
"Aditt. Ayo makan. Bunda udah siapin makan malam."
Panggil Santi bunda dari Adit.
Adit yang saat itu masih berada di dalam kamar tengah bermain game online di HP-nya, dengan posisi bersender di atas tempat tidurnya.
"Iya bundd."
Adit lalu berjalan keluar kamar menuju meja makan yang disana sudah ada ayahnya yang sudah duduk dengan nyaman
Santi pun sibuk mengambil nasi untuk suaminya Indro.
Adit mengambil posisi duduk dekat dengan ayahnya. Sambil mengamati Santi yang sedang mengambil lauk untuk ayahnya.
Ia pun langsung membuka piringnya yang awalnya terbalik di atas meja makan, lalu segera mengambil nasi dan lauk pauk yang akan ia makan.
Mereka pun makan dengan lahap. Tidak seperti pada orang biasa yang jika makan selalu pake sendok. tidak.
Mereka lebih memilih makan dengan tangan, kurang resep rasanya kalau makan ngga pake tangan.
Lauk pauk Mereka juga tidak mewah, hanya ada ikan goreng, tumis kangkung, tempe dan tahu goreng. Tidak lupa dengan sambal terasi buatan Santi.
Di sela-sela makan mereka Indro sempat memuji masakan istrinya.
"Masakan bunda selalu enak. Iya ngga Dit?"
Adit lalu bergumam dengan mulutnya yang masih mengunyah.
"Bunda gitu loh. Siapa lagi coba yang bisa gantiin masakan seenak Bunda."
Sambung Adit.
"Sudah-sudah tidak usah banyak drama. Ayah anak sama saja."
Adit dan Indro saling menatap, lalu menahan tawa. Mereka tau Santi tidak suka di puji berlebihan begini.
Mereka pun tidak banyak bicara lagi.
Menikmati makanan malam mereka.
_____
Sementara di dalam kamar yang bernuansa putih, gadis bernama Rara itu kini tengah berbaring di atas tempat tidurnya. Menikmati suap demi suap Makana yang Andin bawa untuknya.
Sebenarnya Rara ingin makan ke bawah bersama mereka tapi Andin dan Rendy melarangnya.
Mereka beralasan jika Rara belum benar-benar pulih jadi, mau tidak mau Rara harus makan di kamarnya sekarang.
"Udah cukup kak, Rara udh kenyang."
Andin lalu menyudahinya, meletakkan piring di atas nampa lalu beralih mengambil gelas yang terisi dengan air putih.
Rara menerima air itu lalu meminumnya.
"Gimana, udah mendingan ngga?" Tanya Andin sambil menerima sodoran air dari Rara lalu meletakkannya kembali.
"Udah dari tadi malahan. Kakaknya aja yang lebay. Rara kan mau makan bareng tadi di bawah sama kalian.
"Bukan lebay, kakak cuman khawatir nanti kamu makin sakit lagi."
"Ya udh kakak ke bawah dulu mau antar ini, oke"
Setelah Andin pergi dari kamarnya, pikiran Rara pun mulai tertuju pada batuk yang tidak lama ini ada menyerangnya.
__ADS_1
Di heran. Jika di pikirkan lagi, selama ini makanan yang ia makan selalu sehat dan higienis. Jadi, tidak mungkin jika ia keracunan makanan sampai-sampai batuknya keluar darah.
Aneh.
Rara harus memeriksa ke dokter. Ini jalan yang terbaik untuk mengetahui ada apa dengan dirinya.
______
Di rumah pohon, tempat dimana mereka menjadikan markas mereka. Ketiga laki-laki itu kini tengah asik bermain tebak-tebakan, yang kalah harus di hukum dengan mencoret muka mereka dengan tepung.
"Oke, gue yang pertama." Ucap Dero Sambil menatap Rendy dan Aldi bergantian.
Aldi dan Rendy pun menunggu pertanyaan apa yang akan di lontarkan oleh Dero.
"Hewan, hewan apa yang bisa hidup di darat dan hidup di air? Jawab!!"
"Katak," jawab Rendy.
"Salahh"
"Lah, kok salah. Katak kan hewan amfibi goblok."
"Iya tau. emang iya katak bisa hidup di darat dan hidup di air. Tapi bukan itu jawabannya"
"Gue tau."
Aldi dan Dero menatap Rendy. Menunggu jawaban apa yang akan diberikan oleh Rendy .
"Buaya. Iya kan."
Saat Dero hendak menjawab Rendy lebih dulu melanjutkan perkataannya.
"Kayak Lo misalnya. Diva, boleh minta Line nya ga? Sindy boleh minta nomor wa ga? Bla-bla-bla.. tai Lo"
" Pacar seberapa, nanti diputusin nangis"
Hal ini lah yang mereka inginkan. Menjahili Dero seperti ini.
Dero lalu menatap sinis kearah kedua temannya." Tai Lo berdua"
Rendy dan Aldi pun mencoret muka Dero dengan tepung.
Dan sekarang giliran Aldi.
"Oke. Sekarang giliran gue."
"Kenapa... lubang pantat itu keriput?"
"Karna kecil?"
"Salah"
"Dijahit?"
"Pakaian kali dijahit."
"Ya terus apa? Gue ngga tau"
"Karena..... Sehabis di cuci ngga di setrika."
Ketiganya pun tertawa. terutama Dero yang paling ngakak di antara mereka.
"Anjing lo Al. Aduh.. perut' gue sampe sakit"
__ADS_1
Setelah puas bermain, ketiganya pun memilih pulang karena sudah malam.
Pulang menuju rumah masing-masing.
Terutama Rendy yang sekarang harus cepat pulang ke rumahnya. Mengingat adiknya yang masih sakit. Sebenarnya Rendy tidak ingin ikut bermain seperti tadi, dia lebih memilih untuk tetap di rumah menemani adiknya. Tapi, ia juga merasa tidak enak dengan sahabatnya.
_____
di kamar yang tidak terlalu luas, kini Mayra tengah sibuk belajar di atas kasurnya. dia yang sedang sibuk mencatat jawabannya tiba-tiba berhenti. ia mengingat kejadian malam itu. malam dimana dirinya hampir di lecehkan oleh dua orang pereman.
dan ia pun mengingat tentang orang yang menolongnya. jika saat itu dirinya tidak ada maka, tamatlah riwayat Mayra.
bolpoin yang seharusnya menari di atas kertas buku kini berada di bawah dagu gadis itu sekarang. seharus Mayra mengucapkan terima kasih kepadanya.
dari masalah sepedanya yang tidak sengaja' menabrak motor Rendy dan soal masalah pereman itu.
saat asik mengobrol dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba ibunya Aisyah datang melihat dirinya.
"kakk. belum tidur?"
kakak adalah panggilan untuk Mayra.
"belum Bu. bentar lagi selesai, nanggung"
"bapak udah tidur?"
"udah barusan."
Aisyah mengusap rambut anaknya penuh kasih sayang.
" belajar yang rajin ya, biar bisa berguna di masa depan."
Mayra lalu tersenyum,
"Pati Bu. insyaallah doa'in Mayra. semoga bisa bahagiain ibu sama bapak nanti"
"aamiin"
"ibu pergi tidur aja, ini udah malam."
"iyaa. jangan tidur larut malam ya."
Mayra hanya menjawabnya dengan gumaman.
memperlihatkan ibunya yang keluar dari kamarnya.
kini ia pun beralih menatap bukunya sejenak.
seharusnya ia kan mengerjakan tugas? kenapa ia harus memikirkan hal semacam tadi?.
tapi jika di pikir-pikir, ada benarnya, Mayra harus mengucapkan terima kasih pada orang malam itu yang menolongnya.
untuk saat ini belum, yang terpenting sekarang ia harus menyelesaikan tugas nya.
Mayra salah atau murid teladan, tidak pernah telat, tidak nakal, bolos, bahkan untuk masalah mengerjakan tugas dirinya tidak pernah absen.
pak Toni selaku wali kelas nya sangat bangga dengan Mayra. dari sekian banyak siswa di kelasnya, hanya mayra-lah yang benar-benar ia percaya.
terlebih lagi, ia bangga karena anak muridnya termasuk aset sekolah, dengan otaknya yang jenius.
Toni bangga dengan Mayra yang notabene nya orang biasa, tapi otaknya luar biasa.
tidak seperti siswa-siswanya yang lain
__ADS_1
hanya mengejar tugas jika lagi baik-baiknya saja. hufftt. sedih emang.
ada ga nih yang sering bangettt dulu ngga ngerjain tugas, trus di hukum sama gurunya?๐.