Glorious Chronicle

Glorious Chronicle
Bab 3 - Peri?


__ADS_3

Tak.


Seorang anak laki-laki menutup buku tebal yang telah dibacanya. Dia kemudian meregangkan tubuhnya yang kaku karena sudah terlalu lama duduk.


"Wah. Akhirnya aku menyelesaikan semua buku yang ada di perpustakaan ini." gumam anak laki-laki itu lega.


Saat itu wajahnya menjadi suram ketika dia mengingat apa yang sudah dibacanya di buku. Dia menatap ke langit-langit dan bergumam sendirian.


"Human Supremacy… tingkat sanitasi yang rendah… semua masalah yang sangat dasar ada di Dunia ini dan jadi masalah utama."


Human Supremacy, sebuah ideologi yang menyatakan bahwa manusia adalah pemimpin dari keempat Ras. Orang-orang penganut ideologi ini bahkan mengatakan jika Beastman sama dengan peliharaan dan Elf sama dengan barang konsumsi.


Anak laki-laki itu meringis kesal memikirkan hal-hal tersebut.


"Serius deh… pemikiran kalian benar-benar sangat terbelakang…" gerutunya. "Yah, ayo kita pikirkan itu nanti, sekarang bukan waktu untuk itu."


Anak laki-laki itu segera bangun dari tempat duduknya.


"Ayo kita segera pergi. Sudah waktunya untuk melakukan hal selanjutnya."


Dia mengambil buku-buku tebal yang sudah selesai dibacanya, dan meletakkannya kembali pada tempatnya semula.


Krieet.


Keluar dari perpustakaan, anak laki-laki itu bertujuan ke arah lapangan latihan pribadi dari keluarga Marquess.


Anak laki-laki itu adalah seorang Putra Kedua dari Marquess Mallorca yang diberikan tugas untuk menjaga perbatasan Kerajaan Catalunya dengan Hutan Hitam di Utara yang dikatakan sebagai tempat paling berbahaya di Benua ini.


Saat dia sedang berjalan, dia bertemu dengan seorang anak laki-laki yang tidak jauh lebih tua darinya.


Anak laki-laki lainnya juga menyadari anak laki-laki yang lebih muda.


"Ethan, kemana kamu akan pergi? Biasanya kamu tidak akan keluar dari perpustakaan pada jam ini?" tanya anak laki-laki yang lebih tua.


Anak laki-laki yang lebih muda, Ethan, sedikit membungkuk hormat ke arah anak laki-laki itu.


"Kakak Alvin, aku sudah selesai membaca semua buku di perpustakaan, dan sekarang aku berencana untuk pergi ke tempat latihan khusus." jawab Ethan sopan.


Mendengar itu, Alvin, Putra Pertama Marquess Mallorca sekaligus kakak Ethan sedikit terkejut, tapi itu hanya sesaat saja dan Alvin segera mengangguk.


"Eh? Kamu masih berusia 7 tahun… yah, itu wajar mengingat kamu sudah mulai membaca ketika berumur 3 tahun dan mengurung diri di perpustakaan sejak umur 5 tahun."


Selama dua tahun terakhir, Ethan hanya pergi ke perpustakaan setiap harinya. Orang-orang di Mansion Marquess, memberikan julukan Ethan sebagai Peri Perpustakaan atau Peri buku.


Ethan yang tahu tentang hal itu, memiliki wajah yang canggung dan pahit. Ini karena dia tidak bisa menyangkal rumor itu sama sekali.


"Jika kamu ingin ke tempat latihan khusus, apakah itu artinya kamu ingin mulai melatih fisik?" tanya Alvin menyadarkan Ethan kembali.


Ethan mengangguk. "Ah. Ya, Kakak. Bagaimanapun, aku harus mulai belajar Ilmu Pedang agar tidak tertinggal dari anak-anak lainnya."


Mendengar itu Alvin memegang dagunya dan mengangguk sambil memejamkan matanya seolah-olah berpikir dalam.


"Begitu… begitu… jika begitu, haruskah aku bantu? Walaupun tidak sebaik Ayah, aku ini cukup kuat, kamu tahu?"


Atas saran yang cukup tidak terduga itu, Ethan sedikit terkejut. Alvin adalah salah satu jenius terbaik di Kerajaan Catalunya bahkan di Benua yang dikatakan sebagai prospek paling cerah.


Ethan akan langsung setuju jika hari ini dia akan berlatih Pedang, tapi hari ini, dia tidak ada keinginan untuk melakukan hal itu, jadi Ethan menolaknya.


"Maaf kakak, tapi tidak hari ini. Hari ini aku hanya ingin berolahraga untuk membentuk otot dan stamina tubuh," tolak Ethan.


Mendengar jawaban Ethan, kakaknya tidak marah dan hanya tersenyum.


"Begitu… maka ketika kamu akan berlatih Ilmu Pedang, panggil aku, aku akan membantumu berlatih."


Ethan mengangguk sedikit dan tersenyum lembut kepada kakaknya.


"Um, aku mengerti. Jika begitu, aku permisi, Kakak."


"...."


Kakaknya yang terkejut dengan senyuman Ethan, berdiam diri di tempatnya sampai Ethan memanggilnya kembali.


"Kakak? Apakah kamu oke?"

__ADS_1


Kakaknya sedikit tersentak ketika Ethan memanggilnya ulang.


"Eh? Ah, ya, silahkan."


Ethan bingung, tapi dia memutuskan untuk tetap pergi dari tempat itu.


Sementara itu, Alvin yang ditinggalkan Ethan sendirian, menutupi wajahnya dan hampir menangis.


"Ethan… dia tersenyum! Jika aku memberitahu ini kepada Ayah dan Ibu, mereka pasti akan sangat iri," gumamnya menahan kegembiraan.


Alvin, adalah seorang Brother Complex yang sangat menyayangi adiknya.


**


Ethan akhirnya sampai di tempat latihan pribadi keluarga Marquess. Walaupun ada kata khusus pada namanya, pada akhirnya, tempat itu tetap terlihat seperti tempat latihan pada umumnya.


Ethan melihat sekeliling dan memperkirakan luas dari tempat itu.


"Hmm… tempat ini cukup luas, mungkin sekitar stadion bola basket?"


Jika berlari di tempat ini, seorang anak berusia 7 tahun akan langsung kelelahan. Tapi, Ethan bukan hanya anak kecil biasa.


"Sekarang saatnya kita mencoba Skill lain yang kita punya."


Ethan meregangkan otot-otot tubuhnya agar tidak kaku dan mengalami cedera. Tubuhnya yang masih anak-anak sangat rentan terhadap cedera.


"Pertama… ayo kita periksa batasan dari ." ucapnya.


Dan setelah tubuhnya berkeringat dan dirasa cukup panas, Ethan langsung mulai berlari mengitari lapangan. Ethan mengatur nafasnya agar tidak terlalu cepat lelah dan kehabisan nafas. Tapi, hasilnya justru membuatnya sangat terkejut.


"Ini… aku sama sekali tidak merasakan lelah atau sakit otot sama sekali…."


Setelah tiga putaran, Ethan sama sekali tidak merasakan gejala kelelahan atau nyeri otot dan sendi akibat berlari terlalu lama.


Ethan berhenti sejenak dan memeriksa segera memeriksa tubuhnya sendiri. Dia menekan betis dan pahanya beberapa kali dengan wajah yang cukup rumit.


"Otot-otot ini… sepertinya tumbuh. Aku cukup khawatir bahwa otot-otot ini tidak bisa tumbuh dengan benar."


Ya, dia sangat khawatir jika otot-ototnya sama sekali tidak akan tumbuh. Itu benar-benar tidak bisa dimaafkan olehnya dan dia benar-benar akan menyesal karena memilih Skill tersebut.


"Hmm… jika begini, aku benar-benar tidak perlu khawatir. Aku bisa berlatih seperti orang gila." ucap Ethan tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.


Kemudian karena terlalu bersemangat, Ethan terus berlatih dengan keras sampai Mia, Maid pribadinya datang menjemputnya.


"Tuan Muda, sudah waktunya untuk makan malam."


Ethan yang mendengar itu sedikit terkejut dan melihat langit di luar yang sudah berwarna jingga gelap. Melihat itu, Ethan segera menyelesaikan latihannya.


"Aku mengerti, aku akan segera kesana," ucapnya kepada Mia.


Dia kembali ke kamarnya sejenak sebelum pergi ke ruang makan untuk membersihkan diri dan juga mengganti pakaian yang dikenakan.


Krieet.


Membuka pintu ruangan, sudah ada tiga orang yang duduk di meja makan. Ethan sedikit membungkuk hormat ke arah mereka.


"Maaf membuat menunggu, Ayah, Ibu, Kakak."


Seorang Pria galak dengan rambut dan juga jenggot emasnya mengangguk. Itu adalah Ayah Ethan, Marquess of Mallorca, Alfonso.


"Tidak masalah. Duduk saja." ucapnya bermartabat.


Ethan segera duduk di bangkunya dengan patuh.


"Ethan, Ibu dengar dari Kakakmu Alvin, kamu sudah menyelesaikan semua buku yang ada di Perpustakaan, apakah itu benar?"


Kali ini, giliran seorang wanita yang jika dilihat sekilas terlihat seperti seorang gadis berusia 20 atau bahkan belasan tahun. Rambut putihnya yang seperti salju menjuntai panjang sampai punggung, dan mata merahnya yang indah dan elegan membuat orang-orang tidak percaya jika wanita itu berusia 32 tahun. Itu adalah Ibu Ethan, Marchioness of Mallorca, Claire.


Ethan menatap Ibunya. "Benar Ibu. Sudah tidak ada lagi buku yang bisa dibaca."


Wajah Ibunya menjadi sumringah mendengar jawaban Ethan.


"Jadi, apakah kamu sudah ingin berlatih sihir? Tidak, ayo kita mulai dari pemeriksaan Atribut milikmu lebih dulu?" ucapnya bersemangat.

__ADS_1


Lord, Alvin dan Ethan yang melihat sikap dari Claire, tersenyum pahit. Itu adalah sikapnya yang biasa yang tidak sesuai dengan auranya yang anggun.


Sadar akan tatapan dari keluarganya, Claire menjadi malu.


"Berhenti menatap Ibu seperti itu."


Lord hanya tersenyum pahit dan kembali menatap Ethan.


"Ethan, aku rasa tidak masalah untuk segera memeriksa atribut sihir yang kamu miliki. Sihir jauh lebih rumit daripada Ilmu Pedang, belajar sejak dini adalah salah satu metode terbaik untuk menjadi penyihir hebat." Ucap Lord memberikan nasehat.


Ibunya juga mengangguk serius sebagai dukungan terhadap apa yang Lord katakan.


"Ayahmu benar. Selain itu… sepertinya kamu memiliki Mana yang cukup besar." ucapnya menatap langsung ke mata Ethan.


Ethan yang mendengar itu diam sejenak untuk memikirkan. Tapi, itu hanya sesaat saja.


Ethan mengangguk dan memberikan jawabannya. "Aku mengerti, biarkan aku untuk memeriksa atribut milikku, Ayah, Ibu."


Mendengar itu, semuanya tersenyum lembut ke arah Ethan.


"Jika itu Ethan, dia pasti akan mendapatkan atribut yang luar biasa."


"Oh, aku yakin hal itu."


"Bagaimanapun, Ethan adalah seorang jenius, tidak mungkin dia gagal."


Wajah Ethan sedikit meringis atas kepercayaan buta yang keluarganya berikan. Kepercayaan itu sangat membebani dirinya.


Seolah tidak peduli dengan hal itu, tiba-tiba Alvin mengatakan hal-hal yang membuatnya semakin tertekan.


"Ngomong-ngomong Ethan, bisakah kamu sedikit tersenyum lagi, untuk Kakakmu ini?" tanyanya kepada Ethan tapi melirik Ayah dan Ibu.


Ethan yang mendengar itu memiringkan kepalanya tidak mengerti.


"Apa-"


Tapi, sebelum dia selesai bertanya, Ayah dan Ibunya tiba-tiba mengeluarkan suasana yang sangat mencekam. Bukan hanya keduanya, bahkan para Maid dan Butler memiliki suasana yang sama.


"Apa maksudnya, itu?"


"Benar Alvin, apa maksudnya dari Ethan tersenyum?"


Ayah dan Ibunya bertanya dengan nada rendah seperti sedang melakukan interogasi. Di sisi lain, Alvin masih mempertahankan ekspresi sombongnya.


"Apa? Tentu saja ini secara harfiah. Apakah Ayah dan Ibu tidak tahu apa itu tersenyum?" tanyanya dengan nada merendahkan.


Mendengar itu, Ayah dan Ibunya menatap Ethan menakutkan. Ethan yang melihat tatapan keduanya, menjerit dalam hatinya.


"Ethan, apakah yang Alvin katakan itu benar?"


"Ethan, itu bohong kan? Kamu bahkan belum pernah tersenyum pada Ibu."


Ethan bingung, dan hanya mengangguk saja sebagai jawaban.


Melihat jawaban Ethan, suasana dari Ayah dan Ibunya seperti Dunia mereka sudah runtuh.


"Tidak mungkin…."


"Senyum Ethan…."


Suasana yang sangat suram memenuhi ruang makan. Bukan hanya dari Ayah dan Ibunya, tapi juga dari para Maid yang ada di ruang makan. Semuanya menembak Alvin dengan tatapan iri dan dengki yang luar biasa. Alvin tidak peduli dan masih mengenakan senyum lebar di wajahnya.


Ethan yang entah bagaimana tahu bahwa itu adalah masalah jika seperti ini, mengambil langkah.


"Ayah, Ibu, jangan khawatir. Ayah dan Ibu tidak tergantikan bagiku!" ucap Ethan dengan senyum secerah matahari.


Melihat itu semuanya benar-benar terpesona dengan senyuman Ethan.


"...."


"Peri… tidak, aku yakin peri juga akan malu melihat Ethan…."


"Ya, dia tidak mungkin manusia."

__ADS_1


Mereka bergumam hal-hal yang tidak masuk akal. Beberapa maid bahkan pingsan dan mimisan. Setelahnya, senyum Ethan dikatakan sebagai bencana yang membawa kesenangan.


__ADS_2