
Hari berikutnya, Ethan yang malu karena kejadian kemarin memutuskan untuk mengambil udara segar, dan keluar Mansion. Tujuannya kali ini adalah panti asuhan yang sedang di bangun untuk anak-anak yatim piatu di kota Mallorca. Belum ada sistem panti asuhan di Dunia ini, karena itu Panti asuhan di kota Mallorca ini adalah yang pertama di Dunia ini.
Ethan menatap keluar jendela dengan wajah yang sumringah. Tidak ada kejelekan pada ekspresi wajahnya seperti saat pertama kalinya datang ke Kota.
"Udara kota sudah mulai membaik. Untung saja masyarakat tidak banyak bertanya dan dengan patuh mengikuti apa yang diminta," gumam Ethan yang dalam suasana hati yang baik.
Senyum Ethan hari ini dua kali jauh lebih cerah dibandingkan hari-hari biasanya. Mia, yang satu kereta dengan Ethan harus menahan diri agar tidak kehilangan kendali dirinya sendiri agar tidak kehilangan kesadaran atau bahkan akal sehatnya.
"Tentu saja Tuan Muda. Sepertinya warga juga sudah muak dengan bau yang ada," jelas Mia.
Warga Dunia ini, bukannya tidak muak dengan bau yang ada. Mereka bahkan mungkin lebih muak dibandingkan dengan Ethan, tapi mereka tidak tahu bagaimana menghilangkannya dan malas untuk berubah.
Ethan mengangguk. "Sepertinya begitu, hal ini tidak mungkin terjadi kecuali adanya kesadaran diri pada masyarakat."
Akhirnya, kereta berhenti tepat di depan sebuah bangunan yang cukup luas dan bagus. Ethan segera turun dari keretanya tepat ketika kereta itu berhenti.
Ethan melihat-lihat sekeliling wilayah panti asuhan. Ini memiliki halaman yang cukup luas untuk anak-anak bermain. Walaupun belum rampung 100% tapi sudah terlihat cukup bagus dan bisa ditempat.
"Selamat datang, Tuan Muda Ethan."
Saat Ethan sedang melihat-lihat sekeliling, sebuah suara datang menyambutnya. Seorang gadis muda yang usianya mungkin sekitar 18 tahun.
"Apakah Anda adalah orang yang bertanggung jawab di tempat ini?" tanya Ethan.
Gadis itu tersenyum lembut, itu seperti orang suci sungguhan.
"Benar, perkenalkan nama saya Clarissa Dan. Saya adalah salah satu korban penculikan dari para pedagang budak yang diselamatkan oleh Ksatria," ucapnya sopan.
Ethan yang mendengar nama gadis itu sedikit terkejut, kaget.
"Dan? Apakah kamu dari Perusahaan dagang Dan?" tanya Ethan.
Perusahaan dagang Dan, adalah salah satu perusahaan dagang terbesar di Kerajaan Catalunya. House of Mallorca adalah salah satu dari Client mereka.
Clarissa juga kaget ketika Ethan menyebut nama keluarganya seolah-olah dia tahu hal itu dengan baik.
"Oh Anda benar-benar berpengetahuan luas seperti yang dirumorkan, Tuan Muda. Benar, saya adalah Putri kedua dari Perusahaan dagang Dan, Clarissa Dan," Clarissa memberikan pujian tulus.
Ethan tersenyum pahit. Dia benar-benar penasaran rumor seperti apa yang ada di Kota tentangnya.
"Sepertinya banyak rumor ya. Yah, jangan terlalu percaya pada rumor, karena tidak ada hal baik yang datang dari rumor tanpa bukti."
Clarissa tertawa kecil melihat respon Ethan itu.
"Fufu, saya akan mengingatnya," ucapnya. Kemudian, dia mempersilahkan Ethan untuk masuk."Silahkan masuk, Tuan Muda."
"Tentu."
Ethan tanpa malu-malu masuk ke dalam panti asuhan. Saat dia masuk, anak-anak yang sedang bermain berhenti bermain ketika mereka melihat Ethan.
"Hey, siapa anak itu?"
"Dia sangat tampan…."
"Apakah dia Pangeran yang datang untukku?"
"Bocah Stress."
Wajah Clarissa menjadi kaku ketika mendengar kata-kata yang anak-anak ucapkan. Sementara itu, Ethan hanya bisa tertawa kering mendengar pertukaran yang diragukan apakah itu benar-benar dari anak-anak.
__ADS_1
Sebelum semakin kemana-mana, Clarissa mengambil alih perhatian.
"Anak-anak, jaga sikap kalian. Orang ini adalah Putra Kedua Tuan Tanah, yaitu Tuan Muda Ethan von Mallorca. Beliaulah yang membuat rumah ini untuk kita, ucapkan terima kasih pada Beliau."
Anak-anak itu terkejut. Mereka tidak sebodoh itu tidak tahu apa artinya sebagai Anak Tuan. Sebagai masyarakat pemukiman kumuh selama ini, mereka benar-benar tahu apa yang dinamakan hubungan hierarki.
Anak-anak semuanya menundukkan kepalanya ke arah Ethan dan mengucapkan terima kasih bersamaan.
"""Terima kasih atas kebaikan Anda, Tuan Muda!"""
Perasaan geli menggelitik hatinya melihat anak-anak kecil itu begitu menggemaskannya melakukan hal bersamaan. Ethan benar-benar ingin bermain dengan mereka, tapi Ethan tahu status dia dan ada martabat yang harus dijaga.
Jadi, Ethan menjawab layaknya seorang Bangsawan.
"Angkat kepala kalian. Bayar rasa terima kasih kalian dengan tidak merepotkan orang-orang di sekitar kalian, belajar yang benar, dan jadilah orang sukses di masa depan. Jangan membuat pilihan karena telah menolong kalian itu menjadi salah karena kelakuan kalian. Apakah kalian mengerti?"
Artinya, jadilah orang baik dan raihlah masa depan yang jauh lebih baik lagi. Tapi, anak-anak tidak mungkin mengerti itu, dan mereka hanya mengerti bahwa jangan sampai membuat Ethan malu dan menyesal telah menolong mereka dan jadilah berguna!
Anak-anak itu tersenyum lebar dan mengangguk.
"""Mengerti!"""
Melihat mata anak-anak itu, Ethan merasa ada yang salah dalam penerimaan maksud dari perkataannya….
Clarissa berbicara sebelum Ethan tahu apa yang salah dari apa yang dikatakannya sendiri.
"Jika begitu, kembali bermain. Tuan Muda akan ada urusan dengan Kakak."
Mendengar hal itu, ada dua kubu respon dari anak-anak. Yang laki-laki, menatap Ethan iri dengki, dan para gadis menatap Clarissa tidak setuju dan cemburu.
Clarissa mengabaikan mereka semua dan kembali berbicara dengan Ethan.
Ethan mengangguk. "Mm."
Ethan benar-benar kagum dengan ketebalan wajah yang dimiliki oleh Clarissa. Dia berpikir bahwa Clarissa adalah seorang Iblis dengan topeng malaikat.
Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya sampai di ruang tamu khusus untuk tamu yang memiliki kedudukan.
"Silahkan duduk, Tuan Muda Ethan."
Ethan segera duduk di sofa yang ada. Clarissa menyediakan teh hijau yang sama persis dengan yang Ethan suka. Setelah menyediakan teh, Clarissa duduk di sofa yang ada di seberang Ethan dan langsung membuka obrolan.
"Tuan Muda, ada bisnis apa sampai-sampai Anda datang ke tempat ini sendiri?" tanyanya tanpa basa-basi.
Meletakkan cangkir tehnya, Ethan memberikan isyarat lima jari. Tentu saja hal itu membuat Clarissa bingung jika tanpa penjelasan lebih lanjut. Jadi, Ethan menjelaskan.
"Aku ingin 5 anak di sini, untuk menempuh pendidikan di Akademi Kerajaan. Untuk dana, kendaraan dan perlengkapan lainnya aku yang akan menanggungnya."
"Apa!?"
Saking terkejutnya, Clarissa tanpa sengaja berteriak dan bangun dari kursinya. Respon yang Clarissa tunjukkan adalah hal yang benar. Akademi Kerajaan adalah Akademi terbaik yang hanya menerima murid-murid berbakat yang tidak memandang status. Ujiannya akan sangat sulit dan pesaingnya berasal dari segala penjuru Negara.
Ethan hanya diam menatap tehnya di meja, tidak menjawab pertanyaan Clarissa. Clarissa tersadar dengan sikapnya yang tidak sopan itu dan segera membungkuk minta maaf.
"Maafkan kekasaran saya Tuan Muda. Tolong maafkan saya," ucapnya sungguh-sungguh.
Ethan menjentikkan jarinya kepada gelas kaca yang ada di mejanya. Ini adalah gelas kaca yang Ethan miliki dan satu-satunya di Benua.
"Tentu. Itu adalah respon yang sangat normal ketika mendengar apa yang aku katakan. Jadi aku sama sekali tidak tersinggung, jadi angkat kepalamu," Ethan berbicara sama sekali tidak seperti seorang anak kecil.
__ADS_1
Clarissa merasa lega ketika dia mendengar itu dan dia mengangkat kepalanya sesuai dengan apa yang Ethan suruh.
Kemudian, Ethan melanjutkan kata-katanya lagi.
"Aku tidak meminta anak secara acak. Tentu saja ada beberapa syaratnya,"
Clarissa tidak kaget. Tentu saja pasti akan seperti itu. Ethan memang baik, tapi dia bukan orang bodoh yang asal menghamburkan uang. Seperti panti asuhan ini, memang benar bahwa ini dibangun atas niat baik, tapi tentu saja ada alasan lainnya.
"Jika saya boleh tahu, apa itu, Tuan Muda?"
Ethan mengangkat jari telunjuknya. "Pertama, mereka yang akan menetap dan tinggal di Kota ini ketika mereka lulus,"
Ya, ini adalah syarat mutlak yang Ethan minta. Ini untuk tujuan selanjutnya yang akan Ethan lakukan.
"Selanjutnya, aku ingin mereka yang memiliki nilai terbaik. Hanya dua ini saja yang aku minta tidak ada hal lainnya."
Tentu saja kemampuan dan bakat adalah yang terpenting. Akademi Kerajaan, bukanlah tempat yang bisa dimasuki hanya dengan tekad yang kuat dan kekuatan pertemanan.
Clarissa mengerti sebagian apa yang Ethan katakan. Tapi ada beberapa hal yang belum jelas baginya.
"Bisakah saya mengajukan beberapa pertanyaan, Tuan Muda?"
"Tentu."
Ketika Ethan memberikan izin, Clarissa segera mengajukan pertanyaan.
"Pertama, Anda mengatakan bahwa mereka akan menetap di Kota ini… apakah itu artinya mereka akan menjadi bawahan Anda?"
Ya, seorang Lord tidak bisa menahan warganya untuk pergi. Apalagi Ethan hanya sekedar Putra Kedua dan tidak berniat menjadi seorang Lord.
"Ya, dia akan menjadi guru di panti asuhan ini. Karena aku tidak mungkin ingin mengajar di sini selamanya."
Kali ini, bukan hanya Clarissa tapi Mia juga ikut terkejut. Jelas sekali apa yang Ethan coba untuk katakan.
"Tu-Tuan Muda, apakah Anda benar-benar serius? Bisakah Anda pikirkan lagi?" tanya Clarissa.
Membuat seorang Putra Tuan Tanah mengajar anak-anak yatim piatu… itu adalah hal yang sangat tidak pantas, jika hal ini diketahui oleh umum, maka image Ethan akan hilang. Jadi wajar saja jika Clarissa gelisah.
"Saya juga setuju dengan Nyonya Clarissa, ini keputusan yang terlalu terburu-buru,"
Mia juga menentang keputusan Ethan itu. Ini adalah pertama kalinya Mia menentang seperti itu.
"Hmm? Jika begitu aku ganti kata-katanya. Aku akan bermain pedang dengan mereka. Apakah ini tidak masalah?"
Clarissa benar-benar ingin memprotes bahwa bukan masalah sebutannya tapi kegiatannya. Clarissa menatap Mia meminta bantuan untuk menjelaskan, tapi Mia hanya menggelengkan kepalanya sebagai tanda bahwa dia juga sudah menyerah.
Setelah melihat tidak adanya komentar dan pertanyaan lain, Ethan bangun dari kursinya.
"Jika sudah tidak ada yang ditanyakan maka aku akan pergi. Tolong ajarkan anak-anak itu baca tulis hitung. Jangan khawatir, aku akan menaikkan gajimu."
Clarissa ikut bangun dan membungkuk hormat ke arah Ethan.
"Saya mengerti, terima kasih atas kebaikan Anda, Tuan Muda."
Ethan melambaikan tangannya tanpa berbalik arah.
"Don't Mind."
Clarissa hanya menatap punggung Ethan dengan senyum di bibirnya, matanya seperti sedang menatap sebuah hal yang sangat indah tidak tersentuh.
__ADS_1
"Tuan Muda adalah orang yang luar biasa… jika saja aku lebih muda, aku pasti akan bersedia menjadi selirnya bahkan jika istrinya akan lebih dari 100 nanti," Clarissa tersenyum pahit. "Yah, aku sudah terlalu tua. Jadi ayo kita cari yang lain saja."