Goodbye Rara

Goodbye Rara
Bab 15


__ADS_3

Haikal kini tengah menyantap makanannya. bunda yang tadi tengah menggoreng pisang goreng kini telah selesai. Lalu membawanya ke ruang tamu.


Ia lalu meletakkannya di atas meja lalu menyuruh mereka untuk memakannya.


"Nih Tante bawain pisang goreng,, dimakan ya" ucap bunda lembut.


Mereka hanya mengangguk, dan masih mengerjakan tugas. Bunda lalu pamit ke dapur lagi untuk membersihkan dapur. Setelah selesai, ia lalu duduk di meja makan dengan Haikal yang tengah makan. Pandangan menuju ruangan tamu yang agak jauh dari dapur. Haikal yang tengah mengunyah lalu Melihat bunda melihat kearah teman-temannya.


"Bunda kenapa?"


"Gapapa,, eh bunda mau tanya"


"Tanya apaan"


"Itu teman-teman kamu namanya siapa?"


Haikal yang sudah selesai makan pun mengambil air lalu meminum sebelum menjawab pertanyaan dari bunda.


Iya lalu menuju Fahmi" yang itu namanya Fahmi"


Lalu menunjuk Husnul" yang itu namanya Husnul"


" yang di dekat Husnul tuh namanya Lili"


" Nah Kalau yang di dekat Lili itu namanya Rara"


Bunda mendengar dan melihat kemana Haikal menunjuk dan menejelaskan nama mereka satu-persatu. Saat Haikal menunjukkan dan menyebut nama Rara, pandangannya pun berhenti menatap Rara dari dapur yang agak jauh dari ruang tamu. Gadis dengan rambut panjangnya, bibir mungil, hidung mancung, dan berkulit putih.


jadi ini anak yang Adit ceritakan Waktu itu,, heemmm benar-benar cantik. batinnya


"Hmm, bunda dengar-dengar itu yang namanya Rara anak orang kaya, iya?"


"Oh Rara,, ,iya,, dia anak dari keluarga Atmaja. Awalnya si Haikal nggak tau kalau dia anak dari keluarga itu, Haikal cuman taunya dia anak orang kaya aja,, Lili yang kasih tau Haikal sama Adit,, Lili juga anak orang kaya."


"Itu si Rara anaknya pinter banget loh Bund,,, nggak salah si kalau sekolah nyuruh dia buat ikut olimpiade,, selalu menang soalnya." Sambung Haikal yang memuji Rara.


" Ya iya lah anaknya pintar,, lihat dulu keluarganya. Kamu nggk tau keluarga Atmaja itu pintar-pintar semua" ucap bunda.


Sementara di ruang tamu mereka masih mengerjakan tugas kelompok. Mereka tidak mendengar perbincangan Haikal dengan bunda.


Fahmi yang melihat ke arah meja makan pun menatap Haikal lalu memanggilnya.


"Kal,, udah blom,, kalau udah ayo sini bantu" ucap Haikal yang sedikit berteriak memanggil nama Haikal.


" Iya-iya ini udah selesai" ia lalu berdiri meletakkan piring kotor di wastafel, lalu mencucinya sebentar. Ini sudah menjadi kebiasaannya jika ia makan di rumah Adit. Ia hanya tidak enak aja jika tidak membersihkan piring yang ia pakai. Meskipun bunda selalu melarang, tapi ia tetap ingin membersihkannya.

__ADS_1


Ia lalu menyusul teman-teman yang masih mengerjakan tugas, dan ikut membantu juga.


Tak terasa hari sudah sore. Jam 04:00 sore,, kini mereka sudah selesai mengerjakan tugas kelompok mereka.


Fahmi, Nurul dan Haikal sudah pulang.


Begitu juga dengan Lili. Hanya Rara yang belum pulang, ia masih menunggu kakanya datang menjemputnya. Saat jemputan Lili datang, ia sempat menawarkan Rara untuk pulang bersamanya, tapi Rara menolak. Ia berkata bawah kakaknya akan menjemputnya.


"Ayo Ra,, biar aku antar kamu aja" ucap Adit.


"Gapapa dit, bentar lagi kakak aku datang, tadi udah Sherlock sama ngabarin kak Andin kalau aku dan selesai, bentar lagi di datang kok" jawab Rara.


Adit pun mengerti.


"Aku pamit ke kamar mandi bentar ya,"


Pamit Adit, Rara lalu mengangguk.


Kini ia sedang duduk di kursi luar rumah Adit. Ia menunggu kakanya disana. Tak berselang lama Adit pergi ke kamar mandi, bunda pun keluar ikut duduk dengan Rara di sana. Rara yang melihat bunda Adit pun berdiri lalu membungkukkan kepalanya menyapa bunda Adit lalu tersenyum menyapa bunda Adit.


"Halo Tante" sapanya.


" Gapapa duduk aja" ia pun duduk,Bunda lalu ikut duduk di samping


"Nama saya Rara Tante"


"Nggak usah panggil Tante,, panggil bunda aja biar enak"


Bunda? Ia lalu mengingat mendiang ibu yang sudah meninggal, meskipun ia belum pernah melihat ibunya sama sekali, hanya melihat lewat foto saja. Ada rasa sedih di dalam hatinya. Melihat teman-teman memiliki ibu, sedangkan dia tidak.


Ia lalu berbincang-bincang Rungan dengan bundanya Adit. Ia merasa nyaman, seperti inikah rasanya berbicara dengan seorang ibu? bahkan kami baru saja bertemu dan ini pertama kalinya, tapi kami seperti akrab sekali. Apakah seperti ini rasanya jika berbicara dengan seorang ibu. Batin Rara.


Tak lama Adit pun datang sehabis dari kamar mandi.


"Loh bunda, ada di sini "


"Iya,, tadi bunda liat dia sendiri, makanya bunda temenin, kamu juga ninggalin dia sendirian, kamu kemana tadi."


Belum sempat Adit menjawab, Rara terlebih dahulu menjawabnya."Nggak kok tan,, tadi Adit udah pamit ke Rara, katanya mau ke kamar mandi"


"Kamu nggak usah sungkan manggil Tante, Dengan sebutan bunda ya,, biar lebih akrab" ucap bunda senyum.


"Emm,, iya, bu,,bun-bunda" jawab Rara terbata-bata lalu tersenyum.


Mobil berwarna merah berhenti tepat di depan rumah Aditya. Kini Andin sudah datang untuk menjemput adiknya. Iaalu keluar dari mobil, lalu menghampiri adik dan pemilik rumah yang sedang duduk di kursi tamu di luar rumah Adit.

__ADS_1


"Permisi Tante,, saya mau jemput Rara, saya kakaknya"


Mereka yang tadi duduk lalu berdiri dengan kedatangan Andin. Mereka lalu permisi dan pamit pulang.


"Kalau begitu saya permisi dulu Tante, ayo Ra" ucap Andin


"Emmm.." ragu-ragu Rara mengucapkan kata bunda kepada bundanya Adit." Bunda,, Adit, kalau begitu Rara pamit pulang dulu"


Bunda lalu tersenyum" iya,, hati-hati di jalan"


Setelah Andin dan Rara pamit, mereka berdua pun masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya. Saat di dalam mobil, Andi bertanya kepadanya adiknya itu. Mengapa dia memanggil ibu dari temannya itu dengan sebutan bunda.


"Kamu kok manggil ibu teman kamu sama sebutan bunda? Kenapa Ra?" Tanya Andin sambil menyetir.


"Emm,,tadi awalnya Rara panggilnya juga Tante kak, tapi dia bilang enggak usah panggil Tante, panggil bunda aja biar akrab katanya."


Andin melirik adiknya. Ia mengingat ibunya yang sudah lama tiada.


"Ibu teman kamu gimana?,, baik?"


"Baik kok kak,, orangnya juga asik di ajak ngobrol."


Membicarakan ibunya Adit, ia juga ingin tau apakah ibunya juga seperti ibunya Adit.


Rara lalu bertanya kepada kakaknya"Eemm,, kak,,"


" Iya kenapa?"


"Mama kita itu orangnya gimana?" Tanya Rara sambil menatap Andin yang sedang mengemudi.


Hati Andin tersentuh dengan pertanyaan Rara. Dia yang sedang fokus menyetir melirik adiknya sekilas, lalu kembali fakus pada setirnya.


"Mama kita itu orangnya baik, cantik, pandai masak pula. Kaka aja dulu waktu masih SD setiap hari selalu minta untuk dibuatkan bekal untuk kakak bawa ke sekolah,"


"Mama dulu juga sering buatkan ayah bekal kalau pergi ke kantor. Mama peling nggak suka sama anak yang bandel, mama juga nggak suka kotor, apa-apa itu harus bersih. Mama paling suka sama berkebun."


"Mama kita itu cantik, cantik banget kaya bidadari. Dulu kakanya nggak bisa tidur kalau mama nggak baca'in dongeng buat kakak. Dulu rambut kakak selalu di kepang kalau pergi ke sekolah."


Mata Andin mulai berkaca-kaca mengingat kenangannya bersama ibunya. Ia masih tetap fokus menyetir.


Rara yang melihat kakaknya itu, matanya juga ikut berkaca-kaca. Kakaknya yang dulu bisa merasakan sentuhan dari ibunya bisa sedih seperti ini. Bagaimana dengan dirinya yang sama sekali tidak pernah. Meskipun hanya terpaut satu tahun dengan Rendy, tapi bagaimana pun Rendy pernah merasakan sentuhan dari ibunya. Meskipun saat itu Rendy belum mengerti apa-apa.


Dan ayahnya? Ayahnya juga. Selama ini ia tidak pernah merasakan sentuhan seorang ayah sebagai mana anak-anak lainnya. Hanya dirinyalah yang tidak pernah merasakan sentuhan dari ayahnya.


Ayahnya selalu perhatian pada kakak-kakaknya, sedangkan dirinya tidak sama seperti kakaknya.

__ADS_1


__ADS_2