
Hari ini, adalah hari pertama musim semi. Dan juga hari dimana Alvin akan berangkat ke Akademi Kerajaan. Selain itu, Ethan sudah berusia 8 tahun dari sebulan yang lalu.
Di depan Mansion House of Mallorca, Alvin memeluk Ethan dengan erat.
"Aku harap kamu segera besar dan bersekolah bersama dengan Kakak, Ethan."
Ethan tersenyum pahit mendengar ucapan kekanakan Alvin. Dia balas memeluknya dan berbicara.
"Itu tidak mungkin Kakak. Selain itu, jika aku datang bersama dengan Kakak, aku tidak lagi perlu minta tolong pada Kakak tentang hal “itu”, kan?"
Alvin sedikit cemberut mendengar hal itu dan dia melepaskan pelukannya.
"Jika begitu mau bagaimana lagi," ucapnya dan ekspresinya berubah menjadi senyuman.
Alvin kemudian menatap Lord dan Claire.
"Ayah, Ibu. Aku berangkat dulu."
Ayah dan Ibunya tersenyum dan mengelus kepala Alvin dengan lembut. Tapi, berbeda dari wajah dan suasana keduanya, apa yang Lord dan Claire katakan benar-benar sangat kurang ajar.
"Ya. Dapatkan Ranking 1 jangan membuat Ethan malu ketika dia datang nanti."
"Jika kamu tidak mendapatkan Ranking 1, jangan harap untuk bertemu dengan Ethan lagi, kamu mengerti itu, Alvin?"
Dan yang membuatnya lebih konyol lagi, Alvin tersenyum lebar dan mengangguk.
"Tentu saja, Ethan sudah mengajariku dengan baik. Jadi jangan khawatir!" balas Alvin dengan senyum cerah.
Ethan yang melihat pertukaran keluarganya itu benar-benar merasa khawatir dengan masa depan wilayah Mallorca.
"Jika begitu, aku berangkat."
"""Ya, hati-hati."""
Alvin segera naik ke kereta dan kereta itu segera berangkat. Lord, Claire dan Ethan menunggu di tempat sampai Alvin sudah tidak terlihat lagi.
Dan saat Alvin sudah tidak terlihat lagi, Lord berbicara dengan Ethan.
"Ethan, apakah kamu ada waktu hari ini?" tanyanya. Suasananya benar-benar serius.
Merasa bahwa ada masalah yang cukup serius hingga membuat Lord memiliki suasana seperti ini, Ethan mengangguk.
"Ya, tidak masalah Ayah."
"Jika begitu, ayo ikut Ayah. Claire juga."
"Tentu," Claire mengangguk.
__ADS_1
Jadi dipimpin oleh Lord, Claire dan Ethan pindah ke tempat kerja Lord.
Ketika sampai di tempat kerja Lord, pemandangan tidak ada yang berubah kecuali dokumen yang semakin menumpuk. Ethan dan Claire sudah menyerah tentang hal itu, jadi keduanya pura-pura tidak sadar.
"Duduklah lebih dulu,"
Ketiganya segera duduk dan Tian membuatkan teh untuk ketiganya.
"Jadi, ada apa Ayah?" tanya Ethan.
Ayahnya mengangguk dan dia berbicara dengan wajah yang rumit.
"Musim dingin kemarin, seperti yang Ethan katakan, kami melakukan pembongkaran pada Wilayah pemukiman kumuh untuk membuka lahan. Dan hasilnya adalah… para Ksatria menemukan pedagang budak ilegal di tempat itu," ucapnya dengan penyesalan.
Di Kerajaan, perbudakan diizinkan, tapi hanya untuk budak hutang dan kriminal. Perbudakan ilegal adalah kejahatan yang sangat berat dan hukumannya adalah dikirim ke tambang untuk kerja paksa atau hukuman mati.
Mendengar itu, ekspresi menghilang dari wajah Ethan saat itu juga. Hawa membunuh yang sangat intens dilepaskan olehnya.
"""!"""
Semua orang yang ada di ruangan itu kesulitan bernafas. Tekanan yang Ethan berikan bukanlah milik anak berusia 8 tahun, tapi seperti seekor Naga.
Lord dan Claire, satu-satunya yang dapat menahan hawa membunuh Ethan, mencoba untuk menenangkan Ethan yang hampir lepas kendali.
"E-Ethan, tenanglah. Para Maid dan Butler hampir pingsan."
"Ibumu benar. Aku tahu kamu marah, tapi lihat sekitar."
Ethan kembali sadar dan hawa membunuhnya segera menghilang dari ruangan itu. Maid dan Butler semuanya kembali bisa bernafas. Ethan yang melihat itu menundukkan kepalanya.
"Maafkan aku, aku kehilangan kesabaran sesaat tadi," ucapnya pelan.
Claire tersenyum lembut ke arah Ethan dan mengelus kepalanya lembut.
"Tidak apa-apa. Tapi, ini adalah pertama kali Ibu lihat kamu semarah ini. Itu membuat Ibu sedikit terkejut. Apakah ada sesuatu?"
Ya, ini adalah pertama kalinya Lord dan Claire melihat Ethan menunjukkan perasaan benci yang sangat kuat.
Tentu saja perbudakan ilegal adalah hal yang buruk. Tapi, Ethan seharusnya bukan anak yang memiliki rasa kepedulian tinggi seperti itu sampai-sampai melepaskan hawa membunuh yang jauh lebih kuat dari Wyvern, Monster S Rank.
Ethan kembali tersenyum dan mencoba untuk meyakinkan bahwa tidak ada masalah.
"Tidak ada masalah khusus Ibu. Hanya saja ketika memikirkan anak-anak yang diperbudak membuatku ingin membunuh mereka semua," ucap Ethan kembali ke nada biasanya.
Tapi, apa yang Ethan katakan benar-benar tidak biasa. Seorang anak yang baru genap berusia 8 tahun mengatakan ingin membunuh seseorang. Orang tua manapun akan khawatir jika anak mereka seperti itu. Lord dan Claire tidak terkecuali.
Lord memberikan nasehat dan kata-kata yang seperti orang tua umumnya.
__ADS_1
"E-Ethan. Jangan terlalu mudah mengatakan untuk membunuh orang. Kerajaan ini memiliki hukum yang berjalan, jadi kamu bisa serahkan kepada para Ksatria dan yang berwenang."
Saat mendengar kata-kata itu, perasaan geli dan benci membuncah dalam diri Ethan. Tapi, dia hanya menahannya dan tersenyum lembut ke arah orang tuanya untuk membuat mereka tidak khawatir lebih jauh.
"Ya, aku akan mengingatnya, Ayah, Ibu."
Lord dan Claire saling memandang. Mereka tahu ada sesuatu dari senyuman Ethan, tapi mereka sama sekali tidak tahu harus melakukan apa.
Ethan mengubah topik pembicaraan menjadi yang lebih ringan.
"Ngomong-ngomong Ayah, apakah sudah ada pekerja baru di saluran pembuangan?"
"Ah… tentang hal itu. Ya, Ayah sudah mulai mempekerjakan anak-anak dari daerah kumuh seperti yang kamu arahkan. Jika kamu melihat senyum mereka, kamu benar-benar akan merasa bersalah karena sudah menelantarkan mereka," jelas Lord. Perasaan senang bisa dirasakan dari nada suaranya.
Sebuah senyum juga tersungging di bibir Ethan yang mendengar itu, sebuah senyum tulus yang berbeda dari yang sebelumnya.
"Begitu? Itu baik-baik saja maka…."
Ethan sangat membenci ketika melihat anak-anak yang tidak bisa bahagia di masa kecilnya, entah karena kekerasan keluarga, keuangan atau lingkungan yang membullynya, dia berpikir bahwa semua anak berhak bahagia tanpa tapi. Ini jelas pemikiran yang naif, tapi bagi Ethan, jauh lebih baik membantu beberapa anak daripada tidak sama membantu sama sekali.
Saat itu, kepala Ethan direnggut dan sebuah kelembutan yang luar biasa bisa dirasakan.
"Kamu bisa lebih bangga Ethan, karena kamu anak-anak itu sekarang sudah bisa makan dan tersenyum. Walaupun masyarakat masih sulit menerima mereka, tapi setidaknya Kota ini sudah lebih bersahabat bagi mereka, dan alasan untuk itu adalah kamu," Ibunya berbicara dengan lembut di telinganya.
Ethan menatap Ibunya dengan bingung.
"Ibu…."
"Ibumu benar Ethan, selama ini Ayah ataupun Lord sebelumnya hanya fokus pada militer dan keamanan. Tapi sudut pandang Ethan yang unik tentang suatu hal membuat mereka dapat terselamatkan. Jadi tersenyumlah dan bangga pada diri sendiri," tambah Ayahnya.
Ethan yang mendengar itu, tidak lagi kuasa lagi menahan tangisnya. Air mata yang sudah lama mengering itu tumpah hari itu, rasa kesepian dan kekosongan yang sudah lama terpatri di hatinya mulai menghangat dan terisi kembali.
"Ayah… Ibu… terima kasih… aku senang. Aku sangat senang menjadi anak kalian," Ethan berbicara dengan isak tangis.
Orang-orang di sana tidak tahu apa alasan Ethan menangis, tapi ketika mereka melihat Ethan yang menangis, semuanya merasakan rasa sakit dan sedih dalam hati mereka dan air mata menetes dari mata semua orang yang ada di ruangan itu.
Ayah dan Ibunya memeluknya dari kedua arah.
"Ya, Ibu juga sangat bersyukur bahwa Ethan adalah anak kami. Ethan adalah cahaya bagi rumah ini."
"Kamu adalah anak kami. Peri di House of Mallorca. Satu tempat di rumah ini akan selalu menjadi milikmu."
Tangisan Ethan semakin menjadi ketika dia mendengar hal itu.
"Uwaaaah!"
Ethan menangis seperti anak kecil hari itu tanpa peduli apapun. Dia tidak lagi peduli dengan dirinya yang dulu sebagai Ethan Fibel. Karena sekarang, dia adalah Ethan von Mallorca, dari House of Mallorca.
__ADS_1
"...."
Lelah menangis, Ethan akhirnya terlelap dalam tidurnya.