Glorious Chronicle

Glorious Chronicle
Bab 5 - Mulai Pelatihan?


__ADS_3

Saat ini, Ethan sedang berlatih dengan Ibunya di taman belakang.


"Karena kamu sudah menghafal semua buku yang ada, maka Ibu rasa Ibu tidak lagi harus menjelaskan tentang sihir kepada Ethan, kan?"


Ethan bukan hanya sekedar selesai membaca semua buku tapi juga menghafalnya. Ini adalah hal yang baru orang-orang di mansion ketahui ketika dia mengajari Alvin yang setahun lagi, akan masuk ke Akademi. Ketika orang-orang di mansion mengetahui, hal ini, kehebohan yang sangat besar muncul di mansion.


Atas pertanyaan Ibunya, Ethan mengangguk.


"Ya, Ibu."


"Nah, jika begitu, sekarang kamu harus mulai dari merapalkan mantra." ucap Ibunya.


Bingung, Ethan memiringkan kepalanya dan mengajukan pertanyaan.


"Bukankah seharusnya kita mulai dari [Mana Detected], Ibu?"


Ya, normalnya, anak-anak harus belajar dari merasakan energi mana dalam tubuh mereka. Proses ini biasanya yang paling lama, karena bentuk energi mana seseorang sangat samar dan unik untuk setiap orang.


Ibunya yang mendengar itu tersenyum penuh arti ke Ethan.


"Aku tahu kamu sudah melewati fase itu sejak berusia 5 tahun, kamu tahu?"


"!"


Ethan menjadi tegang mendengar hal itu. Dia tidak pernah menyangka bahwa dia akan benar-benar terlihat.


Ibunya yang melihat ekspresi terkejut Ethan, tersenyum dan berubah menjadi tawa kecil.


"Fufu, apakah kamu pikir, kamu dapat dengan mudah mengelabui Ibumu ini, Ethan?"


Alih-alih menjawab, Ethan justru bertanya tentang hal yang membuatnya penasaran.


"Bagaimana? Aku rasa aku sudah berusaha semampu mungkin menyembunyikan Mana…. !"


Saat itu Ethan akhirnya mengerti alasan dirinya ketahuan oleh Ibunya. Sebuah titik buta yang sama sekali dia tidak sadari.


Membaca pikiran Ethan, Ibunya mengangguk.


"Kamu benar. Justru hal itu yang membuat Ibu sadar. Seseorang yang belum bisa merasakan Mana, tidak mungkin untuk mengontrol Mana sebaik itu, bahkan sampai Ibu sama sekali tidak tahu jumlah pasti kapasitas Mana milik Ethan," jelasnya sesuai dengan yang Ethan pikirkan.


Ethan hanya bisa tersenyum pahit karena kesalahan yang dibuatnya sendiri.


"Sepertinya aku masih butuh waktu untuk utuh sepenuhnya."


Ibunya tertawa mendengar kata-kata Ethan itu.


"Fufu, apa yang anak kecil katakan?"


Ethan hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban. Ibunya tidak lagi mengejar dan lanjut kelas tentang sihir.


"Jadi, sudah sejauh mana kamu dalam belajar otodidak?" tanyanya.


Ethan yang sedikit tidak senang bahwa hanya dia yang terkejut, mencoba sedikit nakal.


"Sejujurnya Ibu. Aku bahkan sudah bisa tanpa rapalan," ujarnya.


Ibunya membelalakkan matanya, bola matanya benar-benar hampir keluar dikarenakan rasa keterkejutannya yang luar biasa.


"Tanpa rapalan!? Serius!?" tanya berteriak.


Ethan tersenyum dan alih-alih menjawab, dia mengulurkan tangannya.


"."


Craack.


Saat itu, sebuah es muncul dan perlahan-lahan membentuk sebuah patung seseorang, yaitu Claire, Ibunya.

__ADS_1


Ethan menyerahkannya pada Ibunya untuk dilihat.


"Bagaimana, Ibu?" tanyanya dengan bangga.


Claire yang melihat itu, sama sekali tidak bisa berkata-kata apa-apa. Itu dikerjakan dengan amat detail sampai kebagian-bagian kecil juga. Yang jadi kelemahannya adalah waktu aktivasi dan pembentukannya sekaligus, konsumsi Mana yang terlalu boros dan tidak perlu.


"I-ini… sempurna. Walaupun ada beberapa yang kurang, tapi itu hanya tinggal masalah waktu saja," puji Claire tulus.


Mendengar itu, wajah Ethan semakin sombong, dadanya semakin tegap, dan juga hidungnya semakin panjang.


"Jadi, apakah aku lulus, Ibu?"


Ibunya yang mendengar itu menatap Ethan dan tersenyum.


"Konyol sekali jika seperti ini tidak lulus. Tapi, tetaplah datang setiap sore kesini, Ibu sudah lama ingin mengadakan pesta teh denganmu."


Atas permintaan sederhana Ibunya, Ethan segera mengangguk.


"Tentu, selain itu, aku juga harus belajar tentang etika dan pelajaran umum. Tolong bantuannya, Ibu?" ucapnya tersenyum manis.


Ibunya yang melihat itu, tidak tahan lagi dan segera memeluk Ethan erat.


"Uwaaaah! Ethan! Kamu benar-benar sangat manis! Aku harap kamu selalu jadi anak kecil!"


"Hmph!"


Dejavu yang mengerikan terjadi. Rasa Trauma yang perlahan-lahan hilang bangkit kembali di benak Ethan.


"!"


Hari itu, Ethan berhasil diselamatkan ketika Maid pribadi Ibu, Nia, datang dan memberitahu Claire bahwa Ethan sudah tidak sadarkan diri.


Ngomong-ngomong, Nia adalah orang yang sama yang membantu Ethan di insiden yang pertama juga.


***


"Sudah aku bilang, sebagai Kakak, aku adalah yang paling cocok untuk mengajarkan Pedang untuk Ethan," ucap Alvin.


Lord yang mendengar itu mendengus dan membalas memprovokasi.


"Hah! Alvin, kamu bahkan belum pernah bisa membuatku bergerak dari tempat. Apa yang bisa diajarkan oleh orang sepertimu itu."


Atas serangan fakta yang sangat menyakitkan itu, Alvin tidak dapat membalas dan dia segera menghunuskan pedangnya.


"Jika begitu, ayo kita lihat sekarang! Jika Ayah pindah dari tempat Ayah saat ini, itu artinya aku menang, dan jika selama 5 menit aku gagal, itu artinya Ayah menang, bagaimana?" tanya Alvin.


Lord sama sekali tidak gentar atas tantangan Alvin, dan Lord justru tersenyum.


"Oke, jangan tarik kata-kata itu, Alvin."


"Tidak akan aku melakukan hal memalukan seperti itu di depan Ethan, kamu tahu?"


Setelah pertukaran kata-kata berakhir, Alvin dan Lord sama-sama mengambil kuda-kuda mereka dan saling memandang waspada.


Alvin, mengambil langkah pertama karena dia adalah pihak yang akan rugi jika terlalu lama menilai.


Step.


Dengan kecepatan yang jauh lebih cepat dari anak-anak seusianya di Bumi, Alvin langsung sampai di depan Lord.


"Hah!"


Serangan tebasan vertikal dilancarkan ke arah bahu kanan dari Lord.


Clank!


Suara pedang kayu yang saling bersilangan bergema. Itu karena serangan Alvin dengan mudah dihalau oleh Lord.

__ADS_1


"Ck!"


Alvin kesal, tapi dia tetap tenang. Alvin terus melancarkan serangan bertubi-tubi dari segala arah. Perlahan-lahan kecepatan pertukaran pedang di antara keduanya semakin meningkat sampai-sampai, tidak mungkin diikuti oleh mata orang normal.


Memiliki mata khusus, dan sebagai Master Swordsman di kehidupan sebelumnya, Ethan bisa dengan mudah melihat gerakan pedang keduanya.


Ethan menatap keduanya dengan mata kagum.


"Ini… luar biasa," puji Ethan kagum.


Aliran Pedang yang keduanya gunakan sama, yaitu Gale Sword, gaya pedang dari House of Mallorca. Gerakan pedang yang sangat ganas yang bertujuan untuk mendominasi musuh… ketika dua gaya ini saling berhadapan terlihat seperti kekacauan yang luar biasa.


Saat itu, Alvin melakukan kesalahan, Alvin menyerang ketika melihat celah yang terbuka yang disiapkan sebagai jebakan oleh Lord.


"Ah, selesai."


Dan benar saja, beberapa saat kemudian, hasil sudah keluar dan pemenangnya jelas, yaitu Lord.


Clank, Clank!


Pedang Alvin jatuh ke tanah dan Pedang Lord terhunus ke leher Alvin. Keduanya, sama-sama memiliki nafas yang tersengal-sengal.


"Hah… hah…."


"Huh…."


Alvin yang mengalami kekalahan itu, menutup matanya dan menyatakan kekalahannya.


"Aku menyerah."


Lord yang mendengar itu tersenyum. Lord mengulurkan tangannya ke arah Alvin.


"Oh, itu pertandingan yang bagus. Ayo kita lakukan lagi lain kali," ucap Lord tanpa kebohongan.


Alvin melihat wajah Lord dan seperti yang dikatakannya, dia memiliki ekspresi yang puas di wajahnya.


Alvin meraih tangan Lord dan tersenyum menyegarkan.


"Aku mengerti, lain kali aku tidak akan kalah."


"Oh, aku menantikannya."


Ethan yang melihat bahwa mereka sudah selesai dengan drama remajanya itu, segera mendekat.


"Itu pertandingan yang luar biasa, Ayah, Kakak," puji Ethan.


Saat Ethan memuji, keduanya memiliki senyum ceroboh di wajah mereka.


"Hehehehe, yah ini tidak seberapa!"


"Ayah benar, kami bisa lebih dari ini jika ini adalah pertandingan yang sebenarnya!"


Itu bohong. Keduanya sudah mengeluarkan semua yang mereka bisa kecuali sihir, pada pertandingan ini.


Ethan tahu itu, tapi dia memutuskan untuk percaya pada saat ini.


"Oh! Benarkah!? Itu hebat!"


Senyum keduanya semakin ceroboh ketika mendengar pujian Ethan.


"Ehem." Lord pura-pura batuk. "Lebih dari itu Ethan, ayo kita mulai latihan Ilmu Pedangnya."


"Ah, untuk itu Ayah, bisakah kamu melihat gerakan pedang milikku lebih dulu?" tanya Ethan.


Lord dan Alvin sama-sama bingung. Ethan tidak menjawab dan tersenyum penuh arti terhadap keduanya.


"Silahkan perhatikan dan berikan pendapat dari kalian berdua."

__ADS_1


__ADS_2