Goresan Takdir

Goresan Takdir
Hujan = Tangisanku


__ADS_3

Setiap hari aku selalu bersama dengan Ibu Rastani dan Ayah M, tak jarang pula aku tidur dirumahnya.


Apalagi waktu aku masih bayi, nenekku masih hidup. Aku selalu berada disana, pagi, siang, sore, malam.


Ada suatu hari dimana aku sangat menyusahkan semua orang, terutama Almarhum Ayahku.


Saat menjelang malam, aku menangis tanpa henti karena mencari nenek.


"Nek nek" aku terus memanggil dengan sebutan itu.


Ayah dan Ibuku merasa kasihan melihatku menangis histeris seperti itu, seakan sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan nenek, padahal baru siang tadi aku ketemu nenek.


Malam semakin pekat, hujan tak kunjung reda. Seolah tahu bagaimana perasaanku saat itu.


"Cup cup sayang. gak boleh nangis ya, Alira kan anak pintar nanti kalau hujan sudah reda kita kerumah nenek ya." Ucap Ibuku untuk menenangkanku.


"Sini biar aku saja yang menggendongnya, biar aku yang coba tenangkan Alira", ucap ayahku yang nampaknya seperti kasihan kepada Ibuku karena terlalu kuwalahan untuk mendiamkanku, tetapi tangisanku tak kunjung berhenti.


Sungguh aku sangat menyusahkan semua orang.


Ayahku pun menggantikan Ibuku untuk menggendongku dan berusaha untuk mendiamkanku.


Ketika aku sudah berada dalam gendongannya, "Alira, anak ayah yang pintar. Gak boleh nakal ya, nak. Nanti kalau hujan sudah berhenti ayah akan mengantarkanmu ke tempat nenek, nak. sekarang Alira gak boleh nangis lagi ya."


Setelah kata-kata itu terucap, ayahku mencium keningku dengan penuh kasih sayang.


Tangisanku tetap saja tak berhenti sedikitpun, yang ada malah semakin menjadi. Sehingga membuat ayahku kebingungan harus dengan cara apa lagi agar aku tidak menangis.

__ADS_1


Tangisanku semakin kencang.


Tak lama setelahnya ayahku berjalan kearah belakang dekat dapur dengan posisi yang masih setia menggendongku.


Ternyata ayah berjalan ketempat itu untuk mengambil payung.


"Loh ayah mau kemana?" tanya salah satu kakakku


"Mau mengantarkan adikmu kerumah nenek." Jawab ayahku


"Tapi kan masih hujan, yah." Kata kakakku lagi


"Gak papa, nak. Yang penting adikmu tidak menangis lagi." Ujar ayahku dengan memberikan senyum terbaiknya


Ibuku yang tadi masih berada dikamar mandi ikut keluar dan berjalan menuju ruang tamu kembali.


"Mau kerumah Ibu, kasihan Alira. Aku gak tega melihatnya menangis seperti ini." Kata ayahku dengan raut wajah yang begitu sedih karena melihatku menangis sedari tadi


"Tapi kan masih hujan, Mas. Sini biar aku coba mendiamkannya lagi, mungkin dia ngantuk juga itu makanya rewel." Kata Ibuku dengan tangannya yang hendak mengambilku dari gendongan ayah.


"Gak papa, Bu. Kasihan Alira." ujar Ayahku yang tetap ingin mengantarkanku kerumah nenek


"Ya sudah kalau begitu aku ikut kamu ya, mas."


"Tidak usah kamu dirumah saja bersama anak-anak" kata ayahku


"Tapi mas..." ucapan ibuku terpotong karena ayahku berkata,

__ADS_1


"Sudah lah, Bu. Gak papa kok. Kamu dirumah saja ya, jangan ikut. Hujan."


"Ya sudah kalau begitu hati-hati ya, Mas."


"Iya. Ya sudah aku berangkat dulu ya." Pamit Ayahku


"Kalau naik motor aku ikut saja, Mas." Kata Ibuku


"Aku jalan kaki. Sudah kamu dirumah saja." Kata ayah


"Assalamu'alaikum" lanjutnya


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Ibuku


"Ayah aku ikut..." Kata kakakku


"Tidak usah, diluar masih hujan. Kamu dirumah saja ya." Jawab ayahku dengan tutur kata yang begitu lembut.


"Ya sudah kalau gitu, Ayah berangkat dulu sebentar ya." Pamit ayah lagi


"hati-hati, ayah." Jawab kakak-kakakku dengan mencium punggung tangan ayah.


"Assalamu'alaikum" Salam ayahku


"Wa'alikumsalam warahmatullahi wabaraktuh." Jawab Ibu dan kakak-kakakku.


Sebelum melangkahkan kaki keluar rumah, ayahku membaca 'Basmalah' terlebih dahulu dan kemudian dilanjutkan dengan membaca membaca ayat kursi, memohon perlindungan kepada Allah SWT.

__ADS_1


Setelah membacanya ayahku membuka payung yang dibawanya. Kemudian, memayungiku dan mulai melangkahkan kakinya menuju ketempat kediaman nenek.


__ADS_2