
Maaf jika langkahku begitu ringan,
pergi tanpa menoleh ke arahmu.
Pergi tanpa meninggalkan kenangan indah yang entah kapan akan kembali.
Maafkan aku yang harus pergi meninggalkanmu dengan sejuta kenangan buruk yang mampu menggoreskan rasa pilu, juga rindu.
Jejak kenanganku bersamamu dulu masih tersemat dengan rapi di hati.
Ada sebuah janji untuk bersama saling menepati.
Namun, maaf.
Jika suatu saat rintik hujan terus mengalir tanpa jeda mewakili rasa sepiku, juga sepimu.
Yang di iringi dengan kenangan yang selalu mengangkasa.
Kini yang tersisa hanyalah bayanganku yang mungkin saja selalu ada dalam pikiranmu.
-Senjafaa
•••
Keesokan harinya.
Pagi setelah aku bangun tidur dan mandi, aku menghampiri Ibuku di ruang tamu yang sedang sibuk melipat baju-baju yang baru di ambil dari tempat jemuran. Hatiku merasa sangat tersayat saat mendengar sayup-sayup isakan tangisnya. Maafkan aku, Ibu. Aku terus saja menyalahkan diriku sendiri, aku gagal menjadi anak. Aku tak pernah bisa melindungi ibuku sendiri dari lelaki gila itu. Aku adalah anak tak berguna, Ibu.
Sebelum benar-benar berada di hadapannya, aku mengusap setiap jejak air mataku. Aku tak ingin Ibu melihatku bersedih.
__ADS_1
Saat aku sudah berada di hadapan Ibuku, langsung saja aku meraih sebagian jemuran itu. Lalu aku membantunya untuk melipat beberapa baju.
"Nak, kamu gak papa kan jika ikut Ibu ke Riau?" tanya Ibuku dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Gak papa, Bu. Jika memang itu yang terbaik"
sebisa mungkin, aku memberikan senyuman indahku kepadanya.
"Bilanglah pada dia (AF), sampaikan permintaan maaf Ibu padanya, karena harus memisahkan kalian dengan jarak. Bilanglah pada dia juga, kalau memang kalian berdua ditakdirkan untuk bersama. Akan ada waktunya kalian bertemu dan bersatu kembali." Mata yang sedari tadi hanya berkaca-kaca kini mulai runtuh karena dorongan air mata yang tak sanggup lagi untuk dibendung. Ingin rasanya aku memelukmu, Ibu.
Kalau boleh jujur, saat kata-kata itu terucap dari bibir Ibuku. Aku ingin menangis, mataku sudah memanas dan berkaca-kaca. Namun, aku harus berusaha keras untuk terlihat baik-baik saja. Aku sedih, aku bimbang, aku ragu berada diposisi seperti ini. Aku tidak yakin bisa melewatinya. Bukan karena berpisah dengannya saja yang membuatku sedih. Tetapi ada banyak hal yang menjadi alasan untukku bersedih.
Semua mimpi dan harapanku seakan sirna ditengah jalan. Aku adalah wanita yang dulunya sempat menginginkan untuk menjadi siswi lulusan Akuntansi, namun sekarang hanyalah mimpi. Aku adalah wanita yang sebelumnya selalu menginginkan bersama teman-teman terbaikku hingga aku tiada, sekarang tidak lagi. Aku adalah wanita yang selalu bermimpi dan berharap untuk terus bersama dia, namun kini seakan mimpi yang dulunya selalu indah kini menjadi buruk.
Seolah takdir tidak pernah berpihak kepadaku.
Semuanya harus aku relakan, semua harus aku tinggalkan demi kebahagiaan Ibuku. Aku ikhlas.
••
Saat siang setelah aku bersiap, aku segera menghubungi dia seperti biasa. Dia adalah lelaki yang selalu bersamaku, menemani hari-hariku yang sempat kelabu. Dia tak pernah meninggalkanku. Dia selalu ada untukku, dia adalah lelaki yang selalu menguatkan aku ketika aku terpuruk.
Mungkin ini adalah terakhir kalinya aku melihatmu, begitupun sebaliknya. Allah telah menentukan takdirku, aku selalu berharap semoga aku bisa menerima takdir ini dengan hati yang lapang.
Dalam perjalanan menuju ke sekolah tak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibirku maupun bibirnya. Aku dan dia sama-sama bungkam, larut dalam pikiran masing-masing.
Memang semalam sebelum Ibu memberitahukan tentang rencana kepergian ini, aku sudah lebih dulu bicara kepada dia (AF). Karena aku sudah yakin bahwa hal ini akan terjadi, dan sekarang benar. Kejadian ini akan benar-benar terjadi, bukan hanya sebatas pikiranku tak menentu dan tidak ada kepastian.
Semalam aku sempat memberitahunya melalui whatsApp.
"Aku boleh bicara?" tanyaku untuk mengawali chat padanya.
"Boleh" jawabnya
__ADS_1
"Sebelumnya aku mau minta maaf sama kamu."
"Untuk apa?" balasnya
"Maaf jika suatu hari atau bahkan sebentar lagi aku akan pergi." Saat mengetik kalimat ini, dadaku serasa sesak. Air mata mengucur begitu deras. Bukan aku tak sanggup menjalani dan menghadapi jalan takdir ini. Hanya saja, aku takut akan ada hati seseorang yang tersakiti lagi karena aku.
"Maksudnya bagaimana?" tanyanya tak mengerti.
"Mungkin sebentar lagi aku akan pergi, aku akan pergi meninggalkan Kota kelahiranku, Kota Surabaya. Aku akan pergi meninggalkan semuanya. Maafkan aku karena aku harus pergi juga meninggalkanmu."
"Jangan pergi. Bukankah kita pernah berjanji akan selalu bersama kapanpun dan dimanapun dan apapun kondisinya? Sekarang kenapa, kamu ingin pergi? Aku tahu, selama ini telah banyak kesalahan yang sempat aku perbuat. Tapi tolong, berilah aku kesempatan. Aku janji akan merubah semuanya, aku akan perbaiki semua kesalahanku. Tolong jangan pergi. Tunggu aku, aku akan berusaha membahagiakanmu suatu hari nanti. Namun maaf, jika sampai detik ini belum pernah membuatmu bahagia." Jelasnya.
Sepertinya dia salah paham dengan kalimat yang aku ketik dan aku kirimkan padanya.
Karena tidak ingin kesalahpahaman ini semakin larut, akhirnya aku mengetikkan sesuatu sebagai balasan chat untuknya.
"Tidak. Bukan begitu maksudku. Jangan salah paham dulu, maksudku bukan ingin sengaja pergi. Tapi ini sebagian dari jalan hidupku, aku harus pergi. Maafkan aku, bukan maksud aku tidak menepati janji. Hanya saja ini takdir. Aku ingin Ibuku bahagia, aku tak ingin melihatnya bersedih dan menderita lagi karena lelaki gila itu. Maaf." Begitulah isi chatku yang aku kirimkan padanya, agar dia tidak salah paham lagi.
"Oh. Begitu." Aku kira hanya kalimat itu saja yang dia kirim padaku untuk membalas chat whatsAppku. Ternyata aku salah.
"Ya sudah gak papa. Aku mengerti. Semoga dengan ini kamu dan Ibumu jauh lebih baik dan lebih bahagia lagi. Sampai kapan pun aku akan menunggumu kembali. Aku akan tetap menemanimu walaupun langkah kita tidak akan searah lagi. Pesanku, jaga dirimu baik-baik. Jaga kesehatan, jangan sampai sakit. Sekarang yang terpenting adalah Ibumu. Jangan ragu ataupun bimbang dengan situasi seperti saat ini. Jangan lagi memikirkan apapun, pikirkanlah kebahagiaan dan ketenanganmu bersama Ibumu walaupun bukan disini lagi. Yakinlah, aku akan menunggumu kembali. Kapan pun itu."
Saat membaca balasan itu, tanpa sengaja air mataku menetes lagi. Begitu derasnya air mataku mengalir.
"Kamu ikhlas? Apa aku membuatmu sakit?"
Begitulah pertanyaan yang ku ajukan padanya.
"Untuk apa aku tidak ikhlas? Ini demi ketenangan dan kebahagiaanmu, juga Ibumu. Aku ikhlas, asalkan aku bisa melihat senyuman indah yang terbit dibibirmu lagi seperti sebelum-sebelumnya. Jangan pikirkan aku. Aku tidak apa-apa. Kamu tidak pernah membuatku sakit. Percayalah. Semoga setelah ini kamu mendapatkan kembali kebahagiaanmu. Bahagiamu adalah bahagiaku, Nyet." Balasnya.
Aku tahu ada sebuah rasa yang sebenarnya sulit untuk kau katakan. Tapi, aku bodoh. Aku tak mampu untuk menanyakan padamu. Aku hanya bisa bungkam, walaupun aku tahu banyaknya luka yang tersemat di hatimu karena aku. Maafkanlah aku. Semoga bahagia selalu menyertaimu.
Bersambung...
__ADS_1