Glorious Chronicle

Glorious Chronicle
Bab 21 - Istana Kerajaan.


__ADS_3

"Ngomong-ngomong Ethan, Kakakmu, Alvin sudah memiliki tunangan, kamu tahu?"


Tiba-tiba saja Lord berbicara hal-hal yang sangat lucu.


Ethan ternganga lebar tidak bisa percaya pada apa yang Lord katakan. Kakaknya, yang seorang Brocon akut memiliki seorang Tunangan. Itu benar-benar sangat absurd.


"Apa? Apakah Ayah serius?" tanya Ethan cepat.


Selain terkejut, Ethan jauh lebih khawatir jika Alvin benar-benar memiliki tunangan, dia akan memilih tunangannya hanya berdasarkan kekuatan atau hal lain.


Claire, membaca pikiran Ethan tersenyum lembut.


"Jangan khawatir, Ethan. Tunangan Alvin adalah Putri Chloe, dia adalah gadis cantik dan anggun."


Wajah Ethan melunak mendengar hal itu. Tidak hanya bukan seorang otak otot, tapi juga seorang Putri… Ethan benar-benar harus membuang pikiran lamanya tentang Alvin. Alvin benar-benar memiliki selera yang sangat tinggi.


"Begitu? Lega mendengarnya."


"Apa? Apakah Ethan sudah menginginkan seorang Tunangan?" tanya Claire untuk menggoda.


Ethan tersedak teh yang sedang diminum. Dia memandang Claire dengan ekspresi tercengang.


"Tidak Ibu, aku masih berusia 8 tahun, Ibu tahu?" jawab Ethan tegas.


Jika dia memiliki tunangan saat ini, tidak ada hal baik. Dia masih memiliki terlalu banyak masalah yang harus dilakukan.


Tapi, Lord dan Claire sepertinya salah paham dan mengira Ethan hanya malu.


"Eh~ benarkah? Jika itu Ethan, aku rasa kamu akan mendapatkan semua gadis yang kamu mau?"


"Um, tidak mungkin ada yang menolak dirimu."


Lord dan Claire berbicara dengan senyum dan nada yang tidak bercanda. Sepertinya mereka benar-benar sungguh-sungguh.


Ethan tertawa kering dan mencari jalan keluar.


"Hahahaha, ayo kita bicarakan itu lain kali, Ayah, Ibu. Sepertinya tubuhku masih tidak enak, karena perjalanan jauh," ucap Ethan dengan wajah lelah.


Lord dan Claire tidak bodoh. Mereka tahu bahwa Ethan mencoba untuk kabur, dan mereka tersenyum senang melihat sikap Ethan itu.


"Fufu, jika begitu maka istirahatlah."


"Ya, nikmati waktumu di Ibukota Kerajaan."


Ethan merasa lega bahwa Lord dan Claire tidak mengajarnya lebih jauh. Dan Ethan segera bangun.


"Jika begitu, aku permisi Ayah, Ibu," pamit Ethan dan segera pergi dari ruangan.


Ketika keluar wajahnya benar-benar lelah. Jauh lebih lelah dari ketika dia sibuk dalam mengerjakan dokumen.


"Hah… Ibukota dan Orang Tua adalah dua sumber masalah."


***


Ethan dan Lord saat ini sedang berada di gerbong kereta kuda. Keduanya saat ini mengenakan pakaian formal yang terlihat sangat sesak.

__ADS_1


Ethan benar-benar dalam suasana hati yang buruk karena pakaian yang sangat tidak nyaman dan sesak ini.


Ethan mencoba menahan rasa kesalnya dan bertanya kepada Lord tentang hal yang membuatnya penasaran.


"Jadi Ayah, bukankah ini terlalu cepat? Aku baru memintanya kemarin, dan hari ini kita langsung pergi ke Istana?"


Ya, tujuan mereka hari ini adalah Istana Kerajaan. Tentu saja mereka pergi untuk memberikan laporan.


Ayahnya tersenyum dengan sombong memperlihatkan gigi putihnya.


"House of Mallorca adalah wilayah khusus dan ketika terjadi anomali di sana, Istana akan memberikan prioritas utama. Jadi wajar saja Istana menyuruh kita untuk segera datang," jelasnya dengan busung dada.


Ethan mengangguk lemah atas penjelasan Lord yang mudah dimengerti itu.


"Begitu… yah, aku bisa segera kembali, jadi aku rasa bagus."


Ethan sudah lama tidak melihat Maid imut pribadinya, Mia. Hal ini membuat jiwanya mengering.


Perjalanan kereta kuda singkat, akhirnya berakhir. Istana Kerajaan sudah terlatih dari dalam gerbong. Itu adalah bangunan yang sangat besar dan mewah, sangat cocok dengan kata Istana.


Setelah Lord menunjukkan tanda keluarga kepada Penjaga, kami segera diizinkan masuk ke dalam.


Kereta kemudian berhenti di depan tangga pintu masuk. Mata Ethan seketika menjadi mata mati ketika dia melihat banyaknya anak tangga yang ada.


Lord yang melihat hal itu memberi sebuah teguran kepada Ethan.


"Ethan, jaga sikapmu."


Ethan mengangguk dengan senyum pahit. Dia benar-benar tidak pernah berpikir akan mendengar hal itu dari Lord yang memiliki sikap bebas.


Ethan turun dari Kereta, dan tidak seperti di Mansion, hanya ada satu orang butler yang datang menyapa.


Lord dan Ethan mengangguk sebagai balasan. Dan dipimpin oleh Butler, mereka menuju ke ruangan dimana Yang Mulia Raja menunggu.


Ketika berjalan di lorong, Ethan masih menjadi pusat perhatian karena wajahnya yang tampan. Maid atau bahkan beberapa Bangsawan yang berpapasan, menatap Ethan dengan wajah memerah.


Ethan sama sekali tidak peduli dengan hal itu. Dia menikmati karya seni yang ada di sepanjang lorong Istana. Penataan yang pas dan tidak berlebihan, tapi juga tetap menjaga kesan mewah. Itu adalah hal yang Ethan suka.


"Kami sudah sampai, di sini."


Tiba-tiba saja mereka sudah sampai ketika Ethan sedang fokus pada sekelilingnya.


Butler segera mengetuk pintu ruangan itu.


Knock Knock.


"Yang Mulia, Marquess Mallorca, dan Tuan Muda Kedua Ethan, sudah datang."


Dan balasan langsung datang dari dalam ruangan itu.


"Masuk," sebuah suara yang penuh dengan wibawa terdengar dari dalam.


Butler itu segera membukakan pintunya membiarkan Marquess dan Ethan untuk masuk.


Ketika mereka masuk, seorang Pria dengan rambut emasnya yang bersinar terang, dan mata birunya yang bersinar seperti langit siang hari, terlihat sedang duduk dengan anggun.

__ADS_1


Marquess dan Ethan langsung berlutut ke arah Pria itu.


"Yang Mulia Gianluca von Catalunya, Alfonso von Mallorca datang menyapa."


"Ethan von Mallorca, putra kedua House of Mallorca menyapa Yang Mulia Raja."


Marquess benar-benar memiliki suasana yang sangat berbeda dari biasanya yang ceroboh, dan Ethan juga sama, dia terlihat seperti seorang Bangsawan yang sudah matang.


Yang Mulia Raja sedikit terkejut, namun itu hanya sesaat, sebelum ekspresinya digantikan dengan senyum yang sangat menawan.


"Um. Duduklah."


Marquess dan Ethan langsung duduk di sofa yang berlawanan dengan Raja.


Butler menyediakan teh untuk ketiganya yang hadir di sana.


Tidak ada yang berbicara sama sekali. Ketiganya hanya menikmati teh yang sudah disajikan. Hal ini menciptakan suasana yang nyaman tapi juga canggung mengalir di ruangan tersebut.


Raja, menatap Ethan seperti sedang menilai. Ethan sadar akan hal itu, jadi dia hanya tetap tenang, bersikap berbeda dari kebanyakan anak-anak seusianya.


Raja tersenyum dan membuka mulutnya.


"Alfonso, aku sudah membaca surat yang kamu kirim. Apa yang membuat seorang Rakshasa meminta pertemuan darurat?" tanyanya menatap Marquess tapi matanya masih melirik ke arah Ethan.


Marquess tidak basa-basi dan langsung masuk ke masalah intinya.


"Yang Mulia, sebuah Stampede terjadi di Hutan Hitam, dua minggu yang lalu. Jumlahnya diperkirakan adalah 7000 lebih Monster dari Rank E - Rank A."


Dan saat itu, senyum di wajah Raja hilang seketika. Wajahnya menjadi sangat gelap.


"Apakah kamu serius? Bukankah kamu ada di sini selama sebulan terakhir? Lalu, apa yang terjadi dengan Kota Mallorca dan warganya?" tanyanya dengan nada rendah.


Ethan mendengar itu yakin akan satu hal. Bahwa peredaran informasi masih belum terlalu maju. Untuk informasi sebesar ini tapi Istana sama sekali tidak tahu… itu benar-benar memalukan.


Sementara Ethan memikirkan hal lain, pembicaraan Marquess dan Raja masih terus berlanjut.


"Tenang Yang Mulia, Kota Mallorca aman dan jumlah korban tidak mencapai angka 2000 jiwa," ungkap Marquess.


Raja, dan semua orang yang ada di sana membelalakkan mata mereka karena rasa terkejut.


"Apa? Apakah kamu main-main denganku, Marquess?" tanya Raja dengan nada yang sangat dingin.


Tentu saja akan seperti itu. Tidak masuk akal sama sekali, dimana serangan 7000 Monster hanya memakan korban jiwa dan luka sebanyak itu ditambah Kota tetap aman.


Di bawah tekanan yang luar biasa dari Raja, Marquess masih tidak kehilangan ketenangannya. Gelar Swordsman terkuat bukan hanya sekedar pajangan.


"Mungkin Anda tidak percaya, tapi hal ini benar-benar terjadi. Anda bisa bertanya pada Adventure Guild untuk memastikan apakah pengakuan ini benar atau tidaknya Yang Mulia."


Raja itu menatap Marquess beberapa saat sebelum akhirnya suasana di sekitarnya kembali melunak.


"Begitu… yah, kamu tidak akan bohong pada keluarga Kerajaan. Tapi aku akan bertanya pada Adventure Guild nanti hanya untuk memastikan," ucapnya dan menyesap teh untuk menenangkan diri.


Kemudian, Raja itu kembali bertanya lagi.


"Jadi, apa yang membawamu ke sini? Tidak mungkin kamu datang ke sini hanya untuk memamerkan prestasi, kan?"

__ADS_1


Kali ini gantian, Marquess yang ekspresi wajahnya menjadi serius. Dan Marquess membuka mulutnya.


"Ya. Dalang dari Stampede adalah Ras dari legenda, Mazoku."


__ADS_2