Goresan Takdir

Goresan Takdir
Ratu Bucin


__ADS_3

Kini aku telah memasuki halaman sekolah tercintaku. Aku menaiki tangga satu persatu menuju ruang keabadianku, kelas Akuntansi 1.


Selesai mengucapkan salam, aku kembali melangkahkan kakiku menuju ke tempat dimana aku biasa duduk bersama teman sebangku ku (Reni Avianti).


Mungkin sebagian penghuni kelas tampak heran yang melihatku tidak seperti biasa, terlihat muram, tidak ada semangat hidup sama sekali.


Biasanya, setiap Kali memasuki kelas aku selalu menggoda mereka semua dengan kalimat, "Yang gak jawab salamku, dosa."


Saat kalimat itu telah terucap, mereka semua serentak menjawab, "Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Udah dijawab dalam hati, Alira."


Aku hanya menanggapi dengan tawa andalanku.


Namun kali ini berbeda, aku tidak mengucapkan kalimat itu lagi. Semua teman terbaikku bingung dengan perubahan sikapku hari ini. Kalau boleh ku pastikan sih mungkin sekarang yang ada dipikiran mereka adalah kenapa dengan Alira, mengapa dia berbeda hari ini tidak seperti biasanya? Ada apa?


Tapi gak tahu lagi kalau berbeda ya, hehe


Aku duduk termenung, hanyut dalam lamunanku sendiri. Bahkan teman sebangku ku sudah bercerita panjang lebar pun aku tidak menghiraukannya. Bukan, bukan. Bukan tidak menghiraukan. Hanya saja, memang aku sedang tidak bisa diajak bercerita. Badanku memang disini, tetapi pikiranku berlarian kesana kemari. Mungkin sedang bermain jungkat-jungkit, ayunan, sepak bola ditendang kesana kemari, dan sebagainya. Udahlah pusing.


"Huh.. Alira, kamu gak dengarin cerita aku ya?" kesal Reni Avianti.


Haha maafkan aku, samyang.


Aku masih saja tidak menanggapi, lebih tepatnya memang aku tidak mendengar kekesalannya. Karena aku masih hanyut terbawa terpaan angin lalu, yang mengingatkanku pada manusia-manusia tidak berperasaan. Bolehkah aku meracuninya? Argh.. Semua ini membuatku pusing, semua menindas. Belum tahu apa ya, kalau air meskipun kelihatan tenang juga bisa sewaktu-waktu mencelakainya.


Temanku, Reni Avianti. Dia masih saja bercerita panjang lebar mengenai masalah percintaannya, sepertinya dia tidak mengenal rasa lelah dibibirnya yang bawelnya masya Allah. Membuatku ingin menggunting bibirnya hahaha.. Canda sayang.


Oalah dasar bucin akut


Jelas-jelas dia sudah tahu aku tidak menanggapi sama sekali, dia juga kesal berulang kali. Tetapi, heranku mengapa dia masih saja melanjutkan ceritanya? Astaghfirullah, untung teman ya. Teman baik lagi. Kalau engga, mungkin udah ku goreng kamu.


Mungkin jika orang lain yang berada diposisiku, lalu mempunyai teman baik seperti Reni. Mungkin orang itu akan berpikir, "Dia ini gila atau gimana ya? Udah tahu tidak mendapat sahutan, tetap saja masih setia mengoceh kesana kemari tidak tentu arah. Apa jangan-jangan dia memang sudah terbiasa tidak di hiraukan begini, makanya dia tetap melanjutkan ceritanya walaupun lawan bicaranya tidak menanggapinya sama sekali."


Sampai akhirnya, temanku Reni Avianti mulai benar-benar menyadari sepenuhnya bahwa sedari tadi aku tidak menghiraukannya. Aku sibuk dengan dunia lamunanku.


"Alira" panggil Reni kepadaku. Tetapi, tetap saja aku tidak menanggapinya. Aku masih terbawa suasana lamunanku yang sangat menyebalkan dan menguras tenaga.


Karena tidak mendapat sahutan dariku, akhirnya Reni menarik lenganku. Untungnya pelan.


Saat itu juga, aku langsung sadar. Aku kembali dalam dunia nyata. Dramatis, dramatis..

__ADS_1


Aku menoleh ke arah Reni dan bertanya, "Ada apa?"


Reni menjawab, "Kamu melamun? Tidak mendengarkan aku sedari tadi? Kamu ada apa, Alira?"


"Gak papa kok, emang kenapa denganku," kataku cengengesan layaknya orang tanpa dosa. Astaghfirullah, dasar aku.


"Cerita aja gak papa. Jangan di sembunyikan terus. Biar hatimu sedikit lega," kata Reni Avianti padaku.


Hingga akhirnya aku menghela nafas berat. Bagaimana tidak berat. Ini sangat membuatku stres hampir gila. Aku lelah, kalau boleh memilih. Lebih baik aku mati saja. Rasa-rasanya, aku tidak yakin bisa bertahan dengan keadaan yang seperti ini. Namun, jika aku tiada. Aku juga belum siap, amalku masih jauh dari kata cukup. Aku harus bagaimana? Aku lelah, Tuhan. Berilah aku keikhlasan dan sabar yang lebih. Agar aku lebih mampu menerimanya dengan hati yang lapang


"Aku bingung," kataku


"Bingung kenapa?"


"Sebentar lagi aku akan pindah," lirihku


"Pindah kemana? Pindah apa? Pindah rumah?"


"Iya. Sekolah juga," jawabku


"Loh kenapa, jangan bercanda Alira, gak lucu tahu gak." Tegasnya


"Yang bercanda itu siapa, aku serius," kataku


Aku menghela nafas. Lalu kembali berbicara, "Ada suatu hal yang sulit untuk aku ceritakan kepada siapapun dan aku mau tidak mau harus pindah, harus pergi dari Kota Surabaya secepatnya," mataku berkaca-kaca.


"Tapi kenapa?" lirih Reni


"Ini demi Ibuku, demi kebahagiaan Ibuku. Aku harus pergi, meninggalkan semuanya."


"Alira, kamu yakin?" tanya Reni


"Hm." Jawabku


"Lalu, siapa yang akan mengurus surat pindah sekolahmu. Kan katamu, Ibumu tidak bisa keluar rumah karena tidak diperbolehkan oleh suaminya."


"Huft, entahlah. Mungkin aku sendiri yang akan mengurusnya," kataku pasrah. Tidak tahu lagi harus berbuat apa dan bagaimana


Reni hanya menganggukkan kepala sebagai tanda paham. Dia berkata, "Sabar ya"

__ADS_1


Hanya seulas senyuman yang saat ini mampu membalas support darinya.


"Ikut aku yuk," kataku mengajak Reni untuk menemui wali kelas kami.


"Kemana?" tanya Reni


"Ikut aku ke Bu Reni," kataku.


Iya, wali kelas kami memang namanya sama dengan temanku. Namun, hanya nama depan saja.


"Ngapain?" tanya Reni, lagi.


"Untuk bertanya, bagaimana caranya pindah sekolah dan mau bertanya juga. Apakah bisa kalau pindah sekolah biar aku yang mengurusnya sendiri tanpa wali murid."


"Oh begitu. Ya sudah ayo," kata Reni


Aku hanya membalas dengan anggukan kepala. Lama-lama kepalaku bisa copot kalau terus begini. Kalau copot kan serem, makanku pakai apa dong dan aku gak bisa lihat abangku, Lee min ho, lagi dong.


Aku berjalan beriringan keluar kelas bersama Reni. Belum sampai didepan pintu, ke-lima temanku memanggil dan bertanya, "Mau kemana?"


Aku menjawab jujur kalau aku mau menemui Bu Reni.


"Untung saja mereka tidak bertanya untuk apa aku menemui wali kelas," kataku dalam hati


Aku berjalan melangkahkan kaki menuju ke Ruang Guru. Namun, hasilnya nihil. Bu Reni tidak ada di Kantor.


"Kalau boleh tahu, Bu Reni kemana ya, Bu?" tanyaku dengan sopan kepada guru yang ada di ruangan ini.


"Kalau tidak salah, tadi bilangnya ke Ruang BK." Jawab guru tersebut.


"Oh ya sudah. Terima kasih, Bu." Ucapku


Guru itu hanya mengganggukkan kepalanya.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salamku berbarengan dengan Reni


"Wa'alaikumsalam," jawab Guru itu.


Aku kembali melangkahkan kaki, menuju ke tempat tujuan dengan ditemani oleh Reni Avianti. Memang aku selalu ditemani olehnya. Dia selalu menemaniku kemanapun. Dia selalu ada, sama halnya dengan ke-lima temanku yang lainnya dan juga dua teman SMP ku yang sampai saat ini masih bersama menemaniku, walaupun kita jarang sekali bertemu. Karena yang satu sekolahannya tidak sama denganku dan yang satu lagi sekolahnya sama denganku. Hanya saja, kelas kami yang berbeda. Mereka bernama, Selvi Anggraeni dan Erika Linawati.

__ADS_1


Selvi Anggraeni adalah teman sekelas AF(seseorang yang selalu bersamaku sejak 2016 lalu).


Bersambung...


__ADS_2