
Pagi ini matahari menyapa bumi dengan sinarnya. Tetesan embun jatuh setetes- demi tetes ke tanah. Burung mulai berkicau dan beterbangan di langit.
Hari ini adalah hari Kamis, kelas Rara akan menerima pelajaran olahraga Sampai bel istirahat berbunyi.
Kini Rara sudah rapi dengan seragam olahraganya, memakan sepatu hitam yang Andin berikan kepadanya sebagai hadiah karna menang olimpiade waktu itu.
Berjalan ke arah meja belajarnya, masukan seragam ganti dan beberapa buku yang akan ia bawa. Setelah Semua sudah rapi dan selesai, dirinya lekas turun ke lantai bawah menuju meja makan.
Sementara Rendy kini tangah sibuk berdiri di hadapan cermin melihat pantulan dirinya. Merapikan kerah bajunya yang sedikit tidak rapi.
Saat memalingkan wajahnya sedikit, ia melihat luka kecil yang masih terdapat darah yang mulai mengering di pipi kanannya.
"Preman sialan. Untung muka gue ngga jelek"kesal Rendy Sambil memegang pipinya.
Setelah selesai menyiapkan semua keperluan sekolahnya, ia lalu bergegas turun ke lantai bawah menuju meja makan.
Disana sudah ada Andin dan Rara yang sedang menyantap sarapan Meraka.
Rendy lalu bergabung, mengambil kursi yang berada di dekat Rara.
"Khemm. Pagi" sapa Rendy yang sedikit berdehem.
"Pagi" jawab Andin dan Rara kompak.
"Hari ini kayaknya kakak bakalan pulang malam."
Rara yang sedang mengunyah, menatap Andin. Rendy yang sedang mengoleskan selai pada rotinya ikut menatap Andin.
"Besok kampus bakal ngadain acara pesta kecil gitu. Jadi nanti semua orang bakalan sibuk buat nyiapin acaranya, termasuk kakak juga, mungkin bisa sampai malam selesainya."
Kedua adiknya hanya manggut-manggut.
Menatap adiknya satu persatu. Dan kini tatapan Andin tertuju kearah wajah Rendy tepat di pipi Bagain kanan wajahnya.
Rendy yang sedang mengunyah tidak menyadari tatapan Andin.
"Itu pipi kanan kamu kenapa ?"
Seketika Rendy berhenti mengunyah. Rara pun menatap Andin sejenak lalu melihat Rendy yang ada di sampingnya.
Dia juga melihat ada luka di pipi kanan kakaknya.
Menatap Rendy dengan menunggu jawaban apa yang akan Rendy berikan.
Dengan susah payah ia menelan roti yang ada di mulutnya.
Lalu mulai mencari jawaban apa yang akan ia berikan ke kakak dan adiknya.
Tidak mungkin ia akan mengatakan bahwa semalam dirinya habis berkelahiran dengan preman.
Jawaban itu sama saja akan membuat Andin memakannya hidup-hidup.
"Tadi malam kamu tawuran, iya.?"
"Eeh ngga. Siap yang tawuran." Elak Rendy
"Trus itu pipi kamu kenapa bisa luka?"
"Hahaha" tawa gusar Rendy.
"Tadi ngga sengaja' nabrak lemari. Makanya jadi gini "
Rara hanya bisa menyaksikan saja dengan mulutnya masih mengunyah makanan.
Berhasil mengelak dengan menjawab pertanyaan Andin membuat Rendy lega.
__ADS_1
selesai sarapan Mereka pun bergegas pergi ke tujuan mereka masing-masing.
Rara yang sedang berada di dalam mobil tengah asik memainkan ponselnya mendadak kaget dengan tiba-tiba mang Ujang ngerem mendadak.
"kenapa mang?" tanya Rara.
"aduh maaf non. kayaknya ban mobilnya bocor deh"
"yah mangg..." kesel Mayra.
"bakalan lama dong. nanti Rara telat pergi sekolahnya"
"gimana dong non. mang Ujang juga ga tau harus gimana"
hufffttt. Rara kini berhenti di pinggir jalan. jalan menuju ke sekolahnya masih lumayan jauh. mencoba mencari taxi yang lewat, tapi nihil. tidak ada taksi yang lewat.
Rara terus menatap kiri dan kanan, memastikan bahwa ada taxi yang lewat.
menunggu dan sesekali melihat mang Ujang yang tengah sibuk memperhatikan ban mobil yang bocor dengan ekspresi panik.
melihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan jam 07:00.
oh ayolah.. ini sudah sangat telat. tidak mungkin dirinya akan berlari menuju sekolahnya yang masih jauh.
≈≈≈≈≈≈≈|>>>
sementara dari atas motor yang kini tengah melaju melintas jalan raya, melewati kendaraan demi kendaraan yang ada di hadapannya. berusaha lebih cepat agar tidak terlambat menuju sekolahnya.
tak sengaja pandangannya menatap kearah sebarang jalan. melihat gadis yang tengah berdiri mengenakan pakaian yang sama persis dengan pakainya sekarang. orng itu tengah berdiri sambil Melihat kiri kanan.
"itu bukanya Rara" ucap orang itu.
orang itu pun lalu menepikan motornya tepat dimana orng itu berada. membuka helmnya lalu menyapa orang itu.
"eh Dit. hayy"
"ngapain? ngga berangkat sekolah?"
"ban mobilnya bocor. tuh mang Ujang lagi benerin"
"ya udah bareng aja. udah telat ini. ayo"
"emm. iya deh. tapi tunggu dulu. aku mau ngasih tau mang Ujang dulu".
Rara lalu menghampiri mang Ujang.
"mangg"
"iya non? tunggu bentar ya. ini saya lagi ganti banya."
"kelamaan mang. saya pergi dulu aja ya sama temen."
mang Ujang lalu berdiri menepuk-nepuk kedua tangannya menghilangkan bekas debu yang ada di tangannya. menatap sekelilingnya dan melihat' ada seorang anak yang tengah menunggu di atas motornya.
"sama orang itu non" tunjuk mang Ujang.
"iya sama dia. dia Adit teman sekelasnya Rara."
"oh" ucap Ujang lalu mengangguk.
" ya sudah non. kalau gitu non pergi aja sama temennya, ntar keburu gerbang sekolahnya di tutup."
Rara pergi ke sekolah bersama Adit. Tidak ada pilahan lain toh Adit juga teman sekelasnya, bahkan mereka satu sekolah jadi apasalanya.
Kini motor Adit melaju menuju sekolah, berharap gerbang belum di tutup. Semoga saja.
__ADS_1
Sesampainya di depan sekolah, syukurlah gerbang belum di tutup. Masih banyak juga Siswa yang baru datang sekolah dan tergesa-gesa memasuki pekarangan sekolah.
Adit lalu memarkirkan motornya.
Tatapan dari para siswa mulai liar. Mencari tahu siapa orang yang sudah datang bersamanya.
Dan mereka semua ternganga melihat siapa orng itu.
"It-itu bukanya Rara. Iya kan"
"Eh bussyeett. Hati gue. Remuk seketika." Ucap siswa itu sambil memegang dadanya.
"Mereka serasi tau ga. Ya ampun. Udah Aditnya ganteng, cakep terus si Rara juga cantik pintar. Ya Tuhan kenapa engkau tidak menakdirkan hamba seperti ini."
"Lebay Lo."
Keduanya berjalan bersama menuju kelas. Rara melihat sekelilingnya.
Tatapan aneh dari para penghuni sekolah ini membuat dirinya risih.
Ya Tuhan ada apa dengan mereka ini.
Ia melirik Adit yang berjalan disampingnya dengan santai-santai saja.
Ia lalu menyenggol lengan Adit.
"Dit. mereka liatin kita atau gimana?.
Serem amat"
Adit lalu menatap sekelilingnya. Melihat para siswa-siswi yang menatap kearah mereka berdua.
"Seharusnya kamu senang."
"Senang. Apanya yang senang kalau diliatin kayak gitu."
"Iyalah senang. Karna kamu jalan bareng cowok ganteng."
Paak.
Adit meringis. Mengusap lengannya yang dipukul oleh Rara.
"Iissshh. PD banget jadi orang."
______
Pelajaran demi pelajaran Meraka hadapi. Dan sampai pada jam 02:15 pelajaran pun selesai dan bel pulang sudah berbunyi.
Seperti biasa Rara dan Lili selalu berjalan bersama. Ntahlah. Kemana-mana pun Meraka selalu bersama.
Keduanya berpisah setelah memasuki mobil jemputan mereka masing-masing.
Di dalam mobil Rara tidak banyak berbicara, ia hanya sesekali tertawa karena lelucon dari Udin supirnya.
udah lamaaaaaaaaaa bangettt ga up😭😭
maaf ya guys. baru bisa up.
Selasa , 18 Mei 2021.
#raraapriliaatmaja
#adityaperwiramahesa
__ADS_1