Goodbye Rara

Goodbye Rara
Bab 18


__ADS_3

Andin kini sudah masuk ke dalam kamarnya, menyambung tidurnya yang tertunda.


Sementara Rara pun kini masuk kedalam kamar. Karan sudah merasa ngantuk.


Sementara Rendy kini tengah mengeluarkan motornya dari garasi dan segera pergi ke arah tujuannya.


___ooOoo___


Aldi dan Dero tertawa penuh kemenangan. Bagaimana bisa Meraka membuat Rendy bisa berubah pikiran setelah melihat foto seorang cewek yang iya taksir.


Tak selang beberapa menit Rendy pun sampai pada tempat dimana Dero dan Aldi berada. Ia pun masuk ke dalam restoran, matanya mencari Diamana Dero dan Aldi duduk.


Melihat Rendy yang sudah sampai tapi belum menemukan mereka, Dero pun mengangkat tangannya memberi tau kalau dia dan Aldi ada di sini.


Rendy pun melihat Dero yang mengangkat tangannya dan segara berjalan kearah meja diaman mereka duduk.


Menarik kursi di sebelah Aldi, dan langsung duduk.


Melihat Rendy, Dero langsung tersenyum licik.


"Kheeemm,, Al kayaknya gue mau pulang deh. Gue ga bisa lama-lama."


Ucap Dero sambil memberi isyarat kepada Aldi untuk mengerjai Rendy lewat mimik wajahnya.


"Lo mau pulang? Ya udah kita pulang bareng. Gua juga udah pengen pulang"


Sambung Aldi


"Ya udah ayo cabutt" ajak Dero yang langsung berdiri dan di susul Aldi yang sempat-sempat menyeruput minumannya.


Rendy yang menyaksikan tingkah kedua sahabatnya itu pun ikut berdiri dan mencegah sahabatnya.


"Lo berdua mau kemana? Gue datang lu malah pulang. Gimana si"


Ucap Rendy


"Begini babang Rendy yang tampan, tapi lebih tampanan Dero. Kita dari tadi udah nunggu sampe ni perut nih ( Sambil menepuk perutnya). Perut gue kenyang tau ga"


"Yee, ga bisa gitu dong. Gua baru nyampe juga." Sahut Rendy kesal


"Tadi katanya ga mau dateng, males. Iya ga do?"


Dero hanya mengangguk.


"Iya-iya. Itu kan tadi. Kalau sekarang beda. Udah pulangnya ntar aja, barengan."


Aldi dan Dero pun duduk kembali seperti apa yang dikatakan Rendy.


Memulai berbincang-bincang ringan sampai tiba saatnya Rendy mulia celingak-celinguk mencari keberadaan pelayanan yang tadi sempat Dero kirim fotonya.


Dero menatap Rendy yang mencari pelayanan itu pun tiba-tiba menepuk pundak Rendy. Sontak Rendy menoleh kearah Dero.


"Cari apaan?"


"ga cari apa-apa"


Meraka lalu melanjutkan perbincangan mereka.


Seorang pelayan cafe itu berjalan ke arah bangku salah satu pengunjung, yang dimana posisi' tepat persis di sebelah kiri dimana Rendy dan teman-temannya duduk. Rendy lalu menoleh kearah pelayanan itu dan ia Melihat Mayra yang sedang melayani pengunjung.


Rendy terus melihat Mayra yang dengan telatennya melayani pengunjung, meletakan makanan dengan rapi di atas meja.


"Silahkan di nikmati Mba, Mas" ucap Mayra dengan senyumnya.


Mayra lalu berjalan meninggalkan kedua pengunjung itu.


Rendy yang melihat Mayra akan pergi pun lalu memanggilnya.


"Mbaa" panggil Rendy dengan mengangkat tangannya.


Mayra lalu berbalik, dan ia pun berjalan kearah meja pengunjung yang memanggil nya.

__ADS_1


Dengan memegang nampan di tangannya, Mayra lalu berbicara kepada orang itu untuk memesan apa.


Pandangan saat itu belum sepenuhnya melihat ke arah orang yang tadi memanggilnya, ia sedikit menundukkan kepalanya untuk membersihkan celana yang terkena debu.


"Mau pesan apa mas?" Tanya Mayra dan langsung mengangkat kepala dan kembali ke posisi tegas dengan memegang nampan.


Jleeebb.


Orang ini. Ya Tuhan. Dia lagi dia lagi.


Umpat Mayra dalam hati.


Rendy yang melihat raut wajah Mayra berubah setelah melihat dirinya itu pun tersenyum dan memainkan kedua alisnya.


Mayra yang melihatnya merasa aneh. Benar-benar aneh.


Mau tidak mau Mayra harus tersenyum dan menanyakan kembali apa yang akan di pesan oleh Rendy.


"Mau pesan apa mas?" Tanya Mayra dengan suara khasnya.


Dero dan Aldi hanya melihat kedua orang itu. Meskipun Dero dan Aldi datang lebih dulu dari Rendy. Tapi mereka belum memesan makanan sama sekali. Hanya minuman saja dan mereka pun ikut memesan bersamaan.


Dero menjadi orang pertama yang berbicara untuk memesan.


"Gue peseen spaghetti" ucap Dero.


Disusul oleh Aldi." Gua steak aja. Oh iya, steak nya yang setengah matang aja"


Rendy pun berbicara." Kalian datang dari dari blum pesan makanan?"


Dero dan Aldi pun mengangguk secara bersamaan. Melihat itu, Rendy hanya menggeleng kepalanya.


Mayra masih tetap mencatat pesanan ketiga orang yang ada di hadapannya ini.


Setelah selesai mencatat pesanan Dero dan Aldi ia pun bertanya apa yang akan di pesan oleh orang satu ini.


"kalau mas-nya mau pesan apa?" tanya Mayra pada Rendy.


sontak membuat Dero, Aldi dan terutama Mayra kaget.


"eehh-eeehh, ngomong apaan lu barusan" ucap Dero pada Rendy


"waaahh, bussyeett. nyelonong aje lu Ren"


Mayra yang berdiri dari tadi hanya bisa menahan malu. bagaimana bisa orang ini meminta hatinya. gila emang.


sadar akan ucapannya, Rendy pun tersadar.


Dengan cengengesan ia pun berkata" hehehe, maaf mba, salah ngomong"


Mayra hanya tersenyum kecut." jadi masnya mau pesan apa.?"


"emm,, saya pesan es teh lemon deh"


"cuman itu aja mas?"


"iya, kalau kamunya mau, ya sama kamu juga ga papa"


"kheeemm" kini suara Dero dan Aldi yang berdehem.


"baik mas, tunggu sebentar"


saat hendak berbalik dan berjalan menuju ke dalam dapur cafe untuk memberikan pesanan pelanggan kepada chef, langkahnya terhenti.


"eehh, mba-mba." panggil Rendy yang mencegah mayra.


Dero dan Aldi langsung menatap heran Rendy.


sedangkan Mayra langsung berbalik dan bertanya.


"iya mas?"

__ADS_1


"saya ngga jadi pesan yang itu deh"


"terus mas-nya mau pesan apa?"


"jus jeruk"


Mayra pun mencoret nama minuman yang Rendy pesan tadi, lalu menggantinya dengan yang baru.


setelah menulis Mayra lalu berbalik, suara rendy mengehentikan nya kembali'.


"mba-mba." panggil Rendy.


"iya mas. mau di ubah lagi?"


"hehe, itu. saya nggak jadi pesan yang itu. saya pesan jus alpukat aja"


mencoret pesanan yang Awal dan menggantinya dengan pesanan baru.


buru-buru Mayra berbalik.tapiiiiiiiii.


hufffttt. suara rendy masih memanggilnya.


"mba, tunggu." halang rendy yang Mesih sitia duduk di bangkunya.


Dero dan Aldi hanya bisa menyaksikan apa yang ada di hadapannya mereka ini.


kesalll. benar-benar kesalll. ini sudah ke-3 kalinya rendy memanggilnya.


ni anak maunya apaan si. dari tadi ga kelar-kelar. huuffft. sabar Mayra sabar. ucap Mayra dalam hati.


Mayra lalu berbalik, menampakkan senyum paksanya dan berbicara pada Rendy.


"mau di ubah lagi mas?" ucap Mayra dengan senyum paksanya.


"saya pesan es cappucino aja deh."


Mayra langsung mengganti pesanan Rendy.


saat tengah menulis tiba-tiba suara Rendy menghalanginya


"eeh nggak jadi mba. saya pesan ice crime krim aja yang rasa strawberry. bukan-bukan, rasa coklat. eehh bukan-bukan. rasa vanilla aja deh. emm ga jadi. saya pesan yang rasa-"


belum sempat Rendy melanjutkan perkataannya ia pun kaget. kagettt?


Aldi dan Dero terdiam dan melotot ke arah Rendy. bagaimana bisa Rendy berbicara seperti ini. sebelumya ia tidak pernah melakukan hal seperti ini.


cukup sudah. kesabaran Mayra sudah habis.


dengan kesal ia pun menghentakkan nampan yang ia pegang. nampan yang terbuat dari logam. ia pun menghentakkan nampan itu ke bangku tempat dimana Rendy Duduk.


ppraanngggg


suara hentak nampan itu nyaring. sampai-sampai Rendy, Aldi dan Dero kaget.


bukan hanya mereka saja. tapi pengunjung yang lain pun ikut kaget.


Kaget. Semua orang yang ada di dekat meja itu kaget.


para pengunjung lain pun melirik dimana suara itu. melihat pelayan cafe yang sedang dalam keadaan marah. mereka hanya menyaksikan apa yang terjadi di hadapan mereka.


"Mas ini mau apa si. dari tadi ganti Mulu, ganti mulu. Atau mas ini sengaja mau ngerjain saya iya??"


Sentak Mayra dengan suaranya yang seakan-akan ingin memakan Rendy.


Rendy dan kedua sahabatnya itu pun tersentak mendengar ucapan Mayra yang sekaakan ingin membunuh mereka bertiga.


Aldi dan Dero hanya bisa menyaksikan dan melihat apa yang akan terjadi setelah ini.


Rendy pun menjawab dengan wajahnya yang ketakutan." Ee-eemmm saya pesen ice crime strawbery aja mba"


Mayra lalu mengangkat nampan yang masih menempel di atas meja itu, dan membalikkan badannya. Ia pun berjalan menuju dapur cafe itu untuk menyerahkan pesanan ketiga sehebat tadi. Dengan hati yang masih marah, dan mulut yang tak henti-henti berceloteh.

__ADS_1


__ADS_2