
Rara kini sudah sampai di rumahnya, setelah turun dari mobil ia pun langsung masuk ke dalam rumahnya dan segara menuju kamar.
Sesampainya di kamar ia pun berganti pakaian sekolahnya dengan pakai biasa.
Setelah selesai ia pun langsung turun ke bawah.
Sesampainya di lantai 1 ia pun langsung menuju dapur untuk mengambil air minum. rumahnya nampak sepi karena para ART sedang beristirahat dan kakak-kakaknya mungkin belum pulang.
Saat sedang meminum air dingin yang ia ambil tadi di kulkas, ia mendengar suara orang yang sedang bercanda tawa. Ia pun melangkah mendekat kearah suara itu. Dan ia melihat Bi Narti, Bi Ijah, mang Udin dan mang Ujang sedang bercanda tawa sambil melepas penat mereka setelah berkeja. ada tempat khusus untuk para Art melepas penat meraka setelah bekerja, dan tempat itu juga dekta dengan kamar tidur Mereka.
Rara melihat mang Udin yang sedang bertingkah aneh dan lucu membuat yang lainnya tertawa terbahak-bahak. Melihat tingkahnya itu,, Rara pun ikut tertawa melihat tingkah mang Udin. Memang mang udin orangnya sangat periang dan selalu bisa mengubahnya Susana.
"Nih yak,,,gw udah tampan dari lahir" katanya memuji diri.
"Alah,,gantengg dari mana toh" jawab bi Ijah
"Kamu nggak tau,, gini-gini saya dulu mantan artis" katanya lagi sambil berdecak pinggang
Sontak semua yang ada di sana tertwa dengan ke-pd-an dirinya.
Tanpa sengaja Bi Narti menoleh kearah pintu, dan dia melihat Rara yang sedang berdiri di sana sambil memegang air minum dan tertawa kecil melihat tingkah mang Udin. ia pun mengisyaratkan kepada yang lain bahwa majikannya ada di sini Mereka pun berdiri . dan semuanya pun menatap Rara, rara melangkah maju ke tempat Mereka duduk.
Lalu Bi Ijah membuka suaranya" loh non kok disini,,non mau makan toh biar sya siapin?" Tanya bi Ijah
"Nggak kok Bi, nggak usah,Rara tadi dengar suara ada orang ketawa, trus Rara kepo aja makanya Rara ke sini, eeh tau-taunya ada pertunjukan nih"
"Nih non,,Udin katanya mantan artis " kata Ujang
Sementara Udin yang merasa malu hanya cengengesan dan menggaruk-garuk tungkuk nya yang tidak gatal sama sekali, karna tidak bisa menahan malunya.
"Hmm,, sepertinya iya deh,, liat aja mang Udin kan tampan" Rara memuji mang Udin sementara mang Udin pun langsung mengangkat kepala dan bersiap songong di hadapan temannya
"Nah liat kan,,non Rara aja tau kalau aku ganteng"
"Halahhh,, ganteng dari mamanya,,itu muka kayak pantat panci yang nggak di gosok-gosok,,itemm" semuanya pun tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan mang Ujang.
Setelah asik mengobrol dan bercanda dengan para ART nya, Rara pun pamit pergi ke kamarnya.
__ADS_1
"Baru kali ini liat non Rara ketawa lepas" ucap Ujang.
"Iyaa bener,, sama saya aja di dalam mobil non Rara jarang bicara apa lagi ketawa" ucap mang Udin.
"Non Rara sering banget ngelamun,,sya sering liat Non Rara duduk sendiri di bangku taman belakang rumah" kali ini Bi Ijah yang berbicara. Pasalnya Bi Ijah sering lewat dekat taman di belakang rumah ini, dan ia sering melihat Rara duduk sendiri dan melamun.
"Hmm,, Narti juga sering liat non Rara juga sering ngelamun di kamarnya,,saat itu Narti habis dari kamar den Rendy,, trus pas di depan kamar non Rara pintu kebuka,,terus Narti liat deh non Rara lagi duduk ngelamun di samping tempat tidurnya."
"Liat-liat juga tuan besar kayak nggak suka sama non Rara" sambung Narti.
"Huuss kamu Nar,,jangan seuzon" Tegus mang Ujang yang mendengar perkataan Narti.
Semuanya pun hanya bisa melihat bagaimana sikap Rara, mereka tidak berani menegur karena mereka juga tau batasan mereka.
Hari sudah sore,,Rara tadi tertidur sehabis bercanda dengan para ART nya itu, ia memutuskan untuk tidur karena merasa lelah.
Ia pun terbangun dari tidurnya dan pergi ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Uuhuuk
Uhukk
Setelah selesai mandi, ia pun mengganti pakaiannya dan setelah itu ia menuju balkom kamarnya. Ia sedang berdiri menikmati senja, ia juga melihat orang-orang yang sedang berjalan-jalan sore di sekitar kompleks nya.
Ia juga melihat Bi Narti yang sedang menyiram bunga yang ada di halaman depan rumahnya.
Ia mendengar ada orang yang mengetuk pintu kamarnya,,dengan cepat ia membuka pintu kamarnya.
"Kak Andin,,ayo masuk kak" yang Andinlah mengetuk pintu kamar Rara. Setelah di persilahkan untuk masuk, Andin pun segera masuk.
Ia melihat kamar adiknya dengan sengat detail, ia rindu sekali dengan adiknya meskipun hanya tidak bertemu beberapa hari saja.
"Kakak rindu sama kamu, sini peluk kakak"
"Tumben nih,, padahal cuman 3 hari gak ketemu"
"Iya sini makanya,,peluk kakak"
__ADS_1
Rara langsung memeluk kakaknya dengan hangat, kedua wanita itu yang hampir memiliki tubuh yang sama tinggi, hanya saja tubuh Andin sedikit gemuk ketimbang Rara yang memiliki tubuh langsing dan agak pendek.
Perlahan Mereka melepas pelukannya, dan mereka duduk di tepi ranjang tempat tidur Rara.
"Gimana sekolah kamu?"
"Baik-baik aja,, kakak gimana kuliahnya?"
"Hmm,,kamu tau sendiri kan gimana sibuknya kakak,, belum lagi di tambah tugas kuliah yang banyak dan kakak juga harus membimbing maba baru, jadi kakak sibuk"
Andin memang sengat di sibukkan dengan kuliahnya terlebih lagi ia harus mengurus dan membimbing maba baru.
"Semangattttt" Rara memberi semangat kepada kakaknya seraya memeluk kakaknya itu.
Keluarga Atmaja memang di bekali kepintaran sejak mereka masih kecil. Dulu kakeknya Haris Malik Atmaja sangatlah pintar, dan kepintaran itu pun turun menurun dari anaknya sampai cucu-cucunya. Beliau sudah wafat beberapa tahun yang lalu. Ia memiliki 2 anak, anak pertamanya Andika dan Anak keduanya adalah Dani.
Andika beserta anak dan istrinya tinggal di kediaman inti atau kediaman besar keluarga Atmaja. Karan ia tidak ingin ibunya tinggal sendiri di rumah besar ini, terlebih lagi ayahnya sudah meninggal dan siapa yang akan menjaga ibunya ini. Dan ia memutuskan untuk tinggal dengan ibunya. Lain halnya dengan Dani, ia memilih untuk tinggal di kediamannya sendiri.
Andika memiliki satu anak perempuan yang bernama Alika Tiana Atmaja yang kini sudah menginjak usia 25 tahun, ia kini sudah lulus dari kuliahnya dan menerima gelar sebagai lulusan terbaik dari salah satu universitas yang ada di Inggris.
Setelah puas berbincang-bincang dengan kakaknya, Andin lalu pamit untuk pergi ke kamarnya. Setalah Andin pergi dan sudah ada di kamarnya Rara lalu melangkah keluar kamarnya. Setibanya ia di depan pintu kamarnya ia berpapasan dengan Rendy yang sedang berjalan melewati kamarnya dan menuju kamarnya itu sambil berjalan senyum-senyum sendiri.
Ia bingung kenapa kakaknya ini ketawa sendiri terlebih lagi ia tidak melihat Rara sama sekali padahal mereka berpapasan, jangan-jangan dia kesambet? Ah,, nggk mungkin.
Rara menepis jauh-jauh pikiran buruknya.
"Ekhemm ada yang lagi bahagia nih kayaknya" tegur Rara.
Rendy yang tidak tau kalau Rara melihat sedang senyum-senyum sendiri itu lalu kikuk. Ia tidak tau harus menjawab apa.
"Eeh Rara,,adik kakak yang cantik" sapanya
" Kenapa senyum-senyum?"
"Nggak kok,, gapapa,, hehehe" jawab Rendy cengengesan.
"Ya udah kakak ke kamar dulu ya" pamitnya, Rara lalu mengangguk. Setelah pamit Dengan Rara Adit pun cepat-cepat masuk ke dalam kamarnya karna merasa malu.
__ADS_1
Rara yang melihat tingkah kakaknya itu hanya meresa heran dan menggeleng-gelengkan kepalanya.