
Langkah Mayra kini berjalan keluar dari cafe. Dia harus berjalan ke halte bus sekarang, dikarenakan sepedanya tidak ia bawa. Dia pun mulai berjalan meninggalkan cafe itu.
Rendy yang dari tadi menunggu Mayra dan tengah asik bersender sambil memainkan hp nya. Pandangannya pun menuju kembali ke arah pintu cafe itu dan benar, Mayra baru saja keluar dari sana.
Dia pun berjalan untuk menghampiri Mayra tapiiiiii.
ya ampun orang ini lagi. maunya apa sih. gua harus ngehindarin dia. lariiii Mayra lariiii. Batinnya.
"Eehh-eeehh. Kok malah lari. Heyyy jangan lari"
Rendy yang melihat Mayra berlari berusaha menghindari dirinya pun ikut berlari mengejar Mayra.
Mayra yang tengah berlari pun sempat menengok ke belakang memastikan kalau Rendy tidak mengikutinya, tapi itu tidak sesuai dengan pemikirannya.
Ternyata rendy ikut berlari mengikutinya.
"Duuuhh dia ngikutin lagi. gue harus cepat-cepat"
Ucap Mayra Dengan napas ngos-ngosan dan menambahkan kecepatan larinya.
Melihat Mayra yang lari semakin cepat membuat Rendy mau tidak mau ikut berlari cepat juga.
"Eeh busettt. Makin kencang aja larinya tuh anak."
Dan tidak butuh lama rendy mampu menahan dan memegang lengan Mayra dan sontak Mayra langsung berhenti. Mungkin karena Mayra perempuan maka dengan mudah Rendy bisa menyusul dirinya.
Napas keduanya tidak teratur akibat lari tadi. Mayra berusaha mengatur kembali napasnya sejenak. Melirik pergelangan tangannya yang dipegang oleh Rendy, dengan cepat dia pun menghentakkan tangannya.
Rendy yang saat itu juga sedang mengatur napasnya kembali dengan badannya yang membungkuk tiba-tiba berdiri kerena tangannya terlepas dari pergelangan Mayra.
"Nagapain lari si?" Ucap Rendy dengan masih mengatur napasnya.
"Lagian ngapain ngikut juga?" Tanya Mayra dan pertanyaan itu berhasil membuat Rendy tidak bisa berkata-kata.
"Mas ini maunya apa si?"
"Oh iya saya ingat. Pasti mas ini mau minta ganti rugi buat yang waktu itu iya kan?. Tapi masnya bilang ngga usah ganti. Tapi kalau masnya minta oke sya ganti, tapi.... Tapi... nyicil" ucap Mayra dengan penuh kekesalan.
Rendy Hanya melongo mendengar perkataan Mayra yang panjang lebar dan menyebut dirinya "mas".
Oh..ayo lah, Rendy belum setua itu. Umurnya masih 19 tahun saat ini, dan Mayra menyebut dirinya dengan sebutan "mas".
Rendy lalu memalingkan wajahnya sedikit kesamping lalu berbisik dengan dirinya sendiri.
"mas?." Ucapnya sambil memegang wajahnya.
"muka gue masih muda gini dibilang mas. wah parah banget ni cewek." bisiknya.
Dirinya lalu kembali menatap Mayra yang ada di hadapannya sambil berdehem. "Ekhemm.. ngga, gue ngga minta ganti rugi buat masalah yang kemaren. gue cuman minta maaf soal sikap gue tadi di dalam cafe"
Mayra lalu manatap Rendy sinis dan membatin. Kalau bukan anak orang udah gue cakar ni anak.
"Iya-iya. Gue maafin. Udah kan cuman itu aja, ngga ada lagi?"
"Emm.. itu." Ucapan Rendy terjeda lalu mengangkat tangannya bermaksud memperkenalkan dirinya.
"Nama gue Rendy. Jangan panggil gue dengan sebutan "mas". Gua masih muda"
Tangan Rendy yang tadi terulur harus ia tarik kembali, melihat Mayra menolak mentah-mentah jabatan tangannya.
Meskipun sebenarnya Rendy sudah tau nama Mayra. Mungkin saat ini bukan waktu yang pas untuk itu.
"Maaf gue buru-buru." Kini Mayra melangkah pergi meninggalkan Rendy yang masih berdiri
Rendy berucap dengan sedikit berteriak karena jarak antara dirinya dan Mayra sudah lumayan jauh.
__ADS_1
"Mau gue anterin ngga. Udah jam segini ngga baik lo jalan sendiri"
Mayra lalu berhenti dan berbalik "makasih untuk tawaran. Tapi maaf, ngga usah"
Mayra lalu berbalik melanjutkan perjalanan menuju halte bus.
Rendy masih berdiri di tempatnya. Matanya Melihat Mayra yang kini berjalan sudah jauh darinya. Dirinya lalu tersadar, segara pergi ke arah motornya tadi.
Mungkin ini di anggap tidak sopon, karena mengikuti seorang wanita. Tapi dirinya tidak tega juga jika melihat soarang wanita berjalan sendiri malam-malam seperti ini.
Tanpa sepengetahuan dari Mayra Rendy mengikuti Mayra dari arah belakang dengan jarak yang lumayan jauh, dan Mayra tidak menyadari hal itu.
Rendy akan pergi jika Mayra sudah mendapat kendaraan untuk pulang.
Kini Mayra sudah berada di halte bus. melihat kiri kanan jalan raya, memastikan bahwa ada bus atau angkutan umum lainnya yang lewat.
3 menit berlalu, Mayra belum mendapatkan kendaraan, begitu juga dengan kendaraan, belum ada satupun yang berhenti di pemberhentian.
Sementara Rendy masih setia mengamati Mayra dari arah jauh.
Dari arah kanan, dua orang laki-laki tengah berjalan. Penampilan kedua seperti pereman. Yang satu dengan rambut gimbal, dan yang satunya lagi berambut gondrong. Keduanya kompak memakai celana jeans yang sobek-sobek di bagian lututnya, dan juga memakai kalau yang seperti/berbentuk rantai. Ya... Bukan mirip, tapi memang preman.
Mereka berjalan menuju arah halte bus. Keduanya tidak menyadari kalau ada seseorang yang sedang menunggu d halte bus. Dan salah satu dari mereka menyadari hal itu.
Preman yang berambut gimbal menyikut lengan temannya. Mengisyaratkan bahwa ada seorang wanita yang sedang menunggu sendirian di sana. Keduanya lalu menghampiri Mayra yang tengah duduk sendiri di sana.
"Hayy cantik. Sendirian aja nih"
Kedatangan kedua preman' itu membuat Mayra kaget dan juga takut. Dirinya yang sedari tadi duduk kini berdiri karna kedatangan dua preman ini.
Sementara dari arah lain, Rendy melihat Mayra yang sedang di ganggu oleh dua orang preman mulai khawatir. Motor yang tadi ia matikan kini mulai dinyalakan.
"Ikut Abang yuk neng, kita pergi ke suatu tempat. Kita senang-senang, gimana?"
Mayra lalu menggelengkan kepalanya. Perasaannya sudah tidak enak bercampur dengan prasaan takut. Preman ini sangat mengganggu dirinya.
Keduanya preman itu terus mengganggu Mayra, dengan niat yang buruk dan jahat Kedua preman' itu tersenyum licik menatap Mayra.
"Ngga, aku ngga mau. Pergi kalian." Ucap Mayra dengan suara yang sangat ketakutan.
"Ayo lah, bentar doang ngga bakalan lama kok,"
Rendy mulai menjalankan motornya kearah halte bus dimana Mayra kini sedang di ganggu oleh dua preman.
Dirinya pun berhenti tepat di depan halte tersebut.
Mayra yang melihatnya Rendy datang, perasaannya pun mulai sedikit membaik Melihat ada orang yang akan membantu dirinya.
Rendy lalu turun dari motor.
"Ooiiiii."
Kedua pereman itu berbalik kearah sumber suara. Melihat seorang pemuda yang kini tengah berdiri tepat dibelakang keduanya.
Tanpa ba-bi-bu Rendy langsung cerocos mengatakan kalau Mayra adalah pacarnya.
"Dia pacar gue. Jadi kalain berdua jangan ganggu dia".
Mayra yang saat itu tengah dalam keadaan panik dan takut sempat-sempat mengumpat dalam hati karna perkataan Rendy tadi.
oranh ini ...orang ini benar-benar gila. ya kali gue pacarnya dia. umpat Mayra
tapi ngga papa, ini cara agar gue bisa lepas dari preman sialan ini. umpatnya lagi .
Melihat ekspresi Mayra yang sangat lucu dan kaget membuat Rendy mengangkat kedua alisnya sambil tersenyum kecil.
__ADS_1
"Oh jadi ini pacar lo."
Tanya preman itu. Dan Rendy hanya mengangguk polos tanpa ada dosa.
"Boleh dong kita main-main bentar sama pacar lo yang cantik ini."
"Eeh anak aja. Ngga bisa."
Rendy lalu menarik tangan Mayra, memindahkan posisi Mayra kini berada di samping dirinya.
"Dia pacar gue. Jadi lo bedua ngga boleh apa-apa'in dia."
Kedua preman itu saling menatap satu sama lain. Tatapan keduanya mengisyaratkan untuk menghajar Rendy saat ini.
Salah satu dari preman itu pun maju kehadapan Rendy, bersiap-siap ingin memukul dirinya.
Rendy lalu menyembunyikan Mayra kebelakang tubuhnya. Dan dirinya pun tau kalau preman' ini akan memukul dirinya, dia pun siap-siap menerima pukulan dari pereman itu.
Perkelahian terjadi, antara Rendy dan kedua preman itu. Satu lawan dua. Pukulan demi pukulan melayang kearah Rendy tapi pukulan itu berhasil ia tangkis.
Dia juga berhasil memukul preman-preman itu dengan pukulannya.
Satu dari preman itu tersungkur ke jalan karna pukulan Rendy. Sementara yang satunya lagi masih memukul Rendy.
Satu pukulan berhasil mengenai pipi kanan Rendy, dan hal itu berhasil membuat dirinya memalingkan wajahnya karena pukulan itu.
Melihat Rendy yang berhasil kena pukul membuat Mayra takut dan khawatir dengan keadaan Rendy sekarang yang tengah melawan dua preman.
Mayra masih setia berada di belakang Rendy dan menyaksikan perkelahian antara dua preman itu dengan Rendy.
Mendapat pukulan pertama kalinya dari preman itu membuat Rendy tersenyum licik. Dirinya lalu memegang pipi yang terasa panas akibat terkena pukul. Sedikit berdarah, Yap.. Pipinya kini sedikit berdarah.
Tak terima, Rendy lalu menghajar habis-habisan preman itu dan itu berhasil membuat kedua preman itu tersungkur ke jalanan. Rendy berhasil mengalahkan mereka berdua.
"Ampun bang. Ampun. Sorry gue ngga bakalan ganggu pacar lo lagi." Ucap Preman itu dengan prasaan takut
"Cabut, Ang. Cabutt"
Preman' itu kini sudah pergi meninggalkan keduanya. Rendy lalu berbalik berjalan kearah motornya.
Sementara Mayra kini masih setia mematung setelah menyaksikan apa yang ada di hadapannya tadi.
Suara klakson motor Rendy kini membuyarkan lamunannya. Ntah sejak kapan Rendy sudah berada di atas motornya, tapi hal itu mampu membuat Mayra berbalik.
"Masih mau nunggu bus?"
Tidak ada jawaban, Mayra kini masih mematung menatap Rendy. Melihat pipi kanan Rendy sedikit berdarah akibat pukulan dari pereman itu.
Suara klakson kedua kalinya membuyarkan lamunannya.
"Mau naik ga? Kalau ngga ya udah"
"Eeeh tunggu-tunggu. Gue ikut."
Rendy tersenyum lalu menatap kearah jalanan. Sementara Mayra kini tengah naik ke atas motor milik Rendy.
"Rumah lo Dimana?"
***Kamis, 29 April 2022
gimana-gimana, suka ga sama part ini?
hehehe ... maaf ya atas keterlambatan up
soalnya lagi ngumpulin bahan buat melanjutkan cerita ini.
__ADS_1
so... semoga suka sama part ini ππ
jangan lupa buta vote & like***.