
"Semuanya, lindungi Tuan Muda!"
"""Ya!"""
Kelima Ksatria yang menjadi pengawal Ethan segera membentuk formasi bertahan. Prioritas utama adalah memastikan keselamatan Ethan.
Ethan tertawa getir melihat hal itu. Sebenarnya itu adalah hal yang tidak perlu, tapi dia senang dengan kepedulian mereka terhadap tugasnya. Ethan, kemudian mengulurkan tangannya ke arah para Monster.
"Ikat dan jangan lepaskan, ."
Dan saat itu, sebuah rantai petir tercipta di kaki para Monster. Monster yang datang adalah Big Rat, yang merupakan versi monster dari tikus biasanya. Karena tubuhnya yang cukup besar, mudah untuk mengenainya.
"Kieeek!"
"Cicicit!"
Karen Lightning Chain milik Ethan, beberapa Big Rat jatuh ke dalam kondisi stun. Mereka tidak bisa bergerak karena otot yang tiba-tiba tegang. Hal ini, tidak di sia-siakan oleh Ksatria, mereka langsung menerjang ke arah Big Rat.
"Hiyaaah!"
"!"
Dikarenakan cukup sempit, hanya dua orang saja yang dapat menyerang. Ini juga sebuah kerugian bagi pihak Ethan.
Merasa bahwa akan sangat dirugikan jika dia terlalu lama di tempat ini, Ethan menggunakan Magic High Class miliknya.
"Penjara bagi para pendosa, Neraka dingin abadi ."
Saat itu, bunga es tercipta dan mengelilingi seluruh saluran pembuangan. Suhu berubah secara ekstrim dalam waktu singkat.
Tikus-tikus segera berhenti bergerak karena merasakan anomali. Mereka waspada dengan apa yang akan terjadi. Tapi, tidak peduli berapa lama mereka menunggu, hal-hal yang mereka waspadai tidak terjadi.
"Kieeeek!"
"Ciit! Ciit!"
Tikus yang awalnya khawatir bahwa akan terjadi sesuatu, menjadi marah ketika tidak terjadi apapun. Mereka menyerang ke arah Ethan.
Ethan tersenyum dan merilis sihir yang sudah dia siapkan.
"Rasa perih yang dingin, ."
Puluhan duri Es tercipta dari Medan Es ke segala arah. Itu adalah pembantaian lengkap dimana dalam sekejap mata, gerombolan Big Rat mati.
Ksatria, Mia dan Cederick melihat kejadian tidak masuk akal itu dengan mulut ternganga lebar. Menggunakan sihir berturut-turut dan tanpa rapalan… bahkan kata-kata luar biasa atau menakjubkan tidak dapat menggambarkan kehebatan itu.
Berbanding terbalik dengan apa yang lainnya rasakan, Ethan sama sekali tidak senang. Dia memiliki wajah yang seakan-akan sudah siap memakan seseorang yang membuatnya kesal.
Ethan segera memberikan perintahnya kepada para Ksatria.
"Kumpulkan itu semua, dan kita akan segera kembali."
Ketika mendengar perintah Ethan, para Ksatria kembali sadar.
__ADS_1
""""Kami mengerti!""" Jawab mereka hormat.
Ethan mengangguk dan segera berbalik untuk kembali ke keretanya. Dia memiliki ekspresi yang sangat rumit dan kompleks di wajahnya.
"Sebanyak itu monster di dalam kota… sangat berbahaya."
Ethan mengingat kembali berapa banyak Big Rat yang masuk ke dalam radar deteksinya tadi dan wajahnya mengeras.
"Ini tidak bagus. Jika mereka semua keluar-"
Saat Ethan sedang berpikir serius, tiba-tiba saja Mia muncul.
"Tuan Muda, para Ksatria sudah selesai melakukan pembongkaran Monster-monster itu."
Mendengar suara Mia, wajah Ethan kembali seperti biasanya. Dia menatap Mia dan mengangguk.
"Jika begitu, ayo kembali. Aku cukup lelah."
"Saya mengerti."
Ethan segera kembali. Kehadirannya seperti badai yang tiba-tiba saja muncul dan tiba-tiba saja menghilang.
Setelah itu, sebuah rumor bahwa Putra Kedua Marquess Mallorca adalah seorang Peri tersebar di Kota setelah kunjungan Ethan tersebut. Tentu saja, Ethan tidak tahu hal itu.
Di perjalanan kembali, wajah Ethan berubah 180° dari saat dia berangkat. Wajahnya menjadi sangat serius dan suasana yang berat menggantung di dalam gerbong. Mia yang ada di dalam gerbong bersama dengan Ethan merasa tertekan. Ini adalah pertama kalinya dia melihat sisi seperti ini dari Ethan.
Saat Mia terus menatap Ethan, tiba-tiba saja Ethan memanggil namanya.
"Mia."
Karena terkejut, Mia menjawab dengan sedikit penundaan dan nadanya suaranya naik satu oktaf. Ethan pura-pura tidak peduli dengan hal itu, dan dia membicarakan hal lain.
"Mia, apakah Slime bisa ditangkap?"
Mia mengedipkan matanya beberapa kali ketika dia mendengar pertanyaan yang sangat tidak terduga dari Ethan.
"Bukankah itu tidak mungkin, Tuan Muda? Slime juga seekor Monster, jadi tidak ada yang pernah menangkapnya."
Slime, adalah seekor Monster paling umum di Benua ini. Dengan tubuh yang transparan, dia bertindak sebagai pengurai di alam. Tapi, bagi orang-orang Dunia ini, Slime adalah Monster, dan semua Monster harus dibasmi. Jadi, Slime perlahan-lahan menuju kepada kepunahan jika terus dibiarkan.
"Apakah ada alasan kenapa Slime tidak bisa ditangkap? Seperti dia mengeluarkan asam atau sejenisnya?" tanya Ethan lagi.
Dari Monster Ensiklopedia yang dibacanya di perpustakaan, tidak ada hal-hal yang sangat membahayakan dari Slime. Memang ada asam pada tubuhnya, tapi itu tidak kuat dan mungkin hanya akan menimbulkan rasa gatal saja.
Mia juga tidak bisa menjawab. Karena dia tidak tahu kenapa Slime tidak bisa ditangkap. Dia hanya tahu bahwa Slime itu Monster dan tidak ada yang pernah menangkapnya.
Ketika Mia hanya diam saja, Ethan berbicara kepadanya memberikan tugas lain.
"Jika begitu Mia, nanti tolong belikan aku Core Slime. Semakin banyak semakin baik."
Seperti biasanya, Mia hanya mengangguk atas tugas yang Ethan berikan walaupun Mia sama sekali tidak mengerti.
"Saya mengerti. Untuk dananya, adalah 1 koin perak, apakah ini cukup, Tuan Muda?"
__ADS_1
"Tentu. Itu lebih dari cukup."
Percakapan terputus dan setelahnya Ethan hanya menatap langit sore jingga kemerahan di ufuk barat.
"Semoga saja, kalian menunggu lebih lama," gumamnya.
***
Waktu makan malam keluarga Marquess. Lord, Alvin dan Claire semuanya bertanya tentang apa yang Ethan lakukan hari ini.
"Jadi, bagaimana Kota itu, Ethan?" tanya Lord.
Alvin dan Claire juga menatap Ethan penasaran dengan jawabannya. Ethan melihat itu hanya tersenyum pahit.
"Itu terlalu parah Ayah. Bau yang sangat kuat menyengat hidung tepat ketika sampai di Kota," ucap Ethan tanpa ampun.
Ketiganya mengangguk seolah sudah menebak apa yang akan Ethan katakan.
"Tentu saja. Jika itu Ethan, maka itu adalah hal yang diperhatikan."
"Itu adalah jawaban yang Ethan sekali."
"Fufu, tapi itu tidak salah."
Ethan sedikit tidak senang karena perasaannya terlalu mudah dibaca. Tapi mengingat bahwa ketiganya adalah Monster, dia memakluminya.
Setelahnya, Lord menatap Ethan dengan tatapan penuh harap dan antisipasi.
"Jadi, apakah kamu sudah menemukan solusi dari hal itu, Ethan?" tanya Lord.
Jika bisa, Ethan ingin langsung mengangguk atas pertanyaan itu. Tapi sayangnya, dia sama sekali tidak mendapatkan ide jangka pendek saat ini, jadi dia menggelengkan kepalanya.
"Maaf Ayah, tapi itu tidak mungkin. Dan selain itu, kenapa Ayah bertanya padaku? Bukankah Ayah adalah Lord?"
Wajah Lord menjadi kaku. Alvin dan Claire tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk meledek Lord.
"Benar, Alfonso. Apa yang kamu katakan? Bahkan jika Ethan jenius, itu terlalu berlebihan memintanya memikirkan masalah kota. Jika bisa, aku ingin kamu menggunakan otakmu sedikit lagi," ucap Claire dengan senyum yang sangat manis.
Alvin mengangguk. "Ibu benar. Aku masih tidak mengerti bagaimana Kota masih berjalan ketika memiliki Lord seperti Ayah."
Ethan hanya diam saja, tapi dalam hati dia juga setuju dengan keduanya, terutama Alvin. Ethan penasaran bagaimana Kota ini bisa berjalan dengan Lord otak otot seperti Ayahnya.
Lord yang mendapatkan kritik dari anak dan istrinya menjadi sangat tertekan. Lord mencoba untuk menjelaskan.
"Ya-yah… biasanya, Tian adalah orang yang akan mengatur hal itu. Dan aku hanya tinggal memberikan cap."
Claire, Alvin dan Ethan menatap Lord dengan mata takjub tapi bukan karena hal yang luar biasa.
"Alvin, aku harap kamu tidak menjadi seperti Ayahmu," Claire memberikan nasehat kepada Alvin dengan sungguh-sungguh.
Alvin mengangguk. "Tenang saja Ibu. Aku juga harus menjaga image baik di depan Ethan."
"He-Hey! Ayah akan bekerja dengan benar kali ini! Jadi berhentilah kalian membuat Ayah terlihat seperti orang bodoh!" teriak Lord putus asa.
__ADS_1
Ketiganya saling memandang dan tersenyum pahit. Mereka sama sekali tidak yakin dengan hal itu.