Goresan Takdir

Goresan Takdir
Benci Diri Sendiri


__ADS_3

Kini aku telah sampai tepat di depan Ruang BK (Bimbingan Konseling) yang dimana biasanya, ruangan itu digunakan untuk membantu para siswa dan siswi mencurahkan segala permasalahan yang ada disekolah dengan nyaman dan rileks.


"Assalamu'alaikum," salamku dengan sopan


Guru yang sedang bercengkrama itu membalikkan badan dan menatap kami dengan seksama, "Wa'alaikumsalam warahmatullah"


"Ada apa, Alira?" tanya Bu Reni kepadaku


"Saya mau tanya, Bu. Tapi mohon maaf sebelumnya, jika Saya mengganggu waktu Bu Reni." Sembari melangkahkan kakiku agar lebih mendekat dengan posisi wali kelasku berada.


"Iya boleh. Mau tanya apa?" tanya Bu Reni dengan melengkungkan bibirnya pertanda memberikan senyumannya kepadaku


"Begini Bu, saya mau tanya. Apakah bisa jika urusan pindah sekolah itu diurus sendiri tanpa orangtua?" tanyaku dengan sopan dan serius


"Kalau itu, saya kurang tahu. Kemungkinan sih bisa, tapi coba saya tanyakan ke Bapak Kepala Sekolah ya, Alira."


"Iya, Bu."

__ADS_1


Kali ini wajah Bu Reni terlihat begitu sangat serius menatapku sampai aku gelagapan sendiri, antara tegang, takut, bimbang bercampur jadi satu. Untungnya tidak menjadi es campur.


"Memang siapa yang mau pindah, Lir?"


"Saya, Bu." Lirihku dengan kepala yang tertunduk dalam


"Loh kenapa? Selama ini kamu tidak pernah bermasalah loh disekolah? Tidak pernah aneh-aneh juga."


"Apa yang membuat kamu ingin pindah sekolah? Ada yang membuat kamu tidak nyaman? Atau siswa lain ada yang mengganggumu? Kalau iya, katakan. Kamu bisa lapor ke Guru BK, biar segera di urus," lanjut Bu Reni


Memang banyak yang tidak menyukaiku, banyak yang membenciku tanpa sebab, banyak yang selalu menghinaku tanpa tahu caranya berhenti, banyak yang menatapku dengan tatapan sinis, banyak membicarakanku dibelakangku, banyak sekali manusia-manusia yang ingin menjatuhkan aku, ingin menamparku dengan keras menggunakan kata-katanya yang selalu membekas.


Aku tidak boleh egois, aku tidak boleh memaksa semua orang untuk selalu bersikap baik padaku dan mau berteman denganku.


Karena bagiku percuma saja mereka baik tetapi jika dibelakangku seringkali mereka membicarakanku dengan hal-hal buruk.


Marah? Kecewa? Sedih? Putus asa? Itu jelas. Tapi kembali lagi pada point pertama. Semua orang belum tentu bisa bersikap sesuai dengan yang aku inginkan.

__ADS_1


"Tidak kok, Bu. Murid yang ada disini baik-baik semua. Mereka tidak pernah mengganggu Saya sama sekali. Ini murni keinginan Saya dan orangtua saya." Aku berucap dengan penuh keyakinan dan sungguh-sungguh agar wali kelasku percaya padaku. Walaupun hatiku selalu menolak keras untuk berdusta seperti ini. Maafkan aku, Bu.


"Lalu, hal apa yang menjadi alasan utamamu ingin pindah sekolah Alira?" tanya Bu Reni, lagi.


"Begini, Bu. Kakaknya Ibu saya yang perempuan itu tinggal satu sekarang, Bu. Dan beliau tinggal di Riau. Beliau ingin Saya dan ibu Saya kembali kesana. Saya dulu SD juga pernah kesana tapi cuma 1 tahun saja. Setelah itu Saya ke Kalsel (Kalimantan Selatan)," jelasku panjang kali lebar kali tinggi


Aku menghembuskan nafas yang seringkali membuat dadaku sesak. Seakan semua beban yang ku pikul sendiri, telah mendarah daging dalam setiap rongga tubuhku.


Aku melanjutkan kalimat penjelasanku, "Jadi, oleh sebab itu, mau tidak mau, Saya harus pindah, Bu. Makanya saya tanya dulu ke Bu Reni, karena kemungkinan Ibu Saya repot mengurus keperluan yang lain juga. Takutnya semua jadi berantakan jika semua harus ibu Saya yang mengurus. Makanya Saya ingin mengurus surat pindah sekolah sendiri. Itupun kalau bisa, kalau tidak, yasudah. Biar ibu saya atau paman Saya yang mengurusnya"


Maafkan Saya yang saat ini menjadi murid durhakamu, Bu. Semua guru selalu memandang saya baik, memandang saya sebagai siswi yang pendiam tidak pernah aneh-aneh.


Namun, jauh dilubuk hati yang paling terdalam. Saya malu, Bu. Jika dianggap seperti itu, karena pada kenyataannya Saya lebih buruk dari murid-murid yang selalu dicap buruk oleh Bapak/Ibu Guru disini.


Saat ini saya telah melakukan kebohongan besar yang saya katakan pada wali kelas saya sendiri. Saya malu dengan tindakan saya sendiri. Saya benci diri Saya sendiri, Bu. Maafkan Saya. Karena tidak mungkin Saya menceritakan masalah yang sebenarnya.


Saya adalah manusia yang paling munafik dimuka bumi ini, Bu. Semoga Allah selalu membukakan pintu maafnya untuk Saya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2