Glorious Chronicle

Glorious Chronicle
Bab 13 - Panti Asuhan(2)


__ADS_3

"Hiyaaa!"


"Oraa!"


Di halaman panti asuhan yang sangat luas, Ethan sedang bertarung melawan anak-anak yang ingin belajar bertarung.


Ethan menghindari semua serangan yang anak-anak lancarkan dari berbagai arah seperti dia bisa melihat masa depan atau dia dapat melihat dari sudut 360°.


"Hey, jika seperti ini kalian tidak akan pernah bisa bahkan mengalahkan Slime," ucap Ethan memprovokasi.


Hasilnya bagus. Anak-anak semuanya tersulut emosi mendengar kata-kata provokasi Ethan. Mereka menyerang dengan lebih bersemangat.


"Cih! Jangan sombong!"


"Sialan! Ora!"


Karena terlalu bersemangat, kata-kata mereka menjadi tidak terkendali. Clarissa yang sedang menonton dari jauh memiliki wajah khawatir.


"Mia, aku benar-benar minta maaf untuk sikap anak-anak… sepertinya mereka terlalu terbawa suasana," ucapnya menatap Mia yang ada di sebelahnya.


"Jangan khawatir. Tuan Muda bukanlah orang yang mempermasalahkan hal-hal sepele seperti itu," jawab Mia tanpa mengalihkan pandangannya dari Ethan.


Clarissa sedikit lega walaupun dia masih sedikit khawatir, karena Bangsawan adalah makhluk aneh yang bertindak sesuai dengan mood dan perasaan mereka.


Dan hanya dalam 5 menit, semua anak-anak jatuh di tanah dengan wajah lelah mereka.


"Hah… hah… Tuan Muda terlalu kuat…."


"Apakah Tuan Muda benar-benar anak berusia 8 tahun?"


Setelah melakukan berbagai macam cara untuk mengenai Ethan, mereka masih belum bisa bahkan membuat Ethan menarik pedang kayu yang ada di pinggangnya.


Ethan mengabaikan mereka semua dan pindah ke tempat Mia dan Clarissa sedang menunggu.


"Terima kasih atas kerja kerasnya, Tuan Muda," ucap Mia sambil menyerahkan handuk dan air.


Ethan balas mengangguk. Dia kemudian duduk di kursi kosong yang ada. Ethan melihat ke arah anak-anak yang sedang berdebat tentang bagaimana cara mengalahkan Ethan.


"Anak-anak ini, beberapa dari mereka adalah bakat yang luar biasa," puji Ethan.


Clarissa tersenyum senang mendengar pujian Ethan terhadap anak-anak.


"Benarkah? Jika seorang Jenius seperti Tuan Muda mengatakannya, maka sudah pasti seperti itu."


Itu bukan kata-kata kosong. Clarissa yang merupakan amatir juga bisa tahu bahwa Ethan cukup kuat untuk bisa melakukan gerakan-gerakan aneh ketika dia melawan anak-anak tadi.


Ethan mengangguk, dia kemudian mengalihkan pandangannya ke seorang anak laki-laki dengan rambut pirangnya yang kusam.


"Terutama Patrick. Apakah kamu tahu, Skill apa yang dimilikinya?" tanya Ethan.


Clarissa berpikir sejenak. Ketika masuk ke panti asuhan, anak-anak diperiksa Skill yang mereka miliki, dan Clarissa tidak mungkin menghafal mereka semua.


"Hm… Patrick ya… jika tidak salah, Skillnya adalah dan Atributnya adalah Petir dan Cahaya," jelasnya kurang yakin.

__ADS_1


Ekspresi bingung tergambar di wajah Ethan mendengar nama Skill dari Patrick itu.


"? Itu Skill yang cukup lucu, Skill seperti apa itu?"


Clarissa menggelengkan kepalanya dan mengangkat bahunya, atas pertanyaan Ethan yang kali ini.


"Aku tidak tahu. Tapi kemungkinan seperti namanya, yaitu berkaitan dengan sebuah harapan."


Ethan tidak kecewa, dari awal Ethan tidak berharap akan mendapatkan jawabannya. Tapi, Ethan punya beberapa tebakan efek dari Skill itu.


Kemudian, Ethan kembali mengganti topik pembicaraan sesuka hatinya.


"Clarissa, apakah Panti Asuhan memiliki sumber penghasilan?"


Penghasilan… tentu saja panti asuhan memilikinya yaitu, uang yang Tuan Tanah kirimkan. Tapi, hal itu saja tidak mungkin untuk membuat panti asuhan bertahan. Harus ada beberapa pemasukan lainnya, jika tidak ingin panti asuhan ini nantinya ketika jumlah anak bertambah. Clarissa tahu ini.


"Selain dari Tuan Muda, sama sekali tidak ada hal lain," jawab Clarissa serius.


Ethan kemudian menatap Clarissa. Ini adalah tatapan dari seorang pedagang.


"Jika begitu, bagaimana jika kamu, tidak, anak-anak memulai bisnis?" tanya Ethan.


Clarissa mengedipkan matanya beberapa kali. Saran Ethan memang masuk akal, tapi daripada mengajak perusahaan dagang, Ethan justru mengajak sebuah panti asuhan untuk menjalankan bisnis… itu sangat aneh.


"Apakah Anda serius, Tuan Muda?" tanya Clarissa memastikan bahwa dia tidak salah dengar.


"Tentu saja, apakah kamu bertambah tua dalam beberapa menit, Clarissa?" jawab Ethan sedikit berduri.


Clarissa sedikit syok ketika Ethan mengatakan candaan yang tidak lucu itu. Atau mungkin bukan. Tahu bahwa Ethan serius, suasana diri Clarissa berubah menjadi seperti pedagang sungguhan.


Ethan yang melihat itu berpikir bahwa DNA dari keluarga Dan memang tidak bisa berbohong. Saat Ethan hendak berbicara, Clarissa memberikan saran.


"Tunggu dulu, Tuan Muda. Kenapa kita tidak pindah untuk membicarakan ini?"


Ethan menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, aku sudah menggunakan sihir kedap suara dari awal, kamu tahu?" ucapnya melirik ke arah Clarissa nakal.


Clarissa segera melihat ke sekeliling dan benar saja, sebuah film tipis terpasang mengitari sekitar mereka. Clarissa menatap Ethan dengan wajah bodohnya.


"Kapan?" tanyanya bingung.


Tidak ada rapalan atau magic circle sama sekali yang muncul. Itu benar-benar sangat membingungkan bagi Clarissa yang tidak tahu apa-apa tentang sihir.


Ethan hanya tersenyum dan tidak membalas, sekali lagi dia kembali mengarahkan pembicaraan.


"Jangan terlalu dipikirkan, itu bukan bidang yang kamu kuasai. Sekarang, yang perlu kamu pikirkan adalah tentang bisnis saja."


Clarissa hanya bisa tertawa kering mendengar kata-kata Ethan, tapi itu hanya sesaat saja, dan dia kembali ke mode pedagangnya.


"Jadi Tuan Muda, apa yang Anda ingin lakukan untuk bisnis anak-anak?" tanya Clarissa dan menekankan kata anak-anak.


Anak-anak, masih minim dalam pengalaman dan panti asuhan dari awal hanya diperuntukkan bagi anak-anak, jadi… bisnis yang Ethan sarankan haruslah bisnis yang bahkan anak-anak bisa lakukan. Karena alasan itu Clarissa menekankan kata anak-anak pada kalimatnya.


Ethan menyadari hal itu, tapi dia tidak mungkin akan menawarkan hal tersebut, jika memang bisnis ini tidak bisa dijalankan oleh anak-anak.

__ADS_1


"Aku ingin anak-anak membuka sebuah cafe," ucap Ethan.


Clarissa memiringkan kepalanya bingung dengan kata baru yang didengarnya.


"Cafe?"


"Tempat untuk minum teh dan kopi. Sampai saat ini, teh hanya menjadi minuman kalangan kaya seperti pedagang dan Bangsawan. Tapi, aku berencana untuk menyebarkan kebiasaan minum teh untuk masyarakat biasa, sekaligus memperkenalkan kopi yang akan menjadi produk khas wilayah Mallorca," jelas Ethan.


Ya, sama seperti bar yang menjual minuman keras, Cafe ini akan menjadi tempat menjual teh dan kopi. Selain itu, Ethan juga akan sedikit menambahkan beberapa menu yang simpel dan cocok dengan keduanya.


Clarissa masih tidak bisa yakin, dan bertanya lagi.


"Apakah akan laku? Teh sangat mahal, kan?"


Di Kota yang mayoritas adalah Adventure yang sangat pilih-pilih terhadap suatu hal, Clarissa ragu apakah cafe akan laku atau tidak. Apalagi, teh cukup mahal dan tidak sesuai dengan pendapatan warga.


Tapi Ethan yakin bahwa hal itu akan laku. Dia sudah mempersiapkan banyak hal untuk hal ini.


"Tidak terlalu mahal karena teh yang digunakan bukanlah kualitas premium. Selain itu, apakah kamu pikir bahwa aku hanya menyuruh untuk membuka cafe saja?" tanya Ethan ambigu.


Clarissa sama sekali tidak bisa menebak apa yang Ethan rencanakan dan tebak. Jadi dia hanya menunggu Ethan untuk melanjutkan penjelasannya.


Tapi, alih-alih melanjutkan penjelasannya, Ethan justru mengeluarkan dua lembar perkamen dari tasnya.


"Ini, bacalah, dan pikirkan," ucap Ethan sambil menyerahkan.


Clarissa menerimanya dengan wajah bingung yang terpampang jelas. Tapi, wajah bingung itu segera berubah menjadi ekspresi yang sangat terkejut ketika dia mulai membaca perkamen.


"I-ini!? Apakah ini benar-benar mungkin!?" tanya Clarissa histeris.


Ethan mengangguk. "Tentu saja. Jadi, apakah kamu ingin mencoba bisnis ini?" tanya Ethan, lagi.


Kali ini, Clarissa tidak ragu lagi. Dia benar-benar yakin bahwa hal ini akan laku keras di pasar.


"Tentu saja! Tidak, tolong biarkan kami yang menjalankan bisnis ini!" ucap Clarissa membungkuk ke arah Ethan.


"Angkat kepalamu, jika seperti itu, anak-anak akan mengira aku sedang membully pengurus mereka, itu akan merepotkan," ucap Ethan main-main.


Clarissa kemudian mengangkat kepalanya dan tertawa kecil.


"Fufu, tentu saja. Tapi, Tuan Muda-"


Clarissa ingin berbicara hal terakhir yang paling penting, tapi Ethan segera memotongnya.


"Aku tahu. Aku akan memberikan pinjaman dana untuk panti asuhan. Jangka waktunya adalah 3 tahun, nominalnya segini, apakah cukup?" tanyanya.


Clarissa mengangguk senang melihat hal itu. Nominal yang Ethan berikan sangat besar, tapi dia yakin bahwa tiga tahun adalah waktu yang cukup untuk mengembalikan uang sebanyak itu dan bahkan masih lebih banyak.


"Terima kasih, saya harap semakin banyak orang seperti Anda," ucap Clarissa tersenyum sangat cantik.


Ethan hanya mengangkat bahunya atas pujian Clarissa dan dia sama sekali tidak bergeming di depan senyuman malaikat Clarissa.


"Bahkan jika kamu memujiku, tidak akan ada yang keluar sama sekali."

__ADS_1


"Fufu, sayang sekali."


__ADS_2