Goodbye Rara

Goodbye Rara
Bab 7


__ADS_3

Sementara di sisi lain, Aditya baru saja sampai di rumahnya. Rumah Adit tidak terlalu besar dan juga tidak kecil, keluarga nya memang bukan keluarga yang kaya seperti keluarga Rara dan Lili, tapi keluarga berada. Ibunya hanya ibu rumahtangga, sementara ayahnya karyawan kantor. Dirumahnya memang ada satu buah mobil, mobil itu ayahnya beli dari hasil kerja keras ayahnya selama ini. Meskipun dia tidak lahir dari keluarga kayak tapi dia selalu bersyukur mempunyai keluarga yang harmonis dan selalu menyayangi nya sampai sekarang ini.


Kini ia pun masuk ke dalam rumahnya nya.


" Adit pulang" kata Adit yang melangkah masuk ke dalam rumahnya.


" Habis dari mana kamu, kenapa baru pulang" kata bunda Adit di dapur yang sedang memasak makanan.


" Habis dari tokoh kue Bun" jawab Adit yang berjalan ke arah meja makan yang dekat dengan dapur.


" Sampai sesiang ini,,hmmm?" Tanya bundanya yang berjalan kearahnya membawa masakan yang ia masak ke meja makan.


" Tadi Adit pergi ke panti asuhan juga sama teman" jawabnya.


" Panti asuhan?, Tumben kamu,, trus yang pergi sama kamu siapa?" Tanya bundanya yang berjalan ke arah dapur lagu untuk mengambil sisa makanan yang belum sempat ia bawa kemeja makan tadi.


" Sama teman sekelas Adit, namanya Rara"


" Cewek dong,,?"


" Ya iyalah masa iya cowok"


" Iissshhh dasar anak ini,," sambung namanya lagi yang sudah kembali kemeja makan dan meletakan makanan itu , dan memukul lenganan adit.


" Bunda kaget aja kamu tiba pergi ke panti asuhan sama teman cewek kamu,, bunda curiga deh jangan-jangan itu pacar kamu" sambungnga lagi yang sudah duduk di didekat anaknya.


" Tadi nggk sengaja ketemi tokoh kue sehabis ngantar Bunda ke pasar."


" Ya terus Adit liat dia, dan makan bareng, trus Adit tanya kedia sehabis makan dia mau kemana, dan ya udah kita ke panti asuhan" sambung Adit.

__ADS_1


" Cantik nggak?" Tanya bundanya yang sedang mengambil nasi.


" Cantik , baik, pintar lagi, dia selalu juara 1 dikelas, sama kalau ada olimpiade antar sekolah atau kelas selalu dia yang jadi wakil kelas Adit dan sekolah. Dia juga selalu menang loh Bun" jawab Adit cepat.


" Serius kamu, pintar bangettt, anaknya siapa?" Tanya bundanya lagi yang berpindah alih ke ikan goreng lalu mengambil dan meletakan di piring nya.


" dari keluarga Atmaja, anaknya Dani Prasetya Atmaja itu Bun, yang punya perusahaan Atmaja Group yang sering keluar di berita tv"


"Wahh pantesan aja pintar, dengar-dengar si keluarganya memang otaknya pintar' semua," kata bundanya.


" Kamu tuh harus contohin yang kayak gitu,, jangan cuman main doang,"


" Yee,, gini-gini Adit nggk bodo-bodo amat Bun,"


" Ya tapi kan harus bisa kayak Rara teman kamu itu, orang tau mana yang nggk mau anaknya jadi orang pintar dan sukses" sambung bundanya lagi


" Hehe iya-iya bunda ku sayang,, Adit bakal jadi anak yang nurut dan jadi anak yang sukses" jawab Adit yang cengengesan dan membersihkan kecupan ringan di pipi bundanya.


" Ya sudah cepat makan," perintah ibunya lagi.


Keduanya pun melanjutkan makan siang mereka setelah perbicangan ringan. Setelah makan Adit pamit pergi ke kamarnya, dan segera membersihkan dirinya. Setelah selesai mandi dia pun mengenakan pakaian biasa dan memilih untuk tidur.


*******


Tak terasa hari sudah sore,


Di kediaman Atmaja.


Dia bangun dari tidurnya, dia merasa hari sudah sore, dia pun segera bangun dan pergi mandi. Selesai mandi dia segera mengganti pakaiannya, dan pergi ke balkom kamarnya. Dilihat langit yang sudah berganti warna dengan warna orange, dan warna awan yang sama karna terkana cahaya matahari yang berwarna orange itu.

__ADS_1


Kamarnya begitu besar.


Terdapat banyak benda-benda di kamarnya, baik dari rak khusus buku yang lumayan tinggi dan besar, tempat tidur yang besar, meja belajar, dan ada lemari pakaian nya yang besar saking besarnya dirinya pun bisa masuk.


Ada satu buah lemari yang berada di pojok dekat meja belajarnya. Lemari itu selalu ia kunci? Kenapa? Apakah ada yang ia sembunyikan?


Tidak ada yang aneh, itu hanyalah lemari yang berisi puluhan piala penghargaan nya dan piala kenaikan kelasnya dari dia duduk di bangku sekolah dasar sampai sekarang, bukan hanya itu saja, ada puluhan medali dan juga sertifikasi menyatakan bawah dia adalah juara.


Ada juga foto-foto yang terpajang di tembok kamarnya.baik dari foto keluarganya, dirinya, dan foto ketiga dirinya dan kakaknya.


Ada dua foto yang tidak ia panjang.


Yaitu foto saat ayah,mama, Andi dan Rendy yang masih kecil saat itu. Mereka berpose dengan ayah disebelah kiri dan mamahnya di sebelah kanan. Andin yang saat itu masih berumur 4 tahun berdiri ditengah-tengah mereka dan ada bayi laki-laki kecil yang di gendong oleh mamanya, siapa lagi kalau bukan Rendy.


Dan dilihat kondisi mamahnya saat itu sedang hamil juga. Apakah itu Rara kecil yang ada di dalam sana?


Memang dia yang ada di dalam perut sang ibu Waktu itu. Usia kandungan masih 5 bulan.


Selisih umurnya dan Andin 5 tahun', sementara dengan Rendy hanya selisih satu tahun saja.


Foto itu tidak ia panjang di dinding, tapi ia letakkan di meja belajarnya. Dan ada satu fto lagi. Diaman foto itu hanya ada ayahnya, saja. Kenapa? Karena Dani jika disuruh berfoto bersama Rara dia tidak akan bisa, alasannya selalu saja sibuk, sibuk dan sibuk.


Karna dia tidak mempunyai foto berdua dengan ayahnya dia pun saat itu berinisiatif menempelkan fotonya dengan fto ayahnya, dia selalu memajang foto itu di meja belajarnya berdekatan dengan fto nya saat masih dalam kandungan.


Foto itu adalah penyemangat nya, meskipun ada rasa sedih dihatinya saat tidak ada satu fotopun dimana dia dengan ayahnya, tapi dia selalu senang dan tidak menampakkan kesedihan di wajahnya.


Dia belum mengerti mengapa ayahnya bersikap dingin terhadap nya sementara dengan kakaknya terlihat biasa-biasa saja, justru kasih sayang yang ayahnya berikan untuk kakak-kakaknya tidak ia dapatkan tapi kenapa? Pikirnya


Apakah ia membuat kesalahan selama ini? Ataukah ia mengecewakan ayahnya? Tapi kapan? Ia gak pernah sama sekali mengecewakan ayahnya, bahkan ia selalu berusaha menjadi yang terbaik agar ayahnya bisa bangga padanya.Tapi itu tidak berlaku bagi sang ayah.

__ADS_1


Ayahnya masih di selimuti rasa benci terhadap anaknya ini. Gara-gara nya istrinya mati, karna dirinya istrinya meninggalkan dirinya. Tapi jika dia menyalakan Rara itu jelas salah, justru Rara tidak salah dalam hal ini. Biar bagaimanapun saat itu Rara masih kecil, dia juga masih butuh kasih sayang seorang ibu dan juga ayahnya. Tapi apa yang ia dapatkan? Kasih sayang seorang ibu dan kasih sayang seorang ayah tidak pernah ia rasakan.


Tapi ia sangat bersyukur, meskipun dengan sikap ayahnya yang seperti ini terhadap nya, selalu ada orang yang menyayangi dirinya. Siapa lagi kalau bukan Oma dan kakak-kakaknya. Bukan hanya mereka, semua yang ada di rumah itu selalu menyayangi Rara kecuali ayahnya sendiri.


__ADS_2