
"Dalang dari Stampede kali ini, adalah Ras dari legenda, Mazoku."
Kata-kata Marquess membuat semua orang yang hadir terkejut. Respon yang sangat wajar ketika mereka mendengar kata Mazoku.
"Apa katamu? Mazoku? Ras kejam yang dulu berperang melawan 4 Ras?" tanya Raja dengan nada skeptis.
Dalam legenda, Mazoku dan Iblis berhasil dikalahkan oleh Pahlawan dan anggota Partynya yang berisi 6 orang dengan Skill khusus.
Setelah Raja Iblis berhasil dikalahkan, Ras Mazoku dan Iblis dipindahkan ke Benua Hitam yang dimana itu adalah tempat yang sangat keras dimana Monster sekelas Naga dengan mudah dapat dijumpai di tempat itu.
Marquess juga tahu itu, dia awalnya juga berpikiran sama dengan Raja. Marquess kemudian menatap ke arah Ethan.
"Ethan, coba keluarkan buktinya."
Ethan mengangguk dan mengeluarkan Magi Stone dan Peluit pengendali Monster yang sama dengan yang ditunjukkannya kepada Lord dan Claire.
Raja melihat itu menyipitkan matanya tidak mengerti.
"Apa? Kenapa kamu menunjukkan Magic Stone kepadaku?" tanyanya tidak mengerti sama sekali.
"Untuk itu, biarkan anak saya menjelaskan tentang kedua item ini, Yang Mulia."
Marquess menyerahkan penjelasannya pada Ethan. Dia juga masih kurang mengerti cara kerja atau apa sebenarnya dua item itu.
Ethan, yang mendapatkan tatapan dari dua orang di sana, menjelaskan.
"Yang Mulia, keduanya adalah item yang didapatkan dari Mazoku. Batu ini… bukan Magic Stone yang biasanya. Jika biasanya Magic Stone berisi Mana, maka yang ini dipenuhi dengan Miasma dalam jumlah luar biasa."
Raja yang mendengar itu, kembali menatap ke arah Magi Stone dengan mata menyelidiki.
"Begitu… memang, aku merasakan hal yang tidak menyenangkan dari batu ini," gumamnya dan mengangguk.
Perasaan lengket dan menjijikkan, hal itu dapat dirasakan ketika melihat batu itu, dan ada tarikan aneh ketika melihatnya.
Ethan senang, bahwa Raja jauh lebih pintar dari Lord, sehingga mudah untuknya menjelaskan.
"Selanjutnya Yang Mulia, adalah peluit ini. Peluit ini, adalah alat sihir yang dibuat untuk mengendalikan Monster…." kata Ethan, semakin akhir suaranya semakin pelan.
Raja memiliki ekspresi wajah yang suram, ketika mendengar tentang efek alat sihir itu.
"Begitu… siapa saja yang sudah tahu informasi ini?" tanyanya.
"Hanya saya, Ayah, dan Ibu saya."
Raja mengangguk puas. Kemudian dia memberikan perintahnya.
"Jangan pernah beritahu keberadaan item ini sama sekali. Ini adalah perintah."
Ethan juga tahu hal itu. Karena itu dia sama sekali tidak memberitahu siapapun termasuk Mia. Jadi Ethan membungkuk.
"Tentu, saya mengerti Yang Mulia."
Raja kemudian menatap ke arah para Maid dan Butler.
"Kalian juga sama. Rahasiakan semua yang kalian dengar di sini, bahkan jika itu mempertaruhkan nyawa kalian sendiri," perintahnya dengan serius.
Tapi, para Maid dan Butler sama sekali tidak merespon kata-kata dari Raja.
Maid dan Butler bingung, tapi mereka tetap mengangguk.
""Kami mengerti Yang Mulia.""
Raja heran dengan jeda yang aneh tadi, tapi dia mengabaikannya dan menatap ke Marquess dan Ethan lagi.
"Apakah sudah tidak hal lain, Marquess?"
"Ya, cukup segini saja laporan yang saya berikan."
Raja kemudian tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
"Nah, jika begitu aku harus permisi, masih ada banyak pekerjaan yang harus kulakukan," ucapnya dan bangun dari tempat duduknya.
Marquess dan Ethan juga ikut berdiri dan memberikan hormat.
"Terima kasih atas waktu Anda, Yang Mulia."
Raja melambaikan tangannya mendengar kata-kata Marquess.
"Jangan dipikirkan. Kita ini akan menjadi besan setelah kedua anak kita menikah."
Lord dan Ethan tersenyum pahit dalam hati mereka mendengar kata-kata Raja.
Dan setelah Raja keluar, Butler yang sama dengan yang mengantar mereka masuk tadi, mendekat.
"Marquess, Tuan Muda, silahkan ke sini."
Dan sama seperti sebelumnya, dipimpin oleh Butler itu, Ethan dan Lord pergi ke luar dari ruangan itu.
Saat itu, tiba-tiba saja Ethan merasakan Mana yang sangat kuat dari arah Istana. Ethan dengan refleks berbalik dan melihat ke arah Istana.
"?"
Dia menatap selama beberapa detik dengan ekspresi bingung.
Lord yang menyadari Ethan tiba-tiba berhenti berjalan,ikut berhenti juga.
"Ada apa Ethan?" tanyanya.
"Ah, tidak-"
Bang!
Dan saat itu, tiba-tiba saja sebuah ledakan terjadi di dari arah Istana.
Lord, Ethan dan Butler yang memimpin jalan tadi terkejut dengan hal itu.
"Apa? Apa yang terjadi?"
Ethan dan Lord langsung lari ketika ke arah sumber suara tersebut tanpa penundaan.
"Ethan, apakah kamu tahu bahwa ini akan terjadi?" tanya Lord.
Ethan menggelengkan kepalanya dengan ekspresi disayangkan.
"Tidak, aku sempat merasakan fluktuasi Mana tadi, tapi aku tidak menyangka akan terjadi ledakan."
Fluktuasi Mana yang Ethan rasakan tadi, memiliki panjang gelombang yang hampir mirip dengan apa yang dirasakannya pada tiga Mazoku yang sudah dikalahkannya.
Melihat wajah tanpa ekspresi Ethan, Lord memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh, dan dia mengangguk saja.
Saat sampai ke tempat kejadian, sebuah ruangan hancur akibat ledakan dan ada beberapa Ksatria terluka.
"Aku Marquess of Mallorca. Apa yang terjadi di sini?" tanya Lord berteriak.
Mendengar nama Lord, para Ksatria yang ada di sana, langsung sedikit lega.
"Marquess Mallorca! Tuan Putri dan Tuan Pahlawan telah diculik!"
Ethan mengerutkan keningnya, sementara itu Lord bingung dengan apa yang Ksatria itu katakan.
"Apa? Kenapa bisa!? Bukankah keamanan mereka seharusnya yang utama!" teriak Lord marah.
Ksatria itu meringkuk ketakutan karena amarah Lord.
"Ayah tenanglah, sekarang yang lebih penting kita mengejar penculiknya," sela Ethan dengan nada rendah.
Lord mengangguk, dan ketika dia melihat wajah Ethan, rasa takut dan ngeri tiba-tiba memenuhi hatinya.
Wajah Ethan saat ini, adalah ekspresi paling dingin yang pernah Lord lihat.
__ADS_1
"Ayo, Ayah. Penculiknya belum jauh."
Lord terkejut oleh suara Ethan, dan telat membalas.
"Ah, jika begitu, bimbing."
Ethan mengangguk dan segera memimpin jalannya. Matanya yang merah, menatap dingin ke depan.
"Aku benar-benar akan membunuh Ras kalian tanpa sisa jika terjadi sesuatu pada Pahlawan…." gumamnya pelan.
***
Sementara itu, di Ibukota Kerajaan, terjadi kekacauan. Tiba-tiba saja, Monster muncul di Hutan terdekat dan di tengah-tengah Kota membuat Ksatria bingung.
"Cepat lari! Semuanya tertib!"
Dengan prioritas menyelamatkan warga sebanyak mungkin, para Ksatria berusaha mati-matian melindungi para Warga ke tempat mengungsi.
Saat itu, tiba-tiba seekor beruang besar muncul dari balik bangunan.
"Kyaaaa!"
"Ah, ah, Monster!"
"Selamatkan aku!"
Beruang itu menatap ke arah para warga dengan mata lapar.
"Roaaaar!"
Dengan raungan keras, Beruang itu mulai membunuh para Warga satu persatu.
"Ugh! Tidak-"
Krauk.
Suara tulang yang dikunyah terdengar ketika Beruang itu memakan Ksatria dan warga.
Saat mimpi buruk terus berlanjut, tiba-tiba sebuah suara menyebutkan sebuah mantra.
"."
Dan puluhan tombak es turun dari langit seperti hujan ke arah para Monster yang ada di Ibukota Kerajaan.
Para Ksatria dan Warga bingung dengan hal itu dan melihat ke arah sumber suara tadi.
Seorang wanita dengan rambut seputih salju berdiri di atas bangunan.
"Oh! di sini!"
"Benarkah!? Itu bagus!"
Para warga dan Ksatria memiliki wajah yang lega.
Wanita itu, yang tidak lain adalah Claire, mengerutkan keningnya melihat sikap para Ksatria dan Warga.
"Apa yang kalian lakukan! Cepat ungsikan para Warga dan Ksatria yang terluka! Aku akan menahan mereka di sini!" teriaknya marah.
Ksatria dan warga yang mendengar itu langsung mengangguk dan kembali mulai mengungsi.
Melihat itu, Claire kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Ksatria yang ikut dari Mallorca.
"Kalian, bantu para Ksatria Ibukota Kerajaan untuk menghabisi Monster. Aku akan pergi memeriksa tempat lain."
Para Ksatria itu langsung memberikan hormat dan menjawab dengan suara yang keras.
"""Kami mengerti!"""
Claire mengangguk dan segera pergi ke tempat yang sangat mengganggunya.
__ADS_1
"Aku harap masih sempat…."