
"bun,,kok Rara manggil bunda dengan sebutan bunda gitu?"
Kini Adit berjalan masuk ke dalam rumahnya menyusul ibunya setelah Rara meninggalkan rumah mereka.
"Emang kenapa? Ga boleh?"
"Nggak kenapa-kenapa, cuman kaget aja. Kan tiba-tiba gitu"
"Tadi si dia manggil bunda dengan sebutan Tante, trus bunda bilang, nggak usah panggil Tante, panggil bunda aja biar Akrab,, yaa dia mau-mau aja"
Jelas bundanya panjang lebar.
\_\_\_ooOoo\_\_\_
Kini Rara sudah sampai di rumahnya, setelah pamit pada Andin, ia lalu berjalan menuju kamarnya.
Ia meletakkan tasnya di bangku depan meja belajarnya, di susul dengan dirinya yang ikut duduk di bangku meja belajarnya.
Dia mengalah napasnya sejenak lalu menatap foto yang selalu terpajang di atas meja belajar itu. Di ambilnya bingkai foto itu lalu ia menatap foto yang ada di bingkai itu.
Senyum itu,, senyum ayah, ibu dan kakak pertamanya yang sangat bahagia terpancar di sana. Ingin sekali ia bisa berfoto seperti ini,, Andai ia sudah lahir saat itu, dan sudah tumbuh besar seperti Andin, pasti bisa ia rasakan bagaimana rasanya tersenyum berfoto bersama ayah dan ibunya.
Tapi saat ini ia tidak bisa merasakannya.
Setelah menatap foto itu, ia lalu berdiri dan segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah beberapa menit akhirnya ia pun selesai mandi dan segera berganti pakaian. Setelah mengganti pakaiannya ia pun berjalan menuju balkon kamarnya untuk menikmati angin sore. Banyak orang-orang yang berjalan melintasi kompleks sambil menikmati suasana sore hari ini.
ia masuk ke dalam kamarnya kembali dan mendekati lemari yang terdapat buku-buku yang tersusun rapi di sana. Ia mengambil salah satu buku tersebut untuk ia baca, setelah mengambilnya ia lalu kembali ke balkon dan duduk di bangku seperti ayunan di sana. Di sana memang ada bangku khusus yang disediakan untuk dirinya. ia pun mulai membaca buku itu. lembar-demi lembar sudah ia balik, dia membaca buku itu dengan sangat serius.
Beberapa menit berlalu, Setelah merasa sudah cukup waktu untuk membaca ia pun berdiri dan kembali masuk ke dalam kamarnya dan meletakan buku itu kembali ke tempatnya.
Ia pun turun ke lantai bawah, ia melihat Bi Narti dan bi Ijah sedang sibuk membersihkan dapur. Ia juga melihat Rendy yang sedang duduk di ruang tamu sambil menonton TV, ia pun ikut bergabung dengan kakaknya dan duduk di sebelah Rendy. Rendy menyadari kehadiran adiknya itupun menoleh sekilas dan menatap kembali layar televisi.
"Kak Rendy kapan pulangnya?" Tanya Rara di sela-sela asiknya menonton.
"Dari tadi. oh iya,, kamu sama kak Andin kemana aja,, kak Rendy pulang kok kalian nggak ada"
"Oh itu,, kan Rara sepulang sekolah harus kerja tugas di rumah temen,, nah kalau kak Andin tadi jemput rara, makanya pas kak Rendy pulang kak Andin nggak ada di rumah" jelas Rara dan rendy hanya ber'oh'ria saja.
Ia pun teringat sesuatu, kini dirinya mengubah posisi duduknya yang semula mengahadap TV kini menghadap adiknya. Rara yang melihatnya sontak memundurkan tubuhnya kebelakang lantaran kaget, Karena tiba-tiba Rendy menghadapnya seperti ini.
"Apaan?" Tanya Rara yang masih dengan gaya tubuhnya yang mundur'.
"Mau tanya,, emm,," Rendy belum melanjutkan perkataannya, dia lupa dengan nama anak itu.
" Itu,, emm itu,,, duh siapa si namanya, sampe bisa lupa gini"
Rendy berusaha mengingat siapa nama anak itu,, sementara Rara mengerutkan kening, berusaha mengerti apa yang dimaksud kakanya ini.
Lama Rendy menemukan nama anak itu di kepalanya, mengingat-ingat nama anak itu.
Setelah mengingat nama anak itu Rendy pun langsung berkata dan mengagetkan Rara dengan perkataan yang tiba-tiba itu.
"Hahhh, "
Sontak Rara kaget dengan perkataan Rendy yang tiba-tiba dan terdengar keras.
"Hahh,, haah ,, apa, kenapa-kenapa?" Tanya Rara yang kaget dengan suara rendy yang tiba-tiba saja, sontak dirinya meniru perkataan Rendy tadi.
" Mayra. iya namanya Mayra"
__ADS_1
"Mayra siapa?"
Rendy pun cengengesan " hehehe, itu.
Kakak mau tanya. Di sekolah kamu ada gak anak yang namanya Mayra?"
Rara lalu mengulang kata Mayra" Mayra?. Kenapa tiba-tiba nanyain Rara ?"
"Dih,, di tanya malah tanya balik. Ada gak?"
Rara lalu menatap kakaknya sejenak, lalu mulai mengingat dan menerawang dalam pikirannya, ia pernah mendengar ada seorang siswi kelas 12 yang bernama Mayra. Ia pun mengingat-ingat kembali.
Rendy Mesih terus menatap dan menunggu jawaban dari adiknya. Ia melihat Rara yang berusaha mengingat nama itu.
Terlintas sedikit angan Rara waktu ia pernah bertemu dengan Mayra waktu itu di dalam perpustakaan. Waktu itu Rara tidak sengaja' menabrak Mayra saat hendak berbalik setelah mengambil buku, dan saat itu ia tak sengaja menabrak bahu Mayra dan buku yang Mayra pegang saat itu jatuh. Rara lalu membantu mengambil buku yang sempat terjatuh itu.
"Maaf,, maaf. saya nggak sengaja" ucap Rara meminta maaf lalu memberikan buku yang sempat terjatuh tadi.
Mayra lalu tersenyum dan menerima buku itu dari Rara" iya gapapa"
Mayra lalu menyodorkan telapak tangan kanannya, bermaksud mengenalkan dirinya. " Mayra"
Rara sejenak menatap tangan itu, lalu dengan cepat ia membalasnya dengan jabatan tangannya juga dengan tersenyum " Rara "
Karena kejadian saat di dalam perpustakaan itu, mereka sempat berbincang-bincang sejenak, dan menanyakan kelas berapakah mereka kini. Mengetahui kalau Mayra adalah kakak kelasnya, Rara lalu merasa tidak enak telah menabraknya. Tapi Mayra menjawab dengan cepat bawah itu hanya tidak kesengajaan.
"Oh iya,, ada. Rara baru' ingat. Ada si siswi di sekolah yang namanya Mayra, kalau nggak salah kelas 12, kakak kelasnya Rara. Kenapa emangnya?"
Rendy lalu manggut-manggut mendengarkan jawaban adiknya. Ia lalu menatap Rara dan tersenyum cengengesan.
"Hmm,, ga papa. Oh iya kamu deket nggak sama dia?"
"Hmm,, lumayan. Sering ketemu juga di dalam perpustakaan."
Besok gue harus bisa ketemu sama tuh anak. Batinnya.
Rara bingung dan heran kenapa kakanya tiba-tiba menanyakan salah satu siswa dari sekolahnya itu.
" Kak Rendy kenapa tiba-tiba tanya gitu? Ada masalah sama dia?"
Mendengar ucapan Rara yang bertanya kepada membuat dirinya bingung harus menjawab apa.
Lalu ia terpaksa menjawab dengan sedikit gugup dan terbata-bata.
"Oh itu. Hehehe" sambil cengengesan.
"Itu. Emm kemaren itu."
Melihat jawaban kakanya yang gugup dan terbata-bata, membuat Rara menyerngirkan dahinya, lantaran bingung. Kenapa Jawabnnya Sampe segugup ini? Apa bener dia ada masalah sama yang namanya Mayra ini? Batinnya Rara bertanya.
"Itu apa?. Bener ya ada masalah sama kak Mayra kakak kelas Rara itu.?"
"Eeeh,, bukan gitu. Kemaren nggak sengaja ketemu di jalan. Kakak liat dia lagi. Lagi. Lagi"
Rendy bingung, apa kesambungan Jawaban yang akan ia beri tahu pada adiknya ini.
"Duh bingung gw mau jawab apaan ini" cicit Rendy pelan.
Rara lalu bertanya dengan mengangkat kedua alisnya dengan gaya yang tidak bisa di tebak"Lagi?"
"Emm,," tiba-tiba Rendy mendapat anugrah dengan menjawab " itu. Lagi benerin sepeda di pinggir jalan, nah terus kakak bantu deh. Kan kasian."
__ADS_1
Merasa kurang puas dengan jawaban yang di berikan kakaknya, Rara menatap Rendy dengan tatapannya mengintrogasi. dengan mata uang menyipit melihat raut wajah kakanya. Apakah ada kebohongan? Atau ada sesuatu yang di sembunyikan? Sudahlah.
"Hmm, kirain Rara ada apa-apa."
Rendy lalu bernafas lega. Dengan hilangnya tatapannya Rara yang mengintrogasi dirinya.
Huuftt, untungnya ada alasan lain. Ucapnya dalam hati.
Sebenarnya Rendy berbohong, dia tidak menolong Mayra di jalanan, melainkan mengikuti anak itu.
Flashback
Saat sepulang sekolah, ia tak sengaja' melihat Mayra yang saat itu sedang menaiki sepeda. Saat itu Rendy belum mengetahui kalau namanya adalah Mayra. Rendy terus mengikuti Mayra dari belakang, tanpa sepengetahuan Mayra.
Terus mengikuti, sampai di sebuah kompleks perumahan yang berjejer rapi.
Sedangkan Mayra pun turun dari sepeda dan berjalan sambil mendorong sepeda.
Rendy yang melihat Mayra mendorong sepeda pun memarkirkan motornya di Deket situ. Ia terus menatap Mayra yang tidak jauh darinya.
Mayra yang saat itu sedang melewati grobak tukang bakso yang biasa mangkal di daerah ini , lalu tukang bakso itu menyapa dirinya yang melintas di depan grobak miliknya.
"Baru pulang neng"
Rara lalu berhenti sejenak " iya mang, baru aja"
"Neng Mayra lapar? Nggak mau makan bakso dulu, biar saya bikin?.
Tenang gratis buat neng"
"Aduh, nanti aja mang. Makasih ya. Saya belum lapar soalnya."
Tukang bakso yang biasa di panggil Asep itu pun mengangguk dan tersenyum."Oh iya-iya,"
"Mayra pulang dulu ya mang, permisi"
Setelah pamit Mayra langsung melanjutkan mendorong sepeda ke arah rumahnya yang juga tidak jauh dari gerobak mang Asep.
Sementara dari sana, Rendy yang saat itu tidak terlalu jauh dengan tukang bakso itu mendekati pembicaraan mereka. Dan ia mendengar nama anak itu.
"Jadi namanya Mayra, bagus juga"
Flashback off
Andin baru saja keluar dari kamarnya, lalu ia turun ke lantai bawah. Sesampainya di sana, ia melihat adik-adik yang sedang duduk di ruang tamu dan tengah asik mengobrol sambil menonton TV. ia lalu menghampiri adik-adiknya itu yang.
"Lagi bahas apaan nih?"
Rendy dan Rara lalu menoleh kearah sumber suara. Melihat kakaknya yang sedang berdiri tepat di samping sofa yang mereka duduki sekarang.
Rara hendak menjawab , melihat Rara yang ingin menjawab pertanyaan dari kakaknya, segera Rendy lebih dulu menjawab pertanyaan Andin.
Bisa-bisa kalau Rara berbicara tentang apa yang ia tanyakan tadi, Andin bisa tau dan ia akan di ejek oleh Andin karena sudah berani suka pada seseorang.
"Lagi bahas masalah flim. Hahh, iya film. Bener kan Ra"
Rara lalu menatap Rendy,
Film apaan, tadi bukanya bahas tentang Mayra itu. Batinnya Rara.
Melihat tatapan adiknya, Rendy berusaha mengisyaratkan dengan mimik wajahnya agar Rara tidak memberi tahu apa yang mereka bicarakan tadi.
__ADS_1
Seakan mengerti apa maksud dari raut wajah kakanya, Rara lalu mengiyakan perkataan Rendy tadi dengan cengengesan.
"Haha,, iya. Lagi bahas film"