Goodbye Rara

Goodbye Rara
Bab 12


__ADS_3

Malam hari pun datang.


Sedah waktunya makan malam, semuanya sudah berada di meja makan. Semua makanan sudah tersaji di sana.


Dan mereka pun langsung menyantap makanan itu.


Saat tengah asik menyantap makanan, Dani memberhentikan makanya sebentar, ia pun meletakkan sendok makanya dan mulai bicara.


"Besok ayah akan pergi ke luar kota" ucapnya pada anak-anaknya.


Mendengar perkataan ayahnya mereka pun berhenti makan sejenak, dan mendengarkan kelanjutan dari perkataan ayah mereka.


"Ayah akan pergi berapa lama?" Tanya Andin.


"Sekitar 5 hari atau tidak seminggu,,karna ini sangat penting,,ayah harus pergi,"


Setelah mendengar perkataan ayahnya mereka pun langsung menyantap makanan mereka kembali.


Setelah selesai makan malam, Andin dan ayahnya naik ke lantai atas. Andin harus membantu ayahnya untuk bersiap-siap besok, ia harus menyiapkan apa yang diperlukan oleh ayahnya besok.


Andin sabuk mondar-mandir dari lemari pakaian memilih pakaian mana yang cocok di bawah oleh ayahnya besok, setelah memilihnya ia pun segara memasukan nya ke dalam koper.


Dani yang melihat anaknya yang sedang mengemasi barang-barang nya itu tersenyum. Pasalnya Andin sedari tadi tak henti-henti mengingatnya untuk tidak terlalu capek bekerja sambil mondar-mandir meletakkan baju ayahnya.


Ia teringat pada istrinya, Andin sama persis seperti Hanin, jika ia akan pergi ke luar Kota atau luar negeri, Hanin akan menasehati seperti yang di lakukan Andin sekarang ini.


Mengingat bayangan Hanin, timbul rasa bencinya terhadap Rara,, ia yang tadi tersenyum kini berubah menjadi datar mengingat akan kejadian 17 tahun lalu.


"Andin udah letakin semuanya di dalam koper,,semua baju yang ayah perlukan sudah Andin letakan di sana" tunjuknya pada koper yang sudah rapi di samping tempat tidur.


"Hmmm,, terimakasih," ucap Dani sambil mengelus rambut anaknya dan tersenyum.


"Kamu persis seperti ibu mu,, andai saja ia masih hidup sampai sekarang"


Andin yang mendengar perkataan ayahnya itu pun meresa sedih , bagaimana tidak,, kematian ibunya saat itu ia masih kecil, umurnya masih 4 tahun.


"Sudah jangan sedih,, ayah harus tidur karna besok ayah akan berangkat pagi-pagi bukan,, jadi sekarang ayah tidur oke"


Dani hanya mengangguk dan tersenyum. Setelah selesai membantu ayahnya, Andin pun pamit ke kamarnya, karna ia juga sudah mengantuk.

__ADS_1


Sementara Rara dan Rendy kini mereka ada di ruang tamu sembari mengobrol ringan.


"Hmm Ra,,besok biar kakak yang antar kamu,, nggak usah berangkat bareng mang Ujang"


"Hmm kenapa? biasanya aku juga sama di antar mang Ujang kan"


"Udah besok kakak aja yang antar kamu ke sekolah,,bila perlu setiap hari"


"Nggak ah,,Rara nggak mau,, lagian juga ada mang Ujang"


"Ayo lah Ra,, please,,kali ini aja" ntah kenapa dengan Rendy, ia memohon kepada adiknya agar besok bisa berangkat sekolah dengan dirinya besok.


Rara lalu mendengus kesal" iiisshh,,Iya-iya,,,tapi cuma besok aja,,buat hari-hari seterusnya Rara nggk mau"


Rendy hanya pasrah, ia harus menerimanya,,besok adalah kesempatan nya untuk bisa melihat anak itu. Tapi semoga saja.


"Iya deh" jawabnya pasrah.


Setelah selesai dengan perdebatannya, Rara dan Rendy sudah pergi ke kamarnya masing-masing untuk tidur karna besok pagi mereka akan berangkat sekolah. Ayahnya juga sekarang sudah tidur karna besok Barus berangkat pagi sekali. Andin dan Rendy juga sudah tidur.


Suasana rumah sudah sepi, semua orang sudah tertidur, pada ART dan supir juga sudah beristri. Tapi lain halnya dengan Rara. Gadis cantik itu belum tidur, kini dirinya tengah duduk di meja belajarnya, ditatapnya foto keluarganya saat ia masih dalam kandungan. Dipegangnya bingkai foto yang ada di sana, Ia mengelus foto itu, senyum manis ayah ibu dan kakaknya Andin itu membuatnya tersenyum juga. Meskipun iya tidak pernah melihat ibunya langsung, tapi ia bisa melihat dari raut wajah ibunya, bawah ia sangat baik. Matanya kini menatap senyum ayahnya yang sangat bahagia di dalam bingkai itu. Kapan ayahnya akan tersenyum seperti ini di depannya,kapan ayahnya akan tersenyum seperti ini kepada.


Setalah puas melihat foto itu, ia pun beranjak untuk pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok giginya. Setalah itu baru ia akan tidur, karna besok ia harus bangun pagi untuk pergi sekolah dengan kakaknya.


******


Pagi hari.


Matahari masih malu-malu untuk menampakkan dirinya, burung-burung diluar sana berkicau menyambut pagi ini. Rara baru terbangun dari tidurnya ia pun langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Sesampainya di kamar mandi, ia hendak membersihkan mukanya terlebih dahulu di wastafel, posisinya kini berada di depan cermin yang menyatuh dengan wastafel yang ada di bawahnya. Ia hendak membersihkan mukanya tetapi terhalang oleh batuk.


***uuhuuk


uuhuuk***


Posisinya yang tadi sedang membungkuk kini berubah menjadi tegak. Belum sempat ia membersihkan mukanya. Arah pandangan kini menuju ke arah cermin di depannya.


Darah!?? Batinnya bertanya saat melihat ada bercak darah di sudut bibirnya.

__ADS_1


pandangan kini menuju ke arah wastafel, ia melihat ada darah di sana juga, buru-buru ia menyalakan keran air untuk membersihkan darah tersebut. Ia membiarkan air itu mengalir begitu saja. Lalu ia menatap dirinya Kembali ke cermin, membersihkan sisa darah yang ada di sudut bibirnya.


apa mungkin aku salah makan?


atau mungkin ini hanya alergi ku terhadap makanan? Batinnya bertanya.


Ia juga merasa aneh,, baru kali ini ia batuk sampai berdarah seperti ini.


Ia pun berfikir bahwa ini hanyalah alerginya terhadap makanan saja. Ia tidak memikirkan batuknya lagi, cepat-cepat ia membersihkan dirinya lalu mandi.


Setelah selesai mandi, ia lalu menggunakan seragam sekolah nya, setelah selesai ia lalu mengatur buku-bukunya yang akan ia bawa ke dalam tasnya. Dipakainya kaos kaki berwarna hitam sepanjang lutut karna rok sekolahnya memang pendek, setelah itu ia lalu memakai sepatunya.


Setelah semua selesai, ia lalu berdiri menghampirinya cermin untuk melihat penampilan dirinya.


Setalah semua siap, ia lalu bergegas turun ke bawah, menenteng tasnya dan almamaternya. Menuruni anak tangga satu-persatu, sesampainya di sana ia melihat kakak-kakaknya sudah berada di meja meja makan menyantap sarapan mereka.


Rara lalu duduk di samping Rendy lalu meletakkan tas dan almamaternya di kursi kosong dekatnya.


Sebelum ia menyantap sarapan nya, ia sempat bertanya kepadanya kakaknya Dimana keberadaan ayahnya.


"Ayah mana kak?"


"Ayah udah berangkat,,tadi pagi-pagi banget, katanya ia harus cepat-cepat berangkat" mendengar perkataan Andin Rara hanya bisa ber'oh' ria.


Bagai mana bisa ia lupa ayahnya hari ini akan pergi ke luar kota.


Di tengah-tengah sarapan mereka Rara mengentikannya sejanak.


"Hmm,, kak Andin, Rara hari ini pulangnya bakalan sore, soalnya hari ini Rara ada tugas kelompok"


"Di rumah siapa?" Tanya Andin sambil mengunyah roti sarapannya.


"Di rumah Adit,, teman sekelas Rara,,dia juga teman satu kelompok Rara"


"Nanti biar kakak aja yang jemput kamu,,hari ini Kakak juga nggak ada kelas,, kalau udah selesai nanti kamu tinggal telpon kakak aja trus Sherlock Diaman rumah teman kamu" ucap Andin lembut pada adiknya.


"Siap bos"


Sementara Rendy hanya menyantap makanan dengan diam, ia kini sedang berfikir, apa Mungkin ia bisa melihat anak itu? Semoga saja.

__ADS_1


Selesai sarapan pun Rendy dan Rara pergi ke sekolah bersama-sama.


__ADS_2