
Di malam harinya, Ethan sedang duduk di balkon kamarnya menikmati teh sambil menikmati keindahan bulan purnama. Tapi, dia sama sekali tidak bisa menikmatinya terlalu lama karena pikiran tentang apa yang Alvin katakan tentang Hutan Hitam mengganggu pikirannya.
"Mungkin aku harus segera mengambil langkah yang lebih serius sebelum semuanya terlambat nanti."
Ethan masuk ke dalam kamar dan mengambil perkamen dari laci mejanya dan juga pena bulu miliknya.
Dengan miliknya, dia mulai memikirkan berbagai macam hal dalam satu waktu.
"Pertama tentu saja ekonomi kota. Industri utama Wilayah Mallorca tidak lain, adalah bahan-bahan monster. Tapi selain itu, seharusnya mungkin untuk meningkatkan mata pencaharian seperti kerajinan, lalu kopi dan teh."
Wilayah Mallorca cukup tinggi dan dingin yang membuatnya sangat cocok untuk kopi dan teh. Selain itu, kopi sendiri belum dikenal luas oleh masyarakat Benua ini dan Ethan mendapatkan kopi ini tidak sengaja ketika dia meminta hasil hutan di sekitar kepada Mia.
"Untuk masalah ekonomi, aku akan melakukan hal lain nanti. Sekarang yang paling penting, adalah kekuatan Militer."
Ethan masih ingat ketika dia melihat Ksatria yang sedang berlatih dan Ethan melihatnya sudah seperti permainan anak-anak.
"Mulai dari pembentukan divisi-divisi khusus dan pembelajaran tentang pemahaman taktik dan hal-hal strategis dalam perang. Menurutku ini adalah yang paling sulit dari semuanya," gumam Ethan lelah.
Ethan menyandarkan punggungnya ke kursi. Dia benar-benar baru sadar bahwa beban dari mengurus hal-hal ini benar-benar membuatnya lelah mental.
"Seolah belum cukup, masih ada masalah lain dalam sanitasi dan pendidikan… kemudian tentang bandit dan kejahatan lainnya dari daerah kumuh… sangat menyebalkan hanya memikirkannya saja." Ethan menggerutu tidak senang.
Ethan mencoba memejamkan matanya untuk melupakan masalah itu sejenak, tapi justru berefek sebaliknya, dimana dia justru mengingat masalah lainnya. Seperti, masalah dengan Bangsawan dan para pejabat korupsi, juga kemiskinan dan kelaparan… semuanya masuk ke dalam pikirannya.
Brak!
Ethan tiba-tiba bangun membanting mejanya keras-keras. Wajahnya benar-benar sangat muak dengan semua masalah itu.
"Ayo kita berikan ini besok. Sekarang, pergi tidur."
***
Di pagi harinya, setelah sarapan pagi, Ethan yang ditemani oleh Alvin segera menuju ke kantor Lord.
"Sebenarnya, apa yang membuatmu ingin bertemu dengan Ayah, Ethan?" tanya Alvin penasaran.
Ethan hanya tersenyum nakal dan sama sekali tidak memberikan jawaban apapun. Atas sikap itu, Alvin hanya bingung saja.
"?"
Akhirnya, keduanya sampai di kantor Lord. Ethan, yang memiliki urusan, mengetuk pintu.
Knock. Knock.
"Ayah, ini Ethan."
"Dan Alvin."
Tak perlu menunggu waktu lama, sebuah jawaban terdengar dari dalam.
"Masuk."
__ADS_1
Ethan dan Alvin yang masuk ke dalam kantor segera mengerutkan kening mereka. Alasan ekspresi mereka itu adalah karena kantor yang sangat berantakan dengan dokumen yang menggunung menunggu dikerjakan.
Lord, berpura-pura tidak menyadari tatapan kedua anaknya itu, dan mengalihkan topik pembicaraan.
"Sangat jarang kalian berdua datang ke sini? Apakah ada sesuatu?"
Ethan mengangguk dan segera mengeluarkan kertas perkamen yang sudah ditulis olehnya semalam. Ini adalah rencana reformasi yang sudah dibuatnya dengan air mata dan darah.
"Lihat ini, Ayah."
Lord mengambil perkamen itu dan segera membuka dan membacanya. Dan, tidak butuh waktu lama sebelum Lord benar-benar terkejut dengan isinya.
"!"
Isinya adalah rencana-rencana yang dibuat dengan sangat terperinci disertai dengan data yang juga sangat detail.
Lord menatap Ethan dengan tatapan tidak dapat percaya.
"I-ini… siapa yang membuat ini?" tanya Lord dengan suara gemetar.
"Tentu saja aku," jawab Ethan langsung.
Lord ternganga lebar mendengar jawaban itu. Itu adalah reaksi yang wajar ketika diberitahu bahwa anak berusia 7 tahun membuat hal-hal yang menakjubkan seperti ini.
"Jadi Ayah, apakah ini bisa dilakukan?" tanya Ethan.
Lord mengangguk secara spontan, dia yang bodoh saja tahu bahwa hal ini pasti sukses besar.
Atas bantuan yang tidak terduga itu, Ethan mengangguk senang. Jika dilihat dari Lord yang mempercayainya, maka mungkin Yang Mulia Raja bukanlah pribadi dengan perangai buruk.
"Itu hal yang bagus. Jika Yang Mulia terlibat, maka akan semakin mudah."
Alvin yang dari awal hanya diam saja, angkat bicara.
"Sebenarnya, apa yang kalian bicarakan sampai-sampai membawa nama Yang Mulia?"
Lord tersenyum lebar dan menunjukkan kertas perkamen yang Ethan berikan tadi.
"Lihat ini, dan berikan pendapatmu tentang hal ini?"
Alvin melihat perkamen itu dengan wajah penasaran. Dan sama seperti Lord, wajahnya langsung berubah menjadi ekspresi keterkejutan murni setelah membaca isi dari perkamen itu.
"I-ini… Ethan yang membuatnya?" tanyanya tidak percaya.
"Benar."
Alvin dan Lord menatap Ethan dengan emosi yang campur aduk antara senang, bangga dan iri.
"Ethan, bagaimana jika kamu menjadi Lord selanjutnya?" ucap Lord tiba-tiba.
Alvin juga mengangguk tidak keberatan tentang hal itu. Setelah dia melihat perkamen itu, dia sama sekali tidak berpikir dapat melampaui apa yang dapat Ethan capai.
__ADS_1
"Aku setuju dengan Ayah, bagaimana, Ethan?"
Ethan tahu akan seperti ini, tapi, dia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk menjadi seorang Lord.
"Sayang sekali, tapi aku harus menolak. Aku memiliki pekerjaan yang hanya bisa dilakukan olehku. Karena itu, aku harus menolaknya."
Ya, dia harus mencegah kehancuran Benua ini. Dia tidak bisa memenuhi tangannya dengan hal yang merepotkan lainnya. Lord dan Alvin tidak mungkin tahu hal itu, karena itu keduanya hanya bingung. Mereka penasaran, tapi Lord dan Alvin tidak mengejar lebih jauh.
"Begitukah? Ayah mengerti."
"Um. Jika kamu berubah pikiran, maka katakan saja padaku."
Ethan yang melihat itu, benar-benar bersyukur bahwa dia memiliki keluarga yang sangat baik.
"Jika begitu, Ayah, Kakak, aku harus pergi. Jadi, aku permisi dulu."
"Eh? Apakah kamu akan pergi?" tanya Lord.
"Benar. Kemana?" tanya Alvin juga, penasaran.
"Aku ingin pergi ke kota. Membeli Pedang."
Ethan ingin memeriksa kualitas senjata yang ada di Kota. Karena itu, dia harus pergi sendiri ke Kota untuk memeriksanya.
Tapi, Lord dan Alvin tidak tahu kenapa Ethan pergi sendiri. Biasanya, Bangsawan yang akan memanggil pengrajin untuk datang dan bukan mereka yang mendatangi pengrajin. Tapi, ini adalah Ethan, karena itu Lord dan Alvin berpikir bahwa Ethan ada tujuan lainnya. Jadi, Lord memberikan izin dengan mudah.
"Begitukah? Maka bawa beberapa pengawal."
"Aku ingin ikut, tapi aku ada kelas. Karena dua bulan lagi, aku harus pergi ke Akademi." ucap Alvin depresi.
Ethan lupa bahwa Kakaknya saat ini berusia 11 tahun dan akan pergi ke Akademi musim mendatang yang akan datang. Jadi dia berpikir untuk memberikan hadiah untuknya.
Ethan sedikit membungkuk dan pamit pergi.
"Jika begitu, aku pergi dulu, Ayah, Kakak."
Lord dan Alvin mengangguk dengan wajah yang sangat sulit.
"Ya, hati-hati."
"Hati-hati. Jika terjadi sesuatu, katakan padaku saja."
Ethan tersenyum pahit atas sikap overprotektif keduanya. Dan dia segera pergi dari kantor Lord.
Dia berbicara dengan Mia yang sudah menunggunya di luar ruangan Lord.
"Siapkan kereta, aku akan pergi sekarang."
"Mengerti, Tuan."
Mia segera pergi setelah mendapatkan perintah dari Ethan. Sementara itu, Ethan juga kembali ke kamarnya bersiap untuk pergi.
__ADS_1