
"Sekarang ngapain?" tanya dia
"Tiduran aja" kataku
"Aku vc mau?" dia bertanya lagi
"Iya, tapi aku gak ngomong ya" kataku
"Kenapa gitu?" balasnya
"Lagi gak mood, maaf." Balasku
"Kenapa lagi?" kata dia
"Biasalah gak mood aja."
Memang suasana hatiku sedang kurang nyaman saat ini entah karena apa aku tak tahu. Aku sudah seringkali badmood tanpa sebab seperti ini.
Pikiranku semakin kalut,
hatiku berkecamuk.
Entah apa yang sedang ku pikirkan
dan entah apa pula yang sedang ku resahkan
"Mau aku samperin?" tawarannya
"Tapi gak jadi deh, gak enak sama Ibu dan tetangga kamu" lanjutnya
"Enggak usah, gak papa kok." Balasku
"Coba cerita kenapa gini" balasnya
"Gak tahu juga" jawabku asal.
Dia membalas,
"Hmm"
Balasan singkatnya semakin membuatku badmood, rasanya kesal.
Ingin marah, teriak, dan nangis bercampur jadi satu.
__ADS_1
"Dia tak mengerti aku..!!" Teriakku dalam hati dengan kobaran emosi yang semakin menjadi-jadi.
Saat emosiku memuncak tiba-tiba ponselku berdering pertanda ada panggilan telepon masuk.
Saat aku melihatnya, ternyata dia yang menghubungiku.
Di awal panggilan itu aku menolak panggilan itu. Tapi, tidak untuk panggilan telepon yang kedua, aku merasa kasihan terhadapnya.
Dia terkena amukanku, padahal dia tidak melakukan kesalahan apapun. Sungguh aku gila, maafkan aku.
Ketika panggilan itu sudah ku terima. Mulai terdengarlah suara seorang laki-laki diseberang sana mengucapkan salamnya
"Assalamu'alaikum" salamnya
Aku menjawab,
"Wa'alaikumsalam warahmatullah."
Dia bertanya kepadaku,
"Kamu kenapa lagi?"
Entah ada angin apa, tiba-tiba saja mataku meneteskan buliran bening disertai dengan suara yang semakin serak saat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan olehnya.
Untuk saat ini hanya kalimat itu yang mampu aku katakan kepadanya
"Loh kok nangis, jangan nangis. Istighfar jangan mau dikuasain hawa nafsu, emosi dan kesal sewajarnya saja jangan seperti ini." Dia berkata seperti ini untuk mengingatkanku agar tidak larut dalam kesedihan yang entah apa penyebabnya.
Aku mulai tersadar dan aku menuruti sarannya.
Aku mulai beristighfar berkali-kali didalam hati, suasa hatiku sedikit membaik.
"Terima kasih" kataku
"Untuk apa?" tanyanya
"Sudah mengingatkan aku" kataku
Dia berkata,
"Tidak apa-apa, kita dipertemukan untuk saling melengkapi dan mengingatkan"
Hatiku menjadi tenang saat mendengar ucapan itu keluar dari bibirnya.
__ADS_1
Ingin aku mengucap beribu-ribu rasa syukur kepada Allah azza wa jalla atas segala nikmat yang telah diberikannya untukku, salah satunya adalah nikmat dipertemukan dengan orang-orang baik dan berhati tulus seperti dia dan teman-temanku.
Sungguh aku menyayangi mereka, merekalah yang melengkapi hidupku, mereka selalu melengkapi segala kekuranganku. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan kalian.
"Tumben bijak" kataku guna menggodanya
"Baru nyadar ya kamu" kata dia
"Iya" bohongku
"Makanya kalau ada orang ngomong di dengarin neng. Jangan sibuk main hp aja, jadi gak tahu kan kalau aku orangnya bijak dari lahir." Kata dia disela-sela bercandaannya
"Ih mana ada aku main hp, yang ada tuh kamu ngegame aja kerjaannya" kataku membela diri sendiri
"Tuh kan. Gini nih kalau cewek, maunya menang terus haha" kata dia
"Ya kan sudah seharusnya seperti itu" jawabku
Dia bilang,
"Iya deh iya yang penting bisa buat kamu senang, apapun itu aku rela melakukannya"
"Halah omongan aja yang besar, sama aja kalau gak ada bukti" remehku dengan bercandaan
"Eh meremehkan kamu ya" katanya
Lalu aku menjawab,
"Ya kan emang gitu"
Dia berkata,
"Ya enggaklah, aku janji bakal berusaha untuk ngebuktiin bukan hanya omongan kosong
percaya sama aku. Asal kamu bahagia aku rela melakukan apapun, bahkan aku rela mempertaruhkan nyawaku demi membuatmu bahagia."
Diakhir kalimat yang dia ucapkan membuat hatiku menjadi tidak karuan kembali, aku bersedih.
Aku berkata kepadanya,
"Jangan bicara seperti itu, gak baik. Cukup buktikan sewajarnya dan semampunya. Jangan berlebihan, aku gak suka."
Bersambung...
__ADS_1
Assalamualaikum, selamat membaca 🌛