
Claire akhirnya sampai di tempat sumber kecemasannya berasal. Di depannya, ada tiga humanoid ungu dan sebuah lingkaran sihir besar.
Mazoku juga menyadari kedatangan dari Claire dan sudah menunggunya.
"Aku kira siapa yang datang, ternyata itu hanya seorang gadis manusia," ucap salah satu Mazoku dengan nada kecewa.
"Hey, jangan menurunkan penjagaan. Apa kamu tidak merasakan Mana miliknya itu?" tegur rekan lainnya.
Mazoku yang mengeluh tadi hanya mendengus.
"Hah. Lalu apa? Tidak mungkin-"
"."
Claire tidak memiliki waktu untuk berbicara dan segera menyerang. 9 tombak es ditembakkan ke arah tiga Mazoku itu.
"!"
"Cih."
Ketiga Mazoku berhasil menghindar dari serangan mendadak Claire.
Claire sama sekali tidak terkejut, dia sudah mendengar tentang kekuatan mereka dari Ethan, dan sudah menduga bahwa serangan setengah hati seperti itu dapat dengan mudah dihindari. Claire kembali merapal dan menyerang dengan sihirnya.
" ."
Tombak es menyerang seperti sebuah badai. Mazoku berhasil menghindar tapi tidak mulus dan mengalami beberapa luka di tubuhnya.
"Argh! Menyebalkan sekali! Maka terobos saja!"
Salah satu dari mereka langsung menerjang ke arah Claire untuk memaksa melakukan hand to hand combat.
"."
Crack.
Sebuah tembok tebal putih bersih tercipta di depan Claire.
Mazoku itu tidak berhenti dan menerjang ke tembok es.
"Hah! Jika hanya ini maka akan aku hancurkan saja!"
Bang!
Ledakan yang sangat keras terdengar ketika tinju dan sihir pertahanan beradu. Kepulan uap tercipta akibat ledakan itu.
Dan saat itu, di balik kepulan uap, sebuah lingkaran sihir tercipta.
"."
Crank. Crank.
Bunga es tercipta dari lingkaran sihir dan langsung menuju ke arah tiga Mazoku.
"Manusia yang merepotkan… ."
Sebuah api hitam ditembakkan ke arah sihir Es Claire. Uap kembali tercipta ketika kedua sihir saling bertabrakan.
Mazoku dengan belati di tangannya tiba-tiba saja muncul di belakang Claire.
"Seharusnya kamu jangan fokus hanya pada yang di depan," sebuah suara terdengar dari belakang Claire.
Claire tidak panik dan hanya tersenyum penuh makna.
"Aku tidak mengabaikan, justru aku paling waspada terhadapmu," balasnya dengan sebuah senyuman.
Mazoku itu bingung, dan rasa krisis dapat dirasakan olehnya. Tapi, itu sudah terlambat ketika sebuah lingkaran sihir muncul di bawahnya.
"Kamu!"
__ADS_1
Mazoku itu menatap Claire dengan wajah takut.
Claire tersenyum sangat manis kepada Mazoku itu dan mengucapkan nama mantranya.
"."
Mazoku itu mencoba untuk kabur, namun, sihir Claire jauh lebih cepat. Dalam waktu sepersekian detik, sebuah gunung es tercipta dari lingkaran sihir mengurung Mazoku itu.
Mazoku lainnya yang melihat itu terkejut dan meneriaki nama rekannya.
""Hyena!""
"Ayo kita selesaikan, aku harus pergi ke tempat anakku," ucap Claire tanpa bisa membaca suasana.
Kedua Mazoku lainnya menatap Claire dengan amarah yang luar biasa.
"Kamu! Kamu tidak akan mati dengan mudah!"
"Oh my, tentu saja. Karena aku masih harus melihat cucu-cucu imutku," balas Claire dengan bercanda.
Sikap Claire benar-benar membuat dua Mazoku itu kesal. Keduanya langsung melesat ke arah Claire dengan kecepatan yang luar biasa.
"Mati kamu manusia! !"
"."
Dengan tendangan dan pukulan penuh Mana, mereka menyerang ke arah Claire langsung.
Seharusnya, Mage normal tidak mungkin untuk merespon serangan secepat itu. Tapi, Claire sudah berkembang juga sejak setahun terakhir.
"."
Tiba-tiba saja, para Mazoku itu berhenti bergerak. Tubuh mereka menjadi kaku seketika.
""!'"
Mata mereka masih melotot marah ke arah Claire. Sangat menyeramkan melihat keduanya melotot seperti itu.
"Ini adalah akhirnya, ."
Seperti sebuah patung yang hancur ketika terkena tekanan, tubuh kedua Mazoku itu tiba-tiba saja retak dan hancur menjadi berkeping-keping.
Setelah memastikan kematian kedua Mazoku itu, Claire memeriksa lingkaran sihir yang dijaga oleh kedua Mazoku tadi.
"Ini… Summon Magic?"
Sebuah rune yang memungkinkan perjalanan satu arah terukir di atasnya. Claire pernah melihat hal ini sekali dulu, ketika dia masih menjadi seorang siswa.
"Sepertinya sudah berhenti berfungsi, tapi untuk jaga-jaga lebih baik dihancurkan, ."
Crank!
Dengan mengompres tekanan udara, Claire menciptakan ledakan yang sangat kuat dan menghancurkan lingkaran sihir tersebut.
"Pasti masih akan banyak lagi, aku harus pindah."
Setelah Magic Circle berhenti berfungsi, Claire segera pindah ke tempat lain untuk memeriksa apakah ada Magic Circle yang sama.
***
Sementara itu, di tempat lain. Ethan dan Lord dapat menyusul penculik dari Tuan Putri dan Pahlawan.
"Ayah, aku ingin bertanya untuk jaga-jaga, tapi apakah kamu membawa senjata?" tanya Ethan.
Lord mencoba untuk meraih pedangnya di pinggang, tapi dia sama sekali tidak bisa merasakan pedangnya.
Lord menatap Ethan dengan senyum yang menyebalkan.
"Sepertinya Ayah lupa membawanya. Ayah tidak pernah berpikir bahwa di Istana akan terjadi hal seperti ini," katanya sebagai alasan.
__ADS_1
Ethan tidak marah, atau lebih tepatnya dia tidak bisa marah karena dia sudah tahu akan seperti itu.
Ethan mengeluarkan sebuah belati dari dalam jas dan menatap Lord.
"Jika kamu memiliki belati, bisakah Ayah menahan para Mazoku itu?" tanyanya lagi.
Lord menyipitkan matanya, dia merasakan firasat buruk dari pertanyaan Ethan.
"Te-tentu saja, namun ada apa?" tanyanya dengan suara gagap.
Firasat buruk yang Lord rasakan semakin kuat ketika dia melihat senyum gelap yang Ethan miliki.
"Jika begitu, tolong alihkan perhatian para Mazoku itu sebanyak mungkin. Sementara itu, Aku akan pergi untuk menyelamatkan Putri dan Pahlawan."
Bahu Lord terkulai lemah, dia benar-benar ingin menolak, namun kali ini adalah waktu yang pas untuk menunjukkan kekuatannya di depan Ethan.
Wajahnya menjadi senyum berani dan dia memukul dadanya.
"Tentu, serahkan pada Ayah. Tapi, perlu untuk diingat, Ayah hanya bisa memberikan waktu sebanyak 15 menit, apakah tidak masalah untuk ini?"
Ethan tersenyum dan mengangguk. Bagi Ethan itu sudah lebih dari cukup.
"Tentu, jika begitu, terima ini, Ayah," jawab Ethan dan menyerahkan sepasang belati.
Lord menerimanya, dan wajahnya berubah menjadi serius.
"Jika begitu-" Lord ingin memberikan aba-aba, namun dia sama sekali tidak bisa merasakan kehadiran Ethan. "Ethan? Kemana anak itu hilang?"
Lord melihat sekeliling, dan dia tidak bisa menemukan kehadiran Ethan sama sekali.
"Anak yang luar biasa," gumam Lord.
Sekali lagi Lord sadar bahwa anaknya yang satu itu benar-benar diluar standar kemanusiaan.
"Yah, ayo kita lakukan tugas sebagai Ayah yang baik."
Dengan tatapan yang tidak pernah dilihat sebagai Marquess of Mallorca, Alfonso menatap ke arah para Mazoku itu dan…
Step.
Dengan satu tendangan, jarak antara dia dan Mazoku sudah tertutup.
"Mati."
Mazoku yang tiba-tiba saja mendengar suara itu, terkejut.
"Apa!?"
"Serangan!?"
Splash!
Salah satu dari mereka tiba-tiba saja kehilangan kepala mereka dan air mancur darah tercipta.
"Serangan! Semuanya fokus!"
""Mengerti!""
Semuanya mengambil posisi dan menatap ke arah penyerang yang tidak lain adalah Lord.
Lord yang terciprat darah tampak dua kali lebih menyeramkan dari sebelumnya.
"Berani sekali kalian menyerang Ibukota ketika ada Aku dan keluargaku," kata Lord dengan dingin.
Salah satu wajah Mazoku yang melihat Lord memucat.
"Ra-Rakshasa…."
Iblis Medan perang, julukan yang setiap orang berikan kepada Lord. Alasannya… tentu saja, karena ketika di Medan Perang, Lord terlihat seperti Iblis yang seluruh tubuhnya dipenuhi darah musuh.
__ADS_1
Lord tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya menantang.
"Nah, sekarang ayo maju. Aku lawan kalian semua secara bersamaan," kata Lord dengan nada merendahkan.