Goresan Takdir

Goresan Takdir
Firasat Seorang Ibu


__ADS_3

19 Oktober 2018


"Aww... kepalaku sakit sekali." keluhku dengan memegang kepalaku yang terasa begitu sakit ketika bangun tidur.


Mungkin saja ini salah satu efek karena semalam aku menangis dan tidur terlalu larut sekali.


Karena merasa pusing sekali, akhirnya aku mengurungkan niatku untuk langsung berdiri, aku duduk terlebih dulu agar kepalaku sedikit membaik. Saat sudah mulai membaik, aku mencoba berdiri secara pelan - pelan. Kemudian aku jalan dengan pelan juga dengan tanganku yang memegang tembok rumahku sebagai pertahananku agar aku tidak terjatuh ke lantai.


Aku berjalan menuju kamar mandi, lalu aku membasuh wajahku agar sedikit terlihat fresh walaupun aku tahu wajahku terlihat begitu lesu dan pucat saat ini. Setelah merasa sedikit lebih fresh, aku melanjutkannya untuk mengguyurkan air ke anggota tubuhku.


Bukan mandi, aku hanya berwudhu saja.


Aku merasa dingin sekali pagi ini, aku merasakan dinginnya tidak seperti biasanya. Entah karena faktor cuaca yang memang dingin atau karena fisikku yang kurang sehat, aku tidak tahu.


Setelah selesai wudhu, aku berjalan menuju ke arah dimana aku menyimpan perlengkapan sholatku mulai dari mukenah, tasbih, sajadah, al - Qur'an. Setelah sampai aku segera menyiapkan apa saja yang aku butuhkan untuk kegiatan sholatku dan aku mulai memakai mukenah kesayanganku. Ini masih pukul 03.00 pagi, yang artinya aku bukan melaksanakan sholat shubuh tetapi sholat malam. Bukan istikharah, melainkan sholat tahajjud. Karena memang sejauh ini aku belum pernah melakukan sholat istikharah, otakku selalu berpikir 'belum waktunya'.


Hanya itu saja yang selalu ada dipikiranku.


Sebelum melaksanakan sholat tahajjud, aku beristighfar lalu membaca surah an - nas dan ayat kursi terlebih dahulu. Karena menurut ceramah yang pernah aku dengar, jika ingin lebih khusyuk dalam sholat maka mintalah ampun kepada Allah lalu bacalah surah an - nas dan ayat kursi agar terhindar dari godaan - godaan syaiton yang dapat membuat manusia menjadi tidak fokus untuk melaksanakan sholatnya. Baca dan hayatilah setiap bacaan sholat, ingatlah segala dosa yang pernah diperbuat.


Selesai sholat tahajjud, aku melanjutkannya dengan membaca ayat suci Al - Qur'an dengan lirih. Air mataku kembali menetes, entah ada apa denganku. Dari semalam hingga kini aku mudah sekali bersedih, tidak biasanya aku seperti ini. Dadaku mendadak sesak, pandanganku mulai kabur, semua yang aku lihat menjadi berwarna hitam. Aku diam sejenak untuk memulihkan kembali pandanganku yang sedikit kabur, untung saja aku masih bisa menopang tubuhku sendiri.


Jika tidak, sudah di pastikan aku akan jatuh tak sadarkan diri disini. Aku tidak ingin orang lain melihatku dalam keadaan seperti ini apalagi Ibuku, aku tidak ingin itu terjadi.

__ADS_1


Sebisa mungkin aku mencoba kuat, aku menahan rasa sakit ini seorang diri.


"Bismillah, Ya Allah kuatkanlah aku." Ucap lirihku dengan mata terpejam menahan rasa sakit yang sebenarnya sudah tidak bisa aku tahan. Namun hanya kepada Allah-lah tempat ku berharap dan memohon semoga Allah menguatkan aku, agar aku bisa terlihat baik - baik saja didepan banyak orang.


Aku tidak ingin orang lain mau berteman dan dekat denganku hanya karena kasihan kepadaku, karena aku penyakitan. Sehingga membuat orang lain kasihan dan mau berteman / mendekatiku. Aku tidak mau hal itu terjadi, aku hanya ingin orang lain mendekati dan mau menjadi temanku murni karena keinginan hatinya, karena ketulusan hatinya. Bukan karena sebatas rasa kasihan saja. Oleh sebab itu, aku ingin selalu terlihat baik - baik saja didepan mereka semua.


"Kamu kenapa, Nak?" tanya Ibuku yang hendak menghampiriku karena melihatku memejamkan mata dan terlihat begitu pucat


"Gak papa kok, Bu." Aku memberikan senyum terbaikku untuk Ibu agar ia tidak tahu rasa sakit dan sedih yang aku rasakan saat ini.


"Jangan bohong sama Ibu nak, matamu sembab. Kamu terlihat lemas dan pucat sekali, kamu sakit?" tanya Ibu lagi kepadaku dengan tangannya yang hendak menyentuh keningku untuk memastikan aku deman atau tidak. Namun dengan segera aku bangkit dari dudukku, lalu berkata, "Aku gak papa Ibu. Ibu jangan khawatir seperti itu. Ini buktinya Alira bisa berdiri kan? kalau Alira sakit pasti Alira susah untuk berdiri Bu, pasti lemas. Hanya bisa berbaring di tempat tidur saja."


Aku mengucapkan kalimat itu dengan penuh keceriaan. Ya walaupun ceria itu hanyalah suatu kepalsuan yang aku ciptakan sendiri, maaf kan aku, Ibu. Aku tidak bermaksud membohongimu, aku hanya tidak ingin melihatmu bersedih dan khawatir karena kondisiku yang sesungguhnya. Cukup kuatkanlah aku dalam bait doa - doa mu, Ibu.


Allahuakbar Allahuakbar


Dalam hati aku mengucap syukur kepada Allah SWT karena dengan terdengarnya suara adzan maka aku bisa mengalihkan pertanyaan - pertanyaan Ibu. Aku hanya tidak ingin membuatnya khawatir, hanya itu saja.


"Sudah adzan, aku mengambil air wudhu dulu ya, Bu."


Aku berjalan perlahan menuju tempat wudhu kembali, sebenarnya kepalaku masih sakit sekali dadaku pun sama sakitnya. Namun semua aku tahan dan aku tutupi demi Ibu, aku tak ingin membuatnya cemas jika tahu yang sebenarnya.


Kembali ku guyurkan air pada anggota tubuhku, lalu setelah selesai aku kembali lagi ke tempat sholatku yang tadi. Aku melaksanakan 2 raka'atku sendiri, karena Ibu sedang tidak sholat hari ini.

__ADS_1


Doa demi doa ku panjatkan kepada Allah SWT dengan penuh keyakinan dan sungguh - sungguh. Aku selalu percaya Allah akan mengabulkan semua doa - doaku, ini hanya perihal waktu. Maka aku harus bersabar untuk menunggu datangnya pelangi kebahagiaan.


Seperti biasa, setelah melaksanakan sholat shubuh aku kembali pada rutinitas pagiku. Lalu ketika jam sudah menunjukkan pukul 11.15 aku mulai bersiap-siap untuk mandi dan menyiapkan keperluan sekolahku. Sebelum berangkat aku menunaikan sholat 4 raka'atku terlebih dahulu, karena adzan tiba pada saat aku belum berangkat ke sekolah.


Setelah sholat dhuhur selesai ku tunaikan, aku mulai memakai seragam dan jilabku. Di lanjut dengan memakai ikat pinggang, dasi, kaus kaki dan sepatu.


"Aku sudah siap." Begitulah isi chat yang ku kirimkan kepada dia.


Tidak lama setelahnya dia membalas, "Oke aku berangkat jemput kamu sekarang."


Aku menjawabnya, "Iya hati-hati."


Dia mengucap salam dengan emoticon berbentuk love dan aku membalas salam disertai dengan emoticon yang sama pula dengan yang dia kirimkan tadi.


Tidak menunggu begitu lama, dia telah sampai di depan rumahku. Aku pun segera mengambil helmku dan kemudian menutup pintu dan menguncinya juga. Setelah selesai aku menghampiri dia, aku naik di jok belakang dan memakai helmku. Kebiasaanku adalah aku selalu meletakkan tasku di depan, tepatnya bagian bawah. Karena motor dia matic (Beat), yang punya motor beat pasti tahu bagian mana yang aku maksud.


•••


Beberapa jam kemudian, aku sampai di rumah dengan selamat bersama dia. Setelah mengantarku pulang, dia berpamitan pulang juga. Aku masuk ke dalam rumah dan aku menaiki tangga menuju kamarku lalu meletakkan tasku ke tempat biasa. Aku berjalan menuju lemari, aku memilih baju yang akan aku pakai. Setelah selesai memilih baju, aku berjalan ke arah kamar mandi. Setelah mandi, adzan maghrib telah berkumandang. Dengan segera aku mengambil air wudhu lalu ku tunaikan 3 raka'atku.


Selesai sholat maghrib aku kembali membaca surah yasin yang kemarin pada hari kamis sempat ku baca juga.


"Mungkin saja kamu di tempat kerjamu hanya menjual diri, bukan untuk bekerja halal. Tempat kerjamu sekarang sepi kan? Tidak ada orderan jahitan yang masuk, itu semua karena kamu tukang selingkuh. Suka menjual diri kepada orang lain."

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2