
Hari semakin cepat berlalu, sama halnya dengan bulan yang semakin cepat berganti.
Hari ini adalah hari kamis, 18 oktober 2018
Selesai aku melaksanakan sholat maghrib, aku melanjutkannya dengan membaca surah yang terdiri dari 83 ayat. Apalagi kalau bukan Surah Yasin.
Aku membaca Surah itu ku khususkan untuk Baginda Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarga dan kerabatnya.
Selain itu, aku membaca Surah Yasin ini untuk Almarhum Ayahku, Almarhumah Ibuku, Almarhum/Almarhumah Kakek Nenekku, dan Almarhum Almarhumah orang-orang yang telah mendahuluiku, siapapun itu.
Aku membacanya dengan suara lirih, aku menghayati setiap bacaan.
Air mataku menetes dengan deras dan tanpa henti. Hingga membasahi buku Yasin itu.
Semua kenangan indahku bersama orang-orang yang aku sayangi kembali dalam ingatanku, rasanya sakit sekali.
Bagiku hal yang paling menyakitkan adalah ketika kita ingin meminta maaf dengan mencium punggung tangan, meminta doa restu agar kita sukses dan bisa membahagiakannya, namun itu semua hanya sebatas angan.
Mereka telah pergi karena panggilan-Nya, Allah lebih menyayangi mereka.
••••••
Ku seka berkali-kali tiap kepedihanku,
aku tak ingin semakin memberatkan kepergian mereka,
aku memang menyayangi mereka,
aku tak ingin kehilangan mereka semua.
Tetapi ini semua adalah kehendak Allah, mungkin bagi Allah inilah yang terbaik untukku.
Insya Allah aku ikhlas
Semoga Allah menempatkan mereka disisi terbaik-Nya dan mereka menjadi penghuni surga-Nya Allah. Aamiin.
Setelah selesai aku membaca surah Yasin
__ADS_1
Aku meletakkan surah Yasin ketempat semulanya.
Kemudian aku melipat mukenah beserta sajadahnya dan ku simpan dengan rapih.
Setelah selesai, aku duduk termenung ditengah gelapnya malam, aku menangis seorang diri.
Aku menjerit tanpa suara, "Mengapa aku harus serapuh ini? mengapaa?"
Dalam erangan kepedihanku, aku menyembunyikan wajahku diantara lipatan kedua tanganku.
Deraian air mata disertai kepiluan telah menggerogoti jiwa kuatku.
Aku merindukan Ayah.
Aku merindukan Ibu.
Dan, aku..
Merindukan orang-orang yang telah meninggalkanku.
Hari-hariku sepi tanpa kehadirannya
Aku ingin mati saja.
Aku ingin mati!!!
Aku ingin bersama mereka semua. Tetapi bekalku untuk menghadap Sang ilahi Rabbi belum cukup, aku sangat jauh dari kata sempurna untuk setiap Amal ibadahku.
Aku bohong jika berkata, "Aku baik-baik saja tanpa kehadiran mereka disampingku."
Semua itu semata-mata ku lakukan hanya untuk menutupi tiap kepedihanku.
Aku tak ingin orang lain mengetahui betapa lemah dan rapuhnya aku.
Aku hanya ingin orang lain tahu sisi kuatku saja.
Aku seperti itu karena ingin dianggap yang paling strong? Tidak. Aku seperti itu karena ingin menguatkan orang lain juga, aku ingin orang lain kuat tidak sepertiku yang lemah ini.
__ADS_1
Aku ingin orang lain lebih ikhlas menerima apapun yang telah Allah gariskan untuknya.
Aku ingin semua orang belajar tabah dan ikhlas layaknya hujan yang turun dimalam hari walaupun tidak menjanjikan pelangi.
Aku bahagia melihat bibir orang lain dihiasi dengan senyum indahnya,
rasanya aku tidak rela saja jika melihat ada kesedihan di wajah orang lain.
Lebih baik, aku saja yang diberikan ujian oleh Allah,
Lebih baik, aku saja yang merasakan kesedihan,
Lebih baik, aku saja yang merasakan sakitnya sebuah perpisahan tanpa adanya pertemuan.
Beberapa menit setelahnya, aku seperti mendengar sebuah dorongan untuk membuatku semakin kuat dan tabah.
Aku mendengar ada suara yang membisikiku dengan lembut,
"La tahzan innallaha ma'ana, anakku.
Aku yakin kamu kuat.
Kamu tidak selemah ini, bangkitlah, Nak. Harimu masih panjang, kesuksesanmu ada didepan sana.
Jangan kalah oleh keadaan, jangan kalah oleh kepedihan. Sebagian yang kamu cintai memang telah pergi, tapi 1 hal yang harus kamu tahu, Nak. Kami tidak pernah pergi dari sisimu, kami selalu ada bersamamu. Kami ada di hatimu, anakku. Kuatlah.."
Suara itu..
Aku sangat hafal dengan suara itu.
Iya..
itu suara Ayahku.
Ayah..
Maafkan aku, maaf jika aku serapuh ini untuk saat ini.
__ADS_1
Aku janji akan membuatmu bangga suatu hari nanti, aku mencintaimu ayah.