
Mobil berhenti Karena lampu merah. Ada banyak kendaraan yang berhenti, baik mobil, angkot, dan motor.
Tatapan Rara menuju kearah luar jalan. Di seberang sana ada ibu-ibu yang sedang berdiri di trotoar jalan sambil memegang kedua tangan anaknya.
Ibu itu pun mulai berjalan kearah kendaraan yang sedang berhenti itu. Menyodorkan tangannya, sekedar meminta sedekah.
Tidak banyak dari mereka yang memberinya sedekah.
Kini ibu itu berjalan menuju mobil Rara.
Ibu itu pun mengetuk jendela mobilnya.
Melihat penampilan ibu itu, dengan pakaian yang usang, kotor, dan ada beberapa bagian dari bajunya yang bolong-bolong. Begitupun dengan anaknya.
Ibu itu menyodorkan tangannya, segera Rara mengambil uang Yang ada di tas sekolah.
Memberi 200 ribu kepada ibu itu. Dengan raut wajah yang sangat bahagia, ibu itu sangat-sangat berterima kasih kepada Rara. Dirinya segera meninggalkan tempat tersebut.
Rara tersenyum, sayup-sayup ia mendengar dari jauh suara ibu itu.
"Alhamdulillah, akhirnya kita bisa makan nak." Ucap ibu itu kepada kedua anak.
Rara kembali menutup kaca mobilnya. Lampu merah pun berganti menjadi hijau, pertanda bahwa kendaraan bisa jalan lagi.
Tanpa di sadari, mang Udin melihat Rara dari tadi, dirinya tersenyum melihat tingkah majikan mudanya. Tidak Hanya cantik, Rara juga baik.
Beberapa menit kemudian, sampailah mereka di rumah.
Rara langsung masuk ke dalam rumahnya. Sepi, tidak ada orang di rumah selain para bibi-bibi yang sedang mengobrol di dapur sambil makan,
Rendy juga belum pulang.
Saat ini dirinya belum lapar, ia pun lantas pergi ke kamarnya. Melepas seragam lalu berganti pakaian dengan pakaian biasa.
Membaringkan tubuhnya ke ranjang empuk-nya. Ntah apa yang terjadi dengan dirinya saat ini. Mendadak kepalanya pusing.
Uuuuhh.
Rara memegang kepala, terasa sangat pusing sekali. Ia pun mulai merasakan batuk-batuk.
Uuhuuk
Uuhuuk.
Ia pun merubah posisi, yang semula berbaring kini menjadi duduk.
Rara tak henti-hentinya batuk dari tadi.
Sampai rasanya ingin muntah Segera ia pergi ke kamarnya mandi.
_______
Uuhuuk.
Batuk kali ini mengeluarkan darah lagi. Sudah sekitar 2 menit Rara berada di dalam kamar mandi. Sedari tadi dirinya tak henti-henti batuk, bahkan batuknya kini mengeluarkan darah, bahkan sangat banyak sampai-sampai hampir semua bagian dari wastafel itu terkena darah.
Bukan hanya batuknya saja yang mengeluarkan darah bahkan hidungnya juga.
Rara bingung dengan semua ini. Ntah ada apa dengan dirinya.
Setelah 3 menit berlalu, akhirnya batuk itu berhenti. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin yang berada di hadapannya.
Pucat. Wajahnya sangat pucat, segera dirinya membasuh wajahnya.
__ADS_1
Ia pun berjalan keluar dari kamar mandi menuju tempat tidurnya. Tubuhnya saat ini sangatlah lemass.
_______,
"Rend, kemarkas dulu gimana?"
Aldi dan Rendy menoleh ke arah Dero.
Kelas hari ini sudah selesai, Rendy dan kedua temannya kini sedang merapikan buku-buku mereka ke dalam tas.
"Boleh juga tuh rend. Udah lama kita ga pergi lagi kesana. Gimana?" Ajak Aldi
Mereka pun berjalan keluar dari kelas, begitu juga para siswa yang lain.
Rendy belum menjawab ajakan temanya itu. Kini ia tengah sibuk mengetik pesan pada seseorang.
"Ajak Rara dong rend, sekalian biar rame. Udah lama juga gue ga ketemu adik gue yang satu itu, bener ga Al."
"Bener juga kata si Dero, sekalian ajak Rara aja."
Rendy lalu berhenti menatap kedua teman-temannya. Ia lalu membuang napasnya sejenak.
"Gue ngga bisa ngajak Rara."
Aldi dan Dero tidak bertanya. Mereka menatap Rendy menunggu kelanjutan dari perkataannya tadi.
"Rara sakit."
"WHAT.." ucap Dero dan Aldi bersamaan dengan raut wajah kagetnya.
"Tadi gue dapet SMS dari orang rumah, katanya Rara sakit'. Jadi gue ga bisa pergi ke markas bareng kalian. Sory banget ya."
"Ngga jadi ke markas. Kita kerumah Lo aja. Sekalian jengukin Rara."
"Bener kata Dero, rend. Ya udah ayo".
\_\_\_ooOoo\_\_\_
"saya panggil dokter aja ya non. saya takut ntar non kenapa-kenapa" ucap bi Ijah panik
Rara menggelengkan kepalanya, pertanda dirinya tidak mau.
"ngga usah bi. Rara cuman pusing aja. bentar lagi hilang"
Bi Ijah yang sedang memegang mangkok berisi bubur itu tak enak dengan keadaan majikanya ini. bagaimana juga, ia punya tanggung jawab jika terjadi sesuatu pada majikannya. terlebih lagi keadaan Rara saat ini sedang tidak baik.
*flashback.
Ijah dan Narti sedang asik mengobrol di dapur. biasalah. kebiasaan ibu-ibu kalau lagi ngumpul bareng.
mereka tengah asik membicarakan tentang artis yang tengah naik daun saat ini.
efek dari keseringan menonton sinetron dan berita selebriti.
sesekali keduanya tertawa membicarakan kelakuan anak-anak Mereka.
bi Ijah mempunyai 3 orang anak. anak-anaknya sudah menikah semua. dia juga sudah memiliki cucu. anak-anak kini tinggal jauh darinya.
sementara bi Narti. dia lebih muda dari bi Ijah.
dia baru memiliki satu anak. yang kini masih berusia 24 tahun*.
*
__ADS_1
saat sedang asik mengobrol, keduanya melihat Rara yang baru saja pulang dari sekolahnya.
melihat Rara yang menaiki tangga dengan keadaan lesu.
"non Rara kayaknya capek banget."
"samperin Nar. coba tanya mau makan sekarang atau nanti"
Narti menatap Rara yang semakin berjalan menuju ke arahnya kamarnya.
"bentar aja mba. kayak non Rara masih capek. biarkan dia istirahat dulu."
"kalau dia lapar, pasti bakalan turun kebawah." sambung Narti.
bi ijah pun langsung mengangguk setuju. setelah selesai mengobrol, keduanya pun pergi ke kamar masing-masing.
bi ijah masih belum bisa tidur memikirkan Rara yang belum makan siang saat ini. sudah 3 menit dirinya terduduk di atas tempat tidurnya.
lalu dia pun memutuskan pergi ke kamar Rara untuk bertanya apakah ia akan makan siang sekarang atau nanti.
satu per satu anak tangga ia naiki. ia lalu
berjalan ke arah kamar Rara. pintunya sedikit terbuka, berarti Rara tidak tidur saat ini . pikir Ijah.
ia lalu mengetuk pintu.
"permisi non"
ia lalu mendorong pintu itu. melihat sekeliling kamar Rara, mencari keberadaan majikannya. sampai pada tatapannya menunju kearah tempat tidurnya.
ia panik, melihat majikannya yang tengah dalam keadaan pucat dan lemas.
Rara terbaring lemas dengan muka yang sangat pucat saat ini.
"ya ampun non. non Rara kenapa."
Rara yang masih sadar saat itu manatap ni Ijah lemas.
"ngga papa bi. Rara cuman capek aja."
"bibi panggil dokter Rifky aja ya non."
dengan cepat Rara mencegah Bi Ijah yang hendak turun ke bawah menelpon dokter Rifky.
"ngga usah. Rara ngga papa."
"tapi non..."
"bibi percaya sama Rara. Rara ngga papa. mending bibi buatin Rara bubur aja. Rara laper bi"
"non laper. ya udah tunggu dulu ya. biar bibi buatin."
Rara lalu mengangguk. perasaan bi Ijah tidak enak saat ini. bagaimana bisa Rara menolak untuk bertemu dokter dengan keadaan yang lemas dan pucat saat ini.
ia pun segera mengabari salah satu kakak dari Rara.
pilihannya mengarah kepada Rendy. ya.. Rendy saat ini pasti sudah pulang sekolah. pikir bi Ijah.
ia pun mengirim pesan kepada Rendy. mengabari bawah keadaan Rara saat ini sedang tidak enak badan,.
...flashback off...
sabtu, 25 Mei 2021
__ADS_1
*by: Vina Dwi Lestari
semoga suka sama part ini😉*