Goresan Takdir

Goresan Takdir
My Hero


__ADS_3

"Sekarang sudah bertemu nenek, Alira jangan rewel lagi ya, nak." Nenek melanjutkan ucapannya sembari mengusap-usap lembut kepalaku berkali-kali hingga aku tertidur dalam gendongannya.


Beberapa saat kemudian


Ayah keluar dari kamar mandi setelah mengganti pakaiannya yang basah dengan pakaian yang kering, ia menuju ke ruang tamu kembali.


"Sudah selesai, Ri?" tanya Nenek kepada Ayah kandungku (Ayah Fahri).


"Sudah, Bu." Ayah Fahri menjawab pertanyaan nenek


"Alira sudah tidur ya, Bu?" Ayah Fahri menanyakan aku karena dia melihatku sudah tidak rewel dan sepertinya sudah tidur.


"Iya sudah, barusan." Jawab nenek


"Ya sudah, Bu. Hari sudah semakin larut saya mau pamit pulang dulu takutnya Ibu dan anak-anak menunggu." Ujar ayah Fahri kepada nenek.


Saat ayah Fahri ingin mengambilku dari gendongan nenek, nenek tidak memperbolehkan. Lebih tepatnya bukan tidak memperbolehkan melainkan nenek takut, aku nanti akan bangun kembali dan menyusahkan banyak orang karena mencari nenek terus-menerus. Kasihan juga ayah Fahri jika harus berkali-kali mengantarku dari rumah menuju rumah nenek, apalagi hari sudah semakin petang.


"Tidak usah di bawa Aliranya, Ri. Biarkan dia disini saja gak papa. Takutnya nanti dia rewel lagi kalau tahu tidak ada aku. Kamu juga nanti yang repot sendiri. Jadi, biarkan dia tidur disini malam ini." Ucap nenek menyarankan Ayah untuk meninggalkanku disini saja malam ini.


"Memangnya tidak apa-apa kah, Bu? kalau Alira ditinggal disini. Takutnya malah merepotkan Ibu dan yang lain" Ucap ayah yang sedikit segan jika harus meninggalkan aku disini, takut nanti aku membuat susah semua orang.


Maafkan aku semuanyaa karena telah merepotkan kalian semua...


"Gak papa, gak perlu segan seperti itu. Nanti kalau Ibu capek juga aku sama Rastani bisa bergantian menjaga Alira, mas." Ucap ayah M kepada Ayah kandungku (Ayah Fahri) agar ayah Fahri tidak terlalu memikirkanku yang akan rewel nantinya.


"Ya sudah tapi kalau nanti kuwalahan, hubungi aku ya." Jawab ayah Fahri yang masih tidak enak kepada nenek, ayah M, dan Ibu Rastani.


"Ya sudah kalau begitu aku pamit pulang dulu ya." pamit ayah Fahri lagi


"Loh, diminum dulu itu tehnya, mas. Biar hangat, kan tadi terkena guyuran hujan sedikit. Biar tidak masuk angin." Ucap Ibu Rastani berbarengan dengan Ayah M.


Lalu, Ayah Fahri segera menyeruput teh hangat itu untuk menghargai teh buatan Ibu Rastani. Karena tidak enak juga, jika tidak meminum teh itu. Padahal Ibu Rastani sudah susah payah untuk membuatkannya malam-malam seperti ini.


Setelah selesai menyeruput teh hingga setengah gelas kecil, Ayah Fahri kembali berpamitan dengan Nenek, Ibu Rastani, dan Ayah M.


"Iya" jawab semuanya secara bersama


Ayah berjalan mendekati nenek dan aku,


"Bu, saya pamit pulang dulu."


Setelah berpamitan kepada Nenek, ayah mencium punggung tangan Nenek kemudian beralih mencium pipi dan keningku seraya berkata,


"Tidur yang nyenyak ya kesayangan ayah, jangan rewel. Jangan merepotkan nenek ya, Nak" Ucapan itu dilanjutkan dengan usapan lembut pada kepalaku yang masih mempunyai rambut hanya beberapa helai saja.


"M, Ras aku pamit pulang dulu ya." pamit Ayah kepada Ayah M dan Ibu Rastani


"Iya, mas." Jawab Ibu Rastani

__ADS_1


"Mas tadi tidak membawa motor kan?" tanya Ayah M


"Tidak. Karena hujan dan harus memegang payung juga." jawab ayah Fahri kepada ayah M


"Biar adikmu yang mengantarkan kamu pulang, Ri." Ujar Nenek kepada ayah M.


"Iya, mas. Biar aku antar saja, hujan juga sudah reda"


"Tidak usah. Nanti malah merepotkan, biar aku jalan kaki saja tidak apa-apa." Kata Ayah Fahri yang merasa tidak enak jika merepotkan ayah M terus menerus.


"Tidak kok mas, tidak merepotkan sama sekali. Gak perlu merasa tidak enak seperti itu. Kaya sama siapa saja. Sebentar aku ambil kunci motor dulu"


Setelah itu, ayah M masuk kedalam untuk mengambil kunci motor.


"Ayo mas" ajak ayah M kepada ayah Fahri


"Iya. Ayo" jawab ayah Fahri kepada ayah M.


"Saya pamit dulu, assalamu'alaikum" pamit ayah Fahri kepada semuanya


"Iya hati-hati. Wa'alaikumsalam" jawab semuanya


Ayah M pun mengeluarkan motornya dari dalam rumah menuju ke teras. Lalu ia kembali ke depan pintu lagi karena ingin menutup pintu.


Sedangkan ayah Fahri sedang mengambil payung yang tadi ia bawa dan menutup payung tersebut karena hujan sudah berhenti jadi tidak memerlukan payung lagi.


Setelah motor selesai dipanaskan oleh ayah M, ayah Fahri pun naik kemotor tersebut dengan hati-hati.


"Sudah" jawab ayah Fahri


"Bismillahirrohmanirrohim" ucap keduanya


Ayah M menjalankan motor tersebut tidak terlalu laju dan sangat hati-hati karena jalan masih sangat licin, jika dipaksa untuk kebut-kebutan bisa saja nanti ada hal yang tidak diinginkan terjadi. Seperti, jatuh.


5 menit kemudian


Ayah M dan ayah Fahri sudah sampai ke tempat tujuan.


Tadi ayah Fahri ke tempat nenek butuh waktu 10 menit karena ia berjalan kaki, tetapi beda lagi kalau naik motor seperti sekarang. Hanya membutuhkan waktu kurang lebih 5 menit saja, kalau kecepatannya sedikit ditambah akan lebih cepat lagi.


"Makasih ya" ucapan terima kasih ayah Fahri kepada ayah M


"Iya mas, ya sudah kalau gitu aku pamit pulang dulu ya"


"Loh gak mampir dulu"


"Tidak usah, mas. Sudah malam. Pasti keluarga mas yang lain juga sudah tidur nanti malah mengganggu." Ucap ayah M yang merasa tidak enak jika harus masuk dan bertamu dulu dirumah ayah Fahri


"Gak papa, kayanya juga ibunya anak-anak belum tidur."

__ADS_1


"Tidak usah mas, besok saja."


"Ya sudah kalau gitu aku pulang dulu." lanjut ayah M


"Iya hati-hati terima kasih ya." Jawab ayah Fahri kepada ayah M


"Iya mas. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh." Jawaban salam ayah Fahri kepada ayah M


Setelahnya ayah M menghidupkan kembali mesin motornya dengan membaca 'Basmalah' kemudian mulailah menjalankan motornya kembali.


Ayah Fahri masuk kedalam rumah, dan ternyata dugaannya benar. Ibu S belum tidur sampai sekarang karena menunggu kepulanganku dengan ayah, yang di tunggu dua orang tetapi yang datang hanya satu orang saja.


"Loh belum tidur, Bu?" Tanya basa basi ayah Fahri kepada Ibu kandungku (Ibu S)


"Iya menunggu kamu dan Alira pulang, mas." Jawab Ibu S kepada ayah Fahri


"Kenapa kok sepertinya kamu khawatir begitu?" tanya ayah Fahri kepada Ibu S karena melihat raut wajah Ibu S yang dipenuhi dengan rasa cemas dan khawatir yang berlebihan.


"Iya kepikiran kamu sama Alira, mas. Takutnya Alira rewel terus." jawab Ibu S yang wajahnya masih menunjukkan raut wajah yang cemas dan khawatir


"Terus Aliranya sekarang mana, mas?" Lanjutnya


"Ada sama Ibu. Ibu tidak memperbolehkanku membawa Alira" jawab jujur ayah Fahri


"Loh kenapa gitu? kenapa tidak dibolehkan?"


"Bukan. Bukan tidak dibolehkan tapi Ibu menyarankan untuk malam ini Alira biarkan tidur disana dulu. Soalnya waktu aku menyerahkan Alira kepada Ibu dan aku tinggal ganti baju sebentar, Alira sudah tidur saat aku kembali. Jadi, Ibu menyarankan seperti itu, karena dia takut Alira akan bangun dan rewel lagi jika menyadari tidak ada Ibu disampingnya." penjelasan Ayah Fahri kepada Ibu S.


"Oh begitu. Ya sudah tidak apa-apa." Jawab Ibu S kepada ayah Fahri


"Ya sudah kalau gitu kamu cuci kaki dulu sekalian wudhu terus tidur, mas. Sudah malam." Lanjutnya lagi


"Iya, kamu juga" jawab ayah Fahri


"Aku sudah, tinggal tidur saja."


"Ya sudah kalau gitu kamu tidur, aku mau cuci kaki dan wudhu dulu"


"Iya"


Ayah Fahri berjalan kebelakang menuju tempat wudhu, sebelum berwudhu ia mencuci kakinya terlebih dahulu.


Sedangkan Ibu S berjalan menuju ke kamar tidurnya.


Setelah ayah Fahri selesai mencuci kaki dan berwudhu, ia menyusul Ibu S ke kamarnya.


Ayah Fahri merebahkan tubuhnya disamping Ibu S yang mulai terlelap.

__ADS_1


Sebelum memejamkan mata, ayah Fahri membaca surah-surah pendek dilanjut dengan ayat kursi dan bacaan do'a tidur.


Bersambung ...


__ADS_2