Glorious Chronicle

Glorious Chronicle
Bab 4 - Tes Atribut


__ADS_3

Keesokan harinya, seluruh keluarga Marquess berkumpul di ruang keluarga untuk melihat tes atribut Ethan.


Claire, segera mengeluarkan 9 Batu Sihir yang terdiri dari 9 Atribut berbeda. Biasanya, hanya ada 4 batu atribut saja, tapi kekayaan keluarga Marquess bukan sekedar bualan belaka.


Claire menatap Ethan dan menjelaskan cara penggunaannya.


"Batu-batu ini adalah Batu Sihir, yang memiliki fungsi untuk memeriksa atribut. Untuk cara menggunakannya, cukup suntikkan Mana ke dalamnya dan batu itu akan bersinar. Semakin terang sinarnya, maka semakin baik afinitas orang itu dengan atribut tertentu. Sebagai referensi, Ibu adalah Pengguna Atribut Angin dan Es, sementara itu Ayahmu adalah Atribut Api dan Non-Atribut dan Kakakmu adalah Atribut Es dan Api."


Ethan yang mendengar informasi itu untuk pertama kalinya sedikit terkejut. Dari apa yang dibacanya, pengguna sihir 2 Atribut sangat jarang. Dan Marquess Mallorca memiliki tiga orang dengan kemampuan 2 Atribut. House of Mallorca adalah sarang Monster.


Tanpa peduli dengan apa yang Ethan pikirkan, Ibunya segera memintanya untuk mulai.


"Jadi, sekarang kamu bisa melakukannya."


"Aku mengerti, Ibu."


Dengan demikian, Ethan langsung melakukan apa yang sudah dicontohkan oleh Ibunya. Tapi, dia tidak secara membabi buta melakukan hal yang sama persis.


Orang-orang yang melihat hasil dari tes Ethan semuanya membelalakkan matanya ketika batu sihir ketiga bersinar terang.


"Eh!? Ti-tiga atribut!?"


"Wow!? Angin, Es dan Petir!?"


"Gila… berapa banyak, orang yang dapat menggunakan tiga atribut?"


Ini adalah hal yang sangat besar. Tentu saja akan seperti itu. Ethan berhasil membuat tiga batu sihir bersinar terang yang bahkan Ibunya, Claire seorang Sorcerer terbaik di Kerajaan harus mengakui kekalahannya.


Ethan yang melihat itu menghela nafas lega. Dia sangat khawatir jika saja dia ketahuan bisa menggunakan 12 Atribut sihir maka pasti akan sangat merepotkan. Jadi, dia memanipulasinya sedemikian rupa sehingga terlihat seperti dia hanya dapat menggunakan 3 Atribut. 3 Atribut adalah batasnya agar nyaman dalam penggunaan sehari-hari.


Saat itu, tiba-tiba Ibunya mencengkram bahu Ethan dengan sangat kuat. Dia menatap Ethan langsung ke matanya.


"Ethan! Apakah kamu ingin Ibu ajarkan sihir? Ibu pasti akan membuatmu menjadi penyihir paling kuat di Benua ini!" ucapnya serius.


Ethan yang bahunya dicengkeram oleh Ibunya ingin menangis, tapi dia menahannya dan tersenyum ke arah Ibunya.


"Te-tentu Ibu… aku senang jika Ibu yang akan mengajari aku."


Dan ketika Ethan selesai menjawab, tiba-tiba Ethan dipeluk oleh Ibunya.


"Hmmph!?"


Ethan yang tenggelam di dalam kelembutan surgawi, tidak dapat bernafas. Ibunya, tidak peduli dengan keadaan Ethan dan berbicara dengan senyum senang.


"Kyaaa! Bukankah kamu jadi sering tersenyum sekarang! Bagus! Cukup bayar Ibu dengan senyum dan Ibu akan jadikan kamu sebagai penyihir terkuat!"


Ethan mencoba meminta tolong kepada Lord atau Alvin dengan gerakan tangan, tapi mereka hanya menatap Ethan dengan tatapan mata iri hati.


Mereka benar-benar tidak bisa dipercaya…. gumam Ethan dalam hatinya.


Ethan berusaha sekuat tenaga untuk menjaga kesadarannya. Dia merasa bisa melihat Dewa itu menatapnya dari ruangan tempatnya dulu bereinkarnasi.


Saat itu, sebuah suara yang seperti malaikat penolong bagi Ethan terdengar.


"Marchioness, Tuan Muda kesulitan bernafas." 


Claire yang mendengar itu terkejut dan segera melepaskan Ethan dari pelukannya. Dan apa yang dilihatnya adalah Ethan dengan mata yang berputar.


"Wah… eh? Kenapa… ada sungai?" gumam Ethan tidak jelas.


Claire yang melihat itu segera mengguncang tubuh Ethan.


"Ethan! Bangun! Jangan sebrangi sungai itu!"


Lord dan Alvin yang melihat itu juga melakukan hal yang sama pada Ethan.


"Ethan! Ethan, kembali!"


"Ethan! Kamu masih memiliki hutang senyum dengan Ayah! Jangan pergi dulu!"

__ADS_1


Ethan yang diguncang oleh tiga monster itu, kepalanya semakin berputar dan dia akhirnya kehilangan kesadaran.


"...."


Lord, Claire dan Alvin yang melihat itu syok berat. Wajah mereka menjadi pucat dan panik.


"""Ethaaaaaan!""" teriakan ketiganya menggema di mansion Marquess saat itu.


***


Ethan, yang tidak sadarkan diri akhirnya bangun setelah malam harinya. Dia membuka matanya.


"Ugh. Aku tidak pernah berpikir bahwa hal-hal lembut seperti itu dapat membahayakan," gerutunya.


Mengingat hal itu, Ethan khawatir bahwa dia akan memiliki Trauma yang mendalam tentang hal itu.


Saat Ethan sudah sedikit membaik, saat itu tiba-tiba pintunya terbuka keras.


Brak!


"!"


Ethan sedikit tersentak ketika pintu tiba-tiba terbuka.


"Ethan!? Syukurlah kamu sudah bangun!"


Alvin masuk dan segera memeluk Ethan erat. Ethan yang dipeluk oleh Pria tampan memiliki penolakan yang sangat kuat dalam dirinya.


Ethan yang tubuhnya belum pulih, memukul Kakak laki-lakinya itu.


"Ka-Kakak… tolong, tubuhku masih sakit…."


Alvin segera melepaskan pelukannya dari Ethan ketika Ethan mengatakan itu.


"Ah, maafkan aku. Aku terlalu senang sampai aku lupa akan hal itu." ucapnya dengan menyesal.


"Tidak masalah kakak… lebih dari itu, dimana Ayah dan Ibu?" tanya Ethan melihat sekeliling.


Biasanya, Lord dan Claire sudah ada di sini 25/6 bersiaga. Tapi, saat ini Ethan sama sekali tidak bisa melihat kehadiran keduanya.


Alvin yang mendengar itu, memiliki wajah yang sedikit tidak bagus. Dia menjelaskan kepada Ethan dengan wajah sulit.


"Ah, itu… sepertinya monster di Hutan Hitam mengalami hal abnormal seperti jumlah mereka yang bertambah banyak dan kekuatan mereka yang meningkat tajam."


Wajah Ethan menjadi tidak bagus ketika Alvin mulai menjelaskan. Ini pasti sebuah anomali dari tanda-tanda kebangkitan Dewa Iblis dan para bawahannya….


Alvin, yang melihat wajah Ethan yang tidak bagus itu, mencoba untuk menenangkannya.


"Jangan khawatir Ethan. Bahkan jika Monster datang, Ayah dan Ibu pasti akan mengusir mereka." ucap Alvin sembari menepuk bahu Ethan.


Ethan sedikit tersentak. Dia benar-benar kalap ketika mendengar hal-hal yang berkaitan dengan Raja Iblis atau Dewa Iblis.


Ethan tersenyum untuk meyakinkan Kakaknya.


"Um. Bagaimanapun, seorang Golden Lion dan Ice Witch tidak mungkin kalah."


Alvin tersenyum geli ketika julukan Lord dan Claire disebutkan.


"Ya, fufu, mereka adalah Dragon Slayer Couple yang terkenal itu." ucapnya ikut-ikutan.


"Ah, aku dengar ada sebuah toko di Ibukota yang menjual sebuah kue berbentuk Wyvern yang terkait dengan keduanya!"


"Oh, aku pernah membelinya, tapi itu langsung dibuang oleh Ibu karena katanya rasanya yang tidak enak."


Keduanya berbicara berbagai hal tentang hal yang tidak mungkin dibicarakan ketika ada Lord dan Claire, seperti masa lalu Lord dan Claire, yang sudah sangat terkenal sebagai pasangan pembunuh naga ketika masih di Akademi atau bahkan sebuah kue yang sering mereka beli saat mereka ke kota diam-diam untuk kencan dulu.


Kebahagiaan itu tidak bertahan lama, sampai sepasang suara terdengar dari samping Alvin dan Ethan.


"Heh… sepertinya kalian Mallorca bersaudara sedang membicarakan hal-hal yang seru."

__ADS_1


"Benar, kenapa kalian tidak mengajak Ayah dan Ibu untuk bergabung juga?"


""!""


Tubuh Alvin dan Ethan menjadi tegang ketika mereka mendengar dua suara yang mereka kenali itu.


Mereka menengok ke arah suara itu dengan perlahan-lahan seperti robot yang sudah rusak hanya untuk melihat senyum gelap dari Lord dan Claire.


"Sepertinya kalian bersenang-senang, bisakah kalian mengundang kami, hm?" tanya Ibunya tersenyum.


Di bawah tatapan mata berbisa dari Claire, Alvin dan Ethan mengambil jurus terakhir yang bisa dilakukan di situasi saat ini.


""Maafkan kami!""


Keduanya dengan penuh penyesalan langsung turun dari kasur dan bersujud di kaki kedua orang tua mereka.


Claire yang melihat itu, berbicara lembut pada keduanya(?).


"Ah, jangan khawatir Ethan, pasti kamu hanya diajak oleh Alvin, kan? Kamu istirahat saja."


Ethan yang mendengar itu, mengangkat kepalanya menatap Claire dengan mata yang berkaca-kaca.


"Benarkah…?" tanyanya takut-takut.


Melihat itu, tidak hanya Claire tapi juga Lord tidak tahan dengan keimutan Ethan kecil.


"Um! Istirahat saja! Nanti Ibu akan meminta seseorang untuk membawakan makanan terbaik untukmu!"


"Ibumu benar! Jangan khawatir, istirahat saja. Dari awal ini semua bukan salahmu!"


Wajah Ethan langsung menjadi cerah dalam sekejap mata. Dia tersenyum secerah mentari dan memeluk Ayah dan Ibunya.


"Terima kasih, Ayah, Ibu. Dan… maafkan aku."


Lord dan Claire memiliki wajah yang seperti meleleh melihat hal itu. Ethan jauh lebih ekspresif daripada sebelumnya dan ini adalah hal yang bagus bagi mereka.


"Um! Tenang saja! Tidak ada salah untuk Ethan!"


"Ya! Jangan khawatirkan itu!"


Alvin yang melihat pertukaran tidak masuk akal itu mencoba untuk memprotes.


"Eh? Apa maksudnya itu! Lalu, bagaimana denganku!?"


Lord dan Claire menatap Alvin dengan tatapan yang sangat berbeda 180° dari saat mereka menatap Ethan.


"Hah? Tentu saja ini adalah pelatihan khusus."


"Ya, jangan khawatir. Ayahmu ini akan melatih dirimu dengan sangat keras."


Alvin yang mendengar itu putus asa. Kemudian dia menatap harapan terakhirnya, yaitu Ethan.


"Ethan…." 


Ethan memiliki ekspresi bingung yang khas pada anak-anak, dan dia segera tersenyum.


"Um! Semangat kakak!" ucap Ethan.


Lord, Claire dan Alvin merasa bahwa senyum Ethan yang ini benar-benar amat menyilaukan.


Lord dan Claire menatap Alvin dengan senyum di bibir mereka, tapi mata mereka sama sekali tidak tersenyum dan hanya dipenuhi dengan rasa iri.


"Lihat, Alvin? Ethan sudah memberikanmu semangat, karena itu, ayo lakukan yang terbaik, oke?"


"Ayahmu benar. Ayo, kita berlatih yang terbaik, Alvin?"


Alvin yang berada di bawah tekanan itu, hanya memiliki satu jawaban untuk diberikan.


"A-aku mengerti, Ayah…." jawab Alvin putus asa.

__ADS_1


__ADS_2