Goodbye Rara

Goodbye Rara
Bab 17


__ADS_3

Andin ikut bergabung dengan adiknya di ruang tamu sambil menonton TV.


Tak terasa malam pun tiba.


Para Art sudah menyiapkan makan malam di atas meja makan. merasa sudah waktunya untuk makan malam, ketiga bersaudara itu pun langsung menuju meja makan. Dan langsung menyantap makan malam mereka bersama.


Makan malam pun selesai.


Ketiga bersaudara itu meninggal meja makan, Andin pergi ke kamarnya terlebih dahulu karna besok dia ada kelas pagi. Rendy belum masuk ke dalam kamarnya, ia masih memilih duduk di sofa ruang tamu sambil memainkan game online di HP-nya. Sementara Rara, ia lebih memilih pergi ke bangku taman belakang rumahnya untuk menikmati suasana malam.


Disini dia sekarang, duduk di bangku taman sambil menikmati indahnya suasana malam ini. Kerlip-kerlip bintang dan di tambah cahaya bulan yang menerangi langit malam. hembusan-hembusan angin malam yang terasa sejuk mengenai kulitnya.


Dalam pikirannya.


Tak terasa kini umurnya sudah 17 tahun, tinggal menghitung bulan lagi umurnya akan bertambah. Ulang tahunnya yang ke-18 di bulan April yang akan datang sudah dekat, hanya tinggal menghitung bulan lagi. ulang tahun ini mungkin akan sama seperti ulang tahun sebelumnya. Ulang tahun tanpa sosok ibu, Dann,,, bisa juga tanpa kehadiran sang ayah.


Dani tidak pernah merayakan ulang tahun bersama Rara. Ulang tahun sebelumnya pun seperti itu, ia beralasan ada urusan bisnis, harus ke luar negeri, dan keluar kota. ntahlah,, Rara berfikir bahwa ayahnya menghindari dirinya.


Bujukan- demi bujukan yang ibunya lakukan tapi Dani tetep tidak bisa merayakan ulang tahun Rara bersama keluarga besarnya. Apakah benar-benar urusan pekerjaan? Tapi kenapa? Apakah tidak bisa ia luangkan waktu sedikittt saja untuk Rara, tidak perlu mewah atau mahal atau sebesar apapun pesta itu untuknya. Yang ia inginkan hanyalah kehadiran ayahnya, hanya itu.


Melihat saat kakak-kakaknya bisa merayakan hari ulang tahun bersama ayahnya membuat hatinya iri. kenapa? Kenapa kakak-kakaknya bisa? Tapi aku tidak? Kenapa? Pikiran Rara saat ini.


Sementara di ruang tamu, Rendy masih setia duduk di sofa, sambil menaikan satu kakinya dan memegang hp memainkan game mobile legend di HP-nya .


Saat sedang asik-asiknya bermain, Rendy mendapat telfon dari Aldi secara tiba-tiba.


"Eeh jalan dong, kok ngelag"


Merasa heran, nih kenapa tiba-tiba HP-nya ngelag. Sinyal kah?


Telfon dari Aldi pun masuk.


Aldi's cooling


Rendy pun mengangkat telfon dari Aldi.


" Kenpa si haahh? Ganggu aje, lu ga tau kalau gue lagi main ni?"


"Eeeh busett, Jan ngegas dong. Lu lagi dimana sekarang?" Tanya Aldi di seberang sana.


"Rumah, kenapa emang?"


"Buruan ke sini, tempat biasa kita nongkrong"


"Ga. Gue malesss."


Tlub. Rendy pun mematikan HP-nya sepihak. Belum selesai Aldi ngomong, dirinya pun langsung mematikan panggilan dari Aldi.


Sementara di Seberang sana.


"Gimana?" Tanya dero pada Aldi yang tadi menelfon Rendy.


Sambil meletakkan HP-nya Aldi menggelengkan kepalanya dan mengaduk minuman yang ia pesan.


Dero pun memikirkan cara bagaimana agar Rendy mau datang ke sini sekarang.


Berfikir dan terus berfikir sambil menatap semua pengunjung yang duduk dekat dengan meja mereka.


Seorang pelayan wanita saat itu sedang mengatakan pesanan pada pengunjung yang berdekatan dengan meja Meraka. Dero menatap pelayan itu, dengan pakaian kerja yang berwarna hitam dan topi hitam yang khusus di sediakan untuk pelayanan.


Saat pelayanan itu memalingkan wajahnya dan berjalan mengambil meletakkan pesanan, Dero pun melihat wajah pelayan itu.


Loh, anak yang kemaren? Batinnya sambil menatap pelayan itu.


Sementara pelayanan itu tidak tahu kalau ada orang yang memerhatikan dirinya.


Dero pun langsung menepuk tangan Aldi yang sedang asik meminum minumannya. Sontak pandangan Aldi langsung menuju ke arah Dero dan bertanya ada apa dengan menggunakan mimik wajahnya.


Dero pun menatap pelayan itu. Seolah mengerti dengan maksud Dero, Rendy pun ikut menatap kemana Dero menatap.


Dan ia melihat seorang pelayan wanita yang sedang meletakan pesanan pengunjung.


Aldi dan Dero langsung saling menatap satu sama lain. Pikiran Mereka sama saat ini. Keduanya langsung tersenyum licik. Lihat bagaimana dia bisa membuat rendy tidak akan menolak datang ke sini sekarang.


Dero langsung mengambil ponselnya dan membuka kamera, berniat memoto pelayan itu, bukan niat lagi tapi akan.


____


"Yahh,, kalah kan gue"

__ADS_1


Merasa kesal karena permainannya di ganggu sampai-sampai dia kalah, Rendy pun berhenti bermain, dan mengumpat Aldi.


tingg.


Suara notifikasi pesan masuk dari HP-nya. Penasaran. Dia langsung membuka pesan itu. dan pesan itu dari Dero.


Aldero 🐊


|Lu yakin ga mau datang ngab.


21:12.


^^^|Ga, gue ga mau datang^^^


...malesss...


...20:13...


Rendy langsung mematikan HP-nya tak mau membalas lagi pesan dari Dero.


Tingg.


satu notif pesan dari Dero masuk lagi.


berat, sangat berat untuk ia buka pesan dari Dero.


tapi mau tidak mau Dero tetap membuka pesan dari Dero.


aldero 🐊


| Lo yakin ga bakal datang nih?


21:23.


...| iya yakin....


21:23.


aldero lalu mengirim foto ke rendy.


( fotonya di bayangin aja ya guysπŸ˜‚,)


Rendy lalu melihat foto itu,


ngapain dia di sana.


Aldero 🐊


| yakin ga mau datang ngab?


kalau ga mau ya udah, buat gue aja


lumayan πŸ˜‚.


20:24


^^^|tunggu gue.^^^


^^^jangan balik dulu^^^


^^^bentar^^^


^^^lagi gw datang^^^


^^^20:24^^^


melihat jam di HP-nya.


masih jam 8 malam. batinnya


Rendy lalu segera naik ke lantai dua tempat di mana kamarnya berada. buru-buru dirinya bersiap-siap dan memilih baju mana yang akan ia pakai. setelah merasa pilihan sudah pas dirinya pun langsung berganti pakaian. memakai jam tangan, dengan gelang hitam di tambah bulan kecil yang sedikit menggantung yang selalu ada di tangannya. tidak lupa juga memakai parfum. ia lalu mengambil kunci motornya.


ia pun keluar dari kamarnya.


saat hendak menuruni anak tangga ia berhenti. lalu memutar balik badannya menatap kamar Andin kakanya.


lalu ia berjalan mendekati kamar Andin yang tidak jauh juga dari kamarnya itu.


ia berniat meminta izin kepada kakaknya untuk keluar sebentar.

__ADS_1


"kak Adnin udh tidur blom ya" ucapan setiba di depan pintu kamar Andin


bimbang antara ingin mengetuk atau tidak. dia takut akan mengggu tidur kakaknya. tapi dia juga butuh izin dari kakaknya.


dan akhir ia memutuskan untuk mengetuk pintu itu.


tok tok tok


Andin yang saat itu belum sepenuhnya tidur tapi sudah membaringkan tubuhnya dan menyelimuti tubuh dengan selimut. lampu kamarnya juga sudah mati hanya tersisa lampur tidur saja.


Andin pun membuka matanya yang sedikit berat karena kantuknya.


"siapa?" ucap Andin dengan suara beratnya


Rendy pun menyahut dari arah luar kamar


" Rendy"


mau tidak mau Andin harus turun dari tempat tidurnya. menyibak selimut yang sudah menghangatkan badan. Andin pun berjalan membuka pintu.


ceklek


pintu pun terbuka. menampakkan Andin dengan matanya yang berat karena sudah sangat ingin tidur.


"kenapa?," tanya Andin yang sambil mengucek matanya.


dan pandangan pun menatap Rendy.


saat pandangannya menatap Rendy, ia pun kaget.


dan bertanya.


" mau kemana kamu malam-malam begini,?"


Rendy pun cengengesan." hehehe, biasa. si Aldi sama si Edo ngajak jalan"


"rapi banget."


bingung dan panik mau menjawab apa.


"ya iya lah. masa keluar ga rapi. ntar di kira gembel." jawabannya sepontan


Andin pun keluar dari kamarnya. berjalan maju selangkah ke arahnya Rendy. ia pun mulai menyipitkan matanya. berjalan sambil mengelilingi Rendy, layaknya seorang penjahat yang ingin merenggut nyawa seseorang.


sambil menggosok dagunya yang tidak gatal dengan tangan jempol dan telunjuknya.


"yakin mau ketemu sama Aldi dan Edo?"


tanya Andin yang masih terus berjalan memutar.


Rendy pun menjawabnya terbata-bata.


"y-ya iya lah."


Andin pun berhenti tepat di depan adiknya.


"ya sudah kamu boleh pergi. tapi jangan pulang kemaleman. jam sepuluh kamu sudah ada di rumah. ga kurang ga lebih. ingat kalau kamu pulang telat. siap-siap tidur di luar rumah malam ini. ngertiiiii.?"


"ee-eeehh. iya-iya. jam sepuluh malem Rendy pulang."


"ya udah sana pergi"


dengan tiba-tiba Rendy langsung mencium pipi kanan Andin.


"makasih kakak Andin-ku yang cantik"


Andin pun bergidik negeri dan mengusap bekas ciuman Rendy di pipinya.


"idiihh, kesambet apaa kamu?"


Rendy tidak menjawab. ia langsung pergi dan menuruni anak tangga dengan tersenyum senang.


saat itu juga ia berpapasan dengan Rara.


Rara yang saat itu juga habis dari taman belakang rumah dan berjalan menaiki anak tangga karena ingin pergi ke kamarnya.


Melihat kakaknya yang tersenyum membuat Rara merasa heran.


ketawa lagi? waah kak Rendy benar-benar kesambet ini. pasti. batinnya.

__ADS_1


"mau kemana kak?"


"mau keluar bentar"


__ADS_2