelaki itu merasa bersalah, ia bahkan mengobati luka Zora dengan telaten.


"Gapapa lagian salah gua juga lari-larian di kerumunan." Zora tersenyum manis menatap sosok laki-laki yang berjongkok di depannya itu.


Matanya malah salah fokus sebab wajah tampan lelaki itu, kulitnya putih, beralis tebal dan kumis tipis itu membuatnya tampan di mata Zora.


"Lagian kenapa lo lari-larian? Di kejar penjahat?" tanya lelaki itu, kini dia menatap Zora yang masih melongo karena ketampanannya.


Lelaki itu tersenyum manis, dan itu membuat lesung pipinya terlihat lucu. "Hei, kok ngelamun sih?"


"Hah? Oh iya! Anu, gua tadi ngejar temen gua yang kabur karena marah," jawab Zora gugup, dan itu membuat Lelaki di sampingnya terkekeh kecil.


"Mau gua bantu cari?" tawar lelaki itu, membuat Zora malah salah tingkah.


"Eh gapapa? Gua takut ngerepotin lo."


Lelaki berkulit putih itu menggeleng pelan, "engga kok, lagian gak baik cewek sendirian."


Zora lagi-lagi tersenyum karena tersipu malu, ditatapnya lagi wajah lelaki itu, tampan. Namun ia baru sadar jika ada bekas luka lebam di wajah tampan lelaki itu, namun luka itu malah membuatnya semakin tampan.


"Yaudah deh ayok!!" Zora berdiri di bantu lelaki itu, keduanya berjalan dengan pelan.


"Oh iya, nama gua Zora, nama lo siapa?" tanya Zora, ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini untuk berkenalan.


Lelaki itu tersenyum manis, bahkan luka di sudut bibirnya itu semakin membuatnya tampan. "Gua Luke."


Janlup komen, like, and vote

__ADS_1


see you next time


__ADS_2